Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
24


__ADS_3

Ku lihat dada Virgo yang naik turun dengan cepat, antara menahan tangis dan juga amarah.


Virgo tersenyum kecut dan melepaskan pegangan tangannya dipipiku.


Virgo mengusap wajahnya dengan kasar, menatap kearahku dengan tajam.


"Sumpah Riyu, aku benci banget sama kamu. Sekali lagi kamu muncul dihadapanku, kupastikan seluruh tulangmu patah!" Ancam Virgo ketus.


"Dan kamu!" Tunjuk Virgo didepan wajahku.


"Setelah ini, kita hanya dua orang yang tidak saling mengenal!" Virgo berjalan meninggalkanku dengan cepat.


Ku perhatikan badan Virgo yang terus berjalan menjauh. Satu persatu air mataku turun bersambutan dengan cepat.


Ku pecahkan tangisanku dan terduduk lemas dibangku taman. Ku tangkupkan tanganku didepan mulut, berusaha menahan tangisanku yang terasa sangat menyesak didada.


Maaf Virgo, kali ini aku benar-benar minta maaf. Bukan hal yang mudah untukku, bisa menyakitimu seperti ini. Akupun sakit sekali saat melihat tatapan matamu yang terlihat begitu membenciku.


Maaf Virgo, maafkan aku. Aku bukan tak ingin memperjuangkanmu. Tapi aku tidak berdaya melawan semua ini. Aku harap, kali ini kamu mengerti dengan sendirinya. Bahwa aku menyakitimu untuk melindungimu.


Aku menyanyangimu Virgo, sungguh aku sangat menyayangimu.


Ku remat sisi baju dibagian dadaku, kenapa sakit sekali hati ini?


Aku yang menyakiti Virgo, tapi kenapa rasa sakitnya lebih dalam terasa didalam hatiku.


Ku pecahkan tangisanku, saat satu persatu kenangan indah masa remajaku terputar dalam otakku. Bukan hal yang mudah untuk melepaskanmu Virgo, tetapi aku juga tidak bisa memperjuangkanmu.


Semakin indah kenangan yang kuingat, semakin dalam pula tangisan yang kupecahkan. Aku memang bodoh, aku yang menyakitinya, tetapi aku yang menyesalinya.


membiarkanmu pergi adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Tapi menahanmu disisiku adalah hal yang paling menyakitkan.


Kak Riyu duduk disebelahku dan menjatuhkan kepalaku didadanya. Membenamkan wajahku dalam dadanya.


Mendapatkan sandaran untuk menumpahkan, aku semakin memecahkan tangisanku yang kian dalam


"Puft," ku tahan mulutku dan menjauh dari kak Riyu.


Ku muntahkan darah dari dalam mulutku kembali. Tidak seharusnya aku begini, terlalu stres juga bisa membuat keadaan ini semakin buruk.


"Tamy," Kak Riyu memberikan jaketnya di pundakku dan mengangkat tubuhku.


Ia mendudukanku diatas rumput dan memberikan sebotol air mineral. Ku atur pernafasan yang terasa sesak didadaku.


Aku harus bisa mengontrol diri. Jika begini, Maka semuanya akan lebih buruk nantinya.


Untuk beberapa lama, aku hanya diam. Mencoba untuk kembali tenang setelah rasa sakit dibagian perut kiriku menghilang.


Sementara kak Riyu hanya diam, ia hanya duduk tanpa bicara sepatah katapun padaku.


"Hem, Kak."

__ADS_1


"Iya," jawabnya datar.


"Terima kasih karena sudah membantuku hari ini," ucapku lembut.


"Sama-sama."


"Maaf, ya. Karena bantuin aku, Kakak jadi di benci oleh Virgo," ucapku sungkan.


"Santai saja, sebelumnya Virgo juga sudah sangat membenci aku. Jika saat ini dia tambah benci, tidak akan ada masalah, hanya menambah kebencian saja. Bukan hal yang besar," jawab Kak Riyu datar.


"Kakak bohong!"


Kak Riyu mengalihkan pandangan matanya saat mendengar ucapanku.


"Jelas sekali, selama ini Kakak ingin berdamai dengan Virgo. Entah ada sesuatu atau entah karena gak ada kesempatan, Kakak hanya membiarkan ini berlanjutkan? padahal Kakak ingin sekali berdamai dengan dia."


Aku tersenyum dengan lembut dan memalingkan pandangan. Melihat kak Riyu yang sedang memandangiku dengan wajah datarnya.


"Dari pertama kali lihat Kakak dan Virgo di kantin sekolah. Aku tahu ada permasalahan rumit yang ada diantara kalian berdua. Aku tidak tahu apa, dan aku tidak ingin bertanya kenapa? tapi aku melihat, ada penyesalan yang Kakak sampaikan lewat tatapan mata Kakak."


Ku hela nafas dan kembali melihat kedepan.


"Kakak hanya diam, Kakak gak bicara ataupun berusaha menjelaskannya. Percayalah, jika Kakak tidak berani membicarakannya, penyeselan yang Kakak simpan juga hanya sebuah kesia-siaan."


"Tapi kamu tahu, membicarakan sesuatu itu butuh keberanian dan juga persiapan. Aku rasa kamu lebih paham itu," ucap kak Riyu dingin.


"Maksudnya?" Tanyaku bingung.


"Ayo pulang, lebih baik kamu istirahat yang cukup."


Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki kak Riyu. Mengantarkanku sampai depan pagar rumah kami.


Kak Riyu memandang lekat pada rumahku, ia seperti bingung dan tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat.


"Ini rumah kamu?" Tanya kak Riyu tak percaya.


"Iya," jawabku lembut.


Kak Riyu melepaskan tawanya dan menggelengkan kepala.


"Jika Dokter Leo tidak mengakuinya, aku tidak percaya kamu anaknya."


Aku hanya tersenyum melihat ekspresi kak Riyu yang terkejut dengan pemandangan rumah sederhana kami.


"Rumahnya kecil ya?" Tanyaku lembut.


"Sorry, bukan mau menghina sih. Tapi Gak nyangka saja. Dokter Leo itu orang yang terkenal, aku hampir tidak percaya, rumah kalian sederhana sekali."


"Kami hanya tinggal berdua, jadi gak butuh rumah yang besar dan juga mewah. Biar sederhana, tapi kami bahagia," jawabku lembut.


Kak Riyu tersenyum dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku balik ya."


"Terima kasih untuk bantuan Kakak hari ini, dan terima kasih untuk tidak bertanya apapun padaku."


Kak Riyu hanya tersenyum lembut dan meraih kepalaku. Mengelusnya dengan lembut, lalu berlalu pergi tanpa mengucapkan apapun.


***


Ku angkat piring makananku dan membawanya keujung meja. Shela hari ini ada latihan drum band. Jadi aku makan sendiri di kantin atas.


Ku perhatikan halaman bawah sekolah, melihat beberapa teman-temanku yang sedang bermain dilapangan bawah.


Aku sadari, sedari tadi Virgo terus menatapku dengan tajam. Rahangnya menggeretak dengan kuat, aku bisa lihat Virgo kesal setengah mati padaku.


Ku raih gelas minumanku dan menyelesaikan makan dengan cepat. Ku bereskan piring makanku dan bangkit perlahan.


Virgo menghadang langkahku dengan dada bidangnya. Menatap wajahku dengan tajam.


"Kenapa?" Tanya Virgo ketus, "Kenapa kamu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa?" Sambungnya kembali.


"Bukankah kamu yang bilang, anggap kita gak saling kenal," jawabku lembut.


"Hanya seperti inikah, Tamy?" Tanya Virgo pahit.


"Hanya seperti inikah akhir kisah kita?"


"Jadi kamu mau akhir yang bagaimana? kita menikah dan hidup bahagia?" Ku lepaskan senyumku dan menggeleng pasrah.


"Virgo ini hidup yang nyata, bukan dongeng kisah cinta. Gak ada akhir yang bahagia, karena kita ini masih hidup didunia,"


"Jadi, apakah Riyu juga termasuk mainanmu yang bisa kamu lepas saat kamu merasa dia sangat bahagia mendapatkanmu? apa kamu juga kan melepaskan Riyu saat Riyu benar-benar jatuh cinta padamu?" Tanya Virgo lantang.


"Apa yang akan terjadi padaku dan Kak Riyu, itu akan menjadi urusan kami berdua. Tidak ada hubungannya denganmu," jawabku lembut.


Braaak


Virgo menumbuk meja kantin dengan keras. Matanya menatapku degan seluruh kebenciannya. Wajah Virgo memadam seketika.


"Baiklah, dengarkan aku!" Ucap Virgo menekan.


"Rintamy Khalia Swandez, mulai hari ini hubungan kita selesai!" Tekan Virgo lembut.


Ku pejamkan mataku dan menundukan kepalaku. Seperti mendapatkan petir yang menusuk relung hatiku, kata-kata Virgo mampu menghancurkan seluruh hatiku.


Ku perhatikan badan Virgo yang keluar dari kantin dengan kesal. Virgo menumbuk pintu kantin dan berjalan dengan cepat meninggalkanku.


Aku terduduk lemas, mencoba menghirup nafas yang sempat terhenti dan menyengal didadaku.


Ku remat sisi ujung kemejaku dan menggigit bibir bawahku. Mencoba untuk tidak menangis dan menahan semua perih ini.


''Virgo, percayalah. Bahwa aku masih sangat mencintamu."

__ADS_1


__ADS_2