
POV Virgo.
Om Leo menyerahkan selembar amplop putih ke tanganku. Tanpa banyak bicara, aku membuka dan membacanya.
Aku tidak mengerti, namun yang aku tahu hanya satu. Bahwa angka kecocokan hati Tante Gina dan Tamy mencapai 82%.
Seuntai senyum tergambar di wajahku, bahagia walaupun ada rasa tak rela.
"Ini akuratkan, Om?" tanyaku senang.
"Pasti."
"Jadi kapan Tamy bisa melakukan pencangkokan hati, Om?" tanyaku antusias.
Om Leo menghela napas, mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
"Ini tidak semudah yang ada dalam pikiranmu, Virgo."
"Maksudnya?"
"Gina adalah pasien saya, walaupun dia menderita kanker payudara. Tetapi keadaannya belum seburuk itu, resiko ini terlalu berbahaya untuk Gina dan juga Tamy."
"Tetapi aku tidak pernah memintanya, Om. Tante Gina yang mau melakukannya sendiri."
"Saya tahu, tetapi sebagai seorang Dokter saya tidak bisa melakukan ini. Mengambil nyawa seseorang untuk menukarnya dengan nyawa anak saya sendiri."
"Jadi, maunya Om bagaimana?" tanyaku bingung.
"Saya akan bicarain ini lagi sama Gina. Keadaan ini memang harus jelas, kalau Tamy tahu. Ia juga pasti tidak akan setuju."
"Baiklah, aku mengerti, Om."
Kuambil kertas itu dan kembali memasukannya ke dalam amplop. Membawanya kepada orang yang lebih berhak.
Kubuka sedikit daun pintu ruangan, terlihat Riyu sedang berbicara dengan gadisku di dalam sana.
Kusandarkan kepala ke depan pintu kamar, menunda untuk masuk sedikit lebih lama.
"Jadi, Virgo membawamu lari kemarin?" Kudengar suara Riyu bertanya.
"Lebih tepatnya aku yang ingin kabur," jawaban yang gadisku lemparkan.
"Dasar gadis nakal, seharusnya kamu jaga kesehatan."
"Dari pada Kakak mengkhawatirkan aku. Bisa gak Kakak berjanji padaku?"
Kunaikan sebelah alis mata dan melihat ke arah dalam. Memperhatikan dua orang yang sedang berbicara itu.
"Apa?"
"Kakak janji untuk baikan sama Virgo, ya. Walau kadang ia terlihat kasar, tapi Virgo bukan lelaki yang buruk. Aku tahu ada dendam di antara kalian, tetapi aku tahu juga kalau sebenarnya kalian ingin berdamai. Hanya saja--"
Gadis itu menggantungkan kalimatnya dan melirik sinis ke arah Riyu.
"Kalian berdua terlalu angkuh. Sulit menyatukannya, lebih sulit lagi untuk mendamaikannya."
Riyu tersenyum dan menyentuh pucuk kepala gadisku. Ada rasa cemburu yang bergejolak di dalam dada. Namun aku berusaha menahannya, gadisku tak akan suka jika aku bertindak kasar di depannya.
"Aku pasti akan berdamai dengan Virgo, Tamy. Walau bukan saat ini, mungkin ke depannya. Karena aku telah memisahkan ia dan ayahnya. Aku harap dia mau memaafkanku."
"Virgo pasti akan memaafkan, Kak. Kalian hanya butuh komunikasi untuk memperbaikinya."
"Jika tidak ada kamu, aku rasa akan sulit."
"Hem, kenapa?"
"Karena kamulah yang membuat aku dan Virgo bisa dekat. Kamulah yang menghubungkan aku dan Virgo. Tamy, kalau boleh jujur, bukan hanya Virgo. Bahkan aku juga, sangat mencintaimu."
Kukepalkan jemari tangan, membuka daun pintu dengan sedikit menendang.
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu mencintaiku gadisku?" tanyaku meradang.
"Virgo." Tamy berlari dan langsung menahan badanku.
Menyeret badanku keluar dari ruangan inap tersebut. Diikuti Riyu yang berjalan di belakang kami.
Kuhempaskan tarikan tangan Tamy dan memandang dirinya dengan sedikit kesal.
"Kenapa kamu nahan aku? Kamu senang saat ditembak oleh Riyu, iya?" tanyaku tidak suka.
"Kamu bicara apa? Kamu salah paham, Virgo."
"Salah paham apanya? Kamu sengaja membuat orang lain jatuh cinta padamu, iya?"
"Virgo--"
__ADS_1
"Jangan keterlaluan, Virgo," putus Riyu berjalan kedepanku.
"Kamu bilang padaku jangan keterlaluan?" Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.
"Kamu yang jangan keterlaluan! Kamu tahu dia pacar aku, tetapi kamu masih ada niat untuk menembaknya."
"Aku tidak menembaknya, aku hanya mengakui perasaanku saja. Apa salah?"
"Salah! Jelas salah, masih banyak wanita di luar sana. Kenapa kamu selalu merebut apa yang aku punya?" tanyaku sengit.
"Aku tidak mau merebut Tamy darimu, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan."
"Sudah seperti ini pun kamu masih membela diri. Jelas aku mendengar ucapanmu tadi!" bentakku keras.
"Cukup!" teriak Tamy lebih keras.
"Kalian pikir ini apa? Lahan untuk adu mulut? Ini rumah sakit, tidak bisakah kalian lebih dingin menyelesaikan ini?"
"Aku tidak ingin menyelesaikan apapun dengan orang ini, seumur hidup. Aku akan memusuhinya."
"Hentikan, Virgo!" teriak Tamy serak.
"Kalian itu saudara, haruskah dendam itu kembali membara hanya karena gadis sekarat sepertiku? Apa kalian itu masih waras? Kalian merebutkan aku yang sudah berada di ambang kematian?" tanya Tamy dengan genangan kaca yang melapisi matanya.
Tamy memandang kami berdua dengan lekat. Kepalanya menggeleng dengan pelan.
"Aku tidak pantas, aku tidak pantas menjadi penyebab dendam kalian semakin besar. Kenapa? Kenapa kalian menjadikan aku semakin menyedihkan? Kenapa kalian membuat aku semakin merepotkan?"
"Tamy--"
"Maaf," putus Riyu langsung.
"Maaf, Tamy. Aku hanya berpikir untuk mengungkapkannya saja. Aku tidak berpikir untuk memintamu menerimaku. Aku tahu yang ada di hatimu hanya Virgo, karena itu, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa selain Virgo masih ada tempat untukmu berteduh."
Aku memandang wajah Riyu kembali, apa maksud perkataannya itu? Jelas sekali niat dia adalah ingin merebut gadisku.
"Cukup, aku gak butuh kalian yang seperti ini. Jika kalian mau seperti ini lanjutkan saja. Aku tidak mau mengenal kalian lagi."
Tamy berlari meninggalkan aku dan Riyu di koridor rumah sakit. Gadis itu menghentikan langkahnya tak jauh dari kami berdiri, ia memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
"Tamy," lirihku dan Riyu serentak.
Aku berlari dan merangkul bahu gadis kecilku itu. Memasuki kamar mandi rumah sakit, memberikan waktu untuk ia memuntahkan cairan merah itu.
Kutarik tas yang dipakai Tamy, mencari obat di dalamnya. Setelah beberapa lama membongkar, obat yang kucari tidak ada.
"Tamy membuang obatnya," lirihku pahit.
"Lalu bagaimana?" Dia bertanya.
"Mintakan obatnya pada om Leo, cepat!" perintahku.
Riyu berlari meninggalkanku di depan kamar mandi. Memandangi Tamy yang terus mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya.
Kenapa? Kamu melakukan ini Tamy? Kenapa kamu membiarkan keadaan ini semakin memburuk?
Bukankah aku adalah alasanmu untuk bertahan?
Kenapa saat aku sudah ada di sampingmu, kamu malah memilih untuk menyerah?
Menyerah pada keadaan dan meyerah melawan semua penderitaan?
Kusapu buliran air mata yang sempat menetes, melintasi pipi. Berjalan mendekati Tamy dan menarik bahunya untuk berdiri.
Kuhapus sisa darah yang masih tersisa di sudut bibirnya. Memeluk badan Tamy yang semakin kurus dan melemah ini.
"Kenapa, Tamy? Kenapa kamu menyerah secepat ini?" tanyaku pahit.
Tamy mengeratkan pelukannya pada pinggangku, tidak menjawab melainkan hanya menangis terisak.
"Virgo, ini," ucap Riyu sembari memberikan beberapa lempengan obat ke tanganku.
Kubuka dengan cepat dan menarik bahu Tamy, menyuapinya ke dalam mulut Tamy.
Tamy menampel tanganku, mengambil lempengan obat itu dan memijaknya kasar.
"Aku lelah!" teriaknya kasar.
"Aku sangat lelah, Virgo. Aku bosan, aku gak tahan. Aku gak sanggup lagi menahan semuanya?" ucap Tamy pahit.
Sesaat aku terdiam, melihat badan Tamy yang terus bergetar karena melepaskan tangisannya.
Aku tahu, ini sangat berat untuknya. Tetapi kita tidak punya pilihan selain bertahan. Bertahan dari semua luka dan penderitan ini.
"Aku ingin mengakhiri ini semua, Virgo. Aku ingin mengakhirinya," sambung Tamy parau.
__ADS_1
"Tamy, jangan seperti itu. Kamu harus bertahan, aku berjanji akan berdamai dengan Riyu. Untuk itu aku butuh kamu, kamu yang selalu mendinginkan kami berdua."
Tamy memandang ke arahku dan Riyu bergantian. Tak berhenti, matanya meluruhkan buliran air bening.
Tamy menggulung kedua lengan panjang kaus yang ia gunakan. Beberapa lebam biru dan bekas suntikan terlihat di kulit putihnya.
Perlahan air mataku luruh tanpa suara, tak tega melihat kulit tangannya yang berubah warna.
"Apa kamu pikir masih ada tempat untuk menyuntikan obat? Apa kamu pikir masih ada sakit yang tidak bisa aku tahan? Aku sudah tidak merasakan apapun lagi, Virgo. Sampai kapan? Sampai kapan kalian terus mempertahankan aku dengan membuat banyak sakit di tubuhku ini?"
Tamy menarik napasnya yang terdengar begitu berat. Tertahan isakan yang menyengal dadanya.
"Sampai kapan? Aku harus tersenyum dan terus berusaha ceria, aku bahkan masih harus bersikap baik-baik saja demi kalian semua. Sumpah aku lelah, ini sudah terlalu lelah, Virgo."
Tamy memundurkan langkahnya, menyudutkan dirinya di sudut kamar mandi. Perlahan ia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya.
Badan mungilnya bergetar hebat, terdengar suara tangisan yang kian pecah tak tertahan.
Sementara aku hanya terdiam, tidak bisa melakukan apapun. Lebih tepatnya tidak mampu melakukan hal untuk menolongnya.
Kebodohanku, selalu membiarkan Tamy menanggung semuanya sendiri. Aku bahkan tidak tahu, kalau dia tidak lagi meminum obatnya.
Perlahan aku mendekat, berjongkok di depannya dan meraih pucuk kepalanya.
"Maafkan aku, Tamy. Maafkan aku yang terlalu lemah seperti ini. Aku yang tidak bisa melindungimu dengan baik. Maafkan aku, Sayang."
Tamy mengangkat kepalanya dan melihatku dengan buliran air matanya yang terus tumpah.
Perlahan ia menutup matanya dan jatuh kedalam dekapan.
"Tamy," panggilku lirih.
"Tamy!" teriakku sembari menggoyangkan badan gadis itu.
Kuangkat tubuh mungilnya dan berlari memasuki ruangan om Leo.
"Om, tolong! Tamy pingsan," ucapku panik.
"Letakan di sini!" perintahnya lembut.
Kuletakan badan Tamy di atas ranjang, om Leo mulai mempersiapkan peralatan. Seorang perawat membawa badanku keluar ruangan.
Aku terduduk di depan pintu ruang perawatan. Masih terbayang bagaimana Tamy menangis dan menahan semua rasa sakitnya tadi.
Perlahan kembali air mata mengalir tanpa suara. Betapa aku merasa bersalah padanya.
Memohon dia untuk bertahan dalam rasa sakit yang tidak tertahan. Tetapi selain itu apa yang bisa aku lakukan?
Aku takut kehilangan dia, aku takut dia menghilang. Takut sekali.
Suara gesekan pintu terdengar, aku bangkit dan membersihkan bagian celana. Om Leo keluar dengan wajah kusut.
"Bagaimana, Om?" tanyaku langsung.
"Apa kamu tahu, kalau Tamy sudah tidak meminum obatnya?"
"Aku baru saja tahu tadi, Om. Saat Tamy muntah darah di toilet."
Om Leo menghela napas dan duduk di kursi stainles yang ada di depan ruang perawatan. Kuikuti dengan duduk di sebelahnya.
"Kesalahan saya, Tamy keluar dari pengawasan saya."
"Maksudnya?"
"Tamy kritis."
Terasa sengalan di dalam dadaku semakin berat. Seperti ada petir yang membuat seluruh badanku memanas.
"Bagaimana bisa? Bukannya Tamy masih baik-baik saja?" tanyaku tidak percaya.
"Keadaan Tamy sudah sangat buruk, Virgo. Kankernya sudah mencapai stadium akhir, seharusnya Tamy sudah dirawat inap dan istirahat total. Tetapi ia tidak mau, ia masih ingin berkeliaran dan malah tidak meminum obatnya."
Om Leo mengacak rambutnya, sesaat ia terdiam. Tetapi aku bisa merasakan, ada kegagalan yang om Leo rasakan lebih besar dariku.
"Om, bukannya seharusnya Tamy membaik setelah kheimonya? Kenapa bisa separah ini?" tanyaku masih tidak terima.
"Apa Tamy tidak mengatakannya padamu?"
"Mengatakan apa?"
"Kheimo terakhir yang ia lakukan gagal."
Seperti terhenti, detakan jantungku terasa sangat nyeri.
Kenapa? Bahkan sampai akhir kamu masih menyembunyikan segalanya dariku, Tamy? Kenapa?
__ADS_1
Kenapa kamu harus sekejam ini?