Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
20


__ADS_3

Ku jejaki perkarangan rumah sakit ini dengan menghitung langkahku. Sekedar membuang suntuk, aku lama-lama bosan main dirumah sakit.


Ku hela nafas yang sedikit berat dan berjalan menuju cafetaria. Tak sengaja aku melihat Aura dan Ibunya berada disana.


"Hah, mereka lagi. Kenapa dunia harus sesempit ini?" Lirihku kesal.


Kubalikan badanku dan ingin segera pergi, namun tak sengaja percakapan mereka berdua membuat langkahku terhenti.


"Mama kemarin ketemu, Tamy," ucap wanita itu lembut.


"Jangan bilang kalau Mama...."


"Iya, Mama bicara itu sama dia,"


"Haduh Mama, sudah aku bilangkan, aku gak mau belas kasih dari dia. Aku pasti akan mengalahkan dia," ucap Aura angkuh.


Ku sungging sebelah bibirku, jijik sekali melihat keangkuhan wanita tak berdaya itu.


"Tapi Aura, akan lebih baik jika kamu tidak bermusuhan dengan dia,"


"Tidak ada yang ingin menjadi musuh dengan dia, Ma. Walaupun aku tidak suka, tapi aku mengakui, bahwa yang pernah Tamy katakan padaku adalah kebenaran."


Sejenak aku tercekat mendemgar penuturan Aura, apa maksudnya ia berbicara seperti itu?


"Tamy bilang, aku ini selalu menggunakan kelemahanku untuk menarik simpati orang lain." Aura tersenyum kecut dan menggeleng pasrah.


"Walaupun aku benci mengakuinya, tetapi Tamy benar, Ma. Gak seharusnya aku mengharap iba orang lain, apalagi itu iba kak Virgo. Walaupun aku sangat suka kak Virgo, tapi aku gak mau kak Virgo memilihku hanya karena iba."


Ku balikan badanku dan berjalan dengan lambat keluar dari cafetaria, ternyata Aura tidak seburuk yang aku duga.


Aura tidak selemah yang aku katakan selama ini. Aku terus membencinya, tanpa sadar aku banyak sekali menghina dirinya.


Padahal aku juga tidak jauh berbeda darinya, aku juga tidak lebih baik darinya. Tapi karena rasa cemburu yang ia timbulkan di dalam hatiku, membuat aku membencinya tanpa arah.


Virgo, setelah dua tahun, ini kali pertamanya aku ingin sekali menunjukan perasaanku padamu. Tapi aku juga tidak ingin melukaimu, aku harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini?


***


Ku rentangkan tanganku didepan wajah, sekedar untuk menghalau sinar terik panas matahari yang menyengat kulit wajahku.


Sedari tadi keringat telah mengucur deras membasahi baju dipunggug belakang badanku.


Hal yang paling malas aku lakukan, adalah ucapacara bendera. Andai aku bisa pura-pura pingsan saja.


Sebuah bahu besar menutupi terik matahari yang menyilaukan pandanganku. Punggung besarnya melindungi wajahku dari sinar terik matahari.


Ku lihat kebarisan yang berada disampingku, bibirku melengkung dengan lebar saat kulihat Virgo sudah berada di depanku, menghalangi sinar mentari dengan badannya.

__ADS_1


Ku kibaskan tangan didepan wajahku, sekedar menciptkan udara sejuk untukku.


"Nih," Virgo menyodorkan botol mineral kehadapanku.


"Kamu kok bisa ada dibarisan kelas sebelas?" Tanyaku sambil meraih botol mineral yang disodorkan Virgo dan meneguknya sedikit.


"Untuk kamu apa yang gak bisa?" Jawab Virgo cepat.


"Ciyeeee ... Uhuy ...." Ledek teman-teman Virgo yang duduk memenuhi meja kantin dasar.


"Muak ... Muak, woy. Eneg banget lihat Virgo bucin," ledek kak Donny.


"Makanya cari pacar, jangan jomblo terus, Don," sanggah kak Jerry.


"Gimana? Shela jual mahal terus," jawab kak Donny menggoda.


"Ciyeee ... Jadian woy, jadian lah," sorak seisi kantin yang diisi penuh oleh anak kelas Virgo saja.


"Kak Donny, gak lucu tahu," ucap Shela jutek.


"Shel, jangan jutek-jutek, nanti gak laku loh," ledek kak Andri dengan tersenyum.


"Tamy, balik yuk! ogah banget kalau ada si Donat sudah goda-goda gak jelas." Tarik Shela padaku.


"Ayeee, oy. Panggilan sayang buat Donny sudah tercipta," ledek kak Jerry kembali.


"We, santai Bro. Ukurannya pas kok," jawab kak Donny santai, seakan ia terima saja di godain seperti ini.


Aku hanya tersenyum melihat ulah teman-teman Virgo yang selalu asyik dan kompak seperti ini.


"Aseeeek ... Pajak jadian Don, pajak dong," sorak mereka kembali.


"Sayang mau makan apa? pajak jadian Donny cair hari ini," ucap Virgo senang.


"Hey ... Kalian kenapa gak mau dengarin aku sih? siapa yang mau jadian sama Donat kentang bantat seperti dia?" Ucap Shela kesal.


Ku gelengkan kepalaku dan mencoba berhenti tersenyum. Kalau kantin sudah di penuhi oleh anak-anak kelas Virgo yang siswa laki-lakinya lebih banyak dari wanita ini, bakalan jadi tempat gosip terhebat sepanjang sejarah.


Aku bangkit dan mengandeng lengan tangan Shela, kasian juga dia, hanya karena menemani aku yang hampir setiap hari diculik Virgo. Dia selalu kena goda oleh teman-teman Virgo yang usil.


"Kita balik yuk, Shel," ajakku lembut.


"Ayuk, aku sudah gerah banget disini," jawab Shela semangat.


Saat aku ingin berjalan keluar, Virgo meraih jemariku yang ingin pergi. Ku palingkan pandanganku dan melihat Virgo yang masih duduk diatas meja.


"Ada apa?" Tanyaku lembut.

__ADS_1


"I love you," ucap Virgo dengan mengedipkan sebelah matanya.


Ku lepaskan senyum lebar dan menggeleng dengan pasrah. Ku gigit bibir bawahku dan menundukan pandangan.


"More," balasku lembut.


"Aseeeekkkkk, Virgo dapat balasan cinta we, pajak dong, pajak!" Teriak kak Andri lantang.


"Wah ... Pajak jadian ya Virgo. Bu' ... Virgo kena pajak!" teriak Kak Jerry pada pedagang kantin.


"We, apa-apaan kena pajak, aku sudah jadian dari dua tahun yang lalu ya," balas Virgo tak terima.


"Kalau gitu pajak pernyataan cinta, oke gak, pajak pernyataan cinta kan?" Teriak kak Donny mengompori.


"Woy, aku gak ada budget, maksa banget sih minta pajak?" Teriak Virgo lantang.


"Syukurin kamu Kak, suka ikutan usil sih," ucap Shela geram.


"Shela," ku hentakan tangan Shela dengan lembut.


"Aku balik ya Virgo,"


"Jangan lupa, istirahat nanti ke kantin ya,"


"Iya, jangan lupa bayar pajak ya," ledekku sebelum pergi.


"Yah, Tamy kok gitu sih?" tanya Virgo melas.


Aku tersenyum dan menolehkan kembali pandanganku kearah Virgo.


"Ambil saja, kali ini aku yang akan bayar pajak," ucapku lembut.


"We ... Tamy, aku padamu!" teriak kak Jerry senang.


"Enggak ada, enggak ada, Tamy punya aku, awas aja kalian kalau ada yang berani makan dari uang Tamy, aku sunat dua kali, mau!" ancam Virgo keras.


Ku tinggalkan mereka semua disana, kalau hanya melayani mereka maka sampai jam masuk juga gak akan ada habisnya.


"Tam, aku mau ke toilet dulu. Kamu duluan saja," ucap Shela di tengah perjalan kembali kekelas.


Ku angukan kepala dan berjalan dengan lambat menyusuri koridor. Sebelum masuk ke kelas, tanpa sengaja aku melihat Aura yang duduk di kursinya tepat di sebelah jendela kelas.


Membuka buku diarinya, dan ada sebuah foto Virgo disana. Sebenarnya aku tak tega kalau harus perang dengan Aura.


Jelas Aura dan aku tidak akan pernah seimbang. Ku hela nafas dan melanjutkan langkah, Aura hanya menatapku dengan sinis saat aku berjalan melewatinya.


Ku keluarkan buku catatan biologiku dan menulis beberapa bagian yang tertinggal, sementara Aura masih terus membalik-balik buku hariannya.

__ADS_1


Karena penasaran, aku sedikit bangkit dan membaca beberapa kalimat. Tak banyak yang bisa aku baca, hanya sepotong kalimat yang mampu membuat lututku bergetar seketika.


__ADS_2