
POV Rintamy.
Ku aduk jus didalam gelas, sudah lima belas menit kami hanya duduk dan terdiam di cafetaria rumah sakit.
Virgo terus memandangiku dengan sangat lekat. Entah apa yang ada didalam pikirannya, tapi aku melihat binar matanya berbeda kali ini.
Seperti ada luka, ada kecewa dan juga ada kesedihan yang berusaha untuk ia samarkan.
"Kenapa lihatin aku terus? kasihan ya?" Tanyaku dengan tersenyum pahit.
Virgo menggelengkan kepalanya, ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Tamy kamu tahu kenapa aku gak suka sama cewek rambut pendek?" Tanyanya lembut.
"Kenapa?" Tanyaku kembali.
"Karena aku gak mau dibilang pacaran sama sejenis. Tapi lihat kamu rambut pendek, aku jadi tahu sesuatu," ucapnya lembut.
"Tahu apa?"
"Kalau cewek rambut pendek bisa imut dan juga manis sekali," ucapnya dengan tersenyum lebar.
Ku tundukan pandanganku dan tersipu malu. Saat begini, bahkan ia masih punya ide untuk menggoda.
"Gombal, kamu gombal saja terus," ucapku malu.
"Gak percaya? coba deh tanya sama semua lelaki disini, pasti dia bilang kamu imut," balasnya lembut.
Aku kembali tersenyum, ku tatap mata Virgo dengan sendu. Virgo, kali ini aku sudah tidak berdaya. Aku tidak berdaya melawan ini, aku harap kamu mau mengerti.
"Virgo," panggilku lirih.
"Tamy, sabtu ini ada pertandingan futsal. Aku jemput kamu ya, kamu dukung aku dari pinggir lapangan."
"Virgo," panggilku kembali.
"Eh, kamu kapan kesekolah lagi? Shela kesepian loh gak ada kamu," ucap Virgo kembali.
Ku hela nafas dan memandang kearah Virgo. Aku tahu, saat ini Virgo sedang tidak ingin mendengar apapun dariku.
"Virgo."
"Eh iya, ada berita baru. Kamu mau tahu?" Tanya Virgo dengan tersenyum lebar.
"Virgo, dengarkan aku dulu," ucapku sedikit kesal.
"Shela dan Donny akhirnya jadian loh," ucap Virgo senang.
__ADS_1
Kembali ku hela nafas dan meraih sudut dahiku, terkadang Virgo sangat sulit diajak bicara saat ia bertingkah seperti ini.
"Virgo,"
"Tamy, aku ..."
"Virgo! dengarkan aku dulu!" bentakku sedikit keras.
Seketika Virgo terdiam dan melihat dengan lekat kearahku. Senyumnya langsung memudar saat melihat ekspresi wajahku yang memadam.
"Tolong, dengarkan aku!" Tekanku lembut.
"Aku gak mau dengar apapun karena aku gak mau kembali kesekolah. Aku gak bisa kasih support buat kamu saat kamu tanding futsal. Aku gak mau tahu Shela bagaimana, karena aku gak akan kembali kesisi kalian lagi," ucapku tanpa jeda.
Ku ambil nafas yang memburu dengan sangat kencang. Aku butuh energi untuk menjelaskan hal ini pada Virgo.
Aku juga gak sanggup jika terus begini, Virgo aku mohon kali ini mengertilah. Jangan paksa untuk kembali, karena sekalipun aku sangat ingin kembali. Aku telah kehilangan jalannya.
Aku kehilangan jejakku sendiri, karena Tamy yang kamu temui dua tahun yang lalu dan Tamy yang ada di hadapanmu saat ini sudah tidak lagi sama.
"Aku gak akan kembali, Virgo. Berhenti membohongi dirimu dan jangan cari aku lagi," ucapku sambil berdiri dan beranjak pergi.
"Yang membohongi diri sendiri itu siapa, Tamy?" Tanya Virgo lembut.
Ku hentikan langkahku saat mendengar ucapan Virgo.
"Kami semua bertingkah seperti biasa, tapi kamu yang menjauhkan diri. Kami semua menyanyangimu dan menganggap kamu teman. Tapi kamu yang mencampakan kami dan melupakann kami. Kamu boleh pergi, tapi kamu gak berhak mencampakan kami, Tamy." Virgo bangkit dan menyusuli langkahku.
"Tamy, kamu boleh gak peduli sama kami. Tapi kamu gak bisa larang kami untuk gak peduli padamu. Kamu bisa bohongi dirimu kamu, tapi kami gak bisa. Kami tulus saat berteman, bagaimanapun keadaan mereka. Jadi," Virgo mendekatkan bibirnya ketelingaku.
"Terserah kamu mau buat apa, tapi kamu gak bisa larang kami. Kamu egois, kami juga bisa egois. Kamu menjauh kami juga bisa mendekat. Lakukan saja apa yang kamu suka, tapi janga larang kami untuk melakukan yang kami suka juga."
Virgo langsung pergi setelah mengatakan itu padaku. Ku perhatikan punggung badannya yang terus berlalu menjauh.
Ya, aku tahu kalian tulus padaku. Aku juga tahu kalian tidak akan meninggalkan. Tapi aku, akulah yang akan meninggalkan kalian.
Cepat atau lambat, akulah yang akan pergi meninggalkan kalian, teman.
***
"Kak Tamy, aku juga mau yang warna hitam," pinta Sahara dengan menyodorkan kertas origami hitam padaku.
"Sebentar ya, aku selesain punya Zoel dulu," jawabku dengan melipat sayap terakhir burung kecil dari origami yang ku bawa khusus untuk mereka.
"Kak Tamy, buat banyak-banyak ya. Aku mau gantung ini di kamar aku nanti," pinta Sahara kembali.
"Memang kamu berani bayar mahal? aku buat ini gak gratis loh," ucapku menggoda.
__ADS_1
"Bagaimana jika dengan itu Kak?" Tunjuk Sahara kearah belakangku.
Ku putar kepalaku, melihat kearah yang di tunjuk Sahara. Ku kernyitkan dahi, saat melihat tumpukan balon yang besar.
"Banyak banget balon, aku juga mau," ucap Zoel dengan melihat seluruh balon putih itu.
Ku perhatikan kaki-kaki yang berdiri sambil memegang balon itu. Kenapa bisa banyak balon disini?
Apa ada yang ulang tahun? kenapa tiba-tiba banyak sekali balon?
"Hai Tamy." Sebuah kepala menyembul dari balik puluhan balon itu.
"Shela, kamu kok bisa ada disini?" Tanyaku kaget.
"Aku juga ada loh, Tamy," ucap kak Donny yang keluar dari balik balon-balon itu.
"Aku juga, hai Tamy," sambung kak Jerry.
"Jangan lupakan kami juga, Tamy." Satu persatu temanku keluar dari balon-balon itu.
Ku lepaskan senyumku saat melihat suasana yang jadi ramai seketika.
"Ada apa? kenapa kalian semua kesini?" Tanyaku ketus.
"Siapa yang bilang aku disini? pasti Virgo ya?" Tanyaku kembali.
"Bukan, tapi aku," balas seorang lelaki lain, yang keluar saat terakhir dari balon-balon itu.
"Kak Riyu," ucapku kaget.
Kenapa bisa kak Riyu? aku pikir ini semua ulahnya Virgo. Bagaimana mungkin kak Riyu yang menyiapkan ini semua.
"Kenapa Kakak bilang sama mereka semua kalau aku disini?" Tanyaku jutek.
"Siapa yang bawa mereka untuk kamu?" Jawab Kak Riyu yang berjalan mendekati aku.
"Terus?" Tanyaku ketus.
"Aku bawa mereka kesini untuk melamar wanitaku," jawab kak Riyu yang terus berjalan mendekati tempat dudukku.
"Hah!"
Seketika aku menganga dengan lebar, gak salah? kak Riyu mau melamar?
Melamar siapa?
Aku?
__ADS_1