
POV Virgo.
Tamy menggenggam erat jemari tanganku, terasa tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Matanya terus menatap ke dalam ruangan yang akan segera ia masuki itu.
Ada kecemasan yang tergambar dari raut wajahnya. Aku tahu, ia berusaha menyembunyikan rasanya dariku.
"Tamy," panggilku lembut.
Tamy melihat ke arahku. Bibirnya tersenyum dengan lebar.
"Eh ... ada sisa makanan di sudut bibirmu," ucap Tamy sambil mengambil sisa makanan yang menempel.
"Sudah sebesar ini, tapi makan juga masih blepotan. Kamu ini," sambungnya lembut.
Tamy kembali tersenyum, matanya teralih pada pintu ruangan yang dari tadi ia tatap terus menerus.
Padahal jemari tangannya sudah gemetaran, namun ia berusaha untuk memperlihatkan kalau ia masih baik-baik saja.
'Dasar Tamy, bahkan sudah begini saja kamu masih berusaha menutupi.'
Seorang gadis kecil keluar dari ruangan itu. Mata Tamy terus memperhatikan gadis kecil yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Tangannya semakin terasa mendingin, aku tidak tahu seberapa takut yang ia rasakan. Namun dari tatap matanya, ia seperti tidak siap untuk masuk ke sana.
"Tamy."
"Hah," jawabnya cepat.
"Kamu kenapa?" tanyaku pura-pura.
Tamy kembali tersenyum dan menjatuhkan kepalanya di atas pundakku.
"Aku gak apa-apa, hanya bosan menunggu. Ayah lama sekali," jawabnya lembut.
"Kamu ... belum siap untuk melakukan kheimoterapi ya?" tanyaku pelan.
"Memang aku punya pilihan? Hanya ini jalan satu-satunya, Virgo. Siap atau tidak, Ayah lebih tahu dari pada aku," jawabnya lemas.
Ku lepaskan senyum dan mengenggam jemarinya semakin erat.
"Semangat!" ucapku memberi semangat.
Tamy menatap ke arahku, ia kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Senyum gadis itu terlalu sulit untuk di bedakan. Kadang ia tersenyum saat sakit, kadang ia juga tersenyum saat sedih.
Entah berapa banyak rasa yang ia sembunyikan di dalam senyumnya itu. Dulu aku tidak mengetahuinya, namun kini aku menyadarinya, kalau ekspresi yang sesungguhnya adalah saat ia yang suka marah-marah.
***
__ADS_1
Sudah beberapa lama aku menunggu Tamy di sini. Namun tanda-tanda gadis itu akan keluar juga belum ada.
Beberapa kali ku hela napas, berjalan ke arah kaca jendela. Memperhatikan kehidupan yang terlihat di bawah sana.
Kadang rumah sakit ini terlihat sangat hidup dan menenangkan. Terkadang juga terlihat sangat suram dan menakutkan.
Aku takut saat Tamy harus kembali ke sini. Aku takut saat melihat Tamy tertidur pulas di bangsal rumah sakit ini. Tapi aku juga senang saat memikirkan keadaan Tamy yang bisa membaik jika ia terus dirawat di sini.
"Uweeek!" Tamy berlari dari dalam ruangannya dan langsung menuju kamar mandi.
Ku ikuti langkahnya dan melihat ia yang bersimpuh di depan toilet. Memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya.
Terasa tepukan sebuah tangan di atas pundakku. Ku alihkan mata dan melihat om Leo yang sedang tersenyum lembut kepadaku.
"Ini reaksi setelah Tamy melakukan khiemonya, jangan terlalu khawatir. Tamy akan segera baik-baik saja," ucap Om Leo menenangkan.
Aku tersenyum dan menganggukan kepala, entahlah Om. Saat ini aku tidak percaya dengan kata baik-baik saja.
Aku terlalu takut untuk mempercayainya, karena di balik kata itu. Akan selalu ada musibah yang datang mendekati kita.
Ku susuli Tamy yang masih bersimpuh di lantai kamar mandi. Memberikan sekotak tisu kepadanya.
Tamy memalingkan wajahnya, ia meraih tisu itu dan langsung berdiri dengan tegak.
Menghapus bibirnya dan juga kedua matanya yang berair karena sakit saat menjalankan kheimo itu, mungkin.
"Virgo, aku baik-baik saja," ucap Tamy dengan tersenyum pahit.
Siapa yang akan percaya? Kamu baik-baik saja saat wajahmu terus memucat pasi.
Kamu tersenyum dengan sangat lebar, tapi kedua matamu tak berhenti berair. Bahkan makanan yang kamu muntahkan terus berlanjut sampai saat ini.
Ku telan salivaku yang terasa kian pahit, ku elus pundak Tamy yang kembali memuntahkan isi di dalam perutnya itu.
"Tamy." Ku tarik kedua bahu Tamy dan membuat ia berhadapan denganku.
"Minum ini," ucapku meminumkan air mineral ke dalam mulutnya.
Tamy kembali tersenyum dan menyeka sudut bibirnya.
"Terima kasih, Virgo," ucapnya kembali tersenyum lembut.
"Tamy, mau sampai kapan? Sampai kapan kamu mau menunjukan bahwa kamu baik-baik saja? Jangan tersenyum lagi, Tamy. Jangan tersenyum dengan wajah yang seperti itu," ucapku pahit.
Tamy menarik tisu itu dan mengahpus sudut matanya. Ia kembali tersenyum saat aku terus menatap wajahnya.
"Tamy." Ku peluk badan mungil Tany yang semakin mengurus ini.
"Jangan pernah berkata bahwa kamu masih baik-baik saja. Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Aku tahu kamu sedang terluka, aku tahu, aku tahu, Tamy. Jangan sembunyikan lagi, Tamy. Aku mohon jujurlah padaku kali ini," pintaku sambil menahan genangan air dari kedua belah mataku.
"Aku gak apa-apa, Virgo. Ini bukan kali pertama aku menjalani kheimo. Kamu jangan terlalu khawatir ya." Tamy meleraikan pelukanku dan menepuk lembut lengan tanganku.
__ADS_1
"Tamy, jangan ditahan lagi, Sayang. Katakan jika itu membuatmu kelelahan. Menangislah jika itu terasa menyakitkan. Jangan takut, ada aku yang selalu mendengarkanmu. Mengeluhlah padaku, Tamy. Menangislah jika memang kamu ingin menangis. Jangan simpan semuanya sendiri lagi, jangan katakan kamu baik-baik saja dan terus tersenyum palsu, berusaha kuat di depanku dan menelan semuanya sendiri. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak akan mengasihani kamu. Kamu hanya perlu tahu, bahwa aku ada, hanya karena aku sangat menyanyangimu."
Sejenak Tamy terdiam, ia meremat kedua jemari tangannya. Menatap wajahku dengan lintasan air dari kedua belah matanya.
Tamy menarik badanku, membenamkan wajahnya di dalam dadaku. Badan mungilnya mulai bergetar, perlahan isak tangisnya menjadi semakin kencang.
"Virgo aku sudah gak sanggup, aku kesakitan. Aku menderita, Virgo. Aku gak mau kheimo, kheimo membuat rambut aku rontok. Kheimo membuat badan aku lemah. Aku takut dengan ruangan kheimo, Virgo. Aku ketakutan bahkan saat aku belum memasukinya. Virgo aku takut, aku sangat takut," ucap Tamy tergugu.
Ku hela napas dan mencoba menahan sengalan yang terasa sangat sesak tertahan di dalam dadaku. Menahan genangan air dari kedua mataku yang membuat pandangan semakin memburam.
"Katakan, Tamy. Katakan semua yang ingin kamu luapkan. Jangan tahan lagi, kamu bisa mengeluh apapun itu padaku."
"Virgo temani aku, aku tidak ingin sendiri. Aku takut sendiri, aku gak ingin ditinggal sendiri lagi. Virgo aku gak sanggup, aku gak kuat. Aku sudah gak kuat menahan semuanya, Virgo. Aku lelah, aku sangat kelelahan." Tamy semakin mengencangkan tangisannya
"Kenapa? Kenapa kamu baru sekarang ada di samping aku? Kemana kamu dulu? Kemana kamu saat aku berjuanh sendiri? Kenapa aku sendiri? Virgo, kenapa kamu membiarkan aku sendiri?"
"Maaf, Tamy. Aku minta maaf."
Ku dekap erat badan Tamy yang terus bergetar dengan kuat. Memejamkan kelopak mataku dan meluruhkan genangan air yang sedari tadi berusaha ku tahan.
"Virgo jangan pergi lagi, jangan tinggalin aku lagi. Aku ini lemah, bertahanlah dengan aku yang lemah ini, Virgo. Karena kalau tidak ada kamu, aku bingung, aku gak tahu, aku takut. Karena aku sudah tidak sanggup menahannya sendiri."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, Tamy. Aku berjanji. Bertahanlah, bertahanlah sedikit lagi. Karena aku pasti akan ikut menahannya bersama denganmu. Jangan takut, kamu tidak akan pernah sendiri. Aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Aku akan ikut menanggung apapun itu bersama denganmu." Ku kecup pucuk kepala Tamy dan mengeratkan pelukanku.
Membiarkan Tamy meluapkan seluruh beban hatinya di dalam pelukanku.
Aku akan menerima semua keluhanmu, Tamy. Walaupun sebenarnya aku sangat sakit saat mendengar kamu begitu kesakitan dengan semua ini.
Aku tahu kamu memderita, tapi aku tidak berdaya. Selain menjanjikan untuk bertahan di sisimu, aku tidak bisa menjanjikan apapun lagi.
Andai aku bisa mengambil seluruh penderitaanmu, maka biarkan aku yang menanggung semuanya untukmu.
Karena saat aku hanya bisa melihat kamu yang seperti ini. Perasaanku lebih menderita, karena aku tidak bisa berbuat apapun untuk meringankan penderitaanmu.
Aku juga tidak ingin kehilanganmu, tapi berharap kamu bertahan juga aku tidak mampu.
Entah berapa banyak kesakitan yang kamu tahan, yang akhirnya hanya menjadi penyesalan terdalam untukku, karena aku tak berdaya melawan apapun untukmu.
'Maafkan aku, Tamy. Maaf Sayang, karena aku hanya bisa berkata bertahanlah, tanpa mau merasakan apa itu penderitaan.'
Tamy masih masuk ke dalam isak tangisnya. Meluapkan segala beban yang selama ini berusaha ia tahan.
"Aku bersalah padamu, Tamy. Maafkan aku yang tak pernah menanyakan padamu tentang apa yang kamu alami saat ini. Maafkan aku, Sayang," ucapku lembut.
Tamy tidak lagi mampu menjawab, badannya terus bergetar karena tangisan yang kian mendalam.
Entahlah Tamy, aku tidak tahu mengapa aku begitu spesial di hatimu. Sampai alasan kamu menahan segala penderitaan ini adalah aku.
Andai aku mengetahui ini lebih awal, andai kita lebih terbuka dari dulu Tamy. Akankah kamu semenderita seperti saat ini?
Aku merasa sangat buruk, Tamy. Buruk karena selalu terbuai dengan perkataan, 'aku baik-baik saja' yang selalu terucap dari bibirmu.
__ADS_1