
Setelah hari itu, aku dan Virgo hanya bagaikan dua orang yang saling tidak mengenal. Virgo berusaha menghindariku jika tidak sengaja kami berjumpa.
Walaupun sakit ini kian terasa menyiksa, namun aku harus terbiasa. Bukan demi aku ataupun Aura, namun demi Virgo. Aku yang akan menanggung semua ini sendiri.
"Tamy,"
"Iya,"
"Kamu dan Kak Virgo putus ya?" Tanya Shela lembut.
Aku tersenyum kecut dan menganggukan kepalaku. Walaupun ini kenyataannya, tapi mendengarnya saja membuat aku terluka.
"Kok bisa?" Tanya Shela penasaran.
"Bisa lah, jangan bahas ya Shela. Aku gak ingin tahu ataupun dengar apapun lagi," aku berjalan keluar dari kelas dengan memakai seragam olahragaku.
Berkumpul bersama teman yang lain dilapangan basket sekolah. Sudah ada Virgo dan beberapa temannya sedang berlatih futsal di lapangan futsal.
Kembali ku perhatikan wajah Virgo yang tidak pernah tersenyum, semenjak putus dariku dua minggu yang lalu.
Virgo menyisir rambutnya kebelakang, menghapus peluh keringat yang membanjiri dahinya.
Aura berlari kesisi lapangan, memberikan botol air mineral untuk Virgo dan kak Mike.
Ku lepaskan senyumku saat melihat itu, walaupun sakit. Namun aku tidak punya hak untuk cemburu.
"Tamy!" Panggil Pak Andi.
Aku berlari menuju ketengah lapangan. Menemui pak Andi yang sedang menjadi pelatih Virgo dan teman-temannya.
Virgo memandangku dengan sinis, ia mengelus pucuk kepala Aura saat melihatku menatap kearahnya.
"Tolong ambilkan bola voly di gudang ya, kamu awasi teman perempuan kamu main voly dulu. Bapak masih harus awasi Virgo dulu."
Ku anggukan kepalaku dan berjalan menuju gudang sekolah. Setelah mengambil dua bola voly, aku kembali berjalan menuju lapangan.
Salah satu bola voly yang ku pegang jatuh dan menggelinding. Sedikit berlari, aku mengejar bola itu, sampai sebuah kaki menangkap bola itu.
Ku alihkan pandangan mataku, melihat si pemilik kaki yang sedang tersenyum kearahku.
"Kak Riyu, kok bisa masuk sini?" Tanyaku bingung.
"Iya, aku lagi ada urusan sama guru kepala disini,"
"Oh." Ku anggukan kepalaku dan mengambil bola yang ada di kaki kak Riyu.
"Mau aku bantu bawakan?"
"Eh gak usah Kak, masih bisa kok,"
"Em, yasudah."
Kembali aku melanjutkan langkahku, menuju lapangan sekolah. Mengawasi teman-teman sekelasku bermain bola Voly.
Ku alihkan pandangan mataku sekali lagi kearah Virgo. Jujur, aku sangat rindu padanya.
Ku hela nafas berat dan mencoba menahan tangisanku. Jika ada yang bilang rindu itu indah, tapi kini bagiku, rindu itu sangat menyiksa.
Walaupun saat ini dadaku terasa sangat sesak, aku harus bisa menahannya. Aku tidak boleh lemah, apalagi didepan Virgo.
"Tamy!" Panggil pak Andi kembali.
__ADS_1
Aku berjalan mendekati pak Andi, terkadanga walaupun aku tidak olahraga. Tapi aku juga tidak bisa bebas, sering kali pak Andi menyuruhku untuk mengawasi teman-temanku.
"Ada apa Pak?"
"Saya harus ke kantor kepala sekolah, ada perwakilan sekolah lawan yang datang. Kamu tolong awasi, langsung masuk saat jam olahraga selesai ya."
"Iya, Pak."
Pak Andi keluar dari lapangan dengan sedikit berlari. Virgo dan teman-temannya masih berlatih untuk pertandingan bulan depan.
Ku hela nafas dan membalikan badanku. Tak ingin berurusan lebih lama lagi dengan Virgo.
Bugh
Sebuah bola menghantam bagian perutku. Seketika ku keluarkan darah dari dalam mulut dan berlutut dengan lemas.
Nyeri dari setiap tulangku mulai terasa. Mengilu, setiap badanku terasa mengilu. Bahkan telingaku sama sekali tidak mendengarkan apapun lagi.
Perlahan pandanganku mulai menghitam, ku tumpuhkan kedua tanganku ditanah. Mencoba menahan semua sakit yang kurasakan semakin menyiksa.
Sebuah tangan menarik badanku, mendekapku dengan erat dan memindahkan tubuhku kebibir lapangan.
"Tamy, maafkan aku," ucap Virgo cemas.
Dengan kesadaran yang tinggal setengah, aku masih bisa merasakan kecemasan Virgo.
Virgo meminumkan air dan membasuh bibirku yang memerah karena darah yang ku muntahkan.
Ku tarik bahu Virgo dan memeluknya dengan erat. Ku gigit bibir bawahku untuk meredam semua sakit.
Tuhan ... Kenapa sakit sekali? aku hampir mati menahan semua sakit ini.
Ayah ... Ayah, aku mohon tolong aku.
Selain rasa sakit yang terasa bagaikan melumatkan seluruh tulang-tulangku. Aku tidak merasakan apapun lagi.
Sebuah tangan menarik bahuku dan menyentuh kedua pipiku. Dia memasukan sebuah pil kedalam mulutku dan mendorong nya dengan air.
Setelah beberapa lama, keringat dingin mulai mengucur deras. Rasa sakitnya mulai menghilang perlahan, berganti dengan rasa dingin yang membuat sekujur tubuhku menggigil.
Keadaan terus begini, aku tidak mampu menjelaskannya. Namun semuanya terasa sangat menyiksa. Entah harus berapa lama lagi, namun aku terus berada di fase ini.
Fase yang membuat aku muak untuk bertahan. Fase yang membuat aku ingin menyerah dan berhenti saja. Fase yang membuat aku hidup, tapi aku ingin mati saja.
Virgo, jika tidak mengingatmu. Aku lebih memilih mati dari pada hidup dalam keadaan begini.
Ku pejamkan mataku sejenak, ku rasakan semuanya mulai membaik perlahan. Ku kernyitkan dahiku dan membuka mata perlahan.
Semua temanku berkumpul, memandangku dengan sedikit kebingungan.
Aku bangkit dari pangkuan Virgo dan duduk diatas rumput. Menghela nafasku dan menyeringai pasrah.
"Apa kamu sudah baik-baik saja?" Tanya Virgo cemas.
"Iya," jawabku pasrah.
"Tamy, maaf. Aku gak sengaja tendang bola itu kearah kamu," ucap Virgo bersalah.
"Sudahlah, Virgo. Aku baik-baik saja," aku bangkit dan membersihakn bagian celanaku yang kotor.
Walaupun masih lemas dan tidak mampu berjalan. Aku masih bisa berusaha sok kuat didepan Virgo.
__ADS_1
Virgo menahan tanganku saat aku ingin berjalan. Virgo menundukan pandangannya, namun tangannya mengenggam jemariku dengan kuat.
"Sebenarnya kamu sakit apa, Tamy?" Tanya Virgo dingin.
"Eh, itu," ku garuk kepalaku dan tersenyum lembut.
"Bukannya sudah aku bilang, fungsi hatiku sudah tidak berfungsi," jawabku mengelak
"Benarkah fungsi hatimu tidak berfungsi?"
Ku alihkan pandanganku kesisi satu lagi, aku tidak sadar sejak kapan kak Riyu berada disini?
Duduk bersejajar dengan Virgo? apa mereka bertengkar?
"Eh, benar Kak. Masa aku berbohong," jawabku dengan tersenyum kuda.
"Tamy kamu kenal ini apa?"
Seketika bola mataku membulat sempurna, saat melihat lempengan obat itu berada didalam genggaman tangan kak Riyu.
Ku tarik dengan cepat lempengan obat itu, namun kak Riyu mengelakannya. Karena lemas, badanku terjatuh diatas pangkuan kak Riyu yang sedang terduduk diatas rumput.
Dengan cepat Virgo menarik badanku, memindahkan badanku kedalam pelukannya.
"Balikin! itu punya aku Kak. Kenapa Kakak curi itu dari aku?" Tanyaku kesal.
Aku mengerti sekarang, jadi yang memasukan pil itu kedalam mulutku bukannya Virgo, tapi kak Riyu.
"Aku tidak mencurinya, kamu menjatuhkan ini saat kita bertabrakan dirumah sakit. Ingat?" Tanya kak Riyu dingin.
Ku alihkan pandanganku kearah Virgo. Memandang Virgo dengan sedikit cemas. Aku mohon kak Riyu jangan katakan apapun didepan mereka semua.
"Aku tahu, aku pernah lihat obat yang sama dalam tas Tamy hari itu. Bukannya itu obat untuk menstruasi ya?" Tanya kak Jerry bingung.
"Menstruasi?" Kak Riyu tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya.
"Kalian tahu ini apa?" Tanya Kak Riyu menajamkan tatapan matanya.
"Ini bukan obat menstruasi, tapi ini morfin, benarkan Tamy?"
Ku pejamkan mataku dan menghela nafas berat. Dari mana dia tahu kalau itu adalah morfin?
"Morfin? bukannya itu sejenis obat-obatan, bisa di golongkan narkotika?"
Kak Riyu tersenyum lembut, ia memandangku dengan penuh makna.
"Aku jelaskan boleh ya Tamy. Takutnya Virgo curiga lagi sama kamu."
"Sebenarnya maksud dari semua ini apa Riyu? kamu berikan narkotika sama Tamy?" Tanya Virgo meradang.
"Morfin memang sejenis narkotika, lihat gara-gara ini Tamy jadi berkeringat. Tapi kamu gak curiga, kenapa efek yang timbul hanya keringat?"
Virgo mengalihkan pandangannya kearahku, ia menghapus keringat yang terus keluar membasahi seragamku.
"Aku gak ngerti, aku gak ngerti sama semua ini."
"Virgo, morfin ini bukan narkotika lagi. Kalau berada di tangan penderita kanker, tapi bius penghilang rasa sakit yang sangat cepat."
"Riyu katakan yang jelas, aku semakin tidak paham," ucap Virgo stres.
"Tamy, kamu tidak sakit fungsi hati kan?" Tanya kak Riyu lembut, "Melainkan kanker hati, benar kan?"
__ADS_1
Seketika Virgo memalingkan kepalanya kearahku. Wajah terkejutnya seperti ingin menanyakan banyak hal padaku.
Ku hela nafas dan mengangguk perlahan. Maaf Virgo, aku menyimpan semua ini darimu.