
"Virgo." Tamy menarik ujung kausku lembut.
"Virgo!" panggilnya sedikit berteriak.
Kupalingkan pandangan dan melihat ke arahnya.
"Kenapa diam saja? Aku sedang bertanya."
"Kamu tanya apa?"
"Ayah mana? Aku rindu ayah," ucap Tamy manja.
"Ayah--"
"Ayah di sini, Sayang," jawab om Leo masuk ke dalam kamar.
"Ayah." Tamy mengangkat kedua tangannya, seperti anak kecil yang meminta untuk digendong.
Om Leo tersenyum dan mendekap erat badan mungil putri semata wayangnya itu.
Mencium puncak kepala gadis itu dengan lembut.
"Aku rindu Ayah, Ayah kenapa baru datang?" tanyanya manja.
"Kok tumben kamu rindu Ayah? Biasa jika ada Virgo. Ayah akan terlupakan."
"Mana mungkin begitu, aku kan kekasih Ayah. Ayah adalah lelaki yang paling aku cintai di dunia ini. Aku menyanyangi Ayah, sungguh sayang sekali sama Ayah." Tamy tersenyum dengan sangat lebar, entah kenapa senyumnya itu terlihat sangat berbeda.
Senyum yang begitu indah dan sangat mempesona. Wajahnya terlihat sangat berseri walaupun kulitnya sangat pucat.
Dia tertawa, dia bercanda dengan om Leo tanpa ada rasa duka. Seperti akan tahu saja bahwa sebentar lagi dia akan terbebas dari deritanya.
"Sayang, ada yang ingin Ayah katakan."
"Katakan," balasnya cepat.
"Bank pendonor menghubungi Ayah, mereka bilang sudah menemukan cangkok yang sangat cocok untukmu."
Seketika senyum Tamy memudar, ia menatap wajah om Leo, lekat dan dalam.
Tak lama ia tersenyum, tetapi raut wajahnya terlihat sendu.
"Benarkah? Baguslah, Ayah. Itu sangat bagus," jawabnya menundukan kepala.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasa, bahwa Tamy tidak bahagia mendengar berita ini.
Atau mungkinkah, Tamy menyadari siapa pendonornya?
"Tamy apa kamu tidak bahagia?" tanyaku bingung.
Tamy melebarkan bibirnya, ia mengangkat sebelah tangannya. Meminta aku untuk berdiri di satu sisi lainya.
Tamy melilitkan sebelah tangannya di pinggangku, satu yang lainnya memeluk pinggang om Leo dengan erat.
"Bagaimana mungkin aku tidak bahagia. Aku sangat bahagia sampai aku tidak tahu mau berkata apa."
Tamy mengencangkan pelukannya pada pinggangku dan menjatuhkan kepalanya di dada om Leo.
"Ada Ayah, ada Virgo. Mengenal kak Riyu dan kawan yang lainnya. Bagaimana bisa aku tidak bahagia. Aku sangat bahagia, bahagia sekali, Ayah. Aku memiliki kalian semua di sisiku yang lemah ini."
"Jangan bicara seperti itu, sebentar lagi kamu akan baik-baik saja, Tamy. Jadi jangan sedih, kamu harus semangat agar kesehatanmu segera pulih dan bisa melakukan pencangkokan hati, ya," ucapku menyemangati.
"Tapi aku sudah sangat lelah," lirihnya pelan sekali. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar.
Tetapi entah kenapa, ucapan itu sangat jernih terdengar di telingaku.
"Tamy--"
"Ayah," panggilnya kembali ceria.
"Kenapa?"
"Bukannya saat ini aku sudah sangat baik? Bisakah aku keluar dan duduk di taman? Aku bosan, Ayah," pintanya manja.
"Tamy, kamu masih harus di sini. Istirahat dengan baik."
"Aku rasa kalau terlalu lama di sini juga akan mati karena bosan," rengeknya manja.
"Tamy!" tekan om Leo keras.
"Ayolah Ayah, aku ingin keluar. Aku ingin menghirup udara segar. Aku tidak suka di sini, aku benci bau obat dan juga bius di ruangan ini," rengeknya kembali.
Om Leo melirik ke arahku, ia menghela napasnya dan mengangguk perlahan.
"Baiklah," jawab Om Leo mengalah.
Tamy melepaskan senyumnya dan membuka selimutnya. Pindah ke kursi roda dengan sedikit berlari.
Aku rasa dia tidak merasakan sakit lagi, padahal dia masih lemah. Tetapi kadang semangatnya itu membuat aku lupa, kalau ia sedang menderita.
Kudorong kursi roda Tamy menuju lantai bawah. Memasuki perkarangan hijau taman belakang rumah sakit.
Tamy melambaikan tangannya pada beberapa anak kecil di sana. Tak sabar menunggu kursi rodanya ke sana. Ia langsung berjalan mendekati anak-anak itu.
Tamy masuk pada permainannya, ia tertawa dengan sesekali suaranya terlepas. Bermain dengan anak yang sama menderitanya dengan dia.
Kadang aku tidak tahu, bagaimana mereka mampu tertawa di atas penderitaan yang begitu menyiksa.
Aku saja yang melihat mereka terkadang iba. Entahlah, mungkin jika dikatakan Tuhan Maha Tahu kekuatan manusia, itu benar adanya.
Dia memilih orang-orang tangguh untuk diuji. Memilih hati yang masih bertahan di atas kerapuhan dan juga jiwa yang masih bersabar di tengah impitan beratnya cobaan.
Kuhela napas dengan sedikit lega, menjatuhkan kepalaku di atas sandaran kursi.
__ADS_1
Perlahan embusan angin membuat sayup mataku tertutup rapat. Saat ini semuanya sudah berjalan baik-baik saja. Syukurlah jika saat ini semua akan baik-baik saja.
Sebuah colekan terasa menganggu tidurku, kubuka mata dan melihat Tamy sudah duduk di sebelah.
"Ada apa, hem?" tanyaku sembari duduk dengan tegap.
"Kenapa tidur di sini? Kalau lelah, istirahatlah di ruangan Ayah."
Aku tersenyum dan meraih pucuk kepala gadisku ini.
"Aku baik-baik saja, kamu sudah selesai mainnya?"
"Ayo ikut main bersamaku, Virgo. Mereka sudah menunggu." Tamy menunjuk ke arah perkumpulan anak-anak itu.
Kutahan pergelangan Tamy yang ingin bangkit dan berjalan ke sana.
"Tamy sudahlah, kamu harus kembali istirahat di kamar."
"Tapi aku masih ingin main," jawabnya manja.
"Kita masih punya banyak waktu nanti." Aku tersenyum dan mengelus lembut pucuk kepala Tamy.
"Virgo," panggilnya lembut.
"Hem."
"Boleh aku bertanya?" tanyanya sembari menatap wajahku dalam.
Aku tersenyum dan menyentuh ujung dagunya. Kenapa saat ini wajahnya lain sekali?
"Mau bertanya apa? Kenapa wajahmu lain sekali hari ini?"
Tamy menundukan pandangannya, melepaskan pegangan tanganku pada dagunya. Menautkan kesepuluh jari kami berdua.
"Jika nanti, aku tidak lagi ada di sisimu. Berapa lama kamu bisa setia pada cinta kita?"
Sesaat aku terdiam, seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku. Sesak, satu kalimat tanya dari Tamy mampu membuat dadaku berat sekali. Bahkan lebih berat dari sebelumnya.
"Kenapa kamu bertanya begitu? Jangan berkata seperti itu, sebentar lagi kamu akan melakukan cangkok hati. Jadi kamu pasti akan selalu ada di sini."
Tamy mengangkat kepalanya, ia tersenyum lembut. Memperlihatkan senyum yang begitu tulus. Tidak pernah aku melihat senyumnya ini.
"Aku hanya bertanya, Virgo. Apakah kamu bisa bertahan lama tanpa aku? Selama ayah bertahan tanpa mama?"
"Mungkin tidak. Kalau kamu tidak ada. Mungkin aku hanya bertahan sendiri selama dua bulan saja," jawabku asal.
Seketika raut wajah Tamy berubah, ia memukul dadaku dengan kesal. Menjatuhkan kepalanya di dada, memeluk pinganggku erat.
"Dasar playboy," ucapnya malas.
"Karena itu, kamu harus berada di sisiku terus. Agar aku tidak mencari hati yang lainnya."
Tamy menghela napasnya, ia membenamkan wajahnya di dadaku.
"Ck ... Tamy, kenapa kamu pesimis begini? Keadaanmu sangat baik saat ini, sedikit lagi kita akan melewati masa-masa ini, Sayang."
Tamy hanya menggelengkan kepalanya, ia berdiam untuk waktu yang cukup lama. Terdengar helaan napas panjang yang semakin berat setiap kali ia menghela napasnya.
"Virgo."
"Hem."
"Bisakah kamu melepaskan dendam dengan keluarga kak Riyu? Berdamailah dengan kak Riyu, dia saudaramu, Virgo."
"Kenapa kemu selalu menyuruhku berdamai dengannya? Apakah Riyu penting buatmu?"
"Virgo, apa yang di dunia ini tidak pernah pasti. Saat ini dia lawanmu, suatu hari bisa saja dia menjadi teman terbaikmu. Apapun yang ada di depan mata, kamu tidak bisa percaya begitu saja. Semua bisa berubah, suatu saat nanti. Semua pasti akan berubah."
"Baiklah," jawabku mengalah.
Kuelus kepalanya lembut, mencium helaian rambut pirang gadisku ini. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini?
Tapi tidak akan baik jika aku berdebat dengannya. Helaan napasnya terasa semakin berat, seperti ada beban yang sedang ia pikul saat ini.
"Tamy, apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang? Kenapa sepertinya berat sekali?" tanyaku penasaran.
"Ayah," jawabnya parau.
"Ayah? Kenapa dengan ayahmu?"
"Sampai saat ini ayah masih tidak ingin menikah lagi. Aku tahu ayah sangat mencintai mama. Tapi ini sudah terlalu lama, ayah juga harus bahagia."
"Tamy, ayah kamu bahagia saat ini. Jangan paksa dia untuk melakukan hal yang tidak ia sukai, hem."
"Aku khawatir, Virgo," ucapnya lembut, tanpa melihatnya saja aku tahu, pasti saat ini ia sedang menahan air matanya agar tidak menetesi kausku.
"Khawatir kenapa? Cerita sama aku."
"Aku khawatir ayah akan sendiri jika nanti aku pergi. Ayah akan kesepian, siapa yang akan menjaga ayah?"
"Memangnya kamu mau pergi kemana? Kita akan operasi, Sayang. Jangan bicara seakan-akan kamu akan meninggalkan kami,"
"Virgo." Tamy mengangkat kepalanya, menatap wajahku dengan mata yang terlihat begitu sendu.
"Iya."
"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?"
"Katakan."
"Bisakah kamu berjanji, akan menjaga ayah untukku?"
"Kamu ini ngomong apa? Kita akan jaga ayah bersama-sama. Kita akan membuat banyak anak untuk menemani ayah, ya."
__ADS_1
"Janji padaku ya, Virgo. Jagakan ayah, karena ayah lelaki yang paling aku sayangi dalam hidup ini."
"Tamy, kenapa ngomongnya begitu, berhentilah berkata seperti ini. Aku tidak suka!"
"Janji?" Tamy mengenggam kausku dan menggoyangkannya dengan manja.
"Iya, janji," jawabku mengalah.
Tamy melepaskan senyumnya, merentangkan telapak tangannya di atas dadaku. Kepalanya menempel di atas detak jantungku.
"Mendengar detak jantungmu, membuat aku merasa sangat bahagia, Virgo."
Aku tersenyum mendengar ucapan Tamy, kuambil tangannya yang menyentuh dadaku dan mengenggamnya erat.
"Virgo."
"Hem."
"Saat aku menderita sendirian, saat aku bangkit kembali. Aku yang banyak mengeluh padamu, dan kamu yang selalu setia di sisiku. Aku tidak bisa membalas apapun, hanya bisa mengatakan, terima kasih, Virgo. Terima kasih karena kamu bersedia mendampingi aku."
"Gak perlu Tamy, kamu gak perlu melakukan apapun untuk membalasku. Aku melakukan itu semua karena aku menyanyangimu."
"Virgo."
"Hem?"
"Hari di mana aku selalu menyentuhmu, di saat aku selalu bisa mengenggam erat tanganmu. Hari-hari saat aku berdoa untukmu dan hari di mana kita selalu tertawa bersama, bercanda dengan semuanya, berharap untuk bisa terus bersama. Semuanya terasa sangat berharga untukku, Virgo."
Tamy melepaskan genggaman tangannya, melilitkan tangannya di pinggangku dan mendekapnya dengan kuat.
Perlahan dekapannya mulai melemah, Tamy mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar.
Kulihat raut wajahnya semakin berseri, cantik dengan segala kepucatan karena penyakitnya.
"Semua yang aku rasakan saat bersamamu dan teman-teman kita. Akan menjadi harta yang paling berharga. Aku akan mengingat setiap detiknya, waktu yang telah aku habiskan bersama denganmu, Virgo"
Tamy melepaskan air matanya, tangannya menyentuh sebelah pipiku. Terasa dingin kulitnya begitu berbeda.
"Sampai detik ini, hal yang paling aku syukuri adalah bertemu denganmu. Karenamu, hidupku terasa sangat menyenangkan. Aku masih bisa hidup, bersama detak jantung yang bisa berhenti kapanpun itu."
"Tamy, jangan bicara lagi." Kurangkul bahu mungil Tamy dan mendekapnya erat.
"Aku mohon, Tamy, jangan pergi. Jangan lakukan ini. Bertahan, Sayang. Bertahan sedikit lagi, aku mohon."
"Aku sangat menyanyangimu, Virgo. Katakan pada ayah, ayah harus hidup baik-baik saja dan harus menikah."
"Tamy, hentikan!" Kupeluk badan Tamy semakin erat. Perlahan buliran air melintasi pipiku.
"Jangan terlalu merindukan aku, Virgo."
"Tamy, ayo kita kembali. Kamu harus dapat perawatan saat ini." Kulepasakn pelukan Tamy, dan menggeser badannya.
Tamy menahan gerakanku, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Peluk aku, Virgo. Peluk aku lebih lama lagi."
Kuhapus air mata yang terus mengalir, memeluk gadis itu erat dan menggendongnya.
"Tamy, bertahan. Kumohon bertahan."
"Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan bersamamu dan ayah, Virgo."
"Apa maksud kamu, Tamy?" tanyaku panik.
Tamy terbatuk, memuntahkan cairan kental berwarna merah di atas kausku. Kupercepat langkah memasuki koridor rumah sakit.
Perlahan tangannya terlepas dari pundakku, bersamaan dengan matanya yang tertutup dengan aliran air yang kembali melintas.
"Tamy!" Kugoyangkan badannya, melihat raut wajahnya yang semakin memucat dengan darah yang terus tumpah dari dalam mulutnya.
Aku berlari, menyusuri koridor rumah sakit yang terasa sangat panjang untuk kulalui.
Panik, aku tidak tahu rasanya harus berlari kemana, yang aku tahu hanya om Leo, aku harus berlari menuju ruangan om Leo.
"Tamy, kumohon jangan lakukan ini. Bertahanlah demi aku dan ayahmu."
Kunaikan badan Tamy yang beberapa kali melorot ke bawah karena dibawa berlari, kutendang pintu ruangan om Leo.
Beberapa Dokter yang ada di sana langsung melihat ke arahku. Perlahan aku berjalan, mendekati kumpulan Dokter itu, tetapi tidak ada om Leo di sana.
"Di mana, om Leo?" tanyaku panik.
"Dokter Leo, dia--"
"Virgo," panggil Om Leo lembut.
"Tolong aku, Om. Tolong aku. Tamy bilang ia ingin menyerah."
Om Leo mengambil Tamy dari dalam dekapanku.
"Kenapa tidak langsung kamu bawa ke ruang perawatan?" tanya Om Leo ketus.
Om Leo mengambil badan Tamy dari dalam dekapanku. Membawanya berlari keluar dari ruangan.
Kuikuti langkah om Leo yang memasuki ruang perawatan. Seorang perawat manahan tubuhku. Menutup daun pintu, menyembunyikan Tamy dari pandanganku.
Aku bersimpuh di depan pintu perawatan itu. Meluruhkan air mataku yang tidak tertahan lagi.
Bagaimana mungkin? Usaha ini hanya tinggal sedikit lagi. Tamy menyerah di ujung perjuangan ini.
Selama ini aku selalu dengar, bahwa orang akan sehat sesaat sebelum bertemu dengan ajalnya. Wajah Tamy, senyum Tamy, semua yang ada pada Tamy hari ini berbeda. Sangat berbeda.
Mungkinkah? Tamy, dia ... akan bertemu dunia barunya?
__ADS_1