
Virgo tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku. Ku tampel tangannya dan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Dia pikir dia siapa? Beraninya main mata dihadapanku?
"Hai, Tamy. Aku bukan main mata sama mereka. Tapi aku main mata sama kamu," jelas Virgo lembut.
"Bohong!" tudingku kesal.
"Kenapa aku harus bohong? Selain kamu, aku bahkan tidak melihat siapapun di sana," jawab Virgo.
Ku tahan bibir tipisku yang ingin tersenyum karena ucapan Virgo. Dasar Virgo curang! Aku benci ... aku benci saat ia meluluhkan hatiku dengan begitu mudahnya seperti ini.
Virgo merangkul bahuku dan tersenyum simpul.
"Sudahlah, jangan marah lagi. Selain kamu, aku tidak peduli pada siapapun lagi."
"Hem, dasar gombal," jawabku cuek.
"Tapi kamu suka, kan?" goda Virgo padaku.
Ku lepaskan senyumku dan melanjutkan langkah kami, melewati jalanan sore hari. Entahlah Virgo, mau itu sebuah kebohongan atau kejujuran. Aku merasakan kebahagiaan saat bersamamu, begini saja sudah sangat cukup.
Ku perhatikan wajah Virgo yang sedang bercerita tentang pertandingannya tadi.
Merasakan hangat genggaman tangannya yang memegang erat jemariku. Entah sampai kapan rasa ini akan bertahan, namun semua ini terasa sangat menyenangkan.
"Virgo," panggilku lembut.
"Hem."
"Saat ini kamu tahu bagaimana keadaanku. Kedepannya pasti aku akan sangat merepotkanmu, jika nanti kamu merasa bosan menghadapiku. Kamu bilang ya, jangan ditahan."
Virgo berdecak kesal dan menghentikan langkahnya. Menatapku dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Kamu ini bicara apa? Aku sudah bilangkan, seumur hidup aku akan menjagamu. Jadi aku pasti akan selalu setia mendampingimu, melewati apapun itu bersamamu."
"Virgo, bagaimana juga ini bukanlah hal yang mudah. Aku sudah melewati ini selama bertahun-tahun, terus terang aku lelah. Keadaanku juga tidak akan bisa kembali seperti semula, aku khawatir bagaimana keadaanmu jika aku pergi nanti?"
"Jangan berkata seperti itu. Tidak ada yang tidak bisa, aku yakin kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa melewati semua ini, semangat! Semangat Sayang!" Virgo menghentakan jemari tangan kami yang saling bergenggaman.
Tersenyum dengan lebar, seperti ingin menunjukan padaku bahwa kedepannya semua akan berjalan baik-baik saja.
Virgo, setiap hari aku berdoa untukmu. Aku memohon untuk kebahagiaanmu, ku harap apa yang ku panjatkan tidak akan sia-sia.
Suatu saat nanti aku ingin kamu bahagia, walau ada ataupun tanpa aku di sisimu.
Ku perhatikan badan Virgo yang berjalan bersisian denganku, badan tegapnya dan pundak badannya yang semakin terlihat bidang, berbeda dari pertama kali kami berjumpa.
Waktu banyak mengubah segalanya, aku berharap, waktu juga akan mengubah hatimu suatu saat nanti.
Berharap bahwa suatu hari nanti, cintamu akan memudar bersama bayanganku yang akan menghilang dari pandangan.
Berharap, jika hidupmu bisa lebih menyenangkan dari sekarang. Dan bisa menikmati cinta dari wanita lain yang mencintaimu melebihi cintaku padamu.
Setelah banyak hal yang kamu lakukan dan korbankan untukku.
Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Terima kasih Virgo, karena apa yang aku lewatkan bersamamu, adalah harta yang paling berharga yang pernah ku miliki dalam hidup ini.
***
Aku berlari dari kamar, saat mendengar bel pintu rumah berbunyi tanpa jeda.
Ku tarik gagang pintu rumah ini, sekumpulan orang yang tak asing lagi buatku. Berdiri di ambang pintu rumah.
"Hai Tamy," sapa mereka semua.
"Kalian? Kenapa kalian semua ada di sini?" tanyaku terus terang.
"Kami, ingin menumpang belajar di rumah kamu, boleh kan?" tanya Kak Andri lembut.
"Kenapa? Kenapa harus di rumah aku? Apa kalian gak punya rumah sendiri?" tanyaku ketus.
"Haish, sudahlah Tamy. Kami sudah kelas tiga, kami butuh tempat tenang untuk belajar. Rumahmu sepi dan tak ada orang, apa salahnya kami pinjam?" ucap Virgo menenangkan.
"Bagaimana jika aku tidak setuju?" tanyaku menggoda.
__ADS_1
"Kami bawa cake kesukaanmu." Shela mengangkat kantung plastik yang ada di genggaman tangannya.
Menunjukan brand toko kue yang sering aku kunjungi.
Ku putar bola mata dan memainkan bibir.
"Baiklah, tapi hari ini saja," ucapku mengalah.
"Wah terima kasih, Tamy," ucap mereka serentak.
Seketika mereka berhamburan masuk ke dalam rumahku. Suasana rumah yang sepi dan tenang menjadi ricuh.
"Hei ... tapi kalian jangan berantakin rumah aku!" teriakku saat melihat kericuhan yang mulai terlihat karena ulah beberapa lelaki teman sekelas Virgo.
Virgo tersenyum dan mendekatiku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Tenang saja, nanti aku akan bantu kamu beresin rumah," ucap Virgo menenangkan.
"Benar ya, jangan ingkar janji," ancamku ketus.
"Asyyyiap, Bos!" ucap Virgo sambil membuat tangannya hormat kepadaku.
Ku lepaskan tawa dan ikut bergabung dengan sekelompok biang kerok yang sedang duduk lesehan di ruang tamu rumahku.
Tak butuh waktu lama, rumah yang sudah bersih dan rapi menjadi berantakan tak karuan.
Suasana berisik dan teriakan di sana-sini. Tak ubah seperti suasana pasar yang sedang membuka lapak obral.
Mereka bilang mau belajar di rumahku, tapi yang aku lihat, mereka seperti kesini untuk menemani kesendirianku.
Aku tahu, ini bukan rasa kasihan. Ini merupakan kasih sayang. Mereka tidak memperlakukanku special, namun mereka memperlakukanku dengan kasih sayang.
Terima kasih teman, terima kasih untuk semangat yang berusaha kalian tunjukan padaku.
"Tamy, kami lapar. Kamu mau makan apa? Kita delivery saja yuk," ajak kak Jerry lembut.
"Enggak! Tamy gak bisa makan, makanan junk food. Kalian delivery saja, Tamy biar aku masakin," bantah Virgo lembut.
"Wah ... Virgo, mana boleh gak adil gitu. Kalau delivery ya semua. Kalau kamu mau masak, juga buat kita semua, iya gak gaes?" tanya kak Donny mengompori.
"O ... gah!" Virgo bangkit dan menarik badanku, menuju dapur mungil dalam rumah.
Tak lagi ia hiraukan suara anak-anak yang memanggilnya itu. Virgo langsung membuka pintu lemari es dan memeriksa isinya.
"Virgo."
"Iya."
"Memang kamu bisa masak?" tanyaku tak percaya.
"Bisa dong, aku kan hidup sendiri selama beberapa tahun ini. Jadi, aku bisa masak kalau hanya masakan sederhana," jawab Virgo sambil mengeluarkan sayur-sayuran dari dalam lemari es.
Ku perhatikan satu persatu bahan makanan yang di keluarkan oleh Virgo.
"Virgo, kenapa semuanya sayuran?"
"Kamu harus banyak makan sayur, Sayang. Lihat badanmu kurus, kecil, begini," ucap Virgo mengelus pucuk kepalaku.
"Aku gak suka sayur,"
"Kalau aku suka gak?" tanya Virgo memainkan alis matanya.
Aku tersenyum lembut dan menganggukan kepala. Ada saja idenya untuk menggoda.
"Kalau gitu kamu pasti suka, karena sayuran ini aku yang masak."
"Enggak! Aku gak suka, aku mau daging." Ku keluarkan sepiring daging dari dalam lemari es.
"Yasudah, kalau kamu mau makan daging masak sendiri. Aku gak mau memasaknya," ucap Virgo ketus.
"Yasudah," jawabku kesal.
"Memang kamu bisa masak?" tanya Virgo meremehkan.
"Itu ... hanya memasak daging. Apa susahnya?" jawabku tak mau kalah.
__ADS_1
"Kalau begitu yasudah, tunggu apa lagi?"
"Oke."
Ku balik lembaran daging itu, melihatnya dengan lekat. Bagaimana mungkin aku memasaknya? Bahkan memotongnya saja aku bingung caranya.
Ku buang pandangan ke arah Virgo yang sedang menyandarkan pinganggnya ke bibir pantry, memperhatikan gerakanku yang sedang membalik daging mentah ini.
Aku hanya tahu cara menggoreng, kalau begitu dagingnya di goreng saja.
Aha, Tamy memang cerdas.
Ku persiapkan peralatan untuk mengoreng, mengisi minyak goreng ke dalam teflon.
Selang lima menit, ku masukan daging mentah itu kedalam teflon. Namun minyak itu terus beriuh di dalam penggorengan, terus menyiprat keluar. Bahkan selangkahpun aku tidak bisa mendekati daging itu.
Setetes minyak menyiprat ke kulit mulusku. Sedikit merintih, aku menghapus minyak panas yang menempel di lengan tangan.
Virgo mematikan api kompor itu dan memindahkan teflonnya, menyelentikan satu jarinya ke dahiku.
"Dasar bodoh! Mana ada orang menggoreng daging sepertimu," ucap Virgo ketus.
"Jadi bagaimana? Aku sama sekali tidak tahu caranya memasak," jawabku manja.
"Apa susahnya minta bantuanku? Bilang jika kamu tidak bisa memasak daging, minta aku memasakannya untukmu. Ada aku, kenapa kamu masih ragu untuk merepotkanku?" tanya Virgo lembut.
"Tadikan aku sudah bilang--"
"Ada kamu meminta aku memasaknya untukmu? Kamu hanya bergaya seakan bisa melakukan semuanya."
"Maaf Virgo, masakin ini untukku ya," ucapku mengalah.
Virgo menghela napasnya dan tersenyum tipis. Menarik salah satu kursi di meja makan dan meletakannya di depan pantry.
"Duduk sini, tunggu aku menyelesaikannya untukmu."
"Ehm." Ku anggukan kepala dan menuruti perintah Virgo.
Memperhatikan Virgo yang sedang memasak masakannya. Seperti terbiasa, gerakan Virgo cukup cepat dalam mengolah makanan.
Virgo menghidangkan sepiring daging dan sepiring sayuran ke hadapanku. Terasa aroma dari piring itu mulai mengusik penciumanku.
"Tunggu apalagi? Ayo di makan," perintahnya lembut.
Ku ambil perlatan makan dan mulai memasukan makan itu ke dalam mulut. Walaupun tidak ada yang spesial dari rasanya, tapi ini tidak buruk untuk ukuran masakan lelaki remaja.
"Kamu suka?" tanya lembut.
"Ehm."
Virgo tersenyum tipis, memperhatikan setiap gerakanku yang melahap masakannya.
"Jangan pernah ragu memintaku untuk melakukan sesuatu untukmu, Tamy. Apapun itu, asalkan kamu suka, aku bersedia melakukan segala hal untuk kamu."
Aku tersenyum dan kembali menyuapi makanan yang ada di hadapanku. Virgo meraih pucuk kepalaku dan mengelusnya dengan lembut.
"Jangan pernah takut, Tamy. Asalkan ada aku, apapun bisa kamu lakukan. Jika kamu tidak bisa melakukannya, kamu cukup memintanya, maka aku yang akan menyelesaikannya untukmu."
"Virgo."
"Hem."
"Terima kasih," ucapku lembut.
Virgo tersenyum lembut dan mengelus sebelah pipiku.
"Cepat habiskan makananmu, aku tidak ingin melihatmu kurus seperti ini."
Ku anggukan kepala, kembali menyuapi makanan yang terhidang di depan mata.
Entah ini keberuntungan atau ini sebuah hukuman. Aku tidak tahu Virgo, namun apapun itu, memilikimu di sisiku, adalah kebahagian terbesar yang pernah aku capai dalam hidup ini.
Terima kasih, Tuhan. Karena di saat keadaanku yang seperti ini. Engaku mengirimkan seorang malaikat tanpa sayap untuk menopang kelemahanku.
Selamanya Virgo, jika Tuhan memberikan aku kesempatan. Aku hanya ingin melihatmu sepanjang hidup ini.
__ADS_1