
"Tamy, kamu disini?" Virgo langsung datang mendekatiku dan mengambil kedua telapak tanganku.
"Seminggu aku nyariin kamu, pihak sekolah bilang kamu sakit. Aku hubungi gak bisa, aku kerumah juga gak ada kamu. Kamu sakit apa?" Tanya Virgo tanpa jeda.
"Aku hanya bosan di sekolah, aku kesini karena mau ikut Ayah," jawabku spontan.
"Huft, syukurlah." Virgo meraih kepalaku dan mengelusnya dengan lembut.
"Aku pikir kamu kenapa-kenapa, atau penyakitmu kumat lagi," ucap Virgo lega.
"Penyakit? penyakit yang mana?" Tanyaku bingung.
"Fungsi hati yang kamu bilang hari itu."
"Oh itu?" Aku menyeringai dan mengelus sudut dahiku.
"Jangan bilang kamu hanya menipu aku?" Tanya Virgo yang mulai sengit.
"Aku gak berniat menipumu, tapi aku juga tidak menyangka kamu akan menganggapnya serius. He he."
Virgo melepaskan senyumnya dan menarik tubuhku untuk di peluk.
"Dasar, aku benar-benar khawatir padamu," ucap Virgo sambil memeluk erat badanku.
Ku pejamkan mataku dan membalas pelukan hangat Virgo. Maafin aku Virgo, maaf aku membohongimu.
"Ehm, ehm." Kak Mike berdehem dengan kuat.
"Pasutri, jangan lupa, kalian tidak berdua disini," ledek Kak Mike kembali.
Ku leraikan pelukan Virgo dan mencubit kulit perutnya.
"Ah, ah, Tamy ini sakit," ucap Virgo menahan sakit.
"Habisnya, main peluk-peluk sembarangan sih."
"Tapi kamu suka kan?" Virgo menendeng bahuku dengan manja.
"Apa sih?" Ku sikut perut Virgo dengan lembut, tersipu malu.
"Kalian berdua ini, masih SMA saja sudah lengket banget," ucap kak Mike dengan menggelengkan kepalanya.
"Emh, kak Mike tadi mau bilang apa?"
"Oh, itu, aku cuma mau kasih tahu kalau Virgo ada disini."
"Hanya mau bilang itu?"
"Iya."
Ku hela nafas dan menggelengkan kepalaku dengan pasrah. Kalau hanya mau bilang itu kenapa harus sesulit itu?
"Yasudah, aku balik duluan ya." Pamitku lembut.
"Eh, kamu mau kemana?" Tanya Virgo menahanku.
"Balik ke tempat Ayah."
"Kenapa balik? kita ke taman saja yuk."
"Kamu bukannya mau jenguk Aura ya, Virgo?" Tanyaku kembali.
Seketika Virgo melemparkan pandangannya kearah Aura yang sedari tadi menatap kami dengan tajam.
"Itu, iya sih."
"Yasudah kamu disini saja. Lagian aku bentar lagi juga mau pulang sama Ayah."
"Kamu gak apa-apa kalau aku disini?" Tanya Virgo takut.
"Memang aku kenapa?"
Virgo hanya menyeringai dan menggelengkan kepalanya. Aku melepaskan senyumku saat melihat ekspresi Virgo.
"Aku balik duluan ya, Aura semoga cepat sembuh."
"Ya," jawab Aura jutek.
Ku balikan badan dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Tamy." Panggil Virgo lembut.
"Hem." Ku alihkan pandangan mataku kearah Virgo.
"Besok kamu sekolah kan?"
"Hem, mungkin," jawabku lembut.
"Kok mungkin sih? sekolah dong. Aku kan kangen," ucap Virgo tersipu malu.
Ku lepaskan senyumku dan menggeleng pasrah. Ku buka daun pintu dengan cepat.
"Bye," ucapku sebelum keluar dari pintu.
Ku tutup pintu kamar Aura dan kembali tersenyum. Virgo, tingkahnya ada-ada saja.
***
"Ayah." Panggilku sambil berlari keluar dari kamar.
"Ayah." plPanggilku sedikit panik.
"Ada apa?" Tanya Ayah lembut.
"Apa Ayah lihat obat aku? rasaku ada di dalam tas, kenapa sekarang hilang?" Tanyaku sambil mengeluarkan seluruh isi di dalam tasku.
"Kamu menjatuhkannya mungkin."
"Masa sih? aku gak ingat ada mengeluarkannya."
"Kamu selain Virgo apa ingat hal yang lain?"
"Ayah!" Panggilku sedikit menekan.
"Baiklah, jangan marah. Ayah akan membawanya nanti, jangan marah, oke." ucap Ayah lembut.
"Hem." Ku ambil tangan Ayah dan menciumnya dengan takzim.
"Aku berangkat dulu, Ayah. Assalamualaikum."
Aku berlari membuka pintu pagar rumahku. Sudah ada Virgo yang menungguku dengan sabar di balik pagar rumahku.
"Telat 1 menit 15 detik."
"Ayolah, Virgo. Ada yang harus aku cari tadi," ucapku sambil menggandeng tangan Virgo.
"Baiklah, jangankan satu menit, bahkan jika aku harus menunggumu bertahun lamanya pun, aku rela," goda Virgo padaku.
Ku gulum senyum dan menundukan pandanganku. Ini masih pagi buta, namun Virgo sudah membuat jantungku berdebar dan berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Kamu ini, masih pagi juga," ucapku dengan tersipu malu.
"Memang kenapa?"
Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Berjalan dengan sedikit bercanda menyusuri gang kecil rumahku.
Sesekali ku pukul lengan tangan Virgo karena tak tahan dengan godaanya.
"Tamy." pPanggil Virgo lembut.
"Hem."
"Aku merasa, sudah lama sekali kamu tidak sedekat ini dengan aku."
"Masa sih?"
"Iya, akhir-akhir ini kamu sering marah dan juga sering kasar. Aku gak tahu kenapa, rasanya kamu berubah."
"Mungkin itu karena masa PMS aku saja, Virgo," jawabku mengelak.
"Hem, ternyata setelah pacaran dua tahun, kamu baru sekali ya PMS nya."
"Apa?" Tanyaku sedikit terkejut.
"Iya, orang kamu marah-marah dan berubah kasar baru kali ini saja," jawab Virgo lembut.
"Virgo." Panggilku sedikit keras.
"Ha ha ha. Baiklah, baiklah. Jangan marah." Virgo merangkul bahuku dan mengelus pucuk kepalaku.
__ADS_1
Kembali berjalan menyusuri gang rumahku yang lumayan jauh dari halte.
"Virgo."
"Iya."
"Kamu dan Aura, pernah punya masa lalu ya?" Tanyaku lirih.
"Masa lalu bagaimana?" tTanya Virgo bingung.
"Pernah deket atau pacaran gitu?"
Virgo menghentikan langkahnya dan menatap kearahku.
"Kamu masih gak percaya ya sama aku?" Tanya Virgo dingin.
"Aku hanya bertanya, Virgo."
"Tamy, pernah gak kamu berfikir kenapa aku bisa menyatakan kamu pacar aku saat pertama kali kamu masuk ke SMA?"
"Itu, karena aku bacain surat cinta ke kamu kan?"
"Pernah gak kamu bertanya sama Jerry, dari sekian banyak wanita, kenapa bisa kamu yang di pilih dia?"
"Ya mungkin karena kak Jerry gak sengaja kan?" Jawabku bingung.
Virgo melepaskan senyum getir dan menggelengkan kepalanya.
"Itu karena aku yang mengaturnya, aku yang meminta Jerry memilih kamu untuk nyatain cinta ke aku," jelas Virgo sedikit geram.
"Hem?" Ku naiki sebelah alis mataku, menatap wajah Virgo yang sedikit memerah.
"Apa selama ini kamu tidak pernah bertanya, apakah sedikitpun kamu tidak pernah berfikir bagaimana bisa wanita itu kamu?"
Aku hanya terdiam dan menggaruk sudut dahiku yang tidak gatal. Memang selama ini aku tidak pernah bertanya dan juga memikirkannya.
Aku pikir semua ini hanyalah takdir, takdir yang mempertemukan aku dan Virgo. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika itu semua terjadi atas rancangan dan juga keinginan Virgo.
"Kenapa bisa aku, Virgo?" Tanyaku sedikit tersenyum.
Virgo melepaskan senyum pahitnya dan menggelengkan kepalanya.
"Ternyata selama ini kamu tidak pernah sadar ya, Tamy? apakah selama ini kamu pernah peduli sama aku?" Tanya Virgo sengit.
"Virgo, apakah ini semua penting? aku rasa sekarang kita juga baik-baik saja, kan."
"Jadi selama ini kamu gak pernah anggap penting pertemuan kita?" Tanya Virgo ketus.
"Virgo, bukan begitu maksud aku."
"Sekarang aku tanya sama kamu, selama ini, adakah sedikit rasa cinta yang tumbuh di hatimu buatku?" Tanya Virgo sengit.
"Virgo kenapa kamu begitu, ya pastilah."
"Pasti apa?" Tanya Virgo menaikan sebelah alis matanya.
"Selama ini aku bahkan tidak pernah mendengar pernyataan cintamu, ataupun kamu berucap sayang ke aku."
"Apa itu semua perlu di ucapin, aku rasa sikap yang aku tunjukin saja sudah cukup?"
"Kapan? kapan kamu pernah tunjukin ke aku? bukannya selama dua tahun ini aku yang terus mengejarmu? aku yang terus jatuh cinta sama kamu, pernahkah kamu sekali saja jatuh cinta sama aku?"
"Ya pernah lah," jawabku cepat sambil menundukan pandanganku.
Virgo menarik lengan tanganku dan menempelkan badanku di dinding pagar tembok rumah orang.
Mengurung badanku dalam kedua dekapan tangannya yang ia tumpuhkan di dinding.
"Semudah itukah kamu mengucapkannya? enteng tanpa rasa?"
"Jadi kamu mau bagaimana?" Tanyaku dengan menatap ke wajah Virgo.
Ku lihat Virgo yang terus menatapku dengan tajam, perlahan Virgo mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Ku rasakan debaran jantung yang terus memburu kencang. Sekencang buruan nafas Virgo yang hangat menerpa kulit pipiku.
"Tatap mataku, dan katakan kamu mencintai aku," ucap Virgo lembut tepat di depan wajahku.
"Virgo, aku ...." Ku telan salivaku yang terada sangat pahit untuk di telan.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku mengatakannya, jika Virgo mengurung aku begini? bahkan bernafas saja aku susah.