Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
38


__ADS_3

"Virgo, Tante tahu Tante bukanlah orang yang baik. Tetapi Tamy adalah gadis yang baik, tidak mungkin hanya karena sebagian hati Tante berada di dalam tubuhnya, dia akan merubah sikapnya. Pikirkanlah kembali."


Aku terdiam, tidak mampu lagi menjawab ucapan wanita itu.


Benar, Tamy tidak memiliki banyak waktu lagi. Tapi, mungkinkah aku mengambil hatinya?


"Lakukan pencocokan hati, Virgo. Tante berharap jika hati yang Tante miliki bisa cocok dengan hati Tamy," ucapnya kembali, berusaha meyakinkan.


Kubalikan badan dan kembali berjalan mendekati ranjang pasien. Menarik kursi dan duduk di dekat wanita itu.


"Kenapa kamu lakukan ini? Jika pendonoran ini tidak berhasil, bukan hanya Tamy. Tapi kamu juga bisa kehilangan nyawa."


Wanita itu tersenyum lembut dan mengambil tanganku. Pelan, kulepaskan tangan wanita itu dari atas punggung tangan.


"Cepat atau lambat, Tante juga akan pergi, Virgo. Kamu tenang saja, kanker payudara yang Tante derita tidak menyebar ke organ lainnya."


"Kenapa? Kenapa kamu mau melakukan ini semua?"


"Tante pernah membiarkan ibumu pergi. Kali ini, jika Tuhan mengizinkan, Tante ingin mengembalikan orang yang kamu sayangi. Selain ibumu, Tamy adalah wanita pertama yang kamu sayangi. Tante berharap, selamanya, Tamy bisa berada di sampingmu, Virgo."


Kuhela napas dan bangkit dari kursi itu, berjalan ke depan pintu, meraih gagang pintu ruangan itu.


"Tanyakan pada om Leo, dia lebih berhak atas keadaan Tamy daripada aku," ucapku sembari menarik daun pintu itu.


"Virgo," panggilnya kembali.


Kualihkan sedikit pandangan ke arahnya.


"Bisakah kamu merahasiakan ini dari Riyu? Jika dia tahu, mungkin saja dia tidak akan setuju."


"Aku mengerti," jawabku mengakhiri percakapan ini.


Kututup pintu ruangan itu dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Pikiranku kacau, bingung dengan keadaan ini.


Di satu sisi, aku hanya ingin gadisku tetap hidup. Di sisi lain, aku tidak ingin bagian dari wanita itu yang akan aku cintai kelak.


Kuhentikan langkah dan menyandarkan sebelah bahu di tiang peyanggah.


Melihat Tamy yang sedang duduk dengan Riyu, bercanda dan tertawa dengan lebar.


Sesekali, tawa dan suaranya terdengar. Kadang aku bertanya, apakah gadis itu selalu tertawa saat ia terluka?


Kugulum senyum saat melihat wajah Tamy yang begitu ceria. Sedikit banyaknya aku lega saat menatap senyumnya.


'Sanggupkah aku kehilangan senyum itu?'


***


Kuganti seragam sekolah dengan kaus dalam yang kukenakan. Menyelempangkan salah satu tali ransel di bahuku.


Lelah, jangan ditanya lagi?


Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu di sini. Terkadang aku sampai hapal siapa pasien di rumah sakit ini.


Kubuka pintu kamar Tamy, gadis itu sedang berdiri di balkon kamar dengan kedua tangannya yang tertumpuh di atas pagar.


Memandang kosong ke arah jalanan ramai yang ada di bawah sana.


"Tamy," panggilku lembut.


Tamy membalikan badannya dan melambaikan tangan. Memanggil aku untuk mendekat.


"Kenapa kamu


sudah kembali?" Dia bertanya.


"Hari ini sedang ada rapat guru,"


"Oh, kamu sudah kelas tiga. Seharusnya kamu belajar saja, Virgo."


"Bagaimana jika kamu temani aku belajar?" tanyaku dengan tersenyum.


Tamy menyipitkan matanya dan memandangku sedikit sinis.


"Baiklah, ayo belajar di sini bersamaku," ajak Tamy.


Kukeluarkan beberapa buku, duduk di atas balkon kamar inap Tamy.


Awalnya Tamy menikmati waktu belajar ini, setelah dua jam ia mulai bosan.


Bibirnya mengerucut panjang, sesekali ia meniupkan poninya ke atas. Wajahnya terlihat sangat bosan.


"Bosan?" tanyaku sembari meraih pucuk kepalanya.

__ADS_1


Dia hanya mengangguk, mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.


"Virgo, ayo turun dan lihat orang di bawah."


"Ayo," jawabku menurut.


Tamy tersenyum manja, menampilkan sederet giginya dan menggandeng lenganku manja.


Wajah Tamy langsung berubah saat melihat keramaian di taman rumah sakit. Beberapa kali tangannya menunjuk beberapa pasang remaja yang melintas di jalan raya.


"Virgo, jika kita pacaran dari SMP, apa kita akan pulang sekolah seperti itu?" tanyanya menunjuk sepasang remaja yang sedang berboncengan.


"Enggak," jawabku.


"Kok enggak?"


"Karena aku tidak akan sanggup melihatmu kepanasan seperti itu."


Tamy menyunggingkan sebelah bibirnya, seperti jijik mendengar ucapanku.


Kulepaskan tawa dan mengusap wajahnya sedikit kasar.


"Pernahkah aku tidak menurutimu? Apapun yang kamu mau, pasti akan kuturuti," jawabku serius.


Tamy menggulum senyumnya, perlahan ia menundukan kepalanya. Menggoyangkan lengan tanganku yang ia gandeng dengan erat, malu-malu dengan wajah yang mulai memerah.


"Kalau gitu ayo pinjam sepeda, kita main keluar," pintanya manja.


"Tamy, ayahmu bilang kalau kamu gak bisa keluar sebelum kheimo keempat dilakukan."


"Tapi aku bosan."


"Aku gak bisa ambil resiko untuk kesehatan kamu, Tamy."


"Ayolah Virgo, aku mohon." Tamy menangkupkan tangannya di depan dada. Memandangku dengan binar mata jernihnya itu.


Aku tahu, ini trik ia agar rasa iba dalam hatiku muncul.


"Tamy--"


"Virgo, aku mohon. Aku mencintaimu," bujuknya kembali.


Aku tersenyum simpul dan menggelengkan kepala. Gadis ini memang terlalu pintar mengemis iba.


"Baiklah, tapi kita hanya naik sepeda keliling taman rumah sakit ya."


Kukeluarkan ponsel dan menelpon Jerry, meminta ia untuk meminjamkan sepedanya kepadaku.


Setelah beberapa lama menunggu, Jerry datang dengan membawa sepedanya.


"Buat apa?" tanya Jerry saat melihat aku datang.


"Ingin ajak Tamy jalan-jalan," jawabku datar.


"Harus naik sepeda gitu?"


"Ehm," jawabku sembari mengangguk. "Duluan ya," sambungku menaiki sepeda ke dalam perkarangan rumah sakit.


"Virgo cepat sekali, ini punya siapa?" tanyanya antusias.


"Jerry. Ayo naik! Biar aku bonceng kamu keliling rumah sakit."


Tamy mengancungkan tangannya, menaiki jok belakang sepeda. Sebuah lengan kurus melingkari pinggangku.


"Siap?" tanyaku cepat.


"Ayo Virgo, lets go!"


Aku kembali tersenyum dan mulai mengkayuh sepeda itu perlahan. Tidak tahu mengapa, namun sepertinya Tamy terlihat sangat bahagia saat ia duduk di belakang sana.


Bibirnya terus merekah, sesekali tangannya melambai pada anak-anak yang ada di taman.


Entah berapa banyak pasang mata yang memandangi kami saat ini. Aku tidak peduli, selama Tamy bahagia, aku pasti akan melakukan apapun untuknya.


"Virgo, stop!"


Kutarik rem sepeda ini kuat, menghentikan lajunya tepat di depan gerbang rumah sakit.


"Sudah puas?" tanyaku.


Tamy menggeleng dan turun dari jok, matanya memandang ke sekeliling. Ia menaiki batang sepeda, duduk di depanku.


"Kenapa pindah?" tanyaku bingung.


"Mutar sekali lagi, ya," pintanya manja.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk dan mengkayuh kambali sepeda ini, memutari taman rumah sakit sekali lagi.


"Virgo ayo keluar gerbang!" perintah Tamy saat sepeda melaju hampir ke depan gerbang.


"Kenapa?"


"Sudah keluar saja."


"Enggak, ini bahaya, Tamy."


"Keluar saja, aku mau keluar!" perintahnya kasar.


Kuikuti keinginannya, mengkayuh keluar dari gerbang. Tamy melepaskan tawanya sekeras mungkin.


"Virgo ayo, go ... go ... go!" teriaknya lantang.


"Ada apa?" tanyaku bingung.


"Ayo kayuh lebih cepat lagi, ada satpam yang mengikuti?"


"Apa?" tanyaku terkejut. Kualihkan pandangan, melihat dua satpam yang berlari mengikuti sepedaku.


Semakin kucepatkan kayuhan di kaki, melesat secepat mungkin meninggalkan perkarangan rumah sakit.


"Ha ha ha." Tamy melepaskan tawa cerianya.


Kualihkan kembali pandangan kebelakang, sudah tidak ada lagi orang. Kuhentikan laju sepeda ini.


"Eh, kenapa berhenti?" tanyanya bingung.


"Kamu, kenapa nakal sekali?" tanyaku geram.


"Ayolah Virgo, apa kamu pikir aku gak bosan di rumah sakit terus?"


"Tapi ini bahaya untuk kesehatan kamu, Tamy."


"Aku tahu, tetapi sebelum aku mati. Aku ingin mrasakan hidup bebas sekali lagi, menyedihkan sekali. Bahkan mati pun harus terkekang di rumah sakit terus."


"Tamy!" bentakku sedikit keras.


"Iya, iya. Aku tahu."


Tamy memalingkan kepalanya, menyeringai dengan manja.


"Tapi kita sudah di luar Virgo, tidak bisakah kita jalan-jalan sebentar saja?" tanyanya manja.


Kuhela napas dengan sedikit berat, menarik kepalanya dan mencium lembut ujung kepalanya.


"Baiklah, tapi kali ini saja," jawabku mengalah.


"Ehm." Tamy dengan cepat menganggukan kepalanya. Kembali bibirnya menyeringai dengan lebar.


Aku mulai mengkayuh sepeda ini, sesekali bernyanyi sembari menggoda gadis yang duduk di batang depan sepeda ini.


Tamy hanya terus tertawa, melepaskan suaranya tanpa tertahan duka.


Tamy, seandainya kamu tahu. Setiap hariku selalu berakhir dengan rasa takut.


Takut jika tidak bisa sedekat ini lagi denganmu. Takut jika tidak bisa mendengar suaramu lagi. Takut jika harus kehilanganmu dari pandanganku.


Aku tidak tahu, walaupun saat ini umur kita masih terlalu belia. Tetapi cintaku padamu tak semuda umur kita.


Aku benar-benar cinta padamu, aku benar-benar sakit, bahkan walau hanya memikirkan penderitaanmu.


"Virgo ke sana," tunjuk Tamy ke arah danau pingir kota.


"Baiklah," jawabku sembari mengkayuh pedal sepeda sekuat tenaga.


Menuju danau kecil yang ada di pinggir kota. Tamy langsung berlari ke ujung danau, menikmati suasana tenang yang ada di sini.


Tamy membalikan badannya, melambaikan tangannya ke arakhku.


"Virgo, sini!" panggilnya lembut. "Lihat, airnya jernih," sambungnya senang.


Perlahan aku berjalan mendekati Tamy, gadis itu sudah terduduk di pinggir danau sembari merapikan rambutnya.


Sehelai rambut jatuh ke atas air, gerakan tangan Tamy berhenti seketika. Terdiam di pinggir danau dengan melihat pantulan dirinya.


Aku tahu, saat ini dia pasti sangat sedih. Selama aku kenal gadis itu, ia sudah beberapa kali ganti warna rambut.


Gadis itu sangat menyukai mahkotanya. Pasti sakit saat harus melihat sesuatu yang sangat disukai harus berakhir seperti ini.


"Tamy, kamu kenapa?"


Tamy tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa."


Lagi, ucapan itu yang keluar dari dalam bibirnya. Kenapa? Kenapa, Tamy? Kamu masih mengatakan baik-baik saja, saat aku telah menyaksikan segalanya?


__ADS_2