Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
45


__ADS_3

Kuremat kedua jemari tangan, terduduk dengan menunduk jauh kebawah. Sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa Tamy harus berhenti di sini?


Di penghujung penantian panjangnya.


Andai aku mengetahui ini lebih cepat. Andai Tamy jujur padaku, andai, dan terus berandai.


Kini aku benar-benar berharap seandainya itu ada. Aku menyesali kenapa aku tidak pernah peka.


Aku sangat dekat dengan om Leo, tetapi aku lebih percaya pada penipu kecil itu. Dia terus mengelabuiku sampai begini pada akhirnya.


Kusambut air yang ingin melintas di pipi dengan punggung tangan. Aku tidak ingin cengeng, aku tidak akan menangis.


Karena aku percaya, Tamy akan bertahan dan baik-baik saja.


Ya, pasti Tamy akan baik-baik saja.


Suara pintu terbuka, aku langsung bangkit saat melihat om Leo keluar dari ruang perawatan.


"Om, bagaimana?" tanyaku cemas.


Om Leo hanya terdiam, ia memandangku dengan tatapan kosong.


"Om, bagaimana?" tanyaku sedikit berteriak.


"Saya benci mengatakan ini, tapi--" Om Leo menggantungkan kalimatnya, ia melihatku dengan lekat dan dalam.


"Tapi apa, Om?" tanyaku tak sabar.


"Sudah saatnya kita menguatkan hati, Virgo. Mungkin, Tamy tidak akan bertahan lebih lama lagi."


Seperti ada petir menyambar ke relung hati. Sesaat napasku terhenti, tertahan sengalan dada yang mengimpit jiwa.


Kutarik napas dengan memburu kencang dan menggelengkan kepala.


"Enggak!" sanggahku ketus.


"Jangan seperti ini, Om. Jangan menyerah, Tamy boleh menyerah, tapi kita tidak bisa!"


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya om Leo, lirih.


"Ayo siapkan meja operasi. Kita lakukan pencangkokan hati sekarang juga."


"Virgo, itu percuma saja."


"Apanya yang percuma? Kita belum mencoba, kita belum tahu hasilnya bagaimana? Jadi kita tidak boleh menyerah, Om. Ayo, kita operasi Tamy," pintaku kalut.


Om Leo menarik bahuku, merangkul bahuku dan menepuk lembut pundakku.


"Tenanglah, Nak. Saya juga ingin Tamy sembuh. Tetapi kita ini siapa? Kamu harus tahu."


Kupeluk badan bidang om Leo dan memecahkan tangisan di sana. Aku tak sekuat dirimu, Om. Aku tak setangguh anakmu.


Aku merasakan takut dan aku tidak ingin kehilangan. Tolong aku, bantu aku untuk menyelamatkan nyawa Tamy.


"Kita hanya bisa berencana, Virgo. Tapi tetap Allahlah yang menentukan akhirnya. Saya, juga tidak bisa kehilangan anak saya. Tapi siapa yang bisa menghalangi maut? Sebagai Dokter, hati saya hancur saat pasien saya meninggal karena penyakitnya. Sebagai Ayah, bisakah kamu merasakannya? Saya bahkan berkali lipat, lebih menyesal dibandingkan kamu, Virgo."


Kubenamkan wajah di bahu om Leo. Semakin memecahkan beban yang kian berat saat memikirkan akan kehilangan Tamy.


"Kita tidak berdaya, kita tidak bisa apa-apa. Tamy menyerah, bukan karena dia tidak sayang pada kita. Dia terlalu lelah, Virgo. Dia sudah banyak menderita," ucap om Leo parau.


Sama sepertiku, om Leo juga tidak sanggup menahan beban air matanya. Entah kenapa, rasanya sakit sekali saat harus menghadapi ini semua.


Kenapa Tuhan? Kenapa harus seperti ini pada akhirnya?


Sekuat apapun aku bertahan dan mencari jalannya, tetap tidak akan ada yang bisa aku lakukan.


Karena pada akhirnya, apa yang dititipkan pasti akan kembali pada Tuannya.


***


Perlahan aku berjalan, menarik kursi dan duduk di sebelah Tamy. Kuambil jemari tangannya dan menautkan dengan jari tanganku.


Kupandangi wajahnya dengan lekat dan dalam. Sekuat apapun aku bertahan, aku masih tidak sanggup kalau harus kehilangan.


Kehilangan senyum cerianya, canda dan juga tawanya. Amarahnya dan juga semua rasa kesalnya. Tamy, selama ini aku menahan semuanya hanya agar aku bisa tetap bersamamu, Sayang.


Tak peduli kesalahan apa yang kamu buat, tak peduli sekaras apa kamu memperlakukanku. Atau kamu yang acuh saat kamu cemburu.


Aku menanggungnya, aku menahannya. Karena aku selama ini sadar, aku sanggup menahan apapun itu. Tetapi aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu.


Kucium punggung tangan Tamy sembari melepaskan air mata. Meluruhkan segala beban yang sudah tidak sanggup untuk kutahan.


"Tamy, tidak bisakah kamu bertahan, Sayang?" Kutumpahkan tangisan, perlahan isak tangis menjadi kian mengencang.


Larut dalam kenangan indah yang pernah kami ciptakan bersama. Memutar kembali satu persatu peristiwa silam yang begitu istimewa.


Mengingat penggalan kisah yang semakin ingin kuhapus, namun semakin kuat tertancap dalam ingatan.


Mengingat setiap tawa yang mampu mencairkan suasana. Merasakan kehangatan dalam setiap genggaman tangan yang saling bertautan erat.


"Tamy, sadarlah," pintaku lirih.


Perlahan Tamy menggerakan bola matanya, setetes air melintas saat pertama kali ia membuka mata.


"Tamy," panggilku langsung.


Tamy melirik ke arahku, tangannya terangkat dan ingin membuka oksigen yang sedang ia pakai.

__ADS_1


"Tamy, jangan. Kamu harus tetap bernapas."


Matanya kembali mengeluarkan cairan bening, terasa tangan lemahnya membalas genggaman tanganku.


"Mau sampai kapan?" tanyanya lirih.


"Sampai kapan apanya?" tanyaku kembali.


"Sampai kapan kamu akan terus memaksa aku untuk bernapas? Virgo, bebaskan aku. Aku mohon," lirihnya kembali.


"Sayang, sabar ya. Aku yakin kamu pasti sembuh."


"Virgo, lepaskanlah. Aku mohon," lirihnya semakin melemah.


Aku bangkit dan meletakan kepala di sebelah kepala Tamy, mendekapnya dengan erat.


"Aku mohon, Tamy. Aku sangat mencintaimu. Kamu adalah cinta yang mampu membuat aku menangis di saat aku tertawa. Jangan biarkan, aku menangisimu terus." Kuelus kepala Tamy dan mencium lembut keningnya.


Tamy memejamkan matanya, meneteskan kembali air dari kedua matanya.


"Virgo, di mana ayah?" tanyanya lemah.


"Aku tidak tahu," jawabku lembut.


"Bisa panggilin ayah? Aku ingin peluk ayah," pintanya.


Aku mengangguk dan menekan tombol yang ada di atas ranjang. Kembali kuelus dahi gadis ini, sesekali punggung tanganku menghapus pipi, menutupi air matanya yang terus luruh dari mataku.


"Virgo, tarik kain gordennya."


"Apa?"


"Buka jendelanya, aku ingin melihatnya."


"Melihat apa?" tanyaku mengalihkan pandangan ke arah jendela.


"Buka," perintahnya lirih.


Aku berjalan ke depan jendela dan menarik kain gorden berwarna biru muda itu. Membiarkan sinar kejinggaan memasuki sela-sela kamar inap Tamy.


Kepala gadis itu memiring, melihat ke arah luar jendela. Sekilas, aku melihat bibirnya tersenyum, tetapi matanya masih tidak berhenti mengeluarkan cairan bening itu.


"Kamu mau lihat apa, Tamy?" tanyaku berjalan kembali mendekatinya.


"Jingga," jawabnya lemah.


"Jingga?"


"Jingga terakhir di ujung senja."


Kualihkan pandangan ke arah langit. Melihat awan yang hampir menghitam dengan hiasan warna jingga di sudut sana.


Aku mengangguk dan menekan kembali bel ruangan Tamy.


"Cepatlah, bagaimana jika jingganya berakhir?" perintahnya kembali.


Aku menghela napas dan mengecup dahi Tamy dengan lembut.


"Tunggulah, aku akan memanggil ayahmu."


Tamy menganggukan kepalanya, aku masih bisa melihat senyumnya dari balik oksigen yang ia gunakan.


Aku berlari, menjejaki koridor menuju ruangan om Leo. Mengetuk pintu om Leo dengan memburu kencang.


"Om," panggilku sembari membuka pintu.


Tetapi om Leo tidak ada di ruangannya, kustop seorang suster yang lewat. Menanyakan keberadaan om Leo.


"Virgo, kamu cari saya?"


"Om, Tamy ingin bertemu dengan Om, dia bilang ingin melihat senja bersama."


"Tamy sudah sadar?"


"Iya."


Om Leo tersenyum lega dan berlari menuju kamar Tamy. Kuikuti langkah om Leo, menyusuli gadis itu yang sudah menunggu kami.


Langkahku terhenti saat memasuki ruangan Tamy, sejenak aku terdiam. Tamy sudah tertidur tanpa oksigennya.


Om Leo langsung memakaikan oksigen itu kembali. Melakukan tindakan pertama untuk mengembalikan napas Tamy.


Lagi, aku tertipu olehnya. Tamy sengaja ingin aku pergi agar dia bisa membuka oksigen yang ia pakai.


Tamy sengaja mencari alasan agar dia bisa sendiri. Dia sengaja membuat aku pergi agar dia juga bisa pergi.


Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini padaku, Tamy?


Kenapa kamu kejam sekali? Bahkan sampai akhir kamu masih terus membohongiku. Sampai akhir, kamu masih terus menyembunyikan segalanya dariku.


Bahkan sampai akhir, kamu ingin menyimpan semuanya bersamamu.


Di saat terakhir napasmu kamu ingin kami meninggalkan kamu sendiri.


Kenapa kamu bisa selicik ini? Kenapa kamu bisa sepintar ini mempermainkan aku?


Seorang suster menyeret badanku keluar, kulihat Tamy dari balik kaca pintu. Om Leo masih terus berusaha menyelamatkan Tamy, aku melihatnya.

__ADS_1


Om Leo bahkan menangis terseduh saat ia mencoba mengembalikan detak jantung anaknya itu. Sesekali air matanya menetes, berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan napas yang terlanjur terhenti.


Sampai beberapa waktu mencoba, om Leo mulai kehilangan kepercayaan. Ia meletakan alatnya dan memeluk badan putrinya itu.


Kodobrak pintu rawat inap Tamy dan berlari mendekati ranjangnya. Melihat dengan jelas, merasakan denyut nadinya yang tidak lagi terasa.


"Tamy, bangun, Nak. Maafin Ayah, Sayang. Maaf Ayah tidak sempat menemanimu melihat senja terkhir," ucap om Leo sembari menciumi gadis yang sudah terlanjur tertidur itu.


"Maaf, bahkan sampai napas terkahirmu berembus. Ayah masih meninggalkanmu sendiri. Ayah gagal menjagamu dan mengantarkanmu pulang, Sayang." Om Leo semakin mengeratakan dekapannya, badannya mulai bergetar saat tangisannya semakin mengencang.


"Ayah harap kamu mau memaafkan segala kegagalan, Ayah. Sampaikan maaf Ayah pada mamamu di sana, Nak. Maaf Ayah sebagai lelaki tidak mampu menjaga kalian berdua. Maaf ... maaf Tamyku, gadis kecilku, malaikat kecil Ayah. Maafin Ayah yang tidak berguna ini."


Aku hanya terdiam, menarik napas yang sempat terhenti karena melihat Tamy tidak bergerak lagi.


Apa yang harus aku lakukan? Tuhan, katakan. Katakan aku harus bagaimana?


"Om," panggilku getir.


Kutahan air mata yang ingin pecah, bibirku mulai bergetar. Aku tidak sanggup menanyakan hal itu pada om Leo.


"Om." Kutelan saliva yang terasa sangat pahit. Sekuat apapun aku menahannya, air mataku terus luruh tanpa suara.


Om Leo melepaskan pelukannya dan menarik badanku keluar dari kamar inap Tamy. Mendudukan aku di kursi stainles depan kamar Tamy.


Sesaat kami berdua saling berdiam, masih berusaha menerima kenyataan ini. Aku tidak percaya, ini hanya sebuah mimpi, kan. Katakan, Om. Ini hanya sebuah mimpi saja.


"Om," panggilku dengan bibir bergetar.


"Tamy ... dia sudah pergi meninggalkan kita semua, Virgo."


Kulepaskan tangisan, membiarkan isakan itu terdengar jelas di telinga orang lain. Bagaimana mungkin, aku tidak percaya ini.


"Kuat, Virgo. Kita harus kuat," sambung om Leo kembali.


"Katakan ini hanya mimpi, Om. Aku mohon katakan ini hanya mimpi!" teriakku lantang.


Om Leo menggelengkan kepala, mengelus bahuku dengan lembut.


"Ini bukan mimpi, Virgo. Tamy ... memang sudah pergi," jawab Om Leo sembari menahan tangisannya.


Aku tahu kami berdua sama-sama terluka. Tetapi aku gak bisa terima, ini semua bukan kenyataan yang sebenarnya. Tidak, ini pasti salah.


"Enggak!" Aku bangkit dan menggelengkan kepalaku.


"Enggak! Ini gak nyata, Om. Aku yakin, saat aku bangun Tamy ada di sebelahku. Pasti, ada."


"Virgo, saya tahu ini berat buatmu, tapi--"


"Enggak! Tamy masih baik-baik saja. Aku yakin Tamy hanya bercanda, dia suka menipu. Dia pasti saat ini sedang tertawa di dalam, Om. Tamy pasti saat ini sedang mengejek kita."


Om Leo mengusap wajahnya, menarik tanganku untuk masuk kedalam.


Om Leo meletakan tanganku di atas dada Tamy, menatapku dengan genangan air yang terus tumpah.


"Rasakan, coba rasakan! Apakah detak jantung Tamy masih ada? Apakah jantung Tamy masih berdetak, Virgo?" tanya Om Leo pahit.


Kutarik tanganku dari atas dada Tamy, kulihat wajah Tamy yang semakin memucat.


Perlahan kedua kakiku melemas, bersimpuh di bawah ranjang Tamy dan menangis dalam.


Bagaimana mungkin? Ini tidak mungkin. Aku mohon, ini hanyalah mimpi. Aku mohon bangunkan aku dari ini semua.


"Ini gak mungkin, Tamy masih bisa berlari tadi siang. Tamy masih bermain di taman. Ini gak mungkin."


"Kuat, Virgo. Jangan seperti itu, Tamy akan sedih jika kamu seperti ini."


"Biarkan saja. Jika dia sedih, ayo kembali. Kembali ke sini. Kembalilah ke sisiku, Tamy. Kembalilah!"


"Virgo, saya mohon tenanglah. Kamu keluarlah dulu, saya ingin melepaskan alat-alat medis yang masih tertinggal di badan, Tamy."


Kuhapus air mata dengan punggung tangan dan langsung bangun. Memeluk badan Tamy yang terbujur di atas kasur.


"Enggak, Om. Jangan, jangan lepaskan. Bagaimana jika Tamy tidak bisa napas? Om, jangan lakukan."


"Virgo sadarlah!" teriak Om Leo keras.


Om Leo merangkul bahuku dan menyeret badanku keluar dari kamar inap.


"Saya tahu ini berat untuk kamu, ini juga berat untuk saya. Tapi Tamy sudah tiada, kita harus ikhlas dengan kepergiannya."


Kupeluk badan om Leo dan menangis tergugu, kali ini benar-benar sedalamnya.


Untuk beberapa saat, kami terus masuk dalam tangisan masing-masing. Kehilangan Tamy, kenapa harus sesakit ini?


"Pergilah dulu keruangan saya, saya akan mengurus jenazah Tamy untuk dibawa pulang. Kita akan pulang bersama."


Dengan langkah gontai, aku menyusuri koridor rumah sakit ini. Tidak tahu harus berbuat apa, serasa duniaku gelap sepenuhnya.


Hanya berjalan sempoyongan tanpa arah tujuan. Om Leo bilang kita akan pulang bersama, sebenarnya kita akan pulang kemana?


Pulang kerumah kita, atau pulang ke pangkuan Allah?


Entahlah, rasanya saat ini aku tidak lagi bisa mendengarkan apapun. Mataku masih terbuka tetapi pandanganku mati.


Telingaku masih ada, namun suaranya menghilang begitu saja. Sepanjang jalanan ini hanya terlihat kosong dan hampa.


Tak ada apapun yang bisa kulihat, tak ada suara apapun yang bisa kudengar. Langkahku terus bergerak maju, tetapi rasanya jiwaku tertinggal bersama Tamy di sana.

__ADS_1


Sampai kedua langkahku terhenti, lemas dan terjatuh. Aku tak tahu apa yang terjadi, semua yang ada dalam pandangan berubah menjadi satu.


Gelap.


__ADS_2