
"Mike, ada masalah?" Tanya Virgo lembut.
"Tidak ada, aku hanya ingin bicara berdua sama, Tamy. Boleh?"
"Kenapa harus berdua? bagaimana jika aku tidak mengizinkan?"
"Virgo, ayolah. Kamu dan Tamy hanya sebatas pacaran, tidak ada larangan untuk aku bicara sama Tamy."
"Maksudnya?" Tanya Virgo sengit.
Ku letakan peralatan makanku, dan ku tahan badan Virgo yang ingin bangkit.
"Sudahlah Virgo, ada hal yang harus aku jelaskan sama Kak Mike," ucapku lembut.
"Apa? ada rahasia apa antara kamu dan Mike, Tamy?"
"Bukan rahasia, hanya pembicaraan biasa saja."
"Kalau begitu, aku mau tahu," ucap Virgo ngeyel.
"Virgo ayolah, aku tidak apa-apa."
"Aku hanya ingin mengajak Tamy bicara, aku tidak akan melukai dia. Virgo, jangan terlalu lebay," ucap kak Mike datar sambil berjalan keluar dari kantin.
Ku ikuti langkah kak Mike yang terus berjalan semakin jauh dari kantin. Kak Mike berhenti tepat di ujung tangga sebelum turun kebawah.
"Benarkah kamu dan Riyu dekat?" Tanya kak Mike tanpa basa-basi.
"Aura yang bilang?" Tanyaku datar.
"Mau siapa yang bilang, kamu gak perlu tahu."
"Mau aku dekat sama kak Riyu, Kakak juga gak perlu tahu," jawabku ketus.
"Aku gak peduli, kamu mau dekat sama siapa. Tapi aku gak mau, karena kedekatan kamu sama Riyu, itu akan melukai Virgo,"
"Kakak khawatir sama Virgo? atau sama Aura?" Tanyaku ketus.
"Tamy, Virgo adalah sahabat aku, aku gak mau dia terluka karena kamu. Lihat, kamu bisa lihatkan, Virgo sangat suka sama kamu!"
"Kak, sebenarnya apa masalah Kakak sama aku? aku tahu dari kemarin Kakak sudah beda saat melihat aku, apa karena Aura Kakak jadi begini?"
"Gak ada hubungannya sama Aura, Tamy. Aku gak peduli mau sama siapa kamu dekat, tapi jangan dekat sama Riyu selama kamu masih pacaran sama Virgo."
"Dasar alasan apa? aku harus nuruti kata-kata Kakak?" Tanyaku sengit.
Kak Mike tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Aku heran kenapa Virgo bisa sangat suka sama gadis keras kepala sepertimu," ucap Kak Mike dengan tersenyum kecut.
"Jadi menurut Kakak, Virgo harus suka sama gadis lemah seperti sepupu, Kakak? hem?" Tanyaku dengan menyilangkan kedua tangan didada.
"Tamy, sumpah. Aku hampir kehilangan kesabaran buat bicara sama kamu,"
"Jadi aku harus apa? nuruti kemauan Kakak yang aku sendiri gak tahu alasannya?"
"Kenapa kamu segininya belain Riyu? siapa Riyu buat kamu? penting!" Tanya kak Mike sedikit menekan.
"Kakak kenapa harus campuri urusan aku sih? hak aku mau dekat sama siapa saja, gak ada hubungannya dengan Kakak."
__ADS_1
"Tamy, aku beri tahu sama kamu, Riyu hanya mendekatimu karena kamu pacar Virgo. Jika kamu bukan pacar Virgo, mungkin sedikitpun dia tidak akan memandangmu!"
"Benarkah?" Tanyaku tak percaya.
Kak Mike mengusap wajahnya dengan kasar dan berjalan mendekatiku. Megurung badanku dengan kedua tangannya yang ditumpuhkan diatas pagar.
"Aku gak peduli kamu mau sedekat apa sama Riyu, jika kamu tidak pacaran dengan Virgo. Tamy, Virgo itu sahabat aku, aku gak rela sampai kamu nyakiti dia, apalagi jika bersangkutan dengan Riyu!" Tekan Kak Mike.
Kak Mike melepaskan tumpuhannya dan mundur beberapa langkah.
"Aku pernah membujuk Aura dan Bude untuk jangan lagi menganggu Virgo. Karena Virgo sangat bahagia saat bersamamu, tapi jika melihat sikapmu. Seharusnya aku mendukung Aura saja." Ucap Kak Mike lembut.
"Jika aku bilang, aku dan Kak Riyu hanya sebatas kenal saja. Apa Kakak akan percaya?" Tanyaku lembut.
Kak Mike menyungging sebelah bibirnya dan membalikan badannya. Berjalan meninggalkanku begitu saja.
"Tamy," panggil kak Mike dengan menolehkan sedikit kepalanya kearahku.
"Hem."
"Aku mohon jangan dekati Riyu, kalau kamu masih mendekati Riyu, maka Virgo akan sangat membencimu," ucap Kak Mike lembut.
"Hah? kenapa?"
"Apapun yang berhubungan dengan Riyu, Virgo akan sangat membencinya. Karena Ibunya Riyu, telah merebut Papanya Virgo." Kak Mike berjalan dengan santai meninggalkanku.
"Hah?"
Sementara aku masih terdiam, mencerna ucapan kak Mike yang sempat membuat nafasku terhenti.
Jadi, kak Riyu dan Virgo saudara tiri?
Pantas saja saat itu, pandangan mata mereka berdua terlihat saling membenci dan ingin melukai satu sama lain.
Ku perhatikan wajah Virgo dengan sangat lekat. Aku tidak tahu apapun tentang masalah keluarga Virgo. Yang aku tahu, saat ini Virgo hanyalah tinggal dengan Kakek dan Neneknya.
Virgo akan berubah sangat sendu jika aku menanyai tentang keluarganya. Ternyata, ada luka yang sampai saat ini berusaha Virgo sembunyikan dariku.
"Kenapa lihati aku terus? naksir ya?" Virgo menyenggol ujung bahuku dengan manja.
Ku lepaskan senyum dan menggelengkan kepalaku.
"Virgo, kamu mau mampir kerumah aku gak?" Tanyaku lembut.
"Ngapain?"
"Bantuin aku salin catatan dan juga kerjain tugas," ucapku dengan sedikit menyeringai.
"Hem, selalu. Kalau ada maunya saja, lembut sama aku,"
"Ayo mampir, nanti aku belikan banyak camilan untukmu," bujukku lembut.
"Memang aku si tukang makan, perut karet, lambung besar, sepertimu?"
"Virgo!"
"Makan banyak tapi gak gemuk juga. Sayang Ayah kamu, pasti harus kerja banting tulang untuk memenuhi makananmu saja."
"Ih, Virgo aku serius. Kalau tidak mau yasudah, kenapa harus meledek aku seperti itu?" Ku silangkan kedua tanganku didada dan duduk membelakangi Virgo.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah." Virgo merangkul bahuku dan menumpuhkan dagunya di bahuku.
"Kita mampir ke minimarket sebelum pulang ya."
"Oke!" Jawabku cepat.
Sambil menunggu bis datang, aku dan Virgo megobrol dengan sedikit bercanda. Menghabiskan waktu dengan sedikit tertawa.
Aku bersyukur, karena kehadiran Virgo masa remajaku menjadi lebih indah dari sebelumnya.
Ku pilih beberapa camilan kemasan di rak makanan. Setelah memilih beberapa jenis snack. Aku beralih ke lemari es, untuk membeli beberapa minuman kaleng untuk Virgo.
Tanpa sengaja, tanganku menyentuh tangan seseorang. Ku alihkan pandanganku untuk melihat pemilik tangan tersebut.
"Tante."
"Tamy," ucap wanita itu dengan sedikit tersenyum.
"Kamu baru pulang sekolah?" Tanyanya kembali.
"Iya."
"Sendiri saja?"
"Aku sama Virgo, tapi Virgo lagi ada di toko kue depan, beli brownies," jawabku lembut.
"Tamy, bisa bicara sama Tante sebentar?"
"Hem, baiklah."
Aku tidak tahu kenapa, tapi kenapa hari ini banyak sekali yang ingin berbicara denganku?
Ku ikuti langkah kaki wanita itu dan mengirim pesan ke Virgo untuk menungguku di toko.
Ku ikuti wanita itu yang duduk di bangku halte. Sejenak suasana hanya hening, wanita itu hanya terus menatap kosong kearah jalanan.
"Tante," panggilku lembut, setelah beberapa lama kami hanya berdiam.
"Dari kecil, Aura tidak pernah mengeluh dan meminta apapun. Aura adalah gadis yang penurut, dia tidak pernah mengatakan apapun keinginannya dan hanya mengikuti semua yang Tante perintahkan." Ucap wanita itu lembut.
Ku gulum senyum dan menganggukan kepalaku, apa urusannya denganku? mau Aura seperti apa? itu bukan urusanku.
"Aura anak yang paling lembut dan juga penurut diantara saudara-saudaranya. Tapi kenapa malah Aura yang sakit berat seperti itu?"
"Semua itu sudah takdir, Tante. Tante gak boleh menyesalinya," ucapku lembut.
"Tamy, suatu saat jika kamu menikah dan memiliki anak. Kamu juga akan merasakan apa yang Tante rasakan, kamu akan merasa hancur saat anak kamu memiliki keadaan seperti Aura."
"Jalan takdir hidup seseorang itu berbeda, Tante. Tante gak bisa, menilai sesuatu hanya dari sudut pandang Tante sendiri. Di dunia ini, apa yang ada di depan mata kita tidaklah pasti. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang yang lainnya, Tante. Apapun yang terjadi pada Aura, itu sudah menjadi takdir hidupnya, Aura hanya perlu membuka pandangan yang berbeda, melihat penyakitnya dari segala pandang yang indah."
Wanita itu tersenyum lembut dan kembali menatap kosong kedepan.
"Kamu bisa mengatakan itu, karena kamu tidak merasakan apa yang Aura rasakan. Kamu sehat dan kamu mendapatkan apa yang tidak bisa Aura dapatkan. Jika kamu di posisi Aura, kamu pasti akan merasa bahwa apa yang kamu jalani adalah sebuah kepahitan."
"Itu pahit, karena Tante dan Aura melihatnya sebagai kepahitan. Tapi itu bisa menjadi manis, jika Tante dan Aura bisa menikmatinya dan tetap mensyukuri. Hanya dari cara berpikir dan cara pandang Tante saja. Setiap masalah, bisa dilihat dari sisi lain. Hanya tergantung kitanya saja."
"Kamu ini gadis yang sangat pintar, Tamy. Sayang, Aura tidak seberuntung kamu, bahkan satu-satunya hal yang Aura inginkan berada di dalam genggamanmu,"
"Maksud Tante?" Tanyaku bingung.
__ADS_1
"Virgo," ucap wanita itu sambil menatap Virgo di balik kaca toko kue.
"Hal pertama dan satu-satunya yang Aura inginkan, hanya bisa berada dekat dengan dia."