Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
15


__ADS_3

"Aura," lirihku pelan.


"Kamu kenapa bisa ada disini? sama kapten tim basket SMA Jaya lagi?" Tanya Aura sambil memandang ke arah kak Riyu.


"Memang kenapa kalau aku ada disini? ada larangan buat aku mau tinggal dimana saja?" Tanya kak Riyu ketus.


"Bukan begitu, maksud aku, kalian ...?"


"Kenapa dengan kami? ada masalah dengan kamu?" Tanya kak Riyu sengit.


"Kak," panggilku lembut.


Kak Riyu mengalihkan pandangannya kearahku. Wajahnya berubah dingin saat melihat Aura disini.


"Bisa tolong kakak pergi dulu? ada yang ingin aku bicarakan sebentar dengan Aura," pintaku lembut.


Kak Riyu hanya menatapku dengan datar, tak lama ia mengalihkan pandangannya kearah Aura.


"Ehm," Kak Riyu bangkit dan menjauh perlahan.


Terkadang aku bingung dengan sikap kak Riyu itu. Kalau dia lagi asyik, dia bagaikan orang lain. Tapi kalau lagi dingin, bahkan gunung es pun tak sebeku ia.


Ku alihkan pandanganku ke Aura yang saat ini sedang berdiri di sebelahku.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanyaku basa basi.


Aura tersenyum dan ikut duduk di kursi yang sama denganku.


"Aku rasa kamu tidak terlalu peduli pada keadaanku. Disini tidak ada siapa-siapa, jadi gak perlu perhatian begitu padaku."


"Ya, baguslah jika kamu tahu, aku bukan orang yang suka bersandiwara."


"Kenapa kamu dan dia bisa ada disini?" Tanya Aura datar.


"Aku adalah anak dari pemilik rumah sakit ini, kak Riyu adalah salah satu pasien Ayahku. Apa butuh alasan untuk aku bisa kenal sama dia?" Tanyaku kembali.


"Yah ... Tapi siapa sangka, jika kamu bisa sedekat itu dengan pasien Ayahmu?"


"Mau aku sedekat apapun dengan orang lain, itu bukan urusanmu, Aura," ucapku sedikit geram. Ku ambil nafas yang sedikit memburu, aku sangat geram oleh Aura, namun aku masih harus tetap tersenyum.


"Tentu akan menjadi urusanku, Tamy. Karena dengan siapa kamu dekat, itu akan menyakiti perasaan kak Virgo."


"Sepertinya kamu peduli sekali dengan apa yang dirasakan Virgo?" Tanyaku dengan memaksakan senyum kaku di wajahku.


"Iya, aku memang peduli dengan Kak Virgo, karena kak Virgo adalah temanku. Apakah kamu tidak peduli dengan kak Virgo?"


"Mau aku peduli ataupun tidak, itu bukan urusanmu."


"Benarkah? sayang sekali, padahal kak Virgo begitu peduli terhadap dirimu. Kalau kamu tidak peduli lagi, maka lepaskan saja dia."


"Kamu!" ku genggam jemari tanganku, sumpah aku geram sekali berbicara dengan gadis ini.


"Kak Virgo itu terlalu baik untuk kamu sia-siakan, Tamy. Jika kamu tidak mau lagi dengannya, jangan siksa terus kak Virgo, lepaskan saja dia."


"Terus, setelah aku lepaskan, kamu akan merebut Virgo dariku?" Tanyaku geram sekali.

__ADS_1


"Sebenarnya jika aku mau, walaupun kamu tidak melepaskan. Aku bisa saja membuat Kak Virgo meninggalkanmu, bukankah sekarang kak Virgo sedang mengacuhkanmu?" Tanya Aura dengan tersenyum penuh makna.


Ku remat pinggir sisi kursi yang saat ini sedang aku duduki. Aku sudah tidak tahan lagi, apa dia berfikir kalau Virgo itu semudah itu melepaskanku?


"Kamu salah, Aura," ucapku ketus.


"Salah?"


"Bahkan jika kamu memaksa, Virgo gak akan pernah dan tidak akan pernah, mencampakanku. Kamu tahu kenapa?" Bisiku lembut di telinga Aura.


"Karena dari awal, Virgolah yang mengejarku, bukan aku yang mengejar dia seperti dirimu." Ku gulum senyum dan menjauhkan wajahku perlahan.


Ku lihat wajah Aura yang sedang memadam karena menahan amarah. Mau membuat aku terbakar? sayang api yang ku nyalakan di hati Aura lebih dahulu menyambar dan berkobar dengan besar.


"Hah," aku bangkit dan menyibakan rambut pirangku kebelakang.


Ku lihat Aura terus menatapku dengan menahan segala amarahnya.


"Tamy, jangan begitu sombong kamu. Hanya karena kak Virgo mengejarmu, bukan berarti dia akan tetap mengejarmu selamanya. Jika kamu tidak bisa menjaganya, aku yakin cepat atau lambat kak Virgo pasti akan mencampakanmu!" Teriak Aura sedikit keras.


"Oh ya? sepertinya, kobaran perang sudah kamu mulai, kita lihat saja nanti," ku palingkan wajahku dan pergi meninggalkan Aura sendiri.


Ku hela nafas dengan sedikit berat dan ku pegangi dadaku yang turun naik karena berusaha menahan gejolak amarah yang ingin tumpah.


Untunglah aku masih bisa mengendalikan semuanya, jika tidak ini pasti akan berbahaya.


Virgo, sekeras itu Aura menginginkanmu. Bagaimana aku bisa mempertahankanmu agar selalu tetap di sisiku.


Jujur aku takut mendapatkan ancaman itu dari Aura. Jika benar dia memaksamu, mungkinkah kamu akan mencampakanku begitu saja.


Andai aku punya kesempatan sekali lagi, aku ingin merajut kasih ini lebih lama denganmu, Virgo.


Percayalah, aku hanya akan menyanyangimu, Virgo.


***


Ku lirik jam di tangan kananku, sudah hampir malam. Tapi Ayah masih belum selesai juga.


Sudah hampir 2 jam Ayah masuk ruang operasi, namun tanda-tanda Ayah akan keluar belum juha terlihat.


Ku hela nafas dengan sedikit berat, berjalan dengan malas menyusuri koridor rumah sakit.


"Kak, kapan Ayah selesai operasi?" Tanyaku pada salah satu asisten perawat Ayah.


"Mungkin masih agak lama, Tamy. Biasa kalau operasi memang makan waktu yang cukup lama."


"Kalau gitu, bilang sama Ayah, aku pulang duluan ya," pamitku dengan sedikit cemberut.


"Kamu mau pulang sendiri?"


"Iya, lagian aku gerah Kak. Belum mandi dari pulang sekolah tadi."


"Emh, Yasudah. Nanti Kakak bilang sama Dokter Leo."


Ku anggukan kepala dan berjalan menuju luar rumah sakit. Ku alihkan pandanganku ke arah jalan, namun tidak ada kendaraan yang melintas.

__ADS_1


Karena hari mulai senja, kendaraan yang lewat juga lebih sepi dari jam-jam biasanya.


Ku keluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Virgo, aku harap kali ini dia mau mengangkat panggilanku.


"Hallo, Tam. Kenapa? tumben nelpon?" Tanya Virgo langsung saat panggilan tersambung.


"Virgo, kamu lagi dimana?"


"Aku baru selesai main futsal sama teman-teman. Ada apa?"


"Aku dirumah sakit, bisa kamu jemput aku kesini? aku ingin pulang."


"Aku masih harus pergi sama teman-teman selesai ini."


"Ehm, begitu," ucapku sedikit kecewa. "Yasudah, kalau begitu aku cari taksi saja."


"Tamy, hati-hati ya."


"Iya."


"Kalau begitu, aku tutup dulu ya. Aku harus ganti baju."


"Emh, Virgo," panggilku lembut sebelum Virgo menutup panggilan teleponnya.


"Hem."


"Kamu masih marah sama aku?" Tanyaku hati-hati.


"Tidak, aku sudah tidak marah lagi," jawab Virgo lembut.


"Yasudah, kamu have fun ya."


"Oke," jawab Virgo lembut.


Ku gigit bibir bawahku, dan memutar bola mata. Bagaimana caranya agar aku bisa menang dari Aura. Mempertahankan Virgo agar tidak berpaling dariku?


"Virgo."


"Iya."


"Aku sayang kamu," ucapku cepat, dan langsung menutup teleponku secepat yang aku bisa.


Ku gigit ujung kuku, karena malu sudah mengatakan itu dalam telepon.


Matilah aku, apa Virgo akan dengar? tenanglah, Tamy. Tenangkan dirimu.


Ku tarik nafas dan membuangnya perlahan, suara deringan ponselku hampir membuat copot jantungku.


Ku lihat nama yang tertera di layar, kembali ku hela nafas sebelum mengangkat panggilan itu.


"Tamy kamu dimana?" Tanya Virgo sesaat setelah panggilan tersambung.


"Masih di depan gerbang rumah sakit, kenapa?"


"Tunggu, aku akan kesana menjemputmu."

__ADS_1


__ADS_2