Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
33


__ADS_3

POV Rintamy.


Ku leraikan ciuman Virgo dan tersenyum dengan lembut. Ku raih kepala Virgo dan mengacak rambutnya.


"Sudah, tidak baik buat anak remaja terlalu lama berciuman," ucapku lembut.


"Kenapa?" tanyanya lembut.


"Bagaimana kalau ada setan menggoda?" tanyaku sedikit bercanda.


"Goda saja balik," jawab Virgo datar.


"Ha ha ha." Ku lepaskan tawaku dan menjatuhkan kepalaku didada bidang Virgo.


Ku hela nafas dan memandang langit hitam dengan hiasan kelap kelip bintang malam. Suasana tenang seperti ini membuat hatiku cemas.


Seperti angin yang akan menghanyutkan sebelum badai datang.


Ku rentangkan telapak tanganku dan menaikannya tinggi keatas. Sembari memperhatikan bintang-bintang di langit malam.


Virgo ikut menaikan tangannya dan meraih tanganku, menggenggam jemari tanganku dengan erat.


"Jangan suka berandai, menggapai apa yang tidak bisa kamu gapai," ucapnya lembut.


Ku alihkan pandanganku dan tersenyum lembut.


"Aku hanya berpikir, bintang itu adalah kamu dan disinilah aku. Aku berusaha untuk menggapaimu. Walau aku tahu aku gak mampu."


"Bicara apa kamu ini? disinilah aku, bukan disana. Aku bukanlah bintang diatas sana, tetapi aku adalah seseorang yang selalu berada disisimu," sanggah Virgo lembut.


"Benarkah?" tanyaku menggoda.


"Benar, sampai akhir. Aku akan tetap disini, disamping dan juga sisimu."


Ku peluk lengan tangan Virgo dan kembali menjatuhkan kepalaku dibahunya. Ku pejamkan mata dan menghirup udara dingin malam ini.


Kamu adalah bintang diantara gelapnya langit hitam Virgo. Karena didalam kehitaman harapanku, kamulah setitik cahaya harapan itu.


Harapan kecil yang berusaha untuk bisa menerangi semua gelap jalanku. Kamu berusaha memberikan cahaya terindahmu, tanpa kamu sadari bahwa bintang akan bersinar terang jika mereka berada dalam kebersamaan.


Tetapi jika hanya satu sinarmu, maka jalanku tetap akan gelap. Jalanku tetap akan tersesat karena tidak tahu arah. Seberapa kuat kamu mencobanya, akhirnya akan tetap sama.


Suatu saat nanti, jalanku akan berkahir meninggalkan bintang itu sendiri.


***


Suara riuh dari para penonton terdengar berisik di telingaku. Ku alihkan pandangan kesekeliling, mencari Shela dalam jejeran kursi para penonton.


"Tamy," panggil Shela, melambaikan tangannya.


Aku tersenyum dan berjalan melewati beberapa penonton menuju tempat Shela duduk.


"Nih, aku bawa air mineral dan camilan untukmu." Shela menyodorkan sebotol air mineral dan sekantung snack kepadaku.


"Shela, ini semua untuk aku?" tanyaku dengan menaikan sebelah alis mata.


"Hooh, buat kamu," jawabnya sambil memasukan keripik kentang kedalam mulutnya.


"Kamu gak salah? ini banyak banget loh,"


"Kamu kan suka makan, kamu sudah lama gak kesekolah. Jadi aku traktirin kamu snack ini biar cepat kesekolah."


"Uhhhh ... Shela." Ku rentangkan tanganku didepan Shela, Shela tersenyum dan membalas pelukanku.


"Tamy!" panggil Virgo dibawah lapangan.


Ku alihkan perhatianku, melihat Virgo yang sedang melambaikan tangannya kearahku.


Ku turuni tangga di kursi duduk penonton, dan berjalan mendekati Virgo.


Virgo melepaskan topi yang ia kenakan, dan memakaikan jaket kebahuku.


"Cuacanya panas sekali, pakai ini biar kulitmu tidak terbakar," ucap Virgo, dengan memakaikan topi keatas kepalaku.

__ADS_1


"Ini, ambil. Jangan sampai kamu kelaparan saat nonton pertandingan nanti." Virgo menyerahkan sekantung snack ke tanganku.


Ku lepas senyum kaku dan melirik kearah Shela. Shela hanya cekikikan di bangku penonton.


"Kenapa?" tanya Virgo bingung.


"Shela juga bawa snack buat aku, kalian pikir aku ini tong sampah?" tanyaku kesal.


"Ha ha ha, kamu itu si perut karet, lambung besar, tapi badan kecil. Gak heran kalau Shela bawakan juga untukmu," jawab Virgo terkekeh.


Ku silangkan kedua tangan didada dan memandang kesisi kosong. Aku pikir mereka akan memperlakukan aku khusus, ternyata mereke sama saja.


"Virgo!" panggil coach mereka dari sisi lapangan.


Virgo meraih tanganku dan menyerahkan kantungan itu.


"Aku pergi dulu, kamu tunggu sampai aku selesai tanding ya," ucap Virgo lembut.


"Ehm," jawabku mengangguk.


Aku kembali kejajaran para penonton, memperhatikan Virgo yang sedang mendengarkan intruksi strategi dari coach mereka.


Virgo, si mantan ketua osis yang ramah itu, bagaimana bisa terjebak oleh cintaku yang tragis ini?


Sampai kapan kamu mau bertahan Virgo? bertahan dalam luka yang hanya akan berakhir sengsara.


Setelah beberapa menit mendengarkan instruksi. Virgo dan team lawannya mulai memasuki lapangan.


Mengambil posisi masing-masing untuk menyerang lawan. Ku perhatikan setiap gerakan Virgo, walaupun aku tidak mengerti permainan ini.


Aku hanya datang untuk menyemangati Virgo dan teman-temannya.


Beberapa kali ku hela nafas, terus terang aku bosan berada disini. Hanya memperhatikan Virgo yang berlari kesana-kemari mengejar bola.


Ku buka kantungan plastik yang di berikan Shela dan mulai memakan snack-snack yang diberikan oleh Shela.


Terserah lah ya Virgo, aku juga tidak mengerti. Aku makan dan kamu main saja sepuasmu.


"Wooooaaaahhhhh ...," teriak serentak para penonton dibarisanku.


"Kenapa sih?" tanyaku bingung.


"Hei Shela, kenapa sih?" Ku tarik ujung baju Shela yang sedang berdiri dan berosrak gembira.


"Kamu gak lihat? Kak Virgo bobol kandang lawan dan mencetak gol," ucap Shela senang.


"Terus?" tanyaku datar.


"Astaga ... Tamy." Shela kembali duduk dan menepuk jidatnya.


"Itu artinya kita dapat nilai buat menuju kemenangan," jelas Shela senang.


"Oh ...," jawabku cuek. Aku kembali memasukan keripik kentang kedalam mulutku.


Shela menendang bahuku, seketika keripik kentang ditanganku terjatuh.


"Ih ... Shela, apaan sih?" tanyaku kesal. "Lihat, keripik kentangku jatuh, ya Tuhan," sambungku sedih.


"Itu, kak Virgo melirik kearahmu. Kenapa heboh sekali sama makanan sih?"


Ku alihkan pandangan mataku, melirik kearah lapangan. Virgo tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


Seketika para remaja dibarisan tempat dudukku berteriak histeris.


"Ya Tuhan, kak Virgo makin-makin saja ya," ucap gadis yang duduk dibelakangku.


"Hooh, makin unch banget, ih ... gemes," sahut temannya.


Ku remat roti yang ada ditanganku, sebenarnya Virgo ini sengaja tebar pesona atau apa? ganjen banget ih.


Setelah pertandingan selesai, aku keluar dari dari jejeran kursi penonton dengan cepat.


Ku makan snack yang diberikan Virgo tadi dengan sedikit kesal. Geram, aku geram sekali. Kenapa juga harus main mata sama penonton?

__ADS_1


"Gemes ih, gemes ... gemes." Ku remat bungkus sisa snack tadi dan melemparnya ke tong sampah.


"Kenap sih? kok buang sampah sampai begitu?" tanya Shela bingung.


"Au ah, aku kesal!" ucapku kesal.


"Kenapa sih? ayo cerita," bujuk Shela lembut.


"Eh ... ngomong-ngomong kapan kamu dan kak Donny jadian?" tanyaku penasaran.


"Eh, itu, em." Shela menggaruk kulit kepalanya, seperti kebingungan untuk menjelaskan.


"Ayo kapan?" Senggolku di bahu Shela.


"Kapan ya? itu sebenarnya kamu dengar berita itu dari mana?"


"Aku kan punya mata-mata disekolah, jadi pasti tahulah," jawabku menggoda.


"Hah ... pasti kak Virgo kan?"


"Halah, jangan sebut lagi namanya, aku bosan!" Ku silanglan kedua tanganku didada. Seketika moodku hilang.


"Tamy, kamu sudah lama?" tanya Virgo yang datang dengan merapikan tasnya.


"Sudah, sudah sampai karatan!" jawabku ketus.


Virgo melirik kearah Shela, Shela mengerdikan bahunya.


"Kamu kenapa?" tanya Virgo lembut.


"Au ah kenapa," jawabku sambil berjalan menjauh dari Shela dan Virgo.


"Hey ... Tamy!" panggil Virgo lembut.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya menahanku.


"Kenapa apanya? aku gak apa-apa!" jawabku ketus.


"Kalau gak apa-apa kenapa marah?"


"Pikir saja sendiri?"


"Tamy, ayolah jangan seperti ini. Aku gak tahu masalahnya kalau kamu gak mau bilang, Sayang," bujuk Virgo.


"Kamu, itu semua karena kamu!" teriakku kesal.


"Aku? aku kenapa?" tanya Virgo bingung.


"Entah, gak tahu!"


Virgo menghela nafasnya dan mengacak rambutnya. Seperti kebingungan sendiri.


Virgo meraih kedua bahuku dan menekannya sedikit kuat.


"Ayolah Tamy, apa susahnya menjelaskan? aku tidak akan pernah tahu, selama kamu hanya bersikap seperti ini, hem."


Ku hela nafasku dan menghempaskan tangan Virgo.


"Kamu, kenapa harus main mata ke cewek-cewek itu?" tanyaku lirih.


"Hah? aku? kapan?" tanya Virgo langsung.


"Itu, waktu kamu selesai bobol gawang lawan," jawabku malu.


"Jadi kamu cemburu?" tanya Virgo menggoda.


"Ah aku? aku ... aku." Ku tundukan pandangan. "Iya, cemburu," lirihku pelan.


Seketika Virgo menekan kedua bahuku, ia menatapku dengan sangat lekat.


"Kamu? beneran cemburu?" tanya Virgo tidak percaya.


Memang kenapa kalau aku cemburu? kenapa Virgo seperti terkejut begini?

__ADS_1


Apa ada yang salah dengan pengakuanku?


__ADS_2