Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
22


__ADS_3

POV Virgo.


"Tamy, Tamy," Ku goyangkan badan Tamy yang sudah pingsan didalam dekapanku.


Ku angkat tubuh mungil Tamy dan berlari keluar dari gang kecil. Ku naikan beberapa kali badan Tamy yang sempat melorot kebawah karena kubawa lari.


Ku alihkan pandangan, melihat kendaraan umum yang melintas. Namun beberapa waktu aku menunggu, tidak ada satupun taksi yang lewat.


"Ah ... Sial," rutukku geram.


Ku naikan kembali badan Tamy dan berlari menuju jalan raya. Ku lihat wajah Tamy yang terus memucat pasi.


"Tamy, tahan ya,"


Ku kencangkan langkah kakiku berlari. Menembus jalanan sore hari yang tidak terlalu ramai.


Ku stop sebuah taksi dengan berdiri didepannya, setelah mobil itu berhenti. Aku langsung berlari kepintu belakang.


"Mas, tolong. Bisa antar kami kerumah sakit dulu?" Ucapku saat penumpang lelaki itu menurunkan kaca jendelanya.


Lelaki itu melihat wajah Tamy, lalu ia turun dan berpindah kedepan.


"Makasih, Mas. Tolong kerumah sakit Bina Husada, ya, Pak." Pintaku langsung.


Ku keluarkan badan Tamy dan langsung membawanya keruangan gawat darurat.


"Tamy," lirih salah seorang perawat disana.


"Cepat bawa Tamy ke kelas, biar Dokter Leo yang menangani!" Perintah Dokter Umum yang bertugas di unit gawat darurat.


Para suster disana langsung menyiapkan Tamy, membawa Tamy ke kelas VVIP, untuk dirawat inap.


Tidak lama berselang, Dokter Leo datang dengan beberapa personel lainnya memasuki bangsal Tamy.


Ku hela nafas yang sedikit memburu kencang, dan duduk lemas di kursi penunggu.


Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, seluruh personel disini tahu bagaimana keadaan Tamy. Jelas sekali mereka menyembunyikannya dari orang luar.


Tamy, sebenarnya rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku?


Kuacak rambut dengan sedikit kesal, sudah sangat lama. Tapi aku sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Tamy yang sebenarnya.


Om Leo keluar dari ruangan Tamy dan tersenyum lembut padaku. Aku segara bangkit dan berjalan mendekati om Leo.


"Om, bagaimana keadaan Tamy?" Tanyaku cemas.


"Tamy, baik-baik saja. Kalau kamu mau lihat masuk saja, tapi Tamy masih belum sadar," ucap Om Leo lembut.


"Om, sebenarnya Tamy sakit apa?"


Om Leo menghela nafasnya dan merangkul bahuku.


"Tenanglah Virgo, Tamy hanya keracunan. Fungsi hatinya tidak brkerja lagi dengan sempurna, dia akan muntah darah saat makan, makanan yang banyak mengandung micin." Jelas Om Leo lembut.


Ku tundukan pandangan dan menghela nafas sedikit lega. Jadi apa yang dikatakan Tamy hari itu benar adanya.


"Virgo,"

__ADS_1


"Hem,"


"Kemejamu kotor, bersihkan dulu dirimu. Setelah itu baru kembali kesini,"


"Enggak apa-apa, Om. Saya pakai kaus dalam," jawabku lembut.


"Kalau begitu, ayo ikut Om ke ruangan, ganti bajumu dan bersihkan dulu dirimu," ajak Om Leo lembut.


Ku anggukan kepalaku dan mengikuti langkah om Leo memasuki ruangannya.


Setelah membersihkan diri dan mengganti baju, aku kembali keruangan Tamy.


Ku tatap wajah Tamy yang sedang tertidur pulas. Tidak tega rasanya saat melihat gadis seperti dia terluka.


Selama ini aku berpikir bahwa Tamy baik-baik saja, walaupun ia bilang penyakitnya ini tidak berbahaya. Tapi kenapa aku masih cemas pada kesehatannya.


Ku tarik kursi dan duduk disebelah ranjang Tamy, kuraih jemari tangannya dan mencium dengan lembut.


Ku husap dahinya dengan lembut dan menciumnya.


"Tamy, cepat sembuh Sayangku."


***


Ku bereskan barang bawaan dengan cepat dan segera memasukannya kedalam ransel.


Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung keluar untuk menemui Tamy dirumah sakit.


"Kak Virgo,"


Kualihkan pandangan mataku saat mendengar seorang cewek memanggil namaku.


"Tamy sakit ya?" Tanya Shela cemas.


"Iya, ini aku mau jenguk dia kerumah sakit."


"Aku ikut ya Kak," pinta Shela lembut.


"Yasudah, yuk,"


"Ehm, Virgo," tahan Donny.


"Kalian mau kemana?"


"Aku mau jenguk Tamy dirumah sakit," jawabku cepat.


Tak ku pedulikan ocehan Donny dan terus berjalan meninggalkan koridor sekolah.


Aku berusaha menghubungi Tamy, namun pesanku bahkan tidak terkirim ketempatnya.


Ku ketuk pintu kamar Tamy dan membukanya sedikit. Tamy tersenyum dengan lembut saat melihatku masuk.


"Bagaimana keadaanmu, Tamy?"


"Aku sudah baikan, nanti sore sudah bisa pulang sama Ayah,"


"Syukurlah," kusentuh ujung kepala Tamy dan mengelusnya lembut.

__ADS_1


Ku tarik badan Tamy dan memeluknya dengan erat. Entahlah Tamy, tapi aku sangat-sangat takut kehilanganmu.


"Ehem," ku lepaskan pelukanku saat mendengar deheman teman-temanku.


"Hai Tamy," sapa mereka saat Tamy melihat kearah mereka.


"Virgo, itu?" Tanya Tamy bingung saat melihat teman-temanku ikut denganku.


"Mereka yang minta ikut saat aku bilang mau kerumah sakit," jelasku lembut.


"Ada Shela juga,"


Shela datang mendekati Tamy dan duduk disamping Tamy.


"Aku ada bawakan tugas buatmu, jadi besok kamu gak perlu salin lagi,"


"Makasih, Shela," Tamy memeluk badan Shela yang sedang duduk berdampingan dengannya.


Syukurlah jika Tamy baik-baik saja, melihat wajahnya yang begitu ceria. Aku bisa lega, mungkin memang Tamy tidak kenapa-kenapa.


"Wah ... Ramai sekali?" Om Leo masuk keruangan Tamy dengan membawa kantungan plastik.


"Ayah, ini teman-temanku," jelas Tamy lembut.


"Ayah pikir hanya ada Virgo, jadi Ayah cuma beli sedikit makanan. Nanti Ayah bawa lagi yang lain ya,"


"Makasih Ayah,"


"Kalau gitu Ayah gak ganggu lagi, kalian jangan terlalu berisik ya,"


"Baik Om," jawab kami serentak.


Setelah Om Leo keluar, anak-anak mulai berisik. Mereka terkejut dengan status Tamy yang merupakan anak tunggal dari Dokter ternama dikota ini.


"Itu, Dokter Leo kan? pakar cancer di kota kita?" Tanya Jerry.


"Iya, kenapa?" Tanyaku kembali.


"Wah, kamu curang Virgo. Aku yakin dari awal kamu tahu siapa Tamy, makanya kamu minta kami nyerahin Tamy sama kamu," ucap Andri tidak terima.


"Iya, bener. Padahal Tamy itu anak dibawah arahan kami, sialan kamu Virgo," balas Jerry kesal.


"Seperti kata pepatah. Siapa cepat dia yang dapat," ku mainkan kedua alis mataku. Menikmati kemengananku diatas mereka.


"Tamy, kamu ada rencana cari selingkuhan gak? aku mau dong jadi selingkuhan kamu," ucap Andri.


"Aku juga dong, Tamy," timpal Jerry.


Ku tarik badan Tamy dan memeluknya erat.


"Tidak boleh, Tamy ini pacar aku. Selain aku dia gak boleh sama siapapun lagi," sanggahku kesal.


Sekejap, suasana didalam ruangan ini menjadi ricuh. Sementara Tamy hanya tersenyum dengan lebar melihat ulah kami.


Syukurlah jika kamu masih bisa tersenyum Tamy, syukurlah kamu bahagia diantara aku dan teman-temanmu.


Walau aku tidak tahu kenapa, aku sangat khawatir dengan penyakitmu. Tapi saat ini kamu bisa tertawa lepas saja aku sudah sangat bahagia.

__ADS_1


Ku tarik kembali bahu Tamy dan meneluknya dengan sangat erat. Ku cium pucuk kepala Tamy dan menumpuhkan daguku diatasnya.


"Aku sayang sekali padamu, Tamy. Aku mohon jangan buat aku khawatir lagi."


__ADS_2