
Virgo merubah posisi duduknya, ia mengambil kedua belah pipiku dan menatap wajahku dengan binar mata sendu.
"Tamy, Sayang. Ini lelucon kan? kamu dan Riyu sengaja kerjain aku kan?" Tanya Virgo dengan lapisan kaca yang melapisi kedua bola matanya.
Ku lepaskan senyum getir dan menghela nafasku.
"Andai ini hanya lelucon, Virgo. Aku akan sangat senang. Andai semua kenyataan ini hanya sebuah lelucon saja, aku tidak mungkin akan menyakitimu." Ku lepaskan bulir-bulir air yang sedari tadi ingin keluar.
Aku sudah tidak bisa lagi menahan semuanya, jika memang ini akhirnya. Maka aku akan menyelesaikannya dengan baik.
Virgo menundukan pandangannya dan menggelengkan kepala.
"Aku gak percaya, aku sama sekali gak percaya, Tamy."
"Aku juga gak percaya, Virgo. Dengan status Tamy yang mengaku anak Dokter Leo, dan juga sikapnya yang menunjukan bahwa dia biasa-biasa saja," ucap Kak Riyu dengan terssnyum lembut.
"Jika melihat Tamy yang seperti itu, siapa yang percaya kalau dia penderita kanker. Tapi setelah melihat dua kali Tamy muntah darah, aku percaya. Bahwa Tamy hanya pura-pura kuat saja." Kak Riyu meraih pucuk kepalaku dan mengusapnya lembut.
Virgo menampel tangan Kak Riyu yang sedang mengelus kepalaku dengan kuat. Virgo menarik bahuku, menempel kedadanya.
"Tamy, tapi kenapa kamu sembunyiin ini dari aku? dari kita semua?" Tanya Virgo lembut.
Ku angkat kepalaku dan melihat kejejeran teman-temanku. Aku benci, saat harus ditatap seperti ini oleh mereka.
Aku gak suka jika harus terlihat menderita dan dipandang dengan rasa iba. Aku tidak selemah itu, aku bukan gadis lemah.
"Sumpah aku gak percaya, Tamy. Ayah kamu adalah pakar kanker, mana mungkin anaknya sendiri, dia gak punya cara untuk menyembuhkan."
"Ayah hanyalah seorang Dokter, Virgo. Ayah bukan Tuhan, mau Ayahku seorang Profesor sekalipun. Takdir ini tetap ditulis oleh Sang Maha Kuasa," ucapku pahit.
Ku tahan genangan air mata yang ingin tumpah. Aku tidak ingin semakin terlihat menderita didepan mereka.
Ku tarik kedua dengkul kakiku, membenamkan wajahku didalammya.
Ayah ... Ayah ... Aku mohon datanglah. Aku gak ingin berada disini lagi. Aku tidak ingin dilihat menderita seperti ini.
Ku pecahkan tangisanku disini, mencoba untuk menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.
Virgo mengangkat kepalaku dan menghapus buliran air mata yang melintasi pipiku. Tersenyum kecut dengan genangan air yang menyelimuti bola matanya.
"Apa karena ini kamu memutuskan aku, Tamy?" Tanya Virgo lembut.
"Apa karena alasan ini, kamu mau meninggalkan aku? aku gak terima. Aku gak terima jika ini alasannya."
__ADS_1
"Virgo, percayalah ini yang terbaik untuk kita berdua," ucapku dengan bibir yang bergetar karena menahan tangisan.
Ku jatuhkan kembali air mataku, ku ambil nafas yang terasa sangat menyesak didada. Mencoba menghirup oksigen yang kian terasa berat dan menyengal pernafasanku.
"Virgo." Ku raih sebelah pipi Virgo dengan tanganku yang sedikit gemetar.
"Jika saat ini aku tidak melepaskanmu." Ku tarik nafas yang kian berat dan mencoba menahan air mataku.
"Maka kelak, kita juga akan terpisah oleh kematian, iya kan," ucapku lembut, ku pejamkan mata dan kembali menundukan kepala.
Kembali ku lepaskan tangisan yang tak sanggup untuk di tahan lagi.
Aku mohon Virgo, jangan tahan aku untuk tetap berada disisimu. Kesalahanku adalah pernah menerimamu. Dengan keadaan aku yang seperti ini, tidak seharusnya aku memberikan harapan indah tentang cinta kita padamu.
Virgo menggelengkan kepalanya, matanya terus menatapku dengan lapisan kaca itu. Virgo hanya diam, tak mengucapkan sepatah katapun.
"Kak Riyu, tolong telepon Ayah. Aku ingin pulang," pintaku lembut.
"Gak perlu Tamy, saya sudah telepon Ayahmu. Karena keadaanmu memburuk, pihak sekolah menelpon Ayahmu, sekarang Ayahmu sudah ada diruang tunggu," ucap Pak Andi yang datang mendekatiku.
Ku lihat Virgo sekali lagi, perlahan aku bangkit dan berjalan dengan lemas. Menyusuli pak Andi yang berdiri terpaut 3 meter didepan.
"Aku bantu ya," ucap Kak Riyu yang menarik tanganku untuk di papahnya.
"Aku bisa Kak, aku masih kuat kok," ucapku dengan melepaskan pegangan tangan kak Riyu.
Ku temui Ayah yang sedang duduk di kursi tunggu sekolah. Langsung ku peluk badan besar Ayah dan membenamkan wajahku didada bidangnya.
"Maaf Ayah," ucapku tergugu.
"Gak apa-apa Sayang. Sudah berlalu, ini sudah tidak apa-apa," ucap Ayah menenangkanku.
"Ayo kita kerumah sakit dulu, biar Ayah periksa keadaanmu ya," bujuk Ayah lembut.
Aku mengangguk dan berjalan menuju parkiran sekolah.
"Tamy," panggil Virgo menyusuli langkah kakiku.
Ku peluk badan Ayah dan menyembunyikan wajahku didada Ayah. Aku tidak ingin Virgo melihatku begini, aku tidak ingin Virgo mendekatiku lagi.
Aku gak butuh simpati, apalagi iba orang lain. Kenapa kalau aku sakit? kenapa setiap orang harus mengasihani aku, hanya karena aku punya penyakit ini.
"Maaf, Virgo. Tapi Tamy butuh istirahat, bicaranya lain kali saja ya," ucap Ayah lembut.
__ADS_1
Ayah memasukan badanku kedalam mobil, bersiap untuk kembali kerumah sakit.
Ku pandangi wajah Virgo yang berdiri disebelah mobil kami. Aku minta maaf Virgo, tapi pertemuan kita mungkin akan berkahir disini.
Kembali air dari mataku menetes, aku tidak pernah menyangka, akhirnya harus menyakitkan seperti ini.
"Kamu yakin gak mau ketemu Virgo dulu?"
Ku gelengkan kepalaku dan mengubah posisi dudukku menghadap kedepan.
"Kapan Kheimo ketiganya akan di lakukan Ayah?" Tanyaku lembut.
"Jika keadaanmu memburuk seperti ini, Ayah akan tunda sedikit lebih lama."
"Apa aku harus inap?"
"Kalau kamu mau, kita inap sebentar ya," bujuk Ayah lembut.
"Terserah Ayah saja, tapi aku ingin kamar yang tidak bisa ditemui oleh siapapun. Aku gak mau ada yang menemui aku ya Ayah."
"Baiklah," jawab Ayah lembut.
"Aku juga tidak mau kesekolah lagi, Ayah atur untuk home schooling saja ya," ucapku kembali.
"Iya, Sayang."
"Aku juga tidak ingin menemui siapapun saat dirumah. Jadi Ayah, ayo kita pindah."
Ayah memalingkan pandangan matanya saat mendengar ucapanku. Ini kali keduanya aku minta pindah karena penyakitku diketahui oleh teman-temanku.
Tapi aku tahu, Ayah pasti ingin menanyai hal lain padaku. Pasti Ayah ingin membahas soal Virgo kali ini.
"As you wish, baby," jawab Ayah mengalah.
Ku hela nafas dengan sedikit berat dan melihat kearah luar jendela. Pada akhirnya, semua kisah ini akan berkahir sama saja.
Aku hanya akan dilihat dengan mata iba, saat semua orang tahu bahwa aku sedang sakit dan menderita.
Aku tidak suka diperlakukan beda, aku tidak suka memohon iba. Aku baik-baik saja, dan aku akan selalu baik-baik saja.
Walaupun pada dasarnya aku menderita, tapi aku akan berusaha baik-baik saja. Demi Ayah, yang telah banyak menderita, karena harus melihat anaknya sendiri.
Menderita penyakit yang ia dalami. Bukan karma, aku yakin ini bukan karma Ayah. Karena pekerjaan Ayah adalah suatu kebaikan, mana mungkin ini semua karma Ayah.
__ADS_1
Tidak ada yang salah dengan pekerjaan Ayah, dan aku tidak ingin Ayah terus menyalahkan dirinya sendiri karena aku.
Ini semua hanyalah takdir. Dan jika ini semua akan berkahir, maka aku akan tetap bersyukur. Karena Ayah dan Virgo, adalah takdir terindah yang pernah aku miliki.