Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
06


__ADS_3

"Eh ... Hanya punya satu ginjal, Pak?" tanyaku tak percaya.


"Iya, tapi kamu jangan cerita ke siapa-siapa ya. Orang tua Aura meminta pihak sekolah merahasiakan ini."


"Oh gitu, baiklah." kembali tatapan mataku teralih pada Aura.


Sebenarnya aku kesal padanya, tapi mengetahui kenyataannya begitu, aku menjadi iba padanya. Apakah Virgo juga mengetahui hal ini?


Aura, gadis cantik itu, memiliki rahasia besar di balik senyum ramah dan manisnya.


"Besok akan ada pertandingan persahabatan antar sekolah kita dan SMA swasta Jaya. Kamu kalau gak mau sekolah juga gak apa-apa, gak ada kelas besok."


"Wah ... Asyik dong Pak. Gak belajar tapi bisa jajan banyak-banyak." jawabku riang.


"Dasar gadis remaja, bukannya belajar, datang kesekolah yang di ingat hanya jajan dan waktu pulang."


"He he he." jawabku menyeringai kuda.


"Baiklah, anak-anak. Waktu habis kalian tukar team ya!" perintah pak Andi kembali.


Ku hela nafas dan merenggangkan otot-otot badanku, rasanya bosan sekali hanya duduk disini.


Ku langkahkan kaki menjauh dari lapangan, mencari sesuatu yang bisa aku makan di kantin sekolah.


"Heh, ngadu apa sama Pak Andi?" tanya Virgo yang tiba-tiba nongol di sebelahku.


"Ngadu apa? aku hanya bicara soal nilai."


"Bohong saja terus, setiap semester juga nilai olahragamu pas-pasan. Tamy, kamu kira aku gak perhatian, kamu gak pernah ikuti jam olahraga satu kalipun."


"Hais Virgo, diamlah!" ku kibaskan rambutku kebelakang dengan jari. "Berisik sekali." ucapku kesal.


Ku dengar beberapa teman Virgo tertawa di meja belakang. Ku pilih minuman yang ingin ku pesan, sesekali aku ingin minum soft drink gak apalah ya.


Kata pak Andi, anak remaja sedikit nakal juga gak apa-apa, ya coba saja.


"Bu, aku mau bakso dan juga soda satu."


"Eh Tamy, tumben pesan bakso? biasa juga makan nasi?"


"Ish, Virgo. Sssttt ..." ucapku geram. "Lagian kita juga sudah putus."


"Ha ha ha." ku dengar sekelompok orang di belakangku memecahkan tawanya.


"Tamy kok gitu sih ngomongnya?" ucap Virgo melas.


Saat pesananku datang Virgo langsung mengambil pesananku dan membawanya kemeja. Mengelap sendok makanku dengan tisu lalu memberikannya padaku.


Seperti sudah terlatih, Virgo melakukan itu semua padaku begitu saja.


Tak ku pedulikan Virgo yang duduk di sebelahku menatap dengan lekat setiap gerakanku.


Tak ku hiraukan keberadaan Virgo di sampingku. Aku hanya memakan dengan lahap isi mangkuk yang aku pesan tadi. Memang memakan racun itu sungguh nikmat.


Awalnya, semua baik-baik saja. Sampai aku meneguk setengah botol soda itu. Perutku mulai bereaksi, seperti nyeri dan ingin memuntahkan segala isi di perutku.


"Uhuk." ku tahan mulutku yang ingin mengeluarkan isinya ini.


"Tamy kamu gak apa-apa?" tanya Virgo sambil meraih punggungku.


Sejenak aku terdiam, menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam mulutku. Jika sampai Ayah tahu, maka habislah.


Aku berlari keluar kantin dan berjongkok di bibir koridor, tak sanggup lagi menahan beban yang ingin keluar. Ku muntahkan isi mulutku di atas rumput sebelah kantin.

__ADS_1


Ku lihat isi itu bercampur sedikit darah. Ku seka mulutku dan meraih pasir untuk segera menutupnya.


Tanganku terhenti saat Virgo megambil pergelangan tanganku. Virgo menutup makanan yang aku muntahkan dan memandangku dengan sendu.


"Kenapa dengan dirimu? kamu sakit?" tanya Virgo cemas.


"Tidak, aku hanya tersedak saja."


"Bohong kan? Tamy bohong kan?" tanya Virgo kembali.


"Sudahlah Virgo, aku ingin ke toilet dan membersihkan wajahku dulu."


Aku bangkit dan membersihkan mulutku, memang aku tak boleh nakal walaupun sedikit saja. Jika aku nakal, langsung seperti ini balasannya.


Ku pandangi wajahku dari pantulan cermin kamar mandi. Ku hapus buliran air yang sempat hadir karena menahan sakit dari perutku.


"Ayah, aku minta maaf. Tak seharusnya aku nakal begini." lirihku sendu.


Ku hela nafas panjang dan merapikan helaian rambutku. Ku keluarkan lipgloss dari dalam saku dan memoleskan tipis di atas bibirku yang mulai memucat.


Saat aku keluar dari toilet, sebuah tisu tersodor di hadapanku. Ku palingkan wajahku dan melihat tangan itu.


Virgo menyandarkan badannya di dindin tembok, matanya menatap lurus kedepan.


"Beri tahu aku alasan, kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Virgo dingin.


"Kenapa aku harus memberi tahumu sebuah alasan?" tanyaku kembali.


"Karena aku peduli sama kamu, Tamy." ucap Virgo dengan meraih kedua ujung bahuku.


Ku hela nafas dan menurunkan pegangan tangan Virgo di bahuku.


"Baiklah, jika gak mau beri tahu juga gak masalah. Aku tanya saja pada Ayahmu, sekalian bilang alasannya kenapa kamu bisa begini."


"Ada apa?" tanya Virgo dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku akan beri tahu alasannya, tapi aku mohon jangan beri tahu Ayah apa yang aku makan tadi, ya." pintaku manja.


"Jadi kamu mau aku tutup mulut?" tanya Virgo sisnis.


"Begitulah." jawabku pasrah.


"Ada syaratnya."


"Pakai syarat lagi?" tanyaku tak senang.


"Gak mau juga gak apa-apa." Virgo kembali melanjutkan langkahnya.


"Ah ... Baiklah, baiklah." tahanku cepat.


Virgo tersenyum dan membalikan badannya, menatapku dengan senyum lembut.


"Katakan apa syaratnya?" tanyaku ketus.


"Tarik kembali kata-kata putusmu."


"Kenapa harus aku tarik lagi? aku mau kita putus."


"Aku sepertinya harus kerumah sakit pulang nanti." ancam Virgo kembali.


"Ah, itu. Ada lagi?" tahanku cepat.


"Tidak ada, bagaimana?" tanya Virgo dengan memainkan kedua alis matanya.

__ADS_1


"Baiklah, kita gak jadi putus. Puas?" tanyaku jutek.


"Puas sekali, sekarang ayo ceritakan padaku apa yang terjadi."


"Dasar, tukang ancam." ku langkahkan kaki dan duduk di kursi koridor sekolah.


"Ah ... Aku lupa belum bayar makanan, sebentar." aku bangun dan ingin berlari.


Lebih cepat tangan Virgo meraih tanganku dan mendudukan kembali.


"Aku sudah bayar, cepat ceritakan saja. Jangan banyak alasan untuk pergi." ucap Virgo sedikit menekan.


"Virgo, sebelum aku cerita boleh aku bertanya?" ucapku mengalihkan perhatian.


"Apa?" tanyanya ketus.


"Kamu tahu ya, kalau Aura itu punya satu ginjal?" tanyaku hati-hati.


"Kamu tahu dari mana?"


"Pak Andi yang bilang."


"Oh, iya aku tahu dari Mike."


"Kalau gitu, kenapa kamu gak jemput aku dan malah pergi sama Aura?"


Sebenarnya aku malas tanya hal ini, namun demi menghindari pertanyaan Virgo. Aku harus cari cara agar Virgo lupa sama kejadian tadi.


"Itu, waktu itu Aura pingsan di jalanan. Mike telepon aku untuk bantuin dia bawa Aura ke rumah sakit. Ternyata Aura sadar sebelum kerumah sakit dan minta balik ke sekolah."


"Jujur sama aku, kamu ada rasa sama Aura?" tanyaku lembut.


"Gak ada Tamy, kalau aku memang suka sama Aura, gak mungkin aku nahan kamu begini."


"Jadi sore itu aku lihat kamu akrab sama dia?"


"Yah, Aura itu adiknya Mike. Saat dia ikut gabung dan bercerita, gak mungkinkan di biarin gitu saja."


"Bohong!" tudingku keras.


"Sudahlah aku gak mau bicara sama kamu, yang kamu ucapkan semua bohong." dengan cepat aku bangkit dan ingin berlari.


"Tunggu!" tahan Virgo cepat.


"Apa lagi?" tanyaku ketus.


"Jangan bodohi aku, kamu belum bilang kenapa kamu muntah darah tadi?"


"Oh itu, itu, itu hanya panas dalam saja." jawabku menyeringai lebar.


"Jangan bodohi aku lagi, Tamy. Aku serius untuk bilang sama Ayah kamu jika kamu gak mau jujur."


"Baiklah, baiklah." jawabku mengalah.


Ternyata Virgo masih sama saja, terlalu pintar untuk di bodohi dan di alihkan perhatiannya.


"Itu, karena fungsi hatiku tak bekerja dengan normal."


"Maksud kamu?"


"Fungsi hatiku tak lagi bisa menyerap racun, karena itu aku muntah saat minum soda."


Virgo menatapku dengan tatapan tajam, seperti tak percaya oleh ucapanku.

__ADS_1


"Kamu serius?" tanya Virgo tak percaya.


__ADS_2