
Tubuh Tamy mengalami kejang, seorang suster yang menjaga Tamy di sana mulai panik.
Bersamaan dengan langkah kaki para Dokter datang memasuki kamar rawat Tamy.
Apalagi ini? Akankah harus seperti ini?
Kuletakan kepala di atas sandaran kursi stainles penunggu, memejamkan mata sembari menunggu Om Leo keluar.
Kumohon Tamy, bertahanlah. Jangan tinggalkan kami. Jangan tinggalkan aku.
Entah beberapa kali sudah, aku menghapus air mata yang sempat luruh tanpa suara. Berjam-jam menunggu Tamy seorang diri di sini.
Kenapa semakin lama aku semakin takut? Aku semakin kalut, terlebih lagi melihat suster yang mondar-mandir keluar dari ruangan Tamy.
Tuhan, bisakah aku memohon sekali ini saja?
Izinkanlah Tamy bertahan dalam lukanya, kumohon, bukakanlah matanya.
Suara gesekan pintu menyadarkan lamunanku. Om Leo keluar dengan sesimpul senyum menghiasi wajah tampannya yang mulai kelihatan sedikit menua.
"Om, bagaimana keadaan, Tamy?" tanyaku langsung.
Om Leo kembali tersenyum dan menepuk sebelah bahuku.
"Istirahatlah di ruangan saya, Virgo. Tamy ... dia sudah melewati masa kristisnya."
Kuhela napas dengan sangat lega, tidak tahu mengapa, namun beban hati yang berat menimpahi dada kini hilang seketika. Sirna begitu saja tanpa sisa.
"Apa Tamy sudah sadar?" tanyaku langsung.
"Sudah, tapi Tamy masih sangat lemah. Kamu istirahatlah sejenak, saat bangun nanti baru temui dia."
"Baik," jawabku langsung.
Sekali lagi, kulihat tubuh Tamy yang masih terbaring lemas dengan selang infus menusuk di punggung tangan.
Terlihat kelopak matanya yang berkedip, rasanya semua khawatirku hilang begitu saja.
"Tamy, syukurlah. Aku bahagia saat melihatmu membuka mata."
***
Kubuka daun pintu kamar inap Tamy perlahan. Gadis itu memalingkan wajahnya, tangannya terulur panjang.
Aku tersenyum dan berjalan mendekatinya, mengambil uluran tangannya, mengenggam jemarinya erat.
"Bagaimana keadaanmu, Tamy?" tanyaku sembari menarik kursi di sebelah kasurnya.
"Tenggorokan aku kering banget, Virgo. Bisa ambilkan air?"
Aku mengangguk, membantunya untuk duduk dan meminumkan segelas air ke dalam mulutnya.
Gadis itu memperhatikan punggung tangannya, tak lama ia tersenyum getir.
"Virgo," panggilnya lembut.
"Hem."
"Berapa lama aku kritis?" tanyanya langsung.
"Empat hari."
Tamy menghela napasnya, ia membuang pandangannya keluar jendela.
__ADS_1
Sesaat ia hanya terdiam, fokus pada langit cerah yang terlihat indah dengan warna biru mudanya.
"Maaf, Virgo," lirihnya pelan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Maaf karena aku gak bilang sama kamu soal kheimo."
Kuraih jemari tangannya dan meletakannya di salah satu pipiku. Ingin rasanya aku memarahi dia, tetapi aku sadar, Tamy pasti punya alasan kenapa ia menyimpannya sendiri.
"Maaf untuk kejadian di kamar mandi kemarin. Aku tidak seharusnya membentakmu," lirihnya kembali. Matanya masih fokus pada luar jendela.
"Tamy, Sayangku, hey." Kutarik dagunya dan memalingkan wajahnya agar melihat ke arahku.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku paham apa yang kamu alami. Sudah aku katakan, kamu boleh menangis, kamu boleh mengeluh, kamu boleh marah dan melakukan apapun padaku. Luapkan segalanya, aku yang akan menanggungnya," ucapku lembut.
Bibir pucat gadis itu tersenyum manis. Lama sekali aku tidak melihat senyumnya ini. Betapa aku merindukanmu, Sayang.
Kuraih bahu Tamy dan memeluknya dengan erat. Mengeratkan lilitan tanganku pada bahu gadis ini.
"Virgo, maaf ya. Maaf kalau aku pernah ingin menyerah," ucapnya lembut.
"Gak apa-apa, kalau kamu lelah menyerah saja. Biar aku yang bertahan sendiri untukmu," jawabku.
Tamy meleraikan pelukannya dan meraih sebelah pipiku. Kupejamkan mata sembari menikmati suhu hangat kulit gadisku ini.
Tamy menarik sebelah pipiku, mencium bibirku sekilas.
"Kenapa? Sadar dari koma kok jadi agresif banget?" tanyaku menggoda.
Tamy menggelengkan kepala, mendaratkan kepalanya kembali ke dalam dada.
"Hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Terima kasih, Virgo. Terima kasih untuk semuanya."
"Tak perlu berterima kasih, Tamy. Cukup di sini dan tetap di sisiku. Itu sudah sangat cukup bagiku."
***
Kuketuk daun pintu ruangan om Leo dan membukanya perlahan.
Sudah ada Riyu dan tante Gina di sana.
Perlahan aku mendekat, duduk di sebelah om Leo yang sedang membaca sebuah kertas di tangannya.
"Dokter, sudah ada Virgo di sini. Ayo kita bahas lagi," pinta tante Gina lembut.
"Mama, pikiri lagi. Aku tidak setuju," balas Riyu kesal.
"Riyu, ini tidak seburuk apa yang kamu bayangkan. Mama bisa sembuh dengan melakukan pencangkokan hati."
Om Leo mengalihkan matanya saat mendengar ucapan Tante Gina. Menutup lembaran yang ada di tangannya.
"Jangan membual, Gina. Kamu bisa katakan itu pada Riyu, tapi saya tidak bisa," ucap Om Leo datar.
"Mama dengar sendiri kan? Om Leo saja tidak bisa menjamin," ucap Riyu kasar.
"Riyu, jangan seperti ini, Nak. Mama sudah janji akan menebus dosa Mama padanya, jika bukan saat ini, kapan lagi? Mama punya hutang pada Virgo, Nak. Biarkan Mama membalasnya, Sayang," bujuk tante Gina lembut.
"Biar aku yang membayarnya, Ma. Bahkan jika seumur hidup aku harus menjadi budaknya, aku akan lakukan. Tetapi aku tidak bisa membiarkan Mama melakukan ini, tolonglah Ma. Aku berjuang sekuat tenaga demi Mama," balas Riyu tak mau kalah.
"Tante, jika memang Riyu tidak setuju, maka jangan dipaksa. Aku masih bisa menunggu pendonor lainnya."
"Enggak. Tamy sudah seperti ini, mau sampai kapan kalian menunggu?"
__ADS_1
"Mama, bisakah Mama berpikir jernih? Aku melakukan segala cara untuk kesembuhan Mama, inikah balasan Mama padaku?" tanya Riyu sedikit berteriak.
Riyu ingin bangkit, tetapi cepat tangan tante Gina menahannya tetap duduk.
Tante Gina meraih kedua pipi Riyu dan menatap mata Riyu dengan lekat.
"Riyu dengar Mama, Nak," ucap tante Gina melembut.
"Bukankah kamu mencintai Tamy? Bukankah Tamy juga penting buatmu? Hidup Tamy masih sangat panjang. Nak. Tamy masih sangat muda, tetapi Mama, Mama sudah sangat banyak melakukan kesalahan. Mama tidak ingin lagi menyesal, Mama mohon Riyu, pikirkanlah kembali."
"Tetapi tidak ada yang bisa gantikan Mama buatku. Bagiku Mama tidak bisa digantikan dengan yang lain."
"Tapi Riyu, inilah keinginan, Mama. Mama sudah gak sanggup menahannya Riyu, Mama sangat menderita, bisakah kamu bebaskan Mama dari penderitaan ini?"
Riyu terdiam, kutundukan pandangan saat mendengar ucapan tante Gina.
Jika tante Gina saja sudah menyerah di awal penderitaannya, mengapa Tamy bisa menahan selama itu sendiri?
Jika mengingat semua ini, aku semakin merasa bersalah padanya. Tante Gina yang baru setahun lebih saja sudah sangat menderita.
Bagaimana mungkin gadislu menahan itu semua hampir lima tahun lamanya.
Kugelengkan kepala dan tersenyum pahit. Memalingkan pandangan ke arah pintu. Tanpa sengaja mataku melihat Tamy duduk di kursi roda, terpaku di ambang pintu.
"Tamy," lirihku pelan.
Seketika mata om Leo memandang ke ambang pintu.
"Ayah," panggil Tamy lirih.
Om Leo langsung berlari ke ambang pintu. Berlutut di bawah kursi roda Tamy.
"Sayang, kenapa kamu keluar?" tanya Om Leo lembut.
"Apa ini Ayah? Tante? Kalian ingin menukar hidup tante Gina dengan hidupku? Kenapa kalian bisa sekejam ini?"
"Sayang, kamu jangan salah paham. Ini hanya keinginan tante Gina, Ayah belum menyetujuinya."
Tamy menggelengkan kepalanya, melihat kami satu persatu dengan genangan air menghiasi bola matanya.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau menjalani cangkok hati. Kumohon Ayah, jangan setujui keinginan tante Gina," pinta Tamy lembut.
"Tapi kenapa, Tamy?" tanyaku bingung.
"Tante Gina masih punya kak Riyu yang harus ia jaga. Jangan pernah menujar hidup orang lain demi aku, aku tidak ingin menjadi pembunuh, aku tidak mau, Ayah." Tamy menutupi wajahnya dengan kedua tanga.
Melepaskan tangisannya yang membuat badan mungilnya bergetar.
"Baiklah, Ayah tidak akan melakukannya, Sayang. Jangan nangis lagi, Ayah mohon."
Om Leo menarik kursi roda Tamy dan mendorongnya keluar pintu.
Kulihat wajah tante Gina yang memerah, memandangi Tamy yang mulai menghilang dari pandangan.
"Riyu."
"Iya, Ma."
"Mama gak bisa lagi menahannya, Mama gak tega lihat Tamy. Mama mohon, Nak. Lakukan ini di belakang Tamy," bujuk tante Gina lembut.
Riyu mengacak rambutnya, ia melirik ke arahku. Kusilangkan tangan di depan dada dan mengerdikan bahu.
Tenang saja Tamy, jika bukan tante Gina yang melakukannya. Aku yang akan melakukannya untukmu.
__ADS_1
Sudah kuputuskan, jika kita hidup, maka kita hidup bersama. Jika mati, maka kita akan mati berdua.