
Aku sedikit gugup saat kak Riyu terus datang mendekatiku. Apa kak Riyu gak salah? mau menikah di usia muda? yang benar saja?
"Eh," ucapku saat kak Riyu berjalan melewatiku.
Kak Riyu berlutut didepan Sahara dan mengelus lembut kepala botak Sahara.
"Hey, calon pengantinku. Aku dengar katanya kamu gak mau kheimo ya?" Tanya Kak Riyu lembut.
Seketika aku melongo, Sahara? maksudnya kejutaan ini buat Sahara?
Aku masih tidak habis pikir, ini maksudnya?
"Aku gak kuat Kak, setiap selesai kheimo badanku sakit semua."
Kak Riyu menghela nafasnya dan tersenyum dengan lembut.
"Katanya mau menikah dengan aku, jika kamu tidak kheimo, nanti kamu gak bisa nunggu aku dong," bujuk Kak Riyu lembut.
Sahara memandang kearahku, ia melihatku dengan binar mata sendunya itu.
"Kak Tamy, juga kabur dari kheimo, Kak," adu Sahara pada kak Riyu.
"Eh ... Mana ada," jawabku cepat.
"Tenang saja, kalau Tamy kabur. Dia akan melewatkan untuk menjadi pengantinku."
Ku alihkan pandangan mataku, ku lihat Virgo sudah berdiri menyandarkan badannya di batang pohon besar taman rumah sakit.
Ini semua maksudnya apa?
"Kamu? kenapa kalian semua kesini? maksudnya apa?" Tanyaku bingung.
"Gak ada maksud apa-apa, kami hanya ingin main kesini," jawab Virgo lembut.
"Ini rumah sakit, bukan tempat main. Kalau kalian banyak waktu senggang, kalian main saja ketempat yang lain." Aku bangkit dan mengambil jemari Sahara dan Zoel.
Aku tidak suka saat harus di kacaukan oleh mereka semua. Apa mereka pikir ini sebuah lelucon?
"Tamy kami datang sebagai temanmu, beginikah caramu memperlakukan teman?"
Seketika langkahku terhenti, ku balikan badanku melihat kearah Virgo.
"Iya, begini caraku memperlakukan teman. Kenapa? tidak suka? kalau begitu tinggalkan aku sendiri," ucapku ketus.
"Kami tidak akan pernah meninggalkanmu, Tamy. Kita ini berteman, jangan seperti ini," bujuk Virgo lembut.
"Jadi seperti apa? mau seperti apa? aku gak butuh kalian lagi."
Virgo mengambil nafasnya dengan memburu kencang. Ia berjalan kehadapanku dan meraih kedua ujung bahuku.
__ADS_1
"Sadarlah Tamy! kenapa kamu begitu keras kepala? aku hanya ingin kamu tahu, kami semua disini gak pernah ingin meninggalkanmu sendiri! kami disini untuk mendukung kamu! kami ingin kamu tahu, bahwa kamu gak pernah sendiri melewati semua ini!" Tekan Virgo keras.
Ku tatap lekat wajah Virgo dengan cairan bening yang melintasi pipiku. Aku bukan sedih, hanya terlalu kaget saat mendengar Virgo bisa berbicara dengan menekan seperti ini.
"Virgo." Tahan kak Jerry di bahu Virgo.
"Jangan seperti ini, Tamy bisa takut sama kamu," ucap Kak Jerry lembut.
"Aku gak bisa lagi, Jer. Tamy harus tahu, aku gak sanggup nunggu dia, kalau dia terus bersikap seperti ini!"
"Kalau gitu jangan tunggu lagi. Aku sudah bilang kan, jangan cari aku lagi." Ku balikan badanku dengan cepat dan berlari keluar dari taman.
"Tamy, tunggu!" Tahan Virgo di pergelangan tanganku.
Virgo membalikan badanku, ia kembali menekan kedua ujung bahuku.
"Begini? apa akhirnya hanya begini? aku tidak peduli pada apa yang kamu alami. Aku jatuh cinta sama kamu dan aku terus cinta sama kamu, tapi kenapa kamu terlalu egois, pernahkah kamu berpikir sedikit saja tentang perasaanku?" Tanya Virgo tanpa jeda.
"Enggak!" Jawabku cepat.
Virgo menarik nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum kecut dan mengacak rambutnya.
Virgo melihat kearahku, menatap dengan sengit.
"Aku, aku yang selama ini salah. Aku salah menilaimu. Tamy, jujur sampai hari ini aku itu sangat kagum padamu. Kagum pada kekuatanmu, kamu selama ini berjuang sendiri tanpa mengeluh. Kamu tahu, aku sangat mengagumi kekuatanmu. Tapi saat ini aku sadar, detik ini aku benar-benar sadar. Itu bukan kekuatan tapi keegoisan." Virgo menatap kearahku dengan sengit, matanya memancarkan bara api yang terus berkorbar.
"Hubungan kita hanya berjalan atas dasar keegoisan aku dan kamu. Tapi aku gak pernaha sadar, aku terbuai. Selama ini aku menganggap kamu cinta sama aku, tapi sekarang aku ragu, pernahkah, sedikit saja, kamu membuka hati untukku?" Sambungnya sengit.
Karena, semakin buruk perpisahan kita. Maka semakin baik nantinya. Karena saat kamu membenciku, aku baru bisa meninggalkanmu dengan tenang.
"Lihat aku Tamy," ucap Virgo mengambil kedua belah pipiku.
"Aku bertanya, pernahkah kamu mencintai aku? pernahkah kamu jatuh cinta padaku? apa aku ini buat kamu?" Tanya Virgo melunak.
"Virgo, aku ... Aku," ucapku bingung.
Ku hela nafas dan memejamkan kedua bola mataku. Aku selalu ingin bilang bahwa kamulah alasan aku untuk bertahan. Demi kamu, aku ingin hidup lebih lama lagi.
Untuk kamu, aku menahan semua ini sendiri. Tapi demi kebaikan kamu juga, aku memilih jalan ini.
Ku hempaskan tangan Virgo dan membalikan badanku. Ku raih kembali jemari tangan Sahara.
"Sudahlah, bukannya sebelum ini kita sudah putus. Jadi kenapa harus di pertanyakan lagi," ucapku tanpa melihat kearah Virgo.
Aku kembali berjalan meninggalkan Virgo dan teman-temanku disana. Maaf, tapi lebih cepat kalian melupakan itu akan menjadi lebih baik.
"Sumpah Tamy, kamu adalah perempuan yang paling egois yang pernah aku temui!" Teriak Virgo lantang.
Ku pejamkan mataku, meneteskan satu persatu buliran air mata.
__ADS_1
"Selama ini aku sangat jatuh cinta padamu, dan kini aku sadar. Mencintaimu adalah sebuah kesalahan!"
Ku genggam sisi baju di bagian kiri dadaku. sungguh, ini sakit sekali. Kamu boleh membenciku Virgo, tapi aku mohon jangan pernah menyesali pertemuan kita.
Karena bertemu denganmu adalah takdir terindah yang pernah Tuhan tuliskan untukku. Karena dirimu adalah anugerah yang paling berharga, yang pernah kutemui dalam hidupku.
Ku balikan badanku dengan cepat, ku lihat badan Virgo yang berjalan dengan cepat keluar dari taman rumah sakit.
"Virgo!" Panggilku lantang.
Virgo menghentikan langkah nya dan menolehkan sedikit pandangannya.
"Kamu boleh membenci aku, tapi kamu tidak boleh menyesal karena telah mengenal aku," ucapku lembut.
"Siapa kamu? kamu tidak berhak melarang aku. Seperti kamu, maka apa yang aku katakan adalah hakku."
"Tapi Virgo, kisah kita gak salah. Aku yang salah, kamu boleh benci aku. Kamu boleh maki aku, tapi kamu gak boleh menyesali apa yang pernah terjadi. Karena pertemuan kita bukan kesalahan, tapi sebuah perencanaan, Tuhan."
"Bukan, pertemuan kita dari awal aku yang merencanakan. Aku yang merencanakan kisah kita. Jadi dari awal, aku yang salah. Dan aku, menyesali semua itu. Andai, aku tidak memilihmu. Maka aku tidak akan berujung seperti ini," ucap Virgo, ia kembali melanjutkan langkahnya.
Ku teteskan kembali satu persatu air mataku. Perlahan aku terduduk lemas, memandangi badan Virgo yang terus menjauh.
Maaf Virgo, maaf karena telah menyakiti hatimu. Maaf karena telah memilih untuk berhenti disini.
Maaf, aku minta maaf. Karena aku tidak bisa melawan penyakit ini. Kamu harus menanggung semua derita ini.
Maaf Virgo, maaf Ayah. Karena aku, kalian harus menderita.
Ku tundukan pandanganku dan memecahkan tangisanku. Kenapa? kenapa harus begini pada akhirnya? kenapa? kenapa sulit sekali rasanya untuk melewati semua ini.
"Kak Tamy, ayo bangun! kak Tamy gak boleh duduk disini dan menangis seperti ini," ucap Zoel lembut.
"Kak Tamy, apa kak Tamy lupa sama yang kak Tamy ucapkan pada kami? kita boleh sakit, tapi kita gak boleh lemah. Benarkan kak Tamy?"
Ku pandangai wajah lelaki kecil ini, benar. Kamu benar Zoel, kita gak boleh lemah.
Aku gak boleh lemah, aku harus bisa melwati ini semua. Dan untuk itu, aku butuh kamu, Virgo.
Karena, setelah mengalami putus asa untuk kesekian kalinya. Kamu adalah sesuatu yang mampu membuat aku bertahan dan terus bertahan dalam kenyataan pahit ini.
Ku hapus sisa buliran air mataku, berlari secepat yang aku bisa. Menyusuli langkah Virgo yang berjalan jauh hampir keluar dari gerbang.
Ku peluk badan Virgo dari belakang dan membenamkan wajahku di punggung belakangnya.
"Maaf Virgo, aku minta maaf," ucapku tergugu.
Ku pecahkan tangisanku dan mengeratkan pelukanku.
"Aku memang seperti ini, kamu tahu kan? tapi jika kamu bertanya, apa arti dirimu buat aku." Ku tarik nafas dan mencoba mengaturnya kembali.
__ADS_1
"Kamu adalah alasan, kenapa sampai saat ini aku masih bertahan."