Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
12


__ADS_3

Ku muntahkan seluruh isi di dalam perutku. Ku hela nafas dan melihat pantulan diri dari dalam cermin besar di kamar mandi rumah sakit.


Ku sentuh wajahku yang sedikit pucat dan tersenyum dengan lembut. Entah apa yang menarik dari wajah pucatku ini, sampai Virgo sangat tertarik dan tak ingin melepaskanku.


Ku seka sudut bibirku dan keluar dari dalam kamar mandi. Ku lihat Ayah yang tersenyum lebar.


Ku peluk badan Ayah dan membenamkan wajahku kedalam dada bidangnya. Hangat pelukan ini, selalu membuat aku nyaman.


"Sudah seminggu, kamu gak sekolah. Apa kamu gak kangen Virgo?" Tanya Ayah lembut.


Ku gelengkan kepalaku dan duduk di kursi kerja Ayah.


"Ayah, aku lapar. Ayah bisa suruh orang buat belikan bubur?"


Ayah hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.


"Dasar tukang makan, seharusnya Ayah gak perlu khawatir jika kamu memuntahkan seluruh makananmu."


"Di dunia ini, selain makanan enak. Aku tidak menyukai apapun lagi," jawabku sambil memainkan kursi kerja Ayah.


"Bagaimana dengan Virgo?" Tanya Ayah dengan memainkan kedua alis matanya.


"Apa kamu juga tidak menyukainya?"


"Tidak, aku lebih suka seafood panggang. Ha ha ha."


Ayah hanya melepaskan senyumnya dan meraih kepalaku.


"Tunggu disini, Ayah akan belikan sendiri."


"Terima kasih, Ayah," ucapku riang.


Ayah langsung keluar dari ruangannya, ku putar kursi kerja Ayah dan menyandarkan kepalaku dengan tenang. Menikmati posisi enak, dan juga suasana tenang di rumah sakit ini.


Suara ketukan dari balik pintu terdengar, tak ku hiraukan dan kembali memejamkan mataku.


"Permisi, Dok." Ku dengar suara lembut seorang lelaki yang tak asing lagi buatku.


Ku balikan kursi Ayah dengan cepat, ku lihat lelaki yang berdiri di depan meja kerja Ayah.


"Kamu?" Ucap lelaki itu terkejut.


Aku hanya menyeringai lebar, melihat wajah datar kak Riyu yang sedikit terkejut dengan kehadiranku disini.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Kak Riyu jutek.


"Aku?" Aku tersenyum lebar dan membetulkan posisi dudukku.


"Aku hanya tersesat, dan istirahat sejenak," jawabku berbohong.


Kak Riyu hanya menaikan sebelah alis matanya dan memandangku dengan datar.


"Bohong deng, aku ini hanya seorang wanita sekarat yang ingin sekali menjadi Dokter, karena itu Dokter Leo mengizinkan aku duduk disini sebentar," jawabku dengan membuat ekspresi sesedih mungkin.


"Benarkah?" Kak Riyu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatapku dengan tajam.


Aku kembali tersenyum dan menggaruk sudut dahiku.


"Baiklah, aku jujur. Sebenarnya rumah sakit ini, milik Ayahku," jawabku dengan sedikit malu.


"Dokter Leonardo Swandez, itu Ayahmu?" Tanya Kak Riyu sengit.

__ADS_1


"Benar, dan aku adalah Rintamy Khalia Swandez," ucapku jutek.


"Dokter Leonardo, seorang pakar cancer itu?" Tanya Kak Riyu kembali.


"Iya, Leonardo yang itu."


"Ehm." Kak Riyu hanya memanyunkan bibirnya dan menganggukan kepalanya.


"Kenapa? kakak gak percaya sama aku?" Tanyaku jutek.


"Percaya," jawab Kak Riyu yang ikut duduk di depanku.


"Jadi kenapa wajah kakak bereaksi seperti itu?"


"Tidak ada," jawabnya datar.


Seperti biasa, lelaki ini memang sangat irit sekali berbicara. Tak lama berselang, Ayah kembali dengan sekantung makanan dari cafetaria di rumah sakit ini.


"Riyu, sudah lama?" Tanya Ayah langsung, saat melihat kak Riyu duduk di depanku.


"Tidak, Dok. Saya juga baru datang."


"Oh. Tamy, ambil ini dan tolong keluar sebentar ya."


"Baiklah." Aku bangkit dan mengambil kantungan yang di berikan Ayah. Berjalan keluar dengan sedikit malas.


Ayah, dia selalu tidak nyaman saat menjelaskan keadaan pasien yang keadaannya memburuk di depanku.


Padahal aku ini bukan lagi anak kecil, tapi Ayah selalu memperlakukan aku seperti seorang bayi.


Ku hela nafas dan berjalan tanpa arah menyusuri koridor rumah sakit. Tak sengaja mataku melihat ke salah satu bangsal melalui kaca pintu kamar.


"Aura." Lirihku lembut.


"Kamu teman Aura ya?" Suara dari belakangku membuat aku terkejut.


Ku lepaskan senyumku dan menggaruk kepalaku.


"Itu, ehm, kami satu kelas," jawabku bingung.


"Oh, kalau begitu ayo masuk. Aura pasti senang kalau ada teman yang datang." Ajak seorang wanita paruh baya itu.


"Eh, gak usah, saya ...."


"Sudah, ayo masuk saja." Tarik Ibu itu di lengan tanganku.


Mau tak mau, aku mengikuti langkah kaki Ibu itu dan duduk di sofa tamu.


"Tamy." Ucap Aura kaget.


"Hai." Sapaku dengan tersenyum kaku.


Padahal aku malas sekali berbasa basi. Tapi mau bagaimana lagi? sudah terlanjur juga.


"Kamu kok bisa ada disini?" Tanya Aura lembut.


"Oh, itu, lagi jenguk teman,"jawabku berbohong.


"Oh, gitu," balas Aura cuek.


"Nak, ayo di makan." Ibu itu menyodorkan sepiring buah kehadapanku.

__ADS_1


"Eh, gak usah Bu. Aura yang sakit, kenapa saya yang makan," tolakku lembut.


"Makan saja, lagian Aura juga gak mau makan apapun," ucap Ibu itu


lembut.


"Kalau Tamy gak mau jangan di paksa, Ma. Mama tahu, Tamy itu siapa?" Tanya Aura jutek.


"Teman kamu, kan?"


"Dia pacar kak Virgo."


"Eh," ucap wanita itu sambil memandang kearahku.


"Dia?" Kembali wanita itu berucap sambil menyentuh lembut pipiku.


"Memang apa yang salah?" Tanyaku bingung.


"Enggak ada yang salah, pantas saja Virgo suka kamu. Kamu cantik dan juga imut," ucap wanita itu lembut.


Ku lepaskan senyum kaku saat memdengar ucapan wanita itu. Apa yang terjadi sebenarnya? aku yakin ini tidak baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum, Bu'de."


"Wa'alaikum salam."


"Eh, Tamy. Kok kamu ada disini?" Tanya kak Mike yang baru datang dengan seragam SMA nya.


"Iya, tadi aku gak sengaja ketemu Tante di depan pintu," jawabku lembut.


"Oh." Kak Mike menundukan pandangannya dan menggaruk tengkuk lehernya.


"Mike, Bu'de balik dulu ya. Titip Aura sebentar."


"Iya, Bu'de. Hati-hati ya."


"Tamy, Tante duluan ya."


"Ya," jawabku cepat.


Ku lihat badan wanita paruh baya itu keluar dan menghilang dari pandanganku. Tak lama, ku alihkan pandanganku ke arah kak Mike yang dari tadi terus menatapku dengan wajah aneh.


"Ada apa, Kak?" Tanyaku saat tak sengaja, mataku dan kak Mike saling beradu pandang.


"Ehm, Tamy, sebenarnya aku mau bilang sesuatu sama kamu."


"Hem? apa?"


"Hem, bagaimana ya? tapi kamu jangan marah sama aku ya."


"Bilang saja, Kak."


"Sebenarnya ...."


"Mike, aku ...." Ku dengar suara seorang lelaki lain yang baru masuk dari pintu.


Seketika kualihkan pandanganku dan melihat kearah pintu.


"Tamy."


"Virgo."

__ADS_1


__ADS_2