Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
37


__ADS_3

Tamy mengetuk salah satu pintu kamar di rumah sakit ini, ia menyembulkan kepalanya dari balik daun pintu.


"Tante," panggilnya manja.


"Eh Tamy, sini masuk. Ngapain berdiri di depan pintu?" balasan dari seorang wanita di dalam kamar itu.


"Ada yang mau jenguk Tante," jawabnya.


"Siapa?" Wanita itu bertanya.


Tamy memalingkan kepalanya, memandang wajahku yang berdiri di belakangnya. Mengumbar sebuah senyuman manja. Menyeringai dengan lebar untuk membujuk aku masuk ke dalam sana.


Kuelus pucuk kepala Tamy dan berjalan ke ambang pintu.


Wanita di dalam sana terpaku, seperti tak percaya bahwa ini adalah aku.


"Virgo, ayo masuk!" perintahnya lembut.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku mengikuti perintahnya. Duduk berdampingan dengan seorang lelaki remaja, Riyu.


"Ada apa kamu ke sini? Kamu mau makan roti?" tanyanya sembari menyodorkan sebungkus roti padaku.


Aku menggeleng, hanya menatapi wajah wanita yang sedang terduduk di atas kasur rumah sakit itu.


"Buah?" tawarnya kembali.


Kembali aku menggeleng.


"Atau mau minum?" tanya kembali.


"Aku mau, Tante," putus Tamy langsung.


Gadis itu mengambil mineral gelasan di atas meja dan menyodorkannya padaku.


Jika bukan karena mengikuti keinginan gadis itu. Aku tidak mau berada dalam satu ruangan bersama wanita ini.


Jari lentik gadis itu menarik kulit pinggangku, sedikit mengernyit aku memandang ke arahnya.


Tamy menaikan sebelah alis matanya, memberikan kode agar aku menyapa wanita itu.


Sedikit menghela napas, kulepaskan tarikan jari Tamy.


"Tante, bagaimana keadaannya?" tanyaku malas.


"Baik, alhamdulillah masih sangat baik," jawabnya antusias.


"Oh, baguslah."


Suasana kembali kaku, tidak ada hal yang membuat aku nyaman berada di sini.


"Eh, kak Riyu mau minum? Virgo kamu mau minum apa? Biar aku belikan ke cafetaria." Tamy bangkit dan memandang kami bergantian.


Aku tahu, gadis ini sedang berusaha untuk mencairkan suasana.


"Kalau begitu aku beli dulu ya," sambung Tamy tanpa menunggu jawaban kami.


Kulihat punggung gadis kecil itu menghilang dari balik pintu kamar. Pandanganku kembali menatap wanita yang sedang terduduk di atas kasur pasien.


Sesaat, suasana hanya berjalan dengan hening. Tidak ada topik pembicaraan dan tidak ada yang membuka suara.


Lima menit, sepuluh menit. Tamy belum juga kembali, sepertinya gadis ini memang meninggalkan aku sendiri.


"Permisi, aku kembali dulu," ucapku sembari berdiri.


"Virgo, tunggu!" tahan wanita itu cepat.

__ADS_1


Kulihat wajah wanita itu dengan sudut mata. Memandangnya sinis tanpa berbicara.


"Tante mau bicara sebentar, bisa?" tanyanya lemah.


"Katakan!"


"Sebenarnya Tante mau bilang maaf, maaf karena telah memaksa memasuki keluarga kalian."


"Terlambat."


Wanita itu menundukan kepalanya, sesaat raut wajahnya berubah sendu. Menghidupkan rasa iba dalam hati.


"Tante tahu ini sudah sangat terlambat. Sudah enam tahun berlalu, dan Tante masih terus terbayang wajah ibumu."


Kupalingkan wajah ke arah Riyu, lelaki itu bangkit dan menarik sebuah kursi di sebelah ibunya.


Kemudian ia ikut pergi, keluar dari ruangan.


"Tante bersalah padamu, pada ibumu dan pada Tuhan, Virgo. Mungkin karena itu, Tante mendapati karma yang begitu menyakitkan seperti ini," jelas wanita itu kembali.


"Virgo, ayahmu hanya khilaf. Dia sangat merindukanmu, pulanglah dan temui dia. Dia pasti akan sangat senang bisa melihatmu lagi."


"Aku sudah tidak ada rumah setelah kamu merampas rumahku. Aku juga sudah tidak punya ayah setelah ia menguburkan ibuku dulu. Jadi, jangan capek-capek membujukku."


"Virgo."


Kupalingkan wajah ke arah wanita itu, ia terdiam sembari menundukan wajahnya.


Entahlah, mungkin dia terlalu takut untuk menatap mataku.


"Tante," panggilku, pahit.


"Iya."


"Ceritakan bagaimana ibuku bisa pergi. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu."


Selama ini aku selalu penasaran, bagaimana ibuku bisa pergi? Bagaimana ayah bisa menikah lagi?


Luka ini sudah sangat lama kusimpan, dan semakin lama rasa penasaran ini semakin dalam.


"Virgo, itu, maaf--"


"Ceritakan saja. Jika Tante tidak ingin bercerita, aku tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan maafmu di sini," putusku langsung.


Wanita itu kembali menangis, perlahan suara isaknya mulai terdengar semakin besar. Menangis semakin dalam.


Kudiamkan beberapa saat, tak bersuara dan tak berpindah dari tempatku berdiri.


"Baiklah, aku pergi," putusku, berjalan ke arah pintu.


"Ibumu bunuh diri!" teriaknya padaku.


Langkahku terhenti, pegangan tangan pada knock pintu terlepas begitu saja saat mendengar ucapannya.


Kubalikan badan dan memandang wajah wanita itu dalam.


"Jangan membual!" ancamku ketus.


"Tante berani bersumpah atas nama Riyu, Tante mengatakan yang sebenarnya."


"Itu tidak mungkin," sanggahku lemah.


"Itu benar, Virgo."


Napasku serasa terhenti, pikiranku kosong seketika. Benarkah ibuku pergi dengan cara seperti ini?

__ADS_1


Selama ini aku selalu terbayang akan senyumnya yang selalu terlihat indah. Aku merindukan ia yang selalu membangunkanku dengan menyipratkan air ke wajah.


Bagaimana mungkin? Ini semua tidak mungkin. Ibuku bukan wanita lemah seperti itu?


"Ibumu, meninggal karena tidak tahan oleh rasa sakitnya, Virgo."


"Ibuku tidak mungkin melakukan itu, apa Tante pikir aku percaya? Omong kosong!" teriakku tak percaya.


"Tapi Tante tidak berbohong, Virgo. Ibumu ... ibumu memang pergi dengan cara seperti itu?"


"Kenapa? Kenapa dia bisa pergi dengan cara seperti itu? Ibuku bukan orang yang mudah putus asa!"


Wanita itu mengenggam kedua tangannya, meluruhkan seluruh air matanya.


"Itu, maaf. Maaf Virgo, ibumu kecewa padaku dan ayahmu."


"Kenapa? Sebenarnya apa yang kalian lalukan sampai ibuku pun kalian bunuh seperti itu?" tanyaku meradang.


"Ibumu, kecewa. Kecewa pada kami berdua?"


"Kecewa?" tanyaku dengan menajamkan mata.


"Kecewa karena melihat suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri? Iya?" tanyaku membesarkan suara.


Wanita itu tertunduk, ia menangis tergugu sampai badan kurusnya bergetar dengan kuat.


Perlahan ia menganggukan kepala. Mengukir senyuman pahit di wajahku. Bagaimana mungkin? Ayahku adalah seorang bajing*an seperti itu?


"Terlalu banyak dosa yang kalian perbuat. Sebaiknya kalian sadar, bahwa dunia ini punya caranya sendiri untuk menghukum orang licik seperti kalian."


Kubalikan badan dan kembali berjalan ke arah pintu.


"Virgo tunggu!" tahannya kembali.


Kupalingkan sedikit wajah ke arahnya, memandang sinis dengan sudut mata.


"Tante tahu ini salah, Tante tahu ini hukum karma. Karena itu, Tante ingin menebusnya."


"Menebusnya?" Kubalikan badan dan tersenyum sinis padanya.


"Bagaimana caranya? Kamu mau menghidupkan kembali ibuku yang sudah mati? Mau mengurusku seperti kamu mengurus anakmu? Lupakan saja, tidak ada cara untuk menebus kesalahan di masa lalu. Semua sudah terjadi dan kamu hanya bisa menikmati hasil kerja kerasmu saat ini."


"Ada caranya," ucapnya sendu.


Aku menggeleng dan kembali tersenyum getir. Mendekati ranjang wanita itu.


"Tante, jangan Tante pikir aku ini masih bocah kecil seperti enam tahun lalu. Aku tidak akan mudah tertipu padamu, seperti ayahku yang tertipu dengan air matamu," ucapku ketus.


"Tapi Tante benar ingin menebusnya padamu, Virgo."


"Iya, menebusnya? Dengan cara apa?" tanyaku sengit.


"Pencangkokan hati," balasnya lembut.


"Hah? Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Bukankah Tamy pacarmu? Riyu bilang kamu sangat menyanyangi dia. Dia penderita kanker hati, kan? Kamu bisa lakukan kecocokan organ pada hati Tante, dan hatinya."


Aku tersenyum kecut dan menggeleng pasrah.


"Apa kamu pikir aku ini sudi? Memberikan hati wanita sepertimu pada wanita sebaik, Tamy? Lupakan saja, aku tidak akan menyetujuinya."


"Tapi apakah kamu yakin Tamy punya banyak waktu untuk menunggu donor yang lainnya? Virgo, Tamy juga tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu itu semua."


Sesaat aku terdiam, apa yang diucapkan wanita ini mungkin benar.

__ADS_1


Tetapi Tamyku, dia adalah wanita yang sangat baik walau kadang keras kepala. Mana mungkin hati wanita ini yang kuberikan padanya.


"Virgo, pikirkanlah kembali. Apakah Tamy punya kesempatan untuk menunggu?"


__ADS_2