
Ku tundukan kepalaku saat mendapati pertanyaan kak Riyu.
"Tidak semua orang itu kasihan pada keadaan orang lain, Tamy. Contohnya aku, dari awal aku tahu kamu juga sedang berjuang, bukannya kasihan, tapi aku sangat kagum padamu," ucap Kak Riyu lembut.
Ku alihkan pandanganku, melihat kak Riyu yang saat ini sedang duduk disebelahku.
"Aku sering lihat Ibuku merintih dan mengeluh saat penyakitnya datang. Terkadang aku hampir tidak sanggup bertahan, jika melihatnya begitu. Aku pikir kamu dan Sahara akan sama, tapi siapa sangka, kalian lebih kuat dari orang yang lebih dewasa daripada kalian." Kak Riyu menghela nafasnya dan mengelus kepala botak Sahara.
"Di dunia ini jangan hanya melihat dari sudut pandangmu saja, Tamy. Kamu bisa lihat orang lain seperti itu, tapi belum tentu orang lain melihatmu juga seperti itu."
Ku tundukan pandanganku kembali dan menghela nafas. Aku tahu maksud dari ucapan kak Riyu, tapi aku terlalu takut, takut jika semua yang aku pikirkan adalah kebenarannya.
"Apa kamu juga berpikir Virgo akan mengasihani kamu?" Tanya kak Riyu kembali.
Ku anggukan kepalaku dan memainkan kakiku diatas rerumputan.
"Jangan terlalu naif, Tamy. Virgo itu sama sekali tidak akan mengasihanimu. Dia hanya sayang padamu," ucap kak Riyu lembut.
"Tapi bagaimana jika apa yang aku pikirkan adalah kebenarannya Kak? aku paling benci jika di perlakukan khusus dan dianggap lemah."
"Itu semua tergantung padamu, aku hanya menjelaskan. Bukan memaksamu untuk mempercayainya, kamu itu wanita yang keras kepala, mana mungkin bisa luluh hanya dengan kata-kata."
Kak Riyu bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh.
"Tamy," panggil kak Riyu lembut.
"Iya,"
"Jika Virgo gak mau kembali, jangan takut. Kamu bisa andalkan aku dan berlari kesisiku. Kamu gak akan pernah sendiri," ucap Kak Riyu dengan tersenyum lembut.
Aku terdiam, masih mencerna ucapan kak Riyu. Maksudnya?
Ku gelengkan kepalaku dan kembali menatap kosong kedepan. Ku hirup udara segar ditaman ini.
"Kak Tamy!" Suara riuh anak-anak datang mendekati.
Ku lepaskan senyumku saat melihat anak-anak penderita kanker datang mendekatiku.
"Kak Tamy inap ya?" Tanya Zoel, si anak lelaki penderita tumor otak yang selalu saja menempel padaku.
"Iya, Kakak inap," jawabku lembut.
"Wah ... Kata om Leo aku juga akan inap, nanti kita inap bareng ya,"
"Baiklah."
"Rambut kak Tamy makin cantik deh, aku suka," kini salah satu gadis kecil yang sudah lebih dulu botak daripada Sahara, mengelus rambut pirangku dengan lembut.
__ADS_1
"Nanti kalau rambut kamu sudah tumbuh, kamu bisa warnai seperti aku. Jangan sedih, ya," ucapku menyemangati.
"Apa rambut kak Tamy juga akan rontok seperti kami?" Tanyanya kembali.
Entah kenapa mendengar ucapan gadis ini sempat membuat nafasku terhenti. Sejenak aku lupa, bahwa aku juga hanya akan menunggu waktu untuk menjadi seperti mereka.
Aku tersenyum kaku dan menggelengkan kepala.
"Kakak rasa tidak, Kakak kan sakitnya di hati, bukan di kepala," jawabku lembut.
"Tapi kheimo akan membuat rambut Kakak rontok loh," sambung Sahara.
Aku kembali terdiam dan menarik nafasku yang terus terasa sangat berat. Ku coba menahan genangan air yang sudah ingin turun sedari tadi.
"Iya, kheimo akan membuat Kakak botak seperti kalian, ya?" Aku tersenyum kaku dan menganggukan kepalaku.
"Tapi Kakak jangan sedih, walaupun Kakak gak punya rambut. Buat Zoel, kak Tamy yang paling cantik." Zoel melingkari tangan mungilnya dileherku.
Ku tarik ingus yang hampir keluar, kenapa rasanya sesak sekali?
Kenapa rasanya sakit sekali, Ayah aku takut, aku takut untuk meninggalkanmu sendiri.
Ayah kalau aku pergi nanti, siapa yang akan menjaga dan menemanimu?
Ayah ... Ayah ... Aku harus bagaimana?
***
Ku raih tangan Ayah yang membelai rambutku dan ku letakan dipipi.
"Ayah," panggilku lembut.
"Iya, Sayang."
"Ayah kapan akan bawa Mama baru pulang?"
Ayah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau Ayah maunya, kamu saja yang bawa menantu Ayah pulang, bagaimana?"
Ku lepaskan senyum pahitku dan mengubah posisiku menjadi duduk diatas kasur.
Ku ambil helaian rambut pirangku dan melihatnya. Entah sampai kapan, aku bisa merawat rambut ini?
"Kamu lagi mikiri apa, Sayang?" Tanya Ayah yang ikut mengambil helaian rambutku.
"Ayah, sebelum rambut aku rontok karena kheimo, gimana kalau Ayah yang potong duluan rambut aku?" Tanyaku pahit.
__ADS_1
Ayah menghela nafasnya dan menahan air matanya. Ayah tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku.
"Apa kamu tidak sayang? kamu kan sangat suka sama rambutmu?"
"Karena aku suka rambutku, aku ingin Ayah memotongnya sebelum rambut ini rontok dan menjadi rusak."
"Kalau gitu, kita ke salon yuk," ajak Ayah lembut.
"Ngapain ke salon Ayah? hanya sekedar di potong. Disini saja juga bisa," jawabku lembut.
Aku berjalan kedepan kaca, dan duduk didepan kaca. Menyisir rambut panjang dan juga pirangku sebelum memotongnya.
Ku serahkan sebuah gunting ke tangan Ayah yang sedang berdiri dibelakangku.
"Apa kamu yakin, Tamy?" Tanya Ayah lembut.
Ku lihat pantulan diriku dari dalam kaca, ku raih helaian rambut pirangku dan membelainya dengan lembut.
"Ayo kita mulai, Ayah," pintaku lembut.
Ayah menyisir rambutku kembali, merapikan helaiannya sebelum memotongnya menjadi lebih pendek.
Ku perhatikan satu persatu helaian rambutku yang jatuh, dari dalam pantulan kaca.
Ku pejamkan kedua bola mataku, membiarkan air mataku ikut jatuh bersama helaian rambut pirangku.
Pada akhirnya, sesuatu yang selalu aku jaga, harus aku lepaskan satu persatu.
Ku rasakan tangan Ayah yang mulai gemetar saat harus memotong sisa rambutku. Ku lihat wajah Ayah yang begitu tersiksa saat harus memotong rambut kesayangan putrinya ini.
Ayah menjatuhkan guntingnya dan menumpuhkan dagunya diatas pucuk kepalaku. Ayah memeluk bahuku dengan erat, tubuhnya mulai bergetar, menjatuhkan satu persatu air matanya.
"Tamy, terus terang Ayah gak sanggup. Ayah gak sanggup, Nak," ucap Ayah tergugu.
Ku tangkupkan telapak tangan didepan mulut. Aku juga gak sanggup Ayah, aku juga gak sanggup. Tapi aku harus bagaimana?
Ku balikan badanku dan memeluk badan besar Ayah. Untuk sesaat, kami berdua saling masuk pada kesedihan masing-masing.
Ayah, maafkan aku. Maaf jika aku sudah tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi.
Aku gak sanggup jika harus bertahan lebih lama lagi. Karena aku tahu, bahwa cangkok hati yang selama beberapa tahun ini sedang Ayah usahakan mati-matian, tidak pernah berujung.
Itu hanya akan menjadi harapan-harapan kosong yang semakin menyakitkan setiap harinya.
Karena, semakin lama. Aku menjadi semakin ingin hidup lebih lama. Semakin banyak orang yang aku temui, semakin membuat aku serakah. Aku ingin hidup lebih lama lagi dan terus hidup.
Tapi aku tidak berdaya Ayah, karena semakin lama. Sakit yang kurasakan juga semakin parah. Aku hanya bisa pasrah, pasrah pada keadaan ini.
__ADS_1
Aku hanya bisa berharap, setelah aku pergi nanti. Ayah akan baik-baik saja.
Ayah harus baik-baik saja....