
Puluhan payung terbuka di atas pemakaman Tamy. Aku hanya bisa berdiam sembari memandangi tubuh gadis itu memasuki tempat peristirahatan terkhirnya.
Masih tidak rela, tetapi juga tidak berdaya. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, selain, ikhlas.
Kupandangi badan berbalut kain putih itu mulai diletakan, membuka bagian wajahnya dan diciumkan ke tanah.
Sementara om Leo masih menangis, walau tanpa suara tetapi aku tahu air matanya tak pernah mengering dari semenjak Tamy menghembuskan napas terakhirnya.
Perlahan, air mata bersambut, saling berebut untuk menampakan kehadirannya saat aku mendengar senandung adzan yang terdengar begitu serak dari bibir om Leo.
Aku tidak kuat, sebenarnya aku sudah tidak sanggup menyaksikan ini semua. Tetapi aku juga tidak bisa pergi, kekasihku terbaring di sana.
Kini papan-papan tipis itu mulai menutupi badannya. Menghilangakan badan mungil itu dari pandangan.
Tanah yang perlahan mulai menutupi lubang itu, namun semakin mengorek lubang dalam hatiku. Setiap hentakan pacul yang menutup lubang itu beradu, semakin pilu rasa hatiku.
Seperti mereka yang perlahan mengubur jenazah kekasihku. Seperti itulah mereka mengubur jiwaku. Aku hidup, jantungku berdetak. Tetapi artinya sudah tidak lagi ada. Debarannya menghilang, sama seperti tertancapnya nisan di ujung makam.
Mengubur raganya, tetapi membangkitkan setiap kenangan yang tertinggal. Perlahan semua yang indah menjadi luka.
Apa yang ditinggalkannya menjadi sebuah kisah. Kisah yang pernah indah mewarnai masa remajaku. Dan kisah pilu untuk menyambut masa depanku.
***
10 Tahun kemudian.
"Pagi, Dok."
"Selamat pagi."
Kujejaki koridor rumah sakit yang semakin membesar ini. Menambah banyak bangunan di setiap sudutnya. Namun masih tidak mampu menghapus kenangan yang pernah ada.
Kubuka pintu ruangan dengan nama dr. Virgo Anthonio Sp.JP yang tertera pada daun pintu.
Melepaskan mimpiku, demi mengikuti keinginan kekasihku dulu. Aku masih ingat dengan perkataannya.
" ... akan lebih bagus jika kamu bekerja menyelamati nyawa orang lain, Virgo. Akan lebih baik, jika tanganmu membantu orang lain untuk menyambung hidupnya ..."
Perkataan itu yang selalu terngiang di telingaku setelah kepergiannya. Sekuat tenaga aku menembus fakultas kedokteran. Memilih untuk melanjutkan residen sebagai ahli jantung dan pembulu darah.
Karena setelah Tamy pergi, jantungku seperti terhenti. Ia berdetak namun kehidupannya menghilang.
Aku berusaha menyelamati detak jantung yang terhenti, agar aku bisa mendapatkan detakku kembali.
Namun setelah bertahun-tahun, kini aku sadar. Bahwa apa yang pergi tidak akan pernah kembali. Tamy memilih pergi, mengambil debaran dan detak jantungku untuk ikut terkubur bersamanya.
.
Kubuka pintu rumah sederhana yang telah aku tinggali selama sepuluh tahun belakangan ini. Aku langsung menuju ke arah dapur, menyiapkan beberapa bahan untuk makan malam hari ini.
Setelah makanan hampir tersaji, suara mobil berhenti di parkiran garasi. Tak lama pintu terbuka, seorang lelaki paru bayah pulang dengan menenteng snellinya.
"Ayah sudah pulang?" sambutku dengan menarik tangannya untuk kucium.
"Wangi sekali, kamu masak apa hari ini?" tanyanya antusias.
"Aku masak banyak hari ini, Ayah duduk dan makanlah dulu. Setelah itu baru mandi dan istirahat ya."
Dia hanya mengangguk dan berjalan ke meja makan. Kususun beberapa hidangan yang baru saja selesai kubuat.
Meletakan piring demi piring di depan pria itu.
Suasana hanya hening saat makan malam berlangsung, selama bertahun-tahun aku tinggal dengannya. Kami selalu makan malam di rumah. Walau terkadang satu katapun tak ada yang keluar dari bibir kami berdua.
Kehidupan kami hanya berjalan seperti seharusnya. Tetapi tidak lagi berwarna. Tidak lagi ceria, hanya berjalan pada porosnya, mengikuti perkembangan dunia. Tetapi lumpuh pada dunia kami sendiri.
"Virgo," panggilnya lembut.
"Iya."
"Tadi Ayah ada ke rumah pasien rawat jalan. Ternyata suaminya adalah teman lama, Ayah. Keadaan istrinya sudah tidak baik lagi," jelas Ayah lembut.
"Lalu, apakah ada pembuluh darah yang pecah? Apa ada kebocoran atau gangguan pada jantungnya?" tanyaku datar.
"Bukan, Virgo. Dia bukan sakit jantung. Tapi sakit kanker."
"Kalau begitu itu pasien Ayah. Bukan pasien aku," jawabku malas.
"Virgo, pasien Ayah mungkin gak akan lama lagi. Sebelum meninggal dia ingin melihat putri bungsunya menikah. Dan ... Ayah ingin, kamu menemani Ayah ke sana. Melihat putrinya, siapa tahu dia bisa menjadi menantu rumah ini. Menyiapkan makan malam saat kamu kembali."
Kuletakan sendok makan dan melihat ke arah Ayah.
"Aku sudah selesai makan, Ayah." Aku bangkit dan meninggalkan Ayah sendiri. Berjalan menaiki anak tangga rumah sederhana ini.
"Virgo," panggil Ayah menghentikan langkahku.
__ADS_1
"Kapan kamu akan membawa menantu ke rumah ini, Nak? Ayah ingin menggendong cucu dari kamu."
Kuhela napas dan tersenyum getir.
"Apa Ayah lupa?" tanyaku pahit.
"Aku adalah menantu di rumah ini, Ayah. Aku adalah menantumu, kekasih dari anakmu."
"Tapi itu sudah berlalu, Virgo."
"Tapi itulah kenyataannya, Ayah. Aku berada di sini, aku membantu Ayah di rumah sakit. Semua itu kulakukan demi anak Ayah. Demi janjiku, yang akan merawat dan menjaga Ayah untuk dia."
"Tapi kamu tidak bisa seperti ini, Virgo. Kamu sudah bisa menikah. Menikahlah, Nak. Agar kedepannya ada cucu yang menghiasi rumah ini, ada istri yang akan menemanimu. Jangan buat hidupmu seperti ini."
Aku hanya diam, tidak ingin menjawab. Karena pada akhirnya ini hanya akan menjadi perdebatan yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.
"Virgo, ayolah, Nak. Mau sampai kapan kamu begini? Ini sudah bertahun-tahun berlalu. Kamu bukan lagi anak remaja. Tidak bisakah kamu melupakan dia?" tanya Ayah sedikit kesal.
"Bukan tidak bisa, Ayah," jawabku pahit.
Kutundukan pandangan dan menarik napas yang mulai berat mengimpit dadaku.
"Aku bukan tidak bisa melupakannya. Tapi aku tidak tahu caranya. Bagaimana aku harus melupakannya? Bagaimana aku bisa meninggalkannya, aku tidak punya cara. Apakah Ayah tahu caranya? Kalau Ayah tahu, maka beri tahu aku, Ayah," jawabku sendu.
"Beri tahu aku, bagaimana agar aku tidak lagi merindukannya. Bagaimana caranya agar aku bisa menghapus bayangan tentang dia?"
Kupandangi Ayah yang masih terduduk diam di meja makan.
"Setiap waktu, setiap detik. Aku merindukannya, Ayah. Musim berganti, tahun berlalu begitu saja. Melewati ribuan malam, menahan sakit karena merindukan. Apa ayah pikir ini indah? Rinduku sangat menyiksa, tetapi aku tidak bisa untuk tidak memikirkannya, Ayah." Kutelan salivaku yang terasa semakin pahit.
"Semakin lama, kenangan tentang dia bukannya memudar. Tetapi semakin melekat dalam. Bahkan saat ini, aku masih ingat setiap detik waktu yang aku habiskan bersama dengannya, Ayah. Kata-kata yang keluar dari dalam bibirnya, bahkan satu katapun aku tidak bisa melupakan ucapannya."
"Katakan aku harus bagaimana, Ayah? Bahkan saat aku tersenyum, itu terasa sangat menyakitkan. Napasku dan senyumku, semua yang aku rasakan saat ini hanya rindu. Rindu dan semakin rindu, sampai aku tersiksa karena aku tidak tahu harus kemana melabuhkan rindu ini."
"Lepaskan, Virgo. Lepaskan bayangan tentang, Tamy. Kamu harus melanjutkan hidupmu, Nak."
"Aku tidak akan melepaskannya, Ayah. Walau aku harus menderita saat mengingatnya, aku tidak akan melepaskannya. Lebih baik aku tersiksa karena aku merindukannya, dari pada aku bahagia tetapi dengan cara melupakan dia."
"Virgo--"
"Ayah," putusku langsung.
"Ayah tahu kenapa aku memilih menjadi Dokter jantung?" tanyaku dengan menahan bibir yang terus bergetar menahan tangis.
"Aku pikir aku akan hidup saat aku menghidupkan kembali detak yang ingin terhenti. Aku pikir aku bisa bernapas lagi setelah aku memompa jantung yang tidak berdetak lagi. Tapi aku salah, jantungku kenapa tidak hidup lagi? Itu karena dia telah membawanya pergi. Mengubur bersama dengan raga yang sudah tidak bernyawa lagi."
Kusapu pipi yang sempat terlintas air, menutup daun pintu kamar. Kuraih sebuah figura berukuran 10inci di samping pintu.
Menatap lekat wajah gadis itu, wajah yang masih bisa tersenyum ceria. Wajahnya yang masih memiliki banyak ekspresi.
Wajah yang selalu muncul saat aku menutup mata. Dan wajah yang selalu aku rindui kemanapun aku pergi.
Wajah yang tidak akan pernah kembali, selama apapun aku menanti.
"Tamy." Kusentuh wajah itu dengan jari tangan. Menumpahkan cairan ke atas kaca figura itu.
"Aku merindukanmu. Kapan kamu akan membawaku bersamamu?"
"Karena saat ini, cinta dan rindu yang kumiliki. Menjadi sakit yang tidak pernah sembuh lagi. Karena luka dari kenangan indah kita yang pernah tercipta. Terus membawa aku kedalam lautan airmata."
.
Kutadahkan tangan sembari membaca beberapa ayat alquran di depan pemakaman.
Setiap pagi sebelum ke rumah sakit, aku pasti akan mengunjunginya. Sekadar bercerita ataupun hanya menangis tanpa suara.
Kenapa sulit sekali untuk melepaskannya?
Aku tahu dia sudah tidak di sini, tetapi aku juga tahu bahwa masih selalu ada orang yang menantinya.
Bukan hanya aku, tetapi juga dia.
"Kamu di sini juga, Virgo?" tanyanya lembut.
Kuhela napas dan memandangi wajahnya yang semakin dewasa. Tetapi juga semakin mempesona.
"Sudah bertahun lamanya? Mau sampai kapan kamu begini? Kapan kamu akan melepaskannya?" tanyanya kembali.
"Setiap teman lama yang berjumpa denganku, mereka akan bertanya. Mau sampai kapan kamu begini?"
Aku tersenyum dan menatap ke arahnya yang berjongkok di depanku.
"Terus kamu sendiri? Sampai kapan juga masih tidak ingin melepaskannya?"
Dia tersenyum, menggelengkan kepalanya sembari mengelus batu nisan putih itu.
__ADS_1
"Aku sudah melepaskannya. Hanya datang karena rindu padanya."
"Benarkah? Aku tidak percaya," jawabku datar.
"Itu terserah padamu."
"Jangan berbohong, Riyu. Jangan kamu pikir aku tidak tahu, selama sepuluh tahun ini kamu memang beberapa kali memiliki pacar. Tetapi kamu sama sekali tidak pernah benar-benar pacaran. Kamu hanya berusaha untuk memalingkannya, bukan?"
Riyu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Menyiramkan sebotol air di atas tanah cokelat itu.
"Aku tidak tahu kenapa. Tetapi aku memang tidak bisa melupakannya. Karena dia, mama jadi punya motivasi untuk melawan penyakitnya. Karena dia, kamu dan aku bisa menjadi saudara. Karena dia--"
Riyu menatapku dan kembali tersenyum.
"Karena dia, kita berdua masih menjadi lajang sampai usia sekarang."
Kami berdua tertawa, terkekeh saat melihat wajah yang saling berhadapan satu sama lain. Tidak lama, tawa itu bersambut dengan air mata.
Memang ini sudah sangat lama, namun bagi aku, bagi dia. Waktu ini masih belum cukup lama untuk kami berdua, melepaskannya. Kami masih butuh waktu yang sangat lama, entah berapa lama. Mungkin, seumur hidup ini.
Melepaskan cinta masa remaja yang berujung pada duka berkepanjangan. Indah warna kisah kita, kini menjadi luka yang terus berdarah.
Kamu adalah cinta yang sangat memilukan, Tamy. Rindu yang sangat menyakitkan, dan detak yang sangat menyesakan.
Tetapi sesakit apapun keadaan itu, aku tidak pernah menyerah. Karena mencintaimu adalah luka. Maka sampai detik ini aku masih sanggup untuk terus berduka.
Riyu menghapus bulir air matanya. Meletakan buket bunga di atas makam.
"Pulanglah ke rumah siang ini. Ayah merindukanmu. Dia bilang, jantungnya sering nyeri saat pagi."
"Baik, aku akan ke sana setelah operasi nanti."
"Jangan terlalu lama di sini. Itu akan semakin membuatmu merindukannya nanti."
"Aku mengerti," jawabku lembut.
Riyu menganggukan kepalanya, berjalan meninggalkanku sendiri di makam ini.
Kupandangi sekali lagi, nama yang tertulis dengan lafaz Allah yang menyertainya.
"Tamy, maaf karena aku mengingkari janji. Pada nyatanya, aku masih bertahan selama sepuluh tahun tanpa kamu di sisiku."
"Aku tahu, kamu pasti akan marah. Tetapi bahkan jika kamu marah sekalipun, kamu tidak pernah bisa membohongiku lagi?"
"Seandainya kamu masih di sini dan masih bisa membohongi aku, Tamy. Mungkin itu akan lebih baik."
Kuhela napas dan menghapus mata dengan punggung tangan.
"Akan lebih baik jika kamu masih bisa terus berbohong, akan lebih baik jika kamu masih bisa terus memarahiku, cemburu padaku dan memakiku. Semua itu lebih baik, dari pada kamu tertidur di sini selamanya, Tamy."
Aku terdiam, merasakan embusan angin yang membuat luka terasa semakin dalam.
"Tapi kamu jangan khawatir, aku masih bertahan." Kutelan salivanya yang semakin pahit terasa.
"Sampai saat ini aku masih menjaga ayahmu. Walaupun ayahmu tidak mau menikah lagi, kamu gak perlu khawatir. Karena seumur hidup ini, aku akan selalu menjaga Ayah untukmu."
Kusiramkan sebotol air di atas makam ini. Kembali menatap ke arah nisan putih itu.
"Terima kasih karena kamu pernah hadir dalam hidup ini, Tamy."
Perlahan aku bangkit, meletakan sebuket mawar di atas makam Tamy dan berjalan meninggalkan tempat yang selalu aku singgahi ini.
Dulu aku pernah bertanya, kenapa kamu harus hadir jika hanya akan meninggalkan luka. Kenapa aku harus mencintaimu dengan segala beban yang terus mendera.
Tetapi kini aku tahu, kini aku sadar.
Hadirmu hanya bagai angin yang singgah sekejap, namun bayangmu tinggal, menetap selamanya.
Kamu banyak mengubah pola pikirku. Bahwa hidup ini bukan hanya tentang perasaanmu saja.
Bukan hanya tentang perasaan sayang dan benci. Namun juga tentang kasih, penyesalan dan kata maaf.
Dulu aku tidak mengerti, kenapa saat mama pergi aku tidak sedih. Melainkan dendam yang terus memupuk subur dalam hati.
Aku marah, aku kecewa pada ayah. Tetapi kamu mengenalkan aku pada ayahmu. Kamu mengenalkanku dengan hubungan ayah dan anak yang sebenarnya. Kamu membuat aku sadar, bahwa saudara selamanya akan tetap menjadi saudara.
Ayah selamanya akan tetap menjadi ayah. Tak peduli sebesar apa kesalahannya, pasti ada penjelasan dibaliknya. Dan ada kata maaf untuk sebuah perubahannya.
Begitu juga dengan Riyu, karena dia bertemu denganmu. Riyu mempunyai teman untuk menguatkan mamanya. Mencoba meyakinkan mamanya agar bertahan dalam sulit itu lebih baik, dibandingkan menyerah dalam kepasrahan.
Tamy, gadis kecil yang selalu ceria. Kamu begitu berharga, bahkan kenanganmu saja sangat berarti untuk aku dan Riyu.
Kamu, adalah cahaya yang hinggap sekejap. Tetapi saat kamu pergi, cahayamu pun tetap bersinar tanpa meredup sedikitpun.
Hadirmu, membawa banyak makna untuk kami semua. Terutama, untukku dan dia.
__ADS_1