Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
43


__ADS_3

Tamy kembali ke kamarnya, sesekali ia berontak, tidak ingin menjalani transplantasi hati tante Gina.


Om Leo hanya mengangguk, mengiyakan semua ucapan Tamy.


Sedikit tersenyum, aku melihat Tamy yang sudah bisa memarahi dan menceramahi orang lain, termasuk ayahnya sendiri.


"Om," panggilku sebelum om Leo mendorong Tamy masuk ke kamarnya.


"Ada apa, Virgo?" Dia bertanya.


"Ada yang ingin aku tanyakan," ucapku lirih.


Om Leo mengangguk, ia mendorong Tamy masuk ke dalam kamarnya. Sementara aku masih menunggunya di luar.


Setelah beberapa menit di dalam, om Leo keluar, kulihat gadisku sudah tertidur di dalam sana.


"Ada apa?" tanyanya langsung.


"Om, apakah Tamy saat ini baik-baik saja?"


Om Leo mengangguk pelan, menghela napasnya sembari menatap tubuh gadisnya dari balik kaca pintu.


"Lebih baik dari sebelumnya," jawabnya lembut.


"Syukurlah, aku ingin bertanya soal transplantasi hati untuk Tamy, Om."


"Virgo, sebenarnya apa yang ingin kamu ketahui?"


"Benarkah transplantasi hati hanya bisa dilakukan oleh orang yang sekarat? Apakah orang sehat bisa menjadi pendonornya?" tanyaku langsung.


Om Leo tersenyum lembut, ia menepuk bahuku sembari merangkulnya. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


"Apa Tamy mengatakan sesuatu tentang pendonor cangkok hati?"


"Iya, dia bilang hanya orang sekarat yang bisa melakukannya. Karena resiko itu besar, jadi hanya orang yang berada di ambang kematian yang bisa mendonorkan hati."


Om Leo kembali tersenyum, ia menggelengkan kepalanya.


"Virgo, kamu sudah tertipu lagi," jawab om Leo lembut.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Transplantasi hati sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang sama-sama sehat, baik si pendonor ataupun si penerima. Keduanya harus dalam keadaan sehat. Karena jika salah satunya dalam keadaan buruk, maka transplantasi hati bisa berakibat buruk atau gagal fungsi."


Om Leo berhenti dan duduk di antara jejeran kursi yang berada di koridor rumah sakit.


"Hati tidak seperti ginjal, Virgo. Hati si pendonor akan kembali utuh setelah beberapa waktu."


Sesaat aku terdiam, terngiang kembali ucapan Tamy yang kupercayai begitu saja. Bisa-bisanya, Tamy terus membohongiku seperti ini.


"Alasan kenapa saya tidak mau melalukam transplantasi hati pada Gina, karena kesehatan Gina juga tidak begitu baik. Saat ini organ hatinya memang tidak tersebar kanker, tapi mengambil organ dari induk yang terkena kanker, maka resikonya akan lebih besar. Kepada si pendonor ataupun si penerima, mereka berdua bisa mengalami kondsi buruk setelah pasca operasi."


Aku masih terdiam, sesaat pikiranku kosong, melayang entah kemana.


Aku masih tidak habis pikir, sampai detik ini semua kebohongan Tamy masih menjadi duri di dalam hatiku.


"Virgo, kamu baik-baik saja?" Dia bertanya.


Kutarik napas dalam dan memalinglan pandangan ke arah om Leo.


"Kalau begitu, bisakah Om memberikan separuh hatiku padanya? Aku bersedia melakukannya."


"Transplantasi hati juga bukan semudah yang kamu bayangkan, Virgo. Banyak tahapan yang harus kamu jalani, sebelumnya kamu juga harus mengecek golongan darah dan juga kecocokan jaringan hati kamu."


"Kalau begitu ayo lakukan. Ambil sampel darahku, Om. Lakukan dengan cepat, aku tidak ingin Tamy menderita lagi."

__ADS_1


Om Leo tersenyum tipis dan mengelus salah satu bahuku.


"Andai itu semua semudah yang kamu katakan, Virgo. Saya tidak akan meunggu waktu selama lima tahun untuk kesembuhan, Tamy."


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Transplantasi hati biasanya di ambil dari orang yang sedarah. Karena si penerima bisa melakukan transplantasi hati, tetapi belum tentu tubuhnya menerima hati yang baru dengan baik. Jika tubuhnya menolak. maka imun dalam tubuhnya akan menyerang organ baru yang dicangkokan."


Om Leo menghela napasnya, ia menundukan pandangannya. Terdiam sesaat.


"Andai golongan darah Tamy mengikuti saya, bukan mengkuti ibunya.  Saya pasti akan menyembuhkannya dari awal," ucap om Leo pahit.


"Om, kita gak akan tahu jika kita tidak berusaha kan? Coba saja dulu, Om. Aku mau melakukannya, apapun itu, asalkan Tamy tidak menderita lagi. Aku akan melakukan semuanya dengan senang hati."


"Virgo, butuh waktu untuk kamu bisa kembali ke keadaan semula. Kamu juga harus bisa menjaga diri agar lukamu tidak terinfeksi, walaupun kemungkinan gagalnya kecil, tetapi ini juga beresiko buatmu, Virgo."


"Bahkan walaupun resikonya 100% sekalipun aku tidak akan ragu mengambil langkah ini, Om," jawabku yakin.


"Bagaimana dengan keluargamu?"


Sesaat aku tertunduk, siapa yang saat ini ada dipihakku?


Kakek dan nenek? Mereka sudah pindah ke desa semenjak aku masuk SMA.


"Keluargaku tidak akan tahu, Om. Kakek dan nenek ada di desa."


"Lalu bagaimana dengan ujian terakhirmu? Bukannya itu akan di lakukan sebentar lagi?"


"Om, percayalah. Aku bisa melakukan ini, Om. Ayo kita lakukan pencocokan jaringan hati, aku yakin pasti ada jalan untuk Tamy," ucapku tanpa ragu.


Om Leo memandangiku dengan lekat, seperti sedang memikirkan sesuatu.


Tak lama ia menghela napasnya, mengangguk perlahan.


"Baiklah jika kamu memaksa, ayo kita ke laboratorium untuk melakukan pemeriksaan."


"Jangan senang dulu, hanya pemeriksaan kecocokan saja. Belum tentu hati kalian cocok."


"Tapi aku yakin, hati kami pasti akan cocok, Om."


"Kenapa bisa seyakin itu?"


"Karena aku adalah calon menantu Om di masa depan. Pasti hatiku dan hati anak Om memiliki kecocokan."


Om Leo tertawa dan menggelengkan kepala.


"Hahh ... anak remaja ini. Besar sekali keinginanmu untuk berkorban ya."


"Apapun itu, asalkan Tamy sembuh. Aku siap melakukannya, Om."


***


Om Leo memandangi wajahku dengan sangat lekat. Memegang sebuah amplop putih di salah satu tangannya.


"Sebelum saya buka hasil lab ini. Virgo, apa kamu yakin dengan keputusan ini?" tanyanya meyakinkanku.


"Aku yakin, Om. Dan aku sudah sangat siap menunggu hasilnya."


Om Leo menghela napasnya, perlahan tangannya membuka hasil lab itu.


"Hanya butuh angka 62% untuk kecocokan hatimu dan hati Tamy, kita lihat berapa angka kecocokan hati kalian."


Om Leo tersenyum sembari membuka lembaran itu, membacanya beberapa saat lalu pandangannya teralih kepadaku.


Ia menatapku dengan dalam, perlahan kertas yang ada di tangannya terlepas.

__ADS_1


"Ini gak mungkin," ucap om Leo sembari menatapku lekat.


"Apanya yang gak mungkin, Om?" tanyaku bingung.


"Virgo, bukan hanya golongan darah kalian yang sama. Tetapi jaringan organ hati kamu, 92% cocok dengan hati, Tamy."


Kuhela napas dengan sangat lega, bagus sekali. Aku tersenyum dengan sangat lebar, melihat om Leo yang masih memandangiku dengan lekat.


"Kalian gak ada hubungan darah sama sekali, tapi kenapa angka kecocokan hati kalian melebihi 90%?"


"Ini yang namanya jodoh, Om. Aku dan Tamy memang berjodoh, bahkan hati kami juga sama."


"Jangan bercanda, Virgo. Di dunia ini, sulit sekali menemukan kecocokan hati yang setinggi ini tanpa ada ikatan darah."


"Kenapa Om malah bingung? Bagus jika kami memiliki hati yang sama."


"Bagaimana jika kamu dan Tamy adalah saudara?" tanya Om Leo yang membuat aku terbatuk seketika.


"Hah, mana mungkin. Ayah dan Ibuku jelas kali siapa, dan nenekku juga bukan nenek, Tamy kan."


Om Leo melepaskan senyumnya dan melipat kembali kertas yang ada di tangannya.


"Saya hanya bercanda, saya anak tunggal di keluarga saya. Jadi selain saya, Tamy tidak memiliki wali lainnya."


Kuhela napas sembari mengelus dada, lega dengan pernyataan om Leo.


"Jadi, kapan operasinya akan dilakukan, Om?"


"Jangan terburu-buru, Virgo. Kamu harus mempersiapkan diri, Tamy juga harus membaik sedikit lagi."


"Baiklah, aku akan mempersiapkan diri. Saat keadaan Tamy sudah siap, maka secepatnya kita lakukan operasi ya, Om."


"Baik," jawab Om Leo cepat.


Dengan sedikit berlari, aku kembali keruangan Tamy. Serasa ada sesuatu yang mengangkat beban beratku selama ini.


Aku benar-benar lega saat mengetahui kenyataan ini.


Tamy, aku akan menghukummu dengan sangat berat atas semua kebohongan ini.


Kubuka pintu rawat inap Tamy, terdengar suara tawa gadis itu yang sedang menggoda perawat penjaganya.


Matanya langsung teralih saat melihat aku datang. Tamy tersenyum dengan sangat lebar, entah kenapa senyumnya terlihat sangat lepas dari sebelumnya.


Tawanya terlihat sangat ceria tanpa tertahan rasa sakit yang ia derita selama ini.


"Virgo, dari mana saja? Aku rindu," ucapnya manja.


Aku tersenyum sembari berjalan mendekatinya, kutangkupkan kedua tangan di pipinya dan menekan kuat pipi tembamnya itu.


"Au, aduh, Virgo," rengeknya manja.


"Ini hukuman untuk si tukang bohong," jawabku ketus.


"Bohong? Aku bohong apa?" tanyanya kembali.


"Kamu sudah membohongi aku. Kamu ini, siapa yang mengajarimu?"


"Maksudnya apa sih? Aku gak ngerti."


"Kamu, kenapa kamu bilang--"


Kugantungkan kalimat, menatap jernih matanya itu. Jika dia tahu aku yang akan mendonorkan hati padanya.


Mungkinkah Tamy mau menerimanya?

__ADS_1


Jika dia mampu membohongiku, mungkin itu karena ia tidak ingin membebaniku.


Jadi, haruskah aku mengatakan yang sebenarnya?


__ADS_2