Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
29


__ADS_3

POV Virgo.


Ku ketuk pintu rumah Tamy, entah sudah beberapa puluh kali aku kesini dan tidak pernah menemui Tamy walaupun hanya sebentar saja.


Ku ketuk sekali lagi, menunggu beberapa menit. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam rumah.


Kulangkahkan kaki, menjauh dari pekarangan rumah Tamy.


"Sumpah, Tamy. Aku rindu sekali sama kamu," lirihku pedih.


Ku lanjutkan langkah kakiku, berjalan tanpa arah. Entah bagaimana, aku hanya ingin tahu keadaan Tamy. Tapi sepertinya Tamy berusaha menghindariku.


Kenapa? kenapa harus kamu Tamy? kenapa harus kamu yang harus menanggung semua ini.


Kua acak rambutku dan menendang kaleng minuman kosong yang ada dibibir jalan.


Kesal dan juga bingung, aku tidak tahu harus berbuat apa?


Ku hela nafas dan membuang bokong kasar, kekursi taman dibibir jalan.


Aku harus memikirkan, bagaimana caranya agar bisa bertemu Tamy sekali saja?


"Riyu," ucapku cepat.


***


Ku perhatikan rumah minimalis ini dengan seksama. Tidak banyak yang berubah, hanya beberapa dekorasi bunga yang berubah.


Sudah enam tahun aku pergi dari rumah ini, siapa sangka, demi Tamy aku harus menginjakan kaki kerumah ini lagi?


Ku ketuk daun pintu berwarna cokelat itu dengan kuat. Menunggu beberapa menit, sebelum pemiliknya keluar.


Ku ketuk sekali lagi, kali ini tidak butuh waktu yang lama. Seseorang keluar dari dalam dan membukakan pintu.


"Virgo," ucap Riyu terkejut.


"Aku gak perlu basa-basi. Apa selama ini kamu pernah jumpa sama Tamy?" Tanyaku langsung.


Riyu menghela nafasnya dan duduk di kursi santai balkon rumahnya. Ku ikuti gerakan Riyu dan ikut duduk berseberangan meja dengannya.


"Kamu khawatir ya sama dia?" Tanya Riyu datar.


"Jelas lah, dia pacar aku!" Jawabku spontan.


"Bukannya kalian sudah putus?"


"Aku gak butuh komentar, jawab saja pertanyaanku," balasku kesal.


"Tamy butuh waktu untuk menenangkan dirinya, Virgo. Sebaiknya kamu tahan, jangan menemui dia dulu."


"Siapa kamu? melarang aku menemui pacar aku sendiri? kamu itu baru kenal Tamy, jadi gak usah sok ngatur!" 


Sepertinya, aku salah jika harus bertanya dengan bocah tengil ini. Kalau bukan aku kehilangan informasi tentang Tamy. Aku tidak sudi menemui dia.

__ADS_1


"Tamy ada dirumah sakit Ayahnya," jawab Riyu datar.


"Jangan bohong! aku sudah bolak-balik kesana. Perawat disana bilang kalau Dokter Leo dan Tamy gak ada disana," ucapku kesal.


"Tamy memang menghindar, tapi aku gak bohong. Aku pernah jumpa Tamy di koridor rumah sakit dengan anak penderita kanker yang lainnya," ucap Riyu lembut.


Ku perhatikan wajahnya, sepertinya kali ini Riyu serius dengan ucapannya.


"Baiklah, Terima kasih," ucapku berlalu pergi.


"Virgo, kamu gak masuk dulu?"


"Enggak, aku masih gak sudi buat pijakin kaki dirumah ini." Ku lambaikan tangan sambil berjalan menjauh.


Jika pihak rumah sakit menyembunyikan keberadaan Tamy. Berarti aku tidak bisa bertanya lagi, aku harus mencarinya sendiri. Menyusuri koridor rumah sakit itu satu persatu.


Ku hela nafas dan melihat papan nama rumah sakit milik Ayahnya Tamy. Ku kenakan topi jaket dan berjalan menyusuri koridor.


"Tamy, jika hari ini aku menemukanmu. Maka jangan harap kamu bisa lepas dari aku." Ku masukan kedua tanganku di kantung jaket dan menaiki lift kelantai paling atas.


Ini rumah sakit milik Ayahnya, mana mungkin Tamy berada di bangsal bagian bawah, jika Tamy memilih untuk menghindariku, pasti dia akan pilih tempat yang paling sulit untuk kutemui.


"Kita lihat saja Tamy, siapa yang lebih memahami dirimu. Aku, atau dirimu sendiri?" Aku tersenyum pahit dan langsung keluar saat pintu lift terbuka.


Ku lihat satu persatu bangsal rumah sakit ini lewat jendela kaca pintu kamarnya. Namun Tamy juga tidak bisa kutemui.


Hampir dua jam, aku memutari koridor rumah sakit ini, tapi hasilnya sama sekali tidak ada.


Ku usap wajahku dengan kasar dan menghela nafas panjang.


Ku hela nafas panjang dan memejamkan mataku. Sungguh lelah sekali, aku lelah sekali Tamy.


"Uweek." Ku dengar suara seorang gadis yang memuntahkan isi perutnya.


Ku alihkan pandanganku saat mendengar kegaduhan dibalik tembok yang aku tempeli. Perlahan aku berjalan mendekati pintu, dan mengintip dari kaca pintu.


Seorang anak gadis berambut hitam, sedang menangis didalam pelukan Mamanya. Sepertinya ia menolak untuk melakukan perawatan.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya, lalu tak lama ia kembali memuntahkan isi perutnya.


Apa itu penderita kanker juga? apa seperti itukah Tamy melewati hari-harinya selama ini?


Kenapa aku bisa tidak tahu? kenapa aku bisa tidak menyadari?


Bahkan saat Tamy muntah darah dua kali, aku hanya percaya begitu saja.


"Tamy, maafkan aku," lirihku pahit.


"Kak, Kakak akan temani aku kheimo kan?" Suara seorang gadis kecil memenuhi koridor.


"Kakak mau, tapi Kakak gak berani."


Ku palingkan wajahku saat mendengar jawaban dari lawan bicara gadis itu.

__ADS_1


Mataku membulat saat melihat gadis kecil dengan rambut pendeknya berjalan melewati koridor, tersenyum dengan lebar seakan-akan ia sedang baik-baik saja.


"Tamy," lirihku senang.


Aku tersenyum dan berlari mendekati Tamy, kupeluk badan Tamy dengan sangat erat. Akhirnya, aku menemukanmu, akhirnya aku bisa melihatmu lagi.


"Tamy, akhirnya. Akhirnya aku berhasil menemukanmu." Ku eratkan pelukanku, aku rindu sekali.


Tamy hanya diam, ia bahkan tidak membalas pelukanku.


"Virgo, jangan lupa saya masih disini," ucap om Leo ketus.


Ku lepaskan pelukanku dan menyeringai pasrah. Ku garuk rambutku yang tidak gatal.


"Maaf Om," ucapku bersalah.


"Kalau begitu kalian bicara saja dulu, ya. Om mau antar Niken ke ruang kheimo," pamit Om Leo.


"Baik Om," jawabku cepat.


Setelah om Leo pergi, aku kembali menatap Tamy yang terus memandangiku sedari tadi.


Mata bulatnya berlapiskan kaca bening yang ingin ia tumpahkan. Aku tersenyum dan mengelus rambut pirangnya yang kini sudah pendek.


"Kapan kamu potong rambut? kok gak bilang aku dulu?" Tanyaku basa-basi.


Tamy hanya diam, ia terus menatapku dengan bening kaca yang akan tumpah jika ia mengedip sekali saja.


"Kamu mirip artis Korea saat rambut pendek begini, aku suka," ucapku kembali.


"Kenapa Virgo? kenapa kamu kesini?" Tanyanya lembut.


"Aku kangen, dan aku khawatir sekali sama kamu."


"Aku gak butuh kamu kasihani," ucap Tamy berjalan melewatiku.


Ku tahan pergelangan tangan Tamy, aku tidak akan mengasihani kamu Tamy. Tidak akan pernah, karena aku menyanyangimu.


Perlahan aku berjalan mendekati Tamy dan melingkari bahu Tamy dari belakang.


"Aku tidak pernah kasihan sama kamu Tamy, aku mencarimu kesini bukan karena aku kasihan sama kamu," bisikku ditelinga Tamy.


Ku balikan badan Tamy dan meraih kedua ujung bahunya.


"Tapi karena aku menyanyangi kamu."


Tamy melepaskan air matanya dan memeluk badanku dengan erat. Ia menangis sampai membuat seluruh badan mungilnya bergetar.


Ku hela nafas berat dan memejamkan mataku. Ada rasa lega dan juga khawatir yang menjadi satu, saat ini.


"Aku mohon Virgo, jangan pernah mencariku lagi. Jangan Virgo, jangan cari aku," ucap Tamy tergugu.


Ku balas pelukan Tamy dengan erat. Tak peduli seperti apa keadaanmu Tamy. Kemanapun kamu pergi, aku akan tetap mencarimu.

__ADS_1


Karena yang ku cintai itu kamu, maka tetaplah disisiku. Tetaplah berada disini, tidak peduli mau bagaimana. Aku pasti akan mencarimu, tidak peduli berapa kali kamu menolakku. Aku pasti akan kembali, pasti Tamy.


__ADS_2