Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
36


__ADS_3

Kuelus lembut rambut pirang Tamy, sedikit memalingkan wajah saat merasakan helaiam rambut Tamy yang tertinggal di jariku.


Ku hela napas dan melirik ke arah Tamy. Gadis itu masih terfokus dengan anak-anak yang bermain di halaman rumah sakit.


Bibirnya terus melebar, menampakan jejeran giginya dengan suara tawa yang sesekali terlepas.


Gadis ini, aku benar-benar kagum padanya. Pada kekuatannya dan pada rahasia yang ia simpan begitu rapat.


Tamy melirik ke arahku, bibirnya memanyun seketika.


"Kenapa lihatin aku terus?" tanyanya ketus.


Kukibaskan jari tanganku, menghempaskan helaian rambut Tamy yang terus rontok karena efek kheimonya.


"Kenapa? Gak boleh kalau aku mau mandangi calon ibu dari anak-anakku?" tanyaku menggodanya.


Dia tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Bersikap seakan ingin muntah saat mendengar ucapanku.


"Kenapa sih? Kok gak percaya gitu?" tanyaku kembali.


"Gombal!" Jarinya menarik kulit dadaku dengan kuat.


Kusipitkan mata, menahan cubitan jari lentik gadis ini.


"Huh ... Tamy, ini sakit banget," ucapku sembari mengelus dada.


Tamy hanya tersenyum dan menjatuhkan kepalanya di dadaku. Menghela napasnya yang terdengar begitu berat.


Untuk beberapa saat, Tamy hanya terdiam. Namun aku merasakan sesuatu yang hangat membasahi kausku.


Tamy menangis, dan ia berusaha menahannya. Sementara aku? Apa yang bisa aku lakukan untuk menenangkannya.


Kenapa aku harus seburuk ini? Kenapa aku harus selemah ini?


Apa yang bisa aku lakukan untuk gadisku ini? Aku tidak lebih dari seorang pecundang yang menyedihkan.


Sebuah langkah datang mendekati kami, kualihkan pandangan. Melihat lelaki yang berdiri di samping kursi kami.


"Hai, Tamy," sapanya lembut.


Tamy mengangkat kepalanya, tangannya dengan cekatan menghapus seluruh air mata. Tersenyum lebar dengan tampilan giginya yang terususun rapi.


"Kak Riyu," ucap Tamy lembut.


"Ayo sini duduk," pinta Tamy, menepuk space kosong di sebelahnya.


Riyu hanya mengikuti perintah gadis itu, duduk di sebelahnya. Kubuang pandangan ke sisi kosong dan menarik pinggang Tamy agar menempel pada tubuhku.


"Mau apa ke sini?" tanyaku ketus.


"Virgo," tahan Tamy, lembut.


"Aku hanya datang chek-up ke Rumah Sakit. Gak niat buat ganggu kalian," jawabnya datar.


"Gak niat ganggu, kenapa mendekat?" tanyaku semakin sengit.


"Virgo, ck," decak Tamy sembari menatapku, cemberut.

__ADS_1


"Sorry." Riyu bangkit dan berjalan menjauh dari kami.


Kuperhatikan langkah Riyu yang semakin menjauh. Aku gak tahu kenapa? Walau aku tahu Riyu tidak bersalah, tetapi Riyu membuat aku muak.


Karena ibunya, ibuku kehilangan suaminya. Karena anaknya, ayahku meninggalkan anaknya sendiri.


"Virgo, kenapa kamu begitu? Kak Riyu hanya ingin menyapamu," ucap Tamy lembut.


"Menyapa aku atau menayapa kamu?" tanyaku sengit.


Tamy berdecak kesal dan mengubah posisi duduknya.


"Virgo, kamu mau sampai kapan terus begini?" tanyanya kesal.


"Gak tahu, gak berteman dengan dia juga ada baiknya."


"Virgo." Dia meraih kedua belah pipiku, sesaat mata kami saling bertemu. Bertautan satu sama lain.


"Bukan ini Virgo yang aku kenal. Bukan seperti Virgo yang aku sukai, kamu bukan lelaki yang pendedam, Virgo. Kamu bukan lelaki kasar, ini bukan kamu yang aku cintai."


"Tamy, aku gak suka Riyu. Haruskah aku bersandiwara di depanmu? Kamu saja gak bisa bersandiwara di depan Aura, jadi jangan paksa aku," ucapku sedikit malas.


"Virgo, aku tidak ingin memaksamu. Tapi cobalah untuk membuka hati. Ada sesuatu yang selalu kak Riyu ingin sampaikan padamu, hanya saja, ia terlalu takut untuk memulainya."


"Sudahlah Tamy, ini masalah aku dan Riyu. Kamu gak perlu pikiri, sebelum bertemu denganmu. Aku dan Riyu memang sudah seperti ini."


"Virgo, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Apa yang ada di depanmu bukanlah sebuah kepastian. Mau sampai kapan kamu menaruh dendam, mungkin kejadiannya juga tidak seburuk apa yang kamu pikirkan."


"Tamy, kamu gak kenal Riyu itu bagaimana. Jadi kamu gak tahu sifat asli dia itu seperti apa?"


Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepala. Bagaimana gadis ini bisa tahu? Bahkan aku sendiri tidak pernah mengenal Riyu lebih dari sekadar namanya saja.


"Apakah kamu sedekat itu? Sampai kamu tahu sedalam ini tentang perasaannya?" tanyaku cemburu.


Tamy tersenyum sendu dan menggelengkan kepalanya. Sebuah genangan air tumpah dari salah satu matanya.


"Aku tidak mengerti apa isi hatinya. Aku tidak tahu apa beban yang ia simpan dalam hatinya. Yang aku tahu hanyalah, setiap orang yang menanggung beban sepertiku akan paham rasanya. Ada hal yang ingin kami sampaikan, tetapi kami terlalu takut untuk mengatakan. Ada beban yang ingin kami bagikan, tetapi kami terlalu takut untuk merepotkan."


Tamy tersenyum lembut dan menatap ke arahku. Dengan cairan bening yang kembali melintasi pipi pucatnya.


"Pada akhirnya jalan yang kami tempuh dengan memendam semua dalam hati. Menyembunyikan dengan cara melapisinya dengan perlakuan yang menimbulkan rasa benci di hati orang lain. Karena menurut kami, hanya karena dengan dibenci. Mungkin suatu saat nanti kami bisa melepaskan beban ini."


Sejenak aku terdiam, memikirkan ucapan Tamy yang begitu mendalam masuk ke hatiku.


"Tapi keadaan kamu dan Riyu berbeda, Tamy."


"Virgo, aku bukan orang yang suka ikut campur dengan masalah orang lain. Aku bukan orang yang suka membahas masalah orang lain. Tapi pernakah kamu bertanya? Mungkin, kak Riyu juga tidak suka dengan pernikahan ibunya. Pernahkah kamu bertanya? Apakah dia membenci ayahmu, sama seperti kamu yang membenci ibunya? Pernahkah kamu bertanya, apakah kak Riyu tidak sakit hati seperti yang kamu alami, saat ayahnya digantikan dengan ayahmu? Pernahkah?"


Aku kembali terdiam, kali ini pertanyaan Tamy benar-benar membuat aku bungkam.


Jangankan bertanya, bahkan beradu pandang saja aku tak mau dengannya. Aku tidak bisa menerima dia sebagai saudara tiriku. Aku tidak bisa menerima kehadiran ibunya yang menggantikan ibuku.


"Virgo, aku tidak peduli pada kak Riyu. Aku hanya peduli padamu," ucap Tamy, pahit.


"Aku hanya peduli dengan kehidupanmu. Aku hanya peduli pada masa depanmu. Karena itu, pikirkanlah."


Gadis itu mengambil jemari tanganku, mengenggamnya dengan erat. Bibirnya tersenyum dengan cairan air yang mengalir, melintasi pipinya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kamu memiliki seseorang yang berada di sampingmu saat aku tidak mampu lagi bertahan. Walaupun tidak ada orang yang akan menggantikan aku di hatimu, setidaknya ada orang yang ikut membantu menopangnya bersamamu."


"Tamy, hentikan!" tekanku sedikit ketus.


"Virgo pikirkanlah, Kak Riyu selalu berusaha menyampaikan lewat tatapan matanya. Aku pernah melihat kalian berdua, dan kak Riyu memandangmu dengan rasa bersalah."


"Tapi aku gak pernah melihatnya selama ini," sanggahku.


"Karena hatimu terlalu buta!" balas Tamy sedikit keras.


"Matamu tertutup dengan amarah, hatimu sudah tertutup dengan rasa kecewa. Kamu menumpahkannya dengan kak Riyu yang tidak tahu apa-apa. Virgo, dia saudaramu. Dia juga temanku, jangan seperti ini. Jangan terus menumpahkan beban kesalahan padanya."


"Tamy, kamu tidak mengerti--"


"Kamu yang tidak mengerti. Virgo, kak Riyu tidak pernah menjelaskan apapun padaku. Tetapi dari cara dia bersikap aku, tahu. Aku tahu, Virgo. Dia bukanlah seseorang yang buruk, percayalah. Kalian bisa menjadi saudara, jika kamu mau membuka jalannya."


Aku tersenyum getir dan mengusap wajahku. Jadi saudara? Yang benar saja? Aku cukup baik dengan hidupku selama ini. Tak menambah saudara juga tidak masalah.


"Virgo, dengar aku. Ibunya kak Riyu mungkin tidak akan bertahan lebih lama dariku."


Kualihkan pandangan saat mendengar ucapan Tamy.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Virgo, ibunya kak Riyu juga penderita kanker sepertiku. Tidakkah kamu merasa kalian berdua, sama-sama bertahan pada wanita yang akan meninggalkan kalian berdua nantinya?"


"Tamy, berhentilah mengatakan itu padaku," ucapku kesal.


"Tapi itulah kenyataannya, Virgo. Itulah keadaannya. Walaupun kamu tidak mau mendengarkannya, walaupun kamu tidak mau menerimanya? Akankah ada yang berubah? Akankah ada yang berbeda?" teriak Tamy, keras.


"Gak akan ada yang berubah dari keadaanku, Virgo. Tapi akan ada yang berubah dari kamu dan kak Riyu kalau kamu bisa membuka jalannya."


Kuusap wajahku dengan kasar dan berdiam beberapa saat, menutupi wajah dengan kedua tangan.


Jujur saja aku kacau, aku sangat terkejut saat mendengar ibunya Riyu menderita kanker juga.


Walau aku tidak suka, tetapi aku tidak bahagia saat mendengar wanita itu terluka.


Aku tahu dia telah merebut ayah. Tapi aku juga tahu bahwa bukan Riyu yang bersalah.


Aku masih tidak bisa memaafkan mereka, bukan karena aku dendam. Hanya saja, ada sakit yang kembali terasa saat mengingat pengkhianatan ayah.


Mungkin ini namanya hukum karma. Seseorang bisa saja mengaku tidak bersalah, namun dunia menjadi saksinya. Bahwa mereka yang berdosa, akan menerima balasannya.


Jika dulu dia pernah merebut ibu dari seorang anak. Kini takdir membuat anak kehilangan ibunya.


Aku tak ingin tertawa, karena aku juga tak sekejam mereka.


Biarkan saja berjalan apa adanya, mungkin tidak, saat ini. Atau kedepannya, bisa saja.


Namun satu yang pasti, kesalahan bisa saja lepas dari mata manusia. Tetapi dosa tidak akan lepas dari tanggungan dunia.


Pikirkanlah jika ingin menyakiti, rasakanlah jika ingin memiliki barang orang lain.


Karena saat ini, apa yang menjadi milikmu akan menjadi milik orang lain suatu saat nanti. Apa yang ingin kamu tusukan akan menusukmu kembali suatu hari nanti.


Pikirkanlah, kadang hidup memang harus sekejam ini.

__ADS_1


__ADS_2