Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
23


__ADS_3

POV Rintamy.


Kucium punggung tangan Ayah sebelum keluar dari dalam mobil. Perlahan ku jejaki koridor sekolah menuju kelas.


"Tamy, gimana keadaanmu?" Tanya Shela saat melihat aku datang mendekat.


"Sudah baik-baik saja," jawabku lembut.


"Apa semalam kak Virgo mampir kerumahmu lagi?" Tanya Shela kembali.


Aku tersenyum dan menganggukan kepala, berjalan memasuki mejaku yang berada dibelakang Aura.


"Enak banget punya pacar seperti Kak Virgo, buat iri saja deh," ucap Shela lembut.


"Bukannya kak Donny sudah menunggu kamu ya?" Tanyaku menggoda.


"Ah ... Tamy, sudah hentikan! jangan meledekku terus." Shela menyilangkan kedua tangannya didada dan duduk membelakangiku.


Aku hanya tersenyum dan melihat kearah Aura. Jujur sebenarnya aku masih sangat penasaran dengan isi diary nya. Tapi sudahlah, itu pribadinya sendiri.


Bel istirahat berbunyi, seperti biasa aku dan Shela selalu makan di kantin lantai atas. Karena mengikuti seleraku, Shela lebih sering ikut bersama denganku.


Sudah ada Virgo dan teman-temannya yang menunggu aku dimeja. Tapi tidak seperti biasa, kini Aura juga hadir ditengah kami semua.


Bercanda dan bercerita lebih ramah dari biasanya. Bahkan kulihat Aura lebih akrab dengan mereka dibandingkan aku sebelumnya.


"Tamy, makanan kamu sudah aku siapkan," ucap Virgo lembut.


Virgo memberikan sendok makannya padaku. Aku hanya tersenyum dan mengambilnya, memakan isi dipiringku dengan lahap.


"Sabtu pagi nanti, aku ada latihan di lapangan futsal dekat taman komplek perumahan kamu. Kalau kamu sudah bangun, datang ya," ucap Virgo lembut.


"Baiklah," jawabku dengan tersenyum tipis.


"Mulai sekarang, jaga kesehatanmu ya. Aku gak ingin kamu sakit lagi,"


"Iya,"


Ku alihkan pandanganku saat meja disebelahku tertawa dengan lepas. Kenapa? saat ini, selain Virgo seperti tidak ada lagi yang perhatian dengan kehadiranku.


Rasanya, aku bagaikan orang asing ditengah teman-temanku sendiri.


Ku jatuhkan kepalaku diatas bahu Virgo, melihat ke meja sebelah yang suasananya lebih riang dari sebelumnya.


Apa karena ada Aura, jadi saat ini perhatian mereka lebih tercurah pada dia. Padahal sebelumnya, aku merasa biasa saja saat mereka semua menggoda Shela. Tapi kenapa sekarang aku malah merasa cemburu dan terasing seperti ini?


Ku hela nafasku dan menggigit sendok yang berada ditanganku. Melihat suasana yang sangat terasa asing sekali buatku.


***


Ku hela nafas dengan sedikit berat, kupejamkan mata sambil menikmati semilir angin yang menyapa hangat.


Karena Virgo ada latihan sehabis pulang sekolah, aku jadi harus pulang sendiri.


Ku alihkan pandangan saat seseorang duduk disebelahku. Ku putar bola mata dengan sedikit malas saat melihat wanita itu adalah Aura.


Untuk beberapa lama, suasana diantara kami berdua hanya senyap. Tidak ada yang mau membuka suara atau bertanya lebih dulu.

__ADS_1


Memang seperti ini hubungan kami, aku dan Aura selalu berada didalam suasana yang kurang baik.


"Aku dengar kamu sakit ya? bagaimana keadaanmu?" Tanya Aura memecahkan keheningan.


Ku alihkan pandanganku, terkejut melihat Aura bisa menyapaku dengan lembut.


"Apa ini drama atau sandiwara? kita hanya berdua, jangan banyak buat drama denganku," jawabku malas.


Aura tersenyum dan menggeleng dengan lembut.


"Aku bukan ingin bersandiwara. Tamy, aku akui, kamulah pemenang dari pertarungkan kita. Saat ada kamu, kak Virgo tidak pernah melihatku, bahkan saat tidak ada kamu kak Virgo juga tidak melihatku."


Aura tersenyum lembut dan memandang kedepan. Ia memainkan kakinya, menyapu lantai halte.


"Tamy, aku tahu selama ada kamu kak Virgo tidak akan melihat siapapun. Walaupun aku benci untuk mengakuinya, tapi benar, kak Virgo menyanyangimu lebih dari siapapun." Aura memalingkan wajahnya, melihat kearahku.


"Kamu benar, seharusnya aku tidak menggunakan rasa sakitku untuk menarik simpatinya. Seharusnya aku sadar, dengan kondisi aku yang seperti ini, kelak hanya akan merepotkan kak Virgo jika tetap memaksa."


Aura menghela nafasnya, ia kembali menatap kosong kejalanan. Untuk beberapa saat, suasana kembali hening.


"Seharusnya dari dulu aku sadar, perempuan lemah seperti aku hanya akan menyakiti perasaan kak Virgo dengan kondisiku. Aku sekarang mengerti, kalau kamu akan lebih cocok dengan kak Virgo. Karena kamu tidak seperti aku, yang akan menyakiti kak Virgo dengan keadaanku."


Aku terdiam mendengar ucapan Aura, sepertinya ia menamparku dengan keadaan ini. Atau dia sudah mengetahui sesuatu dan berkata seperti itu.


Tapi ini mana mungkin, Aura tidak sedekat itu. Mungkin ucapannya, benar tulus dari hati.


Aura bangkit saat bis kearah rumahnya datang menjemput.


"Tamy, walaupun kita bukan teman. Tapi aku senang, karena perempuan yang dipilih kak Virgo, itu kamu," ucap Aura saat ia memasuki pintu bis.


Aku kembali terdiam, ku hela nafas yang terasa sedikit menyengal pernafasanku. Kenapa? kali ini kata-kata Aura membuat aku rapuh.


Aku tidak tahu, itu ucapan yang tulus dari hati atau hanya sebuah taktik untuk menguji. Namun satu hal yang aku sadari saat ini. Sekarang atau nanti, maka hasilnya sama saja.


Mungkin sebelum terlanjur jauh, sebaiknya aku memilih untuk menyerah. Bukan aku tidak lagi mampu bertahan, mungkin jika ini diakhiri lebih cepat, sakitnya juga masih bisa ditahan.


***


Ku pandangi langit pagi hari ini, sedikit menghela nafas. Aku berjalan menyusuri taman komplek didekat perumahanku.


Sudah ada kak Riyu yang menunggu aku dikursi taman pinggir jalan. Aku tersenyum lembut dan berjalan mendekati kak Riyu.


"Kak," panggilku lembut.


"Sudah lama?" tanyaku kembali.


Kak Riyu hanya menggelengkan kepalanya, ku hela nafas dan duduk disebelahnya. Lelaki ini apa susahnya berbicara sedikit lebih banyak?


"Kakak sudah sarapan? mau sarapan?" Tanyaku kembali.


Lagi, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sih? kalau ditanya cuma geleng-geleng saja? apa Kakak bisu?"


Kak Riyu kembali menggelengkan kepalanya, ku hela nafas dan duduk meyandarkan badanku dengan malas.


"Tuhan ... Kenapa harus ada manusia seperti dia?" Ucapku dengan menepuk dahi.

__ADS_1


Kak Riyu melepaskan senyumnya dan tertawa dengan besar. Ia menangkupkan tangannya didepan mulutnya.


"Kesel ya?" Tanyanya dengan menahan tawa.


"Menurut loe?" Jawabku ketus.


Kak Riyu berusaha menahan tawanya yang sudah pecah dan mengeluarkan suara itu. Ia mengacak rambutku dengan sedikit geram.


"Tumben pagi ini Kakak bisa tertawa? biasa juga datar, sedatar tembok."


"Kamu lucu," jawabnya singkat.


"Hais, aku kesini bukan untuk menghibur Kakak ya." Ku silangkan tangan didepan dada, kesal.


Kak Riyu mencoba menghentikan tawanya dan mengelus pucuk kepalaku. Perlahan tangannya berpindah kepipiku dan turun kedagu.


"Memang lucu," ucap kak Riyu lembut.


Perlahan aku tersenyum dan menundukan pandanganku. Ternyata kak Riyu pandai juga menggoda seperti ini.


"Oh ... Jadi kamu disini?" Ucap Virgo yang baru datang dengan wajah memerah padam.


"Aku hubungi ponsel kamu mati, aku jemput kerumah kamu gak ada, apa maksudnya ini, Tamy?" Tanya Virgo ketus.


"Jangan bilang padaku kalau aku hanya salah paham, kalian hanya berteman dan tidak ada hubungan apapun," ucap Virgo ketus tanpa jeda.


"Kalau kami ada hubungan, memang kenapa?" Tanyaku dingin.


Maaf Virgo, sepertinya meninggalkanmu saat ini lebih baik dari pada kamu tahu yang sebenarnya nanti, dan akan lebih kecewa padaku.


"Apa?" Tanya Virgo tak percaya, "Maksudnya?" Sambung Virgo bingung.


"Kalau aku dan Tamy ada hubungan spesial kenapa? toh kalian hanya sebatas pacaran kan?"


Virgo menggeratakan rahangnya dengan kuat, ia menarik kera baju kak Riyu dan membangkitkannya.


"Riyu, kamu boleh benci sama aku. Kamu boleh gak suka sama aku, tapi kamu gak bisa gunakan Tamy sebagai alat untuk peperangan kita!"


"Virgo, lepaskan!" Tahanku cepat.


"Tamy gak tahu apa-apa, kenapa harus libatkan dia?" Ucap Virgo ketus.


Ku ambil nafas yang terasa sangat berat, sungguh Virgo, walaupun kamu lihat aku bersalah. Kamu tetap membelaku, kamu menyamarkan kesalahanku. Padahal kamu tahu, akulah yang bersalah.


"Jika Tamy bukan pacarku, apa kamu akan mendekati dia?" Tanya Virgo lantang.


"Tidak!"


Virgo tersenyum getir dan melepaskan cengkraman tangannya. Virgo melihat kearahku dan meraih kedua pipiku.


"Tamy dengarkan? Riyu hanya menjadikanmu alat, dia tidak benar-benar mencintaimu. Jangan pedulikan dia ya," ucap Virgo lembut.


Kupejamkan mataku, kurasakan nyeri dihatiku yang terasa sangat menusuk. Kenapa Virgo? kenapa setelah aku menyakitimu pun, kamu tetap berusaha menyakinkan aku?


Aku mohon, lepaskan saja. Lepaskan aku, sebelum aku benar-benar menyakitimu.


Ku hela nafas dan membuka kedua kelopak mataku. Memandang Virgo dengan cairan bening yang melapisi bola mataku.

__ADS_1


"Maaf Virgo, tapi aku memilih kak Riyu dibandingkan kamu. Karena aku, tidak lagi mencintaimu," ucapku dengan melepaskan cairan dari kedua bola mataku.


__ADS_2