
Ku pandangi halaman luas rumah sakit milik Ayah dari kaca bangsalku. Sudah tiga hari aku berusaha memalingkan diri dari kenyataan ini.
Entah sampai kapan aku harus berada didalam dunia yang seperti ini. Lari dan terus berlari saat dunia disekelilingku mulai tidak bersahabat denganku.
Aku terlalu takut, takut untuk menerima kenyataan bahwa aku ini lemah. Aku terlalu takut, takut menerima pernyataan bahwa aku ini rapuh.
Aku ingin dunia tahu, kalau aku yang saat ini kuat. Tapi aku lebih memilih kabur saat kenyataan pahit ini terungkap.
Jujur aku lelah, jujur aku muak terus berada di fase ini. Fase dimana aku harus berjuang dan bertahan sendiri. Aku benci saat di kasihani, tapi aku juga benci jika harus berdiri sendiri.
Ku sentuh kaca jendela ini dan mencoba meraih salah satu badan penghuni rumah sakit yang sedang berada dibawah sana.
Padahal aku ingin sekali keluar, tapi aku terlalu takut untuk berjumpa dengan orang lain.
Ku palingkan pandangan saat mendengar pintu kamar terbuka. Ayah datang dengan salah satu pasiennya yang ia dorong dari kursi roda.
"Kak Tamy," panggil gadis kecil itu ramah.
"Sahara, kamu kok disini?" Tanyaku datang mendekati gadis kecil berumur 10 tahun itu dan berlutut dibawah kursi rodanya.
"Kak Tamy, lihat rambut aku sudah di potong," ucap gadis itu dengan membuka topi rajut yang ia kenakan.
Seperti ada petir yang menyambar hatiku saat melihat gadis kecil ini dengan penampilan barunya.
Kuraih helaian rambut pirangku dan melihatnya. Akankah aku harus mengorbankan rambut ini juga suatu saat nanti?
Ku telan salivaku yang terasa sangat pahit, aku tersenyum getir dengan mengambil nafas yang terasa sesak didadaku.
"Bagus! Sahara suka gak?" Tanyaku dengan tersenyum kaku.
"Sebenarnya aku gak suka, tapi Om Dokter bilang nanti di surga rambutku akan tumbuh sangat panjang, jadi saat ini botak gak apa-apa, benarkan Om?" Sahara mendongakan pandangannya, melihat kearah Ayah.
Aku ikut menatap wajah Ayah, aku tahu Ayah sedang menahan semuanya sendiri saat ini.
"Benar," jawab Ayah dengan bibir yang bergetar.
Ku lepaskan buliran air mata ini, sungguh Ayah. Aku rela jika harus menanggung semua ini, asalkan Ayah tidak pernah menampilkan ekspresi seperti ini lagi.
Ayah, aku ingin Ayah menikah lagi. Agar ada wanita yang menjaga Ayah saat aku pergi nanti.
Ku pejamkan kedua kelopak mataku, bersama tetesan air yang ikut mengaliri pipiku.
Ku lepaskan senyum pahit dan meraih sebelah pipi Sahara. Mengelus pipinya dengan lembut.
"Sahara, main di taman sama Kakak mau gak?" Tanyaku lembut.
"Mau, mau Kak," jawab Sahara riang.
Aku menghapus buliran air mata, dan menarik kursi roda Sahara.
"Kami keluar dulu ya, Ayah." ku dorong kursi roda Sahara keluar dari bangsalku.
__ADS_1
"Tamy," panggil Ayah lembut.
Ku alihkan pandanganku dan tersenyum dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, Ayah."
Ku hela nafas dan mendorong kursi Sahara melewati koridor rumah sakit. Tanpa sengaja aku bertemu kak Riyu dikoridor.
"Kak Riyu!" Panggil Sahara senang.
"Sahara," jawab Kak Riyu lembut.
Kak Riyu berjalan mendekati kami dan mengelus kepala Sahara.
"Kak, lihat. Menurut Kakak aku bagaimana?" Kembali Sahara menarik topi rajutnya dan memperlihatkan kebotakannya.
"Kamu semakin cantik dengan penampilan seperti ini," jawab Kak Riyu lembut.
Sudah pasti, setiap orang yang menemui penderita kanker seperti kami, pasti akan mengatakan kebohongan untuk menghibur kami. Sungguh memuakan.
"Kalau aku begini, kak Riyu masih mau gak nikah sama aku nanti?"
Ku naikan sebelah alis mataku saat mendengar ucapan Sahara.
"Sahara, kok bilang begitu?" Tanyaku bingung.
"Aku suka kak Riyu, kak Riyu tampan dan juga lembut sekali. Kelak kalau aku sudah dewasa, Kak Riyu akan menikahi aku, iyakan?"
"Tentu saja, tapi kalau kamu mau menikah sama aku. Kamu harus janji untuk sembuh dulu, bagaimana?" Tanya kak Riyu dengan menaikan jari kelingkingnya.
"Aku janji," jawab Sahara senang.
Ku lepaskan tawaku saat melihat Sahara yang begitu antusias. Kak Riyu mengambil kursi dorong Sahara dan mendorongnya bersamaan denganku.
"Mau kemana?" Tanya kak Riyu lembut.
"Hanya jalan-jalan saja," jawabku datar.
"Aku temani ya."
"Terserah," jawabku cuek.
Untuk beberapa saat, aku dan kak Riyu hanya berjalan tanpa berkata sepatah katapun. Entahlah, aku sama sekali tidak ingin memulai apapun.
"Sejak kapan kamu juga menderita cancer?" Tanya Kak Riyu membuka suara.
"Empat tahun yang lalu," jawabku cuek.
Kak Riyu tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.
"Kalau kak Riyu sudah tahu penyakitku, apa kak Riyu mau berteman denganku, hanya karena kasihan terhadap kondisiku?"
__ADS_1
Kak Riyu menaikan sebelah alis matanya, menatapku dengan wajah datarnya.
"Apa kamu pantas untuk dikasihani? aku rasa untuk ukuran gadis remaja, kamu itu terlalu keras kepala dan juga egois," jawab Kak Riyu ketus.
"Maksud Kakak?" Tanyaku tidak senang.
"Huhh, Tamy. Kenapa aku harus memberikan iba pada gadis yang bisa menghadang apapun untuk hidupnya. Apa kamu pikir aku kasihan sama kamu? kenapa kamu naif sekali?" Kak Riyu menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.
"Kakak bicara seperti ini hanya karena ingin aku gak minder kan?"
"Apa aku ini orang yang suka basa-basi ya? ayolah Tamy, kenapa aku harus iba padamu yang bahkan lebih kuat daripada Ibuku sendiri," jawab Kak Riyu ketus.
"Maksud Kakak?"
"Apa kamu tidak pernah berfikir, kenapa aku bisa tahu obat itu adalah morfin?"
Ku gelengkan kepalaku dengan cepat. Aku tidak mau tahu dan juga tidak ingin mengetahui apapun lagi.
Kak Riyu menghela nafasnya dan mendorong kursi roda Sahara menuju taman rumah sakit.
"Aku tahu itu morfin, karena Ibuku juga minum pil yang sama untuk meringkan sakitnya," jawab Kak Riyu sendu.
"Hah?"
"Iya, Ibuku juga penderita kanker. Kanker payudara."
Ku manyunkan bibirku dan mengangguk pasrah. Pantas saja, Kak Riyu sering sekali bertemu dengan Ayah.
Kak Riyu menghentikan langkahnya saat sampai ditengah taman. Ia duduk dan bercanda dengan Sahara.
Banyak hal yang aku tidak tahu, dan banyak hal juga yang berusaha aku tutupi. Tanpa aku sadari, aku juga menutup mata untuk orang-orang disekitarku.
Sudah lama aku bertemu kak Riyu dirumah sakit, tapi aku gak tahu jika Ibu kak Riyu adalah pasien Ayah.
"Tamy," panggil Kak Riyu lembut.
Aku berjalan dan duduk disebelah kak Riyu.
"Virgo ada menemuimu?" Tanya kak Riyu lembut.
Ku hela nafas dan menggelengkan kepala.
"Kamu menghindarinya?" Tanya kak Riyu kembali.
"Saat semua orang tahu keadaanku yang sebenarnya, pasti mereka akan memandangku dengan tatapan iba. Dari pada dilihat seperti itu, lebih baik aku menghindari saja."
"Benarkah seperti itu?" Tanya kak Riyu lembut.
"Aku sudah muak, Kak. Muak berada ditengah-tengah orang yang mengasihani aku," jawabku malas.
"Tamy, bagaimana bisa kamu mengetahui apa yang dipikirkan orang terhadapmu? jangan karena kamu mengasihani dirimu, kamu pikir setiap orang juga hanya akan mengasihani dirimu," ucap kak Riyu datar
__ADS_1
"Maksud Kakak?"
"Benarkah mereka mengasihanimu? atau hanya kamu yang berpikir bahwa mereka akan mengasihanimu?"