Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
09


__ADS_3

"Lama tidak bertemu, Virgo."


Virgo tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Menarik kursi di sebelahku dan menarik piring makan lelaki asing itu.


"Tunggu aku selesai makan, aku bisa ajak kamu makan dimanapun kamu mau." ucap Virgo dengan menyuapi makanan di dalam piringnya.


"Lupakan saja, aku tidak selera makan saat melihatmu disini." lelaki itu bangkit dan berjalan ke jajaran minuman.


Mengambil sebotol soft drink dan berjalan menuju pintu.


"Gadis kecil, bayar ini. Hutang di antara kita selesai." lelaki itu tersenyum dan melambaikan tangannya.


Ku pandangi punggung badan lelaki itu yang berjalan sambil meminum soft drink di tangannya.


Aneh sekali sifatnya, kenapa dia bisa begitu saat bertemu dengan Virgo. Sebenarnya ada dendam apa diantara dia dan Virgo.


"Tamy, sudah jangan lihat dia lagi." Virgo menutup kedua mataku dengan tangannya.


Ku pukul tangan Virgo dan memandangnya sengit.


"Ngapain kamu disini? kita kan sudah putus."


"Tamy, jangan selalu ucapin kata putus terus. Aku gak mau kita putus, bahkan saat langit terbelahpun, kamu gak boleh putusi aku.


"Hoh, kita lihat saja!" ku raih gelas jusku dan meminumnya setengah.


Dengan cepat aku bangkit dan berjalan ke kasir. Membayar pesananku dan dengan cepat menuruni anak tangga, berlari menuju kelas.


"Dasar Virgo, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti."


Ku bereskan tas dan barang-barangku, tak lama Aura masuk ke kelas dipapah oleh kak Mike.


"Tamy, mau pulang?" tanya Kak Mike saat melihat aku memasukan barang-barangku ke dalam tas.


"Iya, kak. Duluan ya." balasku datar.


"Tamy, aku pinjam Virgo ya. Aku bolehkan minta bantuan dia buat antar Aura? aku masih ada urusan di sekolah."


Ku balikan badanku, melihat kak Mike yang membantu Aura membereskan tasnya.


"Kenapa tanya sama aku? toh aku dan Virgo sudah putus." jawabku sengit.


"Kalian beneran putus?" tanya kak Mike tak percaya.


Seketika Aura melemparkan pandangannya kearahku, melihatku dengan binar bulat matanya itu.


Dulu aku mengagumi paras cantik dan lembut Aura. Tapi kenapa sekarang aku jadi muak sekali melihat ekspresinya itu.


Sepertinya ekspresi itu yang dia perlihatkan untuk menarik simpati orang lain.


"Aku duluan ya, Kak." ku langkahkan kaki dengan cepat, keluar dari koridor sekolah.


"Tamy, Tamy." tahan Virgo di ujung koridor.


"Ada apa lagi?" tanyaku ketus.

__ADS_1


"Tolong jangan seperti ini." ucap Virgo melas.


"Jadi aku harus bagaimana?" tanyaku sengit.


Virgo menghela nafasnya dan menggaruk kepalanya.


"Baiklah, aku gak akan mendekati Aura lagi."


"Mau dekat-dekat juga gak apa-apa, toh kamu dan aku bukan siapa-siapa lagi."


"Tamy." ucap Virgo sedikit menekan.


Ku tatap wajah Virgo yang sedikit memadam. Memandangku dengan sangat tajam.


"Kenapa sekarang kamu seperti ini? sulit sekali menjelaskan keadaan ini padamu saat ini."


"Kenapa juga kamu seperti ini? dulu kamu gak pernah dekat-dekat sama wanita selain aku."


"Kamu cemburu? akui kalau kamu cemburu, aku akan jaga jarak sama wanita lain, kalau kamu mau jujur sama aku."


"Sayangnya aku gak cemburu, Virgo." ucapku ketus.


"Kamu cemburu, Tamy."


"Aku gak cemburu!"


"Kamu cemburu, Tamy."


"Aku bilang enggak, ya enggak." tekanku sedikit keras.


"Terus saja seperti ini, apa susahnya jika hanya mengakui kecemburuan?"


"Tamy, dengarkan aku." Virgo meraih kedua ujung bahuku dan menatap wajahku lekat.


"Aku gak ada maksud apa-apa, aku hanya gak tega jika melihat wanita kesakitan seperti itu. Bukan hanya Aura, bahkan wanita lain juga akan aku tolong jika dalam keadaan seperti itu."


Ku tundukan pandanganku dan kembali menatap ke sisi kosong. Aku tahu Virgo memiliki hati yang lembut, aku juga tahu kalau Virgo tak bisa melihat kesusahan orang lain. Mudah iba dan juga kasihan sama penderitaan orang lain.


"Aku hanya kasihan sama keadaan Aura, itu saja." jelas Virgo lembut.


"Yasudah, aku mau pulang." ku hempaskan tangan Virgo dan melanjutkan langkah kakiku.


"Aku antar ya." tahan Virgo cepat.


"Gak perlu, Aura lebih membutuhkan mu dari pada aku."


"Maksud kamu apa? kamu masih cemburu?" tanya Virgo kembali sengit.


"Virgo." panggil kak Mike yang masih berada di koridor.


"Bisa antarkan Aura pulang? aku masih ada pembahasan sama tim basket."


"Kalau begitu aku duluan." ucapku cepat.


"Tunggu!" Virgo meraih pergelangan tanganku dan menahan langkahku.

__ADS_1


"Aku harus antar Tamy pulang, kamu bisa minta tolong sama yang lain." ucap Virgo tegas.


"Hanya kamu teman dekatku yang tidak bergabung sama tim basket. Aku mau minta tolong sama siapa lagi?" tanya kak Mike bingung.


Virgo menghela nafasnya dan menggaruk tengkuk lehernya.


"Aku bisa pulang sendiri." ku lepaskan pegangan tangan Virgo, namun cengkaraman tangan Virgo semakin menguat.


"Ayo Aura, aku antar kamu dulu, setelah itu baru antar Tamy." Virgo berjalan dengan cepat dan menyeret aku untuk ikut padanya.


"Eh, tunggu dulu. Virgo!" tahanku, namun Virgo langsung tak mendengarkan, dia terus menggenggam tanganku dengan sangat erat.


Ku hela nafasku dan meniup poni depanku, bosan menunggu bis yang tak kunjung tiba. Ku sapu lantai semen halte dengan kakiku, menyapu daun-daun kering yang berserakan di lantai.


"Kamu haus? mau aku belikan minum?" tanya Virgo memecahkan keheningan suasana.


"Aku lapar juga, beli roti ya." pintaku manja.


"Dasar perut karet, tunggu aku, jangan tinggalin aku ya." ucap Virgo dengan menyentuh ujung hidungku.


"Hem." balasku cuek.


"Aura, kamu mau minum atau makan?" tanya Virgo mengalihkan kepalanya kearah Aura.


"Air saja, Kak." jawab Aura lembut.


"Baiklah, kalian tunggu disini ya." Virgo bangkit dan meninggalkan aku berdua dengan Aura yang duduk dengan jarak yang cukup jauh.


Sejenak suasana kembali hening, ku hembuskan kembali nafas dan memainkan kakiku diatas lantai semen halte.


"Tamy." panggilnya lembut.


"Hem?" ku naiki alis mataku, namun pandanganku masih menatap kedepan.


"Kak Virgo, sayang banget ya sama kamu." ucap Aura lembut.


Ku alihkan pandanganku kearah Aura, melihat Aura yang tersenyum sendu sambil menatap kearah depan.


"Dari SMP, aku gak pernah lihat kak Virgo seprotektif itu sama wanita, tapi sama kamu berbeda sekali."


Ku kernyitkan dahi saat mendengar ucapan Aura. Berarti Aura dan Virgo sudah kenal sejak lama? kenapa Virgo gak cerita apa-apa?


"Kamu sejak kapan kenal Virgo?"


"Saat kak Virgo main kerumah kak Mike, saat itu kak Virgo masih kelas satu SMP."


"Oh." jawabku cuek.


"Dulu selain aku, kak Virgo gak pernah dekat sama cewek lain. Kak Virgo masih lembut seperti dulu, tapi sepertinya kak Virgo gak suka aku seperti dulu lagi?" ucap Aura lembut.


Aku menyeringai dan kembali menatap kedepan. Maksud dia ngomong begini sama aku apa? apa dia mau kompori aku lagi?


Sayang, tapi aku bukan wanita yang bisa meledak jika hanya mendengar ucapan dari wanita berwajah dua sepertimu.


"Yah, perasaan orang bisa berubah. Siapa yang bisa ngelarang orang lain buat jatuh cinta? mereka punya hak untuk cinta mereka, jadi yasudah lupakan saja."

__ADS_1


"Jika kak Virgo melupakanmu karena wanita lain, apa kamu bisa melupakannya begitu saja?"


"Maksudnya?" tanyaku tak senang.


__ADS_2