
"Maksud Tante ngomong begini apa? Tante mau aku mengasihani Aura dan melepaskan Virgo untuknya?" Tanyaku ketus.
"Jika kamu berada di posisi Tante, kamu juga akan melakukan hal yang sama, Tamy. Setiap orang tua pasti akan mengasihani anaknya, rasa sayang itu membuat orang tua seperti saya, rela melakukan apapun untuk menyenangi hati anaknya."
"Tapi Ayah aku tidak pernah mengajari begitu. Ayah aku tidak pernah mengasihani aku, tapi dia menyanyangi aku," jawabku cepat.
Wanita itu tersenyum dan mengalihkan pandangannya kearahku.
"Karena Ayah kamu tidak memiliki anak seperti Aura. Ayah kamu bisa berkata seperti itu."
"Walaupun Ayah aku tidak memiliki anak seperti Aura, tapi Ayah selalu berkata pada anak-anak yang berjuang hidup lebih keras dari pada Aura. Untuk jangan memohon iba dan kasihan orang lain dari keadaan buruk kita, tapi harus bisa mandiri dan menyanyangi diri sendiri."
Ku tatap wajah wanita yang ada di sebelahku ini dengan sedikit kesal. Aku tidak tahu, tapi Ayah tidak pernah memperlakukan pasiennya seperti dia memperlakukan anaknya.
Ayah selalu bilang pada anak-anak penderita kanker, bahwa penyakit mereka bukanlah sesuatu yang bisa digunakan untuk mengemis iba dan kasihan orang lain.
Karena rasa kasihan dan iba itu bukanlah kasih sayang yang sebenarnya. Tapi rasa iba hadir karena nurani hati manusia, mutlaknya akan mengasihani orang yang bernasib lebih buruk darinya.
Penyakit bukanlah nasib buruk, tetapi penyakit adalah suatu penggugur dosa dan juga perjuangan hidup yang luar biasa.
"Tante maaf, tapi sekarang aku mengerti kenapa Aura suka sekali menjadikan sakitnya untuk menarik perhatian orang lain,"
"Maksud kamu?"
"Aura menjadi seperti itu, karena Tante yang membuatnya seperti itu."
"Tamy, kamu memang pintar. Tapi kamu juga harus lihat, siapa lawan bicaramu."
"Maaf jika aku tidak sopan, tapi Ayah aku selalu mengajarkan. Jangan mengemis iba pada orang lain. Karena iba itu bukan rasa sayang, melainkan hanya belas kasih yang mutlak lahir dari hati nurani. Belas kasih dan rasa sayang itu berbeda. Seseorang akan iba pada siapapun yang mereka lihat lebih menderita dari mereka."
Ku bereskan barang-barang bawaanku dan beranjak bangkit dari kursi tunggu halte itu.
"Maaf Tante, aku harus pulang. Gak bisa nemeni Tante ngobrol lagi." Pamitku sebelum pergi.
"Satu lagi, jika Tante ingin tahu. Cobalah lihat bagaimana Dokter Leonardo Swandez memperlakukan anak-anak penderita kanker di rumah sakit tempat Aura dirawat. Dia menganggap pasien-pasien itu seperti anaknya, bahkan ia menangis dan terluka saat salah satu pasiennya harus bertemu dengan maut."
Ku hela nafas dan mencoba mengatur nafasku agar sedikit lebih tenang.
"Tante tahu kenapa? karena Ayah saya menyanyangi mereka semua, bukan mengasihani mereka. Karena itu Ayah saya selalu menderita saat pasien-pasiennya menderita, bukan karena nuraninya sebagai Dokter, tapi karena hatinya sebagai seorang Ayah."
__ADS_1
Ku tarik nafasku dan berjalam meninggalkan wanita itu sendiri. Kali ini aku sangat bersyukur, walaupun yang berada disisiku adalah seorang Ayah. Namun hatinya lebih lembut dari seorang Ibu.
"Ayah, aku sangat menyanyangimu."
***
Ku ketuk daun pintu kamar Ayah dan membukanya dengan lebar. Dari pulang tadi, Ayah terus mengurung diri didalam kamar.
Bahkan Ayah tidak keluar saat makan malam, untunglah Virgo masih ada disini. Jadi masih ada teman yang menemaniku makan malam.
"Ayah," panggilku lembut.
"Iya, Sayang."
"Aku bawa brownies dan juga teh buat Ayah," ku letakan nampan yang aku bawa dan meletakannya diatas buffet.
Aku berjalan mendekati Ayah yang sedang duduk di kursi dan memeluk bahu Ayah dari belakang.
"Ayah kenapa?" Tanyaku lembut.
"Faye ... Meninggal, Tamy," ucap Ayah lembut.
"Innalillahi, kapan Ayah?" Tanyaku sedikit terkejut.
Pantas Ayah begitu murung, ternyata salah satu pasiennya meninggal lagi. Faye, gadis kecil yang baru berumur 14 tahun. Berjuang melawan leukimia dari 3 tahun lalu. Akhirnya ia kembali kepala Sang Pemlik Hidup.
"Ayah gagal dan gagal lagi menyelamati hidup mereka, Tamy. Apa Ayah ini masih bisa di bilang seorang manusia?"
"Ayah, yang namanya umur itu kan rahasia Tuhan. Ayah hanya manusia biasa, Ayah bukan Tuhan. Jadi jangan pernah sedih karena hanya kehilangan, Ayah."
Ayah tersenyum dan menarik tanganku yang melingkari bahunya. Mendudukan aku diatas pangkuannya.
"Ayah, aku bukan lagi anak kecil." Seketika aku bangkit dan duduk diatas meja kerja Ayah.
"Ayah tahu, bahkan sekarang gadis kecil Ayah sudah bisa ceramah." Ayah tersenyum dan mengelus pipiku dengan lembut.
Kuraih figura yang ada diatas meja kerja Ayah dan melihat foto itu dengan sedikit tersenyum.
"Ayah," panggilku dengan menyentuh wajah di dalam figura itu lembut.
__ADS_1
"Apa?" Jawab Ayah lembut.
"Ini sudah belasan tahun lebih kan? apa Ayah gak kepikiran buat nikah lagi?"
Ayah tersenyum dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah dewasa dan mengerti Ayah, Mama sudah sangat lama pergi. Ayah butuh orang yang bisa menemani disisi Ayah, kan?"
"Sudah ada kamu, kan. Ayah gak harus cari perempuan yang lain."
"Bagaimana jika dalam waktu dekat ini, aku akan menyusul Faye, Ayah?"
"Tamy!" Tekan Ayah sedikit marah. "Ayah gak suka kamu bicara seperti itu," ucap Ayah kesal.
Ku gulum senyumku dan berjalan kesisi jendela kamar Ayah.
"Ini sudah bertahun lamanya, Ayah. Mama juga ikhlas saat Ayah mau menikah lagi."
"Kamu gak takut, jika punya Ibu tiri yang kejam Tamy? bagaimana jika dia merebusmu hidup-hidup?" Tanya Ayah datar.
"Ayah, aku bukan lagi anak kecil yang bisa Ayah takut-takuti seperti itu. Lagian siapa yang bisa menyiksa aku? Ayah tahu aku ini gadis yang sangat kejam." Jawabku cepat.
"Ha ha ha, kamu itu raksasa pemakan bayi dalam wujud gadis cantik ya? Ayah lupa," ucap Ayah dengan tertawa lepas.
"Syukurlah jika Ayah tidak sedih lagi, bagaimana jika aku bantu Ayah buat carikan Mama baru?"
Ayah menghela nafasnya dan melihat kosong kearahku.
"Tamy, walaupun Mama kamu sudah lama pergi. Tapi di hati Ayah tetap dialah yang selalu Ayah nanti. Ayah mencintai Mama kamu, dan Ayah tidak mau mengkhianati cinta ini."
"Tapi Ayah, didalam hidup ini Ayah gak bisa sendiri. Bagaimana jika Virgo nanti menikahiku dan membawa aku pergi jauh dari Ayah?" Tanyaku lembut.
"Tamy, apa kamu lupa? saat umur 4 tahun kamu bilang hanya akan menikahi lelaki seperti Ayah. Kenapa sekarang malah mau menikahi lelaki lain?" Tanya Ayah sendu.
"Ayolah Ayah, aku bukan lagi gadis berumur 4 tahun yang hanya mengenal Ayah saja," ucapku sedikit kesal.
"Jadi maksudnya sekarang kamu sudah mengenal banyak lelaki dan tidak mencintai Ayah lagi?"
"Tunggu dulu, biar aku pikirkan," ku putar bola mataku dan meletakan satu jari di sudut dagu.
__ADS_1
"Ayah sudah tidak segagah dan seganteng dulu lagi, jadi aku sudah tidak mau Ayah lagi. Ha ha ha." Secepat kilat aku berlari meninggalkan kamar Ayah.
"Tamy, dasar gadis usil!" Teriak Ayah lantang.