Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
21


__ADS_3

Sepanjang perjalan pulang sekolah, aku memandangi wajah Virgo dengan sangat lekat.


Masih terbayang diingatanku apa yang ditulis oleh Aura dalam buku hariannya.


'Aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi saat aku mengingat kak Virgo. Rasa sakit ini bisa berubah menjadi sangat indah,'


Ku lepaskan semyumku dan menggelengkan kepala. Seperti itukah Virgo buatnya?


Sepenting itukah Virgo untuk hidupnya? lalu bagaimana Virgo memandang dia?


Ku hela nafas dan menjatuhkan kepalaku diatas bahu Virgo. Merasakan hangat suhu badan Virgo yang bisa membuat aku ikut menghangat.


"Virgo," panggilku lembut.


"Hem,"


"Aku ingin bertanya, apakah aku ini penting buatmu?"


"Pertanyaan macam apa itu?" Ucap Virgo malas.


"Virgo,"


"Hem,"


"Jika aku mati nanti, apa kamu akan melupakanku?"


"Tamy, hentikan! kamu mau bicara apa sebenarnya?" Tanya Virgo kesal.


"Virgo, bagaimana jika kamu melepaskan aku saja?" Tanyaku sambil menatap kewajah Virgo.


"Tamy, bisakah kamu diam dan cukup berada disampingku saja?" Tanya Virgo kembali.


Aku tersenyum simpul dan meraih sebelah pipi Virgo. Mengelusnya dengan ibu jariku.


"Kamu kenapa?" Tanya Virgo bingung.


"Gak apa-apa," jawabku lembut.


Kembali kujatuhkan kepalaku diatas bahu Virgo. Menunggu bis yang belum datang menjemput kami berdua.


"Virgo, kita pulang jalan saja yuk!"


"Enggak ah, aku lelah. Aku habis main futsal tadi," tolak Virgo lembut


"Walaupun jalan sama aku?" Tanya ku lembut.


"Kalau jalan mau sama kamu atau sama siapapun tetap saja lelah. Tamy, aku masih harus belajar untuk kuis besok."


Ku manyunkan bibir dan melingkari lengan tangan Virgo.


"Virgo, seandainya aku ini bukan pacarmu. Apa kamu akan kasihan padaku, jika aku sakit seperti Aura?"


"Kalau kamu bukan pacarku, berarti kamu istriku," ucap Virgo lembut.


Ku lepaskan senyum saat mendengarkan ucapan Virgo.


"Aku bertanya serius, Virgo."


Virgo menjatuhkan kepalanya diatas kepalaku. Tangannya mengenggam jemari tanganku dengan erat.


"Tamy, aku paling gak suka dengan kata seandainya."


"Kenapa?"


"Karena didunia ini tidak ada seandainya, kata itu hanya sebuah harapan kosong. Kalau kamu terus menggunakan kata itu, berarti kamu hanya mencari harapan kosong dalam hidupmu," Virgo mentoel ujung hidungku dengan lembut.


Sekilas, senyum di bibirku memudar. Benar apa yang di katakan oleh Virgo. Di dunia ini tidak ada kata seandainya. Itu hanyalah sebuah kata untuk mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.


Aku kembali tersenyum dan mengangkat kepalaku. Ku lihat wajah Virgo yang saat ini terlihat datar, ku raih sebelah pipi Virgo dan mencium pipinya dengan lembut.

__ADS_1


Virgo langsung melihat kearahku, memandangku dengan sedikit bingung.


"Tamy," ucap Virgo terkejut.


Aku hanya tersenyum simpul dan bangkit dari halte. Merengangkan otot badanku dan berjalan kebibir jalan.


Sementara Virgo masih terpaku, ia masih mencerna perbuatanku.


"Tamy, kamu, sehat?" Tanya Virgo meyusuli aku.


"Seperti yang kamu lihat," jawabku lembut.


Aku berjalan keluar dari halte, menyusuri jalanan sore yang mulai sepi orang berlalu lalang.


"Terus kenapa cium aku?" Tanya Virgo bingung.


"Kenapa? memang gak boleh?" Tanyaku kembali.


Virgo tersenyum dan menundukan kepalanya kedepan wajahku.


"Kalau begitu sebelah lagi," pinta Virgo manja.


Ku lepaskan senyumku dan menjulurkan lidah. Berlari meninghalkan Virgo sendiri.


"Tamy, tunggu!" Teriak Virgo sambil menyusuli langkahku.


"Sebelah lagi, dong," pinta Virgo manja.


Ku gelengkan kepalaku dan kembali berlari menjauh dari Virgo.


Virgo mengejar langkahku, meraih pinggang rampingku, mengelitikan pinggangku dengan cepat.


"Auw, ahhhhh," teriakku dengan sedikit tertawa.


Virgo terus menggelitikan pinggangku, beberapa kali aku melepaskan tawaku yang tidak bisa lagi ku hentikan.


"Virgo! hentikan!" teriakku dengan sedikit keras.


"Baiklah, tapi lepaskan aku dulu," ucapku mengalah.


Virgo melepaskan kitikan tangannya, kuhela nafas dan menariknya dengan kencang. Ku rapikan helaian rambut pirangku yang berantakan karena bercanda dengan Virgo.


Setelah nafasku sedikit lebih tenang, Virgo mengelus pucuk kepalaku dengan lembut dan menarik pinganggku untuk menempel dibadannya.


"Tamy," panggil Virgo lembut.


"Hem,"


"Boleh gak ya? sebelum lulus kuliah aku melamarmu dulu?"


Kutundukan pandanganku, kenapa? mendengar angan ini membuat hatiku sangat perih.


"Tamy,"


"Iya,"


Virgo memeluk badanku dengan erat, ia membenamkan ujung hidungnya diatas bahuku.


"Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa sangat takut kehilanganmu," ucap Virgo lembut.


Aku hanya terdiam, tak kubalas pelukan Virgo dan juga tidak menjawab pernyataannya.


"Virgo, ini di pinggir jalan. Bisa jangan peluk terlalu lama?"


Virgo meleraikan pelukannya dan tersenyum lembut. Virgo mengelus pipiku dan mencium dahiku dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Tamy," ucap Virgo lembut.


Aku tersenyum simpul, kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

__ADS_1


"Tamy, kenapa gak balas?" Tanya Virgo mengintili langkahku.


"Malas,"


"Balas dong, kamu kenapa pelit banget sih. Seperti harus bayar saja kalau ucapin kata itu,"


"Kalau aku malas ya malas,"


"Aku gelitikin lagi ya, kalau kamu gak balas, aku gelitikin ya," ancam Virgo lembut.


"Coba saja kalau bisa," tantangku.


Aku berlari dengan cepat meninggalkan Virgo dibelakang. Sesekali aku melihat kebelakang dan tertawa dengan keras.


Berusaha menghindari tangan Virgo yang beberapa kali ingin menangkap badanku.


"Ha ha ha," ku pecahkan tawaku saat berlari menghindari tangkapan tangan Virgo.


Tidak peduli seperti apa keadaan di jalanan. Aku dan Virgo asyik bercanda berdua.


Sampai nyeri diperut kirimu mulai terasa sakit. Seketika aku berlutut diatas aspal, mengambil nafas dengan memburu kencang.


"Tamy," panggil Virgo cemas.


Virgo mengangkat badanku dan membedirikannya.


"Kamu kenapa? kamu baik-baik saja?" Tanya Virgo cemas.


Ku tekan perut dibagian kiriku dengan sedikit kuat. Berusaha untuk meredam nyeri perut yang semakin terasa sangat menyiksa.


"Puft," kutahan batuk dari dalam, berusaha untuk tidak membuat Virgo khawatir pada keadaanku.


"Tamy, lihat aku!" Virgo meraih kedua pipiku, ia menekan pipiku.


"Buka mulutmu!" perintah Virgo kembali.


Ku gelengkan kepalaku, kutepis tangan Virgo dari kedua pipiku.


"Tamy, buka mulutmu!" perintah Virgo kembali.


Kembali ku gelengkan kepala dan berjalan menjauh dari Virgo.


Virgo menarik lengan tanganku dan menyeretnya kedalam sebuah gang. Menempelkan badanku didinding rumah orang.


"Aku bilang, buka mulutmu!" perintah Virgo tegas.


Virgo menumpuhkan kedua tangannya diatas tembok. Mengurung badanku didalam dekapannya.


Perlahan aku terduduk, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menahan sakit ini.


"Tamy, aku mohon buka mulutmu, Sayang. Aku hanya ingin melihat, apa yang kamu tahan dari dalam mulutmu," bujuk Virgo lembut.


Kembali ku gelengkan kepala, kutatap wajah Virgo dengan genangan air dari bola mataku.


"Baiklah, Tamy maafkan aku,"


Virgo meraih kedua belah pipiku, mencium bibirku dengan lembut. Ku tolak badan Virgo dan memuntahkan cairan merah itu dari dalam mulutku.


Virgo menghapus sisa darah dari bibirku dengan ibu jari tangannya. Virgo memandangku dengan sangat tajam.


"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, Tamy? ini kali kedua kamu muntah darah?"


Ku ambil nafas yang memburu dengan kencang, kuraih bibir tipis Virgo yang terkena darah dari dalam bibirku.


Satu persatu air mataku mulai muncul membasahi pipi. Ku peluk badan Virgo dengan sangat erat.


"Maafkan aku Virgo, maafkan aku," ucapku dengan menangis dalam.


Sekali lagi, kumuntahkan darah dari dalam mulutku. Mengotori kemeja putih yang Virgo kenakan.

__ADS_1


"Tamy, Tamy, bertahanlah," ucap Virgo terkahir kali, sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.


__ADS_2