Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
14


__ADS_3

"Virgo aku ...." Ku tatap kembali wajah Virgo yang terlihat begitu sendu.


"Aku apa?" Tanya Virgo lembut.


Ku dorong badan Virgo dan berpaling dari Virgo.


"Ayo kita lanjut, aku takut kalau sampai telat."


"Tamy, tunggu dulu," tarik Virgo kembali.


Virgo kembali menempelkan badanku ke sisi tembok. Mendekap aku dalam kurungan tangannya kembali.


"Sesulit itukah hanya berucap sayang kepadaku?" Tanya Virgo lembut.


"Virgo aku mohon jangan begini, kenapa kamu jadi seperti ini?" Tanyaku takut.


Virgo menghela nafasnya dan melepaskan dekapannya.


"Baiklah, ayo jalan," ucap Virgo mengalah.


Sepanjang perjalan menuju sekolah, Virgo hanya diam dan tidak banyak bicara. Bahkan Virgo tak mengatakan apapun saat mengantarkan aku ke kelas.


"Virgo aku ...."


Virgo langsung berjalan meninggalkan kelasku dengan cepat.


Ku hela nafas dengan sedikit berat dan memasuki kelas. Aku tahu Virgo hanya ingin aku mengucapkan kata itu, aku juga menyanyanginya. Tapi aku takut, aku takut Virgo akan kecewa padaku suatu saat nanti.


***


Ku jejaki koridor sekolah menuju ke kelas 12 ipa saat bel istirahat pertama berbunyi. Aku juga tidak ingin seperti ini terus, aku tahu Virgo menungguku selama ini untuk mengucapkannya atas keinginanku sendiri.


Tapi aku takut, aku terlalu takut untuk jatuh terlalu dalam. Aku takut, jika nanti aku tidak bisa melepaskan Virgo dari dalam hatiku.


"Kak," panggilku pada kak Donny yang sedang duduk santai dengan seragam olahraganya.


"Eh, Tamy. Tumben kesini?"


"Virgo ada?" Tanyaku sungkan.


"Virgo, emh Virgo. Sepertinya masih di ruang ganti."


"Ehm, yasudah deh."


"Kamu gak nyusuli Virgo ke ruang ganti?"


"Eh, gak usah. Mana mungkin aku kesana, kan cowok semua," ucapku sedikit malu.


"Ya gak masuk, tapi coba tunggu di luar. Mungkin istirahat pertama Virgo gak akan ke kantin."


"Kenapa?"


"Suasana hati Virgo memburuk akhir-akhir ini. Olahraga saja, kurang asyik."

__ADS_1


"Hem." Ku mainkan bibirku dan mengangguk pasrah.


Apa karena aku ya? Virgo jadi begitu. Biasanya dia juga gak masalah.


Ku langkahkan kaki menuju ruang ganti, dengan sabar aku menunggu di depan pintu kamar ganti. Sudah beberapa orang yang keluar, namun Virgo masih belum keluar juga.


Dua menit, tiga menit, lima menit. Virgo masih belum keluar juga. Jika terlalu lama menunggu, aku tidak akan bisa makan di istirahat pertama.


Ku keluarkan ponselku dan mencoba menghubungi nomor Virgo. Namun nomor ponsel Virgo masih tidak aktif.


"Eh, Kak." Tahanku pada seorang yang baru keluar dari ruang ganti.


"Kenapa?"


"Virgo masih di dalam?"


"Masih, mungkin masih agak lama. Dia lagi ngobrol soalnya."


"Ehm, gitu," ucapku sedikit kecewa. "Makasih ya Kak."


Ku hela nafas dan kembali menatap kearah pintu ruang ganti. Mungkin aku memang gak bisa bicara sama Virgo sekarang.


Ku balikan badan dan memasukan ponselku ke kantung kemeja. Berjalan perlahan meninggalkan ruang ganti.


Sekali lagi, aku memalingkan wajahku ke arah pintu ruang ganti. Menatapnya sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahku.


Virgo, apa kamu masih marah sama aku?


maaf Virgo, tapi aku gak berniat untuk menyembunyikan perasaanku padamu.


Seharian ini, Virgo seperti bermain petak umpet denganku.  Dua kali aku mencarinya, namun dia masih menghindariku.


Andai aku bisa mengatakannya dengan mudah Virgo. Aku akan mengatakannya, kalau aku sangat menyanyagimu.


Tapi aku harus bagaimana? aku harus menahan perasaan ini. Aku harus menahan segala rasa yang tumbuh agar tidak semakin subur.


Aku tidak bisa menjelaskan, aku juga tidak bisa mengatakan. Semua keadaan ini membuat aku kebingungan. Andai semua masih baik-baik saja, andai semua masih sama seperti semula.


Maka aku akan mengatakannya dengan lantang, aku akan berteriak sekeras mungkin. Akan aku tunjukan pada dunia, bahwa aku sangat jatuh cinta padamu.


Ku hela kembali nafasku dan menghapus sudut mataku yang sempat berair.


Ku stop sebuah ojek dan kembali menemui Ayah dirumah sakit. Saat perasaanku seperti ini, hanya Ayahlah tempatku kembali.


Ku ketuk ruangan Ayah dan membuka dengan cepat.


"Assalamualaikum Ayah," ucapku saat membuka pintu ruangan Ayah.


"Waalaikum salam, Tamy. Ayah sedang ada pemeriksaan, bisa kamu tunggu di luar sebentar."


"Oh, baiklah," jawabku mengalah.


Ku tutup kembali pintu ruangan Ayah dan berjalan tanpa arah. Ku masuki perkarangan hijau, taman rumah sakit. Sekedar melepaskan beban hati yang terasa berat saat ini.

__ADS_1


Ku pejamkan kedua kelopak mataku, menikmati sentuhan angin sore hari yang terasa sangat sejuk menerpa kulit wajahku.


Ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba menghibur diri dan juga hatiku yang sedang dilanda kegalauan.


"Lagi berantakan ya?" Tanya seseorang lembut.


Ku buka kedua kelopak mataku dan melihat siapa yang sedang duduk di sebelahku.


"Kenapa Kakak bisa ada disini?" Tanyaku bingung, setiap kerumah sakit pasti aku ketemu dengan si irit bicara ini.


"Ini tempat umum, kenapa aku gak boleh kesini? apa karena rumah sakit ini milik Ayahmu?"


"Bukan begitu, maksud aku, Kakak kenapa bisa sering disini. Ya ... Walapun ini tempat umum, tapi ini kan bukan tempat wisata yang bisa di kunjungi setiap hari."


"Kalau aku mau wisata kesini, memang ada yang larang ya?"


"Terserah deh," ucapku malas.


Kak Riyu melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya. Ya ... Walaupun di bilang kak Riyu ini cukup menggoda, namun karakter dinginnya itu cukup bermasalah.


Kaku sekali saat di ajak bicara, seperti orang yang ingin bicara, tapi malas juga ngeluarin suara.


"Kamu sendiri kenapa suka sekali kesini?" Tanya kak Riyu lembut.


"Ini kan rumah sakit milik Ayahku, suka-suka aku mau kesini atau kemana," jawabku kesal.


Ku kerucutkan bibir dan menyilangkan kedua tanganku di dada.


Kak Riyu kembali tertawa dengan lebar mendengar jawabanku.


"Baiklah, aku duluan yang beri tahu ya. Ibu aku dirawat disini."


Ku palingkan wajahku, melihat kearah kak Riyu yang saat ini wajahnya berubah menjadi sendu.


"Oh, Ibunya. Aku pikir kak Riyu yang dirawat."


"Aku?" Tanya kak Riyu dengan mengeryitkan dahinya.


"Iya, aku pikir kak Riyu dirawat karena mengalami sakit di ...." Ku gantungkan kalimat dan melirik kearah kak Riyu.


"Dimana?" Tanya kak Riyu dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Di jiwa. Ha ha ha." Ku lepaskan tawaku sekuat yang ku mau.


Menggoda lelaki irit bicara ini memang sangat mengasyikan.


Kak Riyu kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mata sayunya itu menatapku dengan binar yang sedikit berbeda.


Kak Riyu menyentuh ujung kepalaku dan mengelusnya dengan lembut.


"Dasar usil," ucap kak Riyu lembut.


Ku tundukan pandanganku dan menatap jauh kebawah. Sikap kak Riyu kali ini, kenapa sedikit berbeda?

__ADS_1


"Tamy." Panggil Seseorang lembut.


Ku palingkan wajahku kearah suara itu berasal, seketika mataku membulat saat melihat ia di sebelahku.


__ADS_2