Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
39


__ADS_3

POV Rintamy.


Kulipat kedua kaki dan memandang kosong kedepan. Beberapa kali menghela napas, berusaha menahan air mata yang ingin tumpah.


"Nangis saja kalau kamu ingin menangis, Tamy," ucap Virgo sembari duduk di sebelahku.


Kupalingkan wajah dan menggeleng pasrah.


Aku tidak akan menangis lagi, setidaknya di depan Virgo. Walaupun sakit, aku tidak ingin Virgo melihatku menderita.


"Virgo."


"Hem."


"Setelah lulus nanti kamu akan masuk universitas mana?"


"Belum tahu."


"Kenapa belum tahu? Apa kamu tidak mau memikirkannya dari sekarang?"


Virgo menghela napasnya, tangannya meraih beberapa batuan kecil dan melemparnya ke dalam danau.


"Saat ini aku masih fokus padamu, Tamy. Aku tidak kuliah setahun atau dua tahun juga gak masalah."


"Mana bisa seperti itu, kamu lelaki. Kamu harus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik, janji." Kunaikan jari kelingkingku di depan Virgo.


Virgo tersenyum dan menarik kepalaku, mencium pucuk hidungku.


"Janji," jawabnya sembari menggulum senyum.


"Em, Virgo ..., " teriakku manja. Kucubit dada Virgo, geram melihat ulahnya yang selalu begini akhir-akhir ini.


"Tamy."


"Ya."


"Kamu sendiri mau memilih universitas mana?" tanya Virgo lembut.


Kuhela napas dan kembali memandang ke depan. Menggeleng kepala, pelan.


"Aku pikir, aku gak akan punya banyak waktu lagi untuk melakukan itu semua, Virgo."


"Tamy, kenapa kamu pesimis sekali?"


"Bukan pesimis, tapi aku merasa. Bahwa hidupku tidak akan lama lagi," jawabku lembut.


"Tamy!" bentak Virgo ketus.


"Virgo, jika aku pergi. Bagaimana kamu akan menjalani hidup ini?"


"Jangan bicara sembarangan, kamu pasti akan sembuh," balas Virgo sengit.


"Jangan terus membodohi diri, Virgo. Aku ataupun kamu tahu dengan jelas, bagaimana semua ini akan berakhir nantinya. Kebahagiaan kita berada di ambang perpisahan, kelak kenangan indah akan menjadi luka yang menyakitkan."


Kuraih jemari tangan Virgo dan mencium punggung tangannya. Memejamkan kelopak mata dengan air yang mengalir melintasi pipi.


Aku tidak tahu ini akan bertahan berapa lama lagi. Namun aku tahu ini akan berakhir dengan cara yang menyakiti.


Aku harap, kamu akan terus dan terus bahagia Virgo. Tetap kuat melewati waktu tanpa ada aku di sisimu.


"Tamy, bagaimana jika ada donor hati untukmu?" tanya Virgo lembut.


Kubuka kedua kelopak mata, bersama genangan air yang kembali tumpah.


Kulepaskan senyuman manja dan merebahkan kepala di pundak Virgo. Pundak yang paling nyaman setelah pundak ayah.


"Mungkin aku akan keliling dunia. Menikmati semua makanan dari setiap negara."


Virgo tersenyum.dan menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku.

__ADS_1


"Apa yang ada dalam pikiranmu hanya makanan saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu, tapi kamu hanya mengkhawatirkan perutmu."


"Di dunia ini selain uang, makan adalah hal yang paling menyenangkan," jawabku senang.


Virgo menarik ujung hidungku dengan kuat.


"Dasar perut karet, lambung besar, badan tulang. Makan banyak tapi badan kurus. Makanya kalau piara setan jangan kebanyakan, jadinya kamu gak kebagian kan?" ledek Virgo.


"Hem, Virgo. Aku hanya piara satu setan saja."


"Hem, yang mana?" tanya Virgo bingung.


"Yang ini," jawabku sambil menarik kedua belah pipi Virgo gemas.


Virgo hanya tersenyum, membiarkan aku menarik kulit pipinya dengan kuat.


"Aku menyanyangimu, Tamy," ucap Virgo lirih.


Tetapi aku mampu mendengarnya dengan jelas.


Virgo meraih sebelah pipiku dan mengelusnya lembut dengan ibu jari.


"Jangan pergi, Tamy. Aku mohon, bertahanlah sedikit lagi," pintanya lembut.


Perlahan cubitan jari tanganku di pipi Virgo terlepas. Bersama luruhnya genangan air dari dalam binar mata.


"Aku gak bisa. Aku gak kuat bahkan saat memikirkan kamu pergi saja. Aku gak sanggup, Tamy."


"Tapi umur bukan di tangan manusia, Virgo. Aku juga ingin terus berada di sini. Tapi Tuhanlah yang menentukannya."


"Alu akan cari pendonor hati yang cocok buatmu. Kalau tidak ada, bahkan aku rela memberikan separuh hatiku padamu."


"Jangan, aku mohon jangan, Virgo," tahanku lembut.


"Resiko itu terlalu berat, pencangkokan hati hanya bisa dilakukan pada orang yang sekarat. Karena, pendonor bisa saja kehilangan nyawanya saat melakukan pencangkokan. Jangan bodoh!"


"Virgo sadarlah! Kamu itu sehat, jangan gila hanya karena gadis remaja sepertiku. Aku mohon jangan lakukan itu, Virgo. Jangan, aku tidak mau." Kutarik kaus Virgo dan membenamkan wajahku di dadanya.


"Jangan bodoh! Umurmu masih sangat muda, kelak kamu pasti bisa melupakanku begitu saja. Waktu akan menyembuhkan luka, Virgo. Kelak kamu pasti akan melupakan tentangku," ucapku parau.


"Tidak ada luka yang sembuh hanya karena lupa, Tamy. Apa kamu pikir waktu bisa membasuh luka dengan ingatan yang memudar? Semua tidak semudah itu, Tamy."


Sesaat kulepaskan semua air mata yang sedari tadi kutahan. Aku tidak mengizinkan siapapun untuk mendonorkannya.


Karena resiko ini terlalu bahaya, tak ada jaminan aku akan kembali seperti semula walaupun sudah menjalani pencangkokan hati sekalipun.


Penderita kanker, walau dinyatakan sembuh masih tetap bisa terpuruk kembali. Ini semua terlalu bahaya, bagaimana bisa aku membahayakan dirimu dan masa depanmu?


Bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain melakukan itu padaku, namun dengan harapan hidup yang tak jauh lebih baik dari ini.


Aku sanggup pergi dengan membawa ini semua, tapi aku tidak sanggup pergi dengan membawamu juga. Kumohon tetaplah hidup Virgo, tetaplah berdiri tegak demi luka ini.


Luka yang akan menjadi kekuatanmu setelah aku tiada. Bertahanlah demi luka ini, luka yang tercipta dari kenangan indah kita bersama.


"Tamy, kamu tidak tahu bagaimana takutnya aku. Kamu tidak tahu bagaimana kalutnya aku, bahkan aku tidak bisa tidur dan makan dengan tenang. Aku takut menghadapi hari esok, aku takut saat harus tidur dan menutup mata. Aku takut saat aku bisa membuka mata ini, tetapi matamu yang akan tertutup dan pergi."


"Virgo, kita gak pernah tahu. Apapun bisa terjadi, siapapun bisa pergi, kapanpun itu. Yang namanya kehidupan, pasti akan menemukan kematian."


"Tapi aku tidak mau kamu pergi secepat ini. Aku tidak mau, Tamy. Masih banyak hal yang belum kita temui, banyak hal yang masih harus kita lewati."


"Lebih cepat maka akan lebih baik. Agar tidak terlalu banyak kenangan yang akan semakin menyakitkan untuk kamu kenang," jawabku sendu.


"Tamy, kenapa kamu berbicara seperti ini? Kenapa kamu selalu ingin pergi?" tanya Virgo ketus.


"Tidak peduli apa yang aku katakan. Yang pergi akan tetap pergi, yang kembali akan tetap kembali."


Virgo meraih bahuku, mencoba memandang wajahku yang semakin pucat.


"Tamy, semangatlah. Kamu pasti bisa, semangat!" ucap Virgo menyemangati.

__ADS_1


Kuhapus sisa buliran air mata yang tersisa. Tertawa sembari menggelengkan kepala.


"Apa sih? Gak jelas banget tahu, gak?" tanyaku sambil mendorong dadanya.


"Kok gak jelas?"


"Tadi masih beradu argumen sama aku, sekarang malah bilang aku pasti bisa. Sebenarnya kamu mau ngomong apa?" tanyaku kembali.


Virgo tersenyum dan menggerakan satu jarinya. Kunaikan sebelah alis mata, memandangnya dengan sudut mata.


"Sini."


"Apa?" tanyaku mendekatkan telinga ke bibirnya.


"Aku hanya mau bilang--" Virgo meraih helaian rambutku dan menyingkapnya di balik telinga.


"Aku mencintaimu," bisiknya lembut di telingaku.


Kutundakan pandangan dan menggigit bibir bawah. Terkadang sehabis hujan ada pelangi datang.


Apakah seperti ini? Setelah bertengkar, Virgo malah membuat hatiku kembali bergetar. Menghidupkan irama deguban jantung yang sudah lama memudar.


Kring ... Kring ....


Kuputar kepala saat mendengar beberapa bel sepeda di belakangku.


"Kalian sudah sampai," ucap Virgo bangkit dari duduknya.


"Kalian?" Kualihkan pandangan ke arah Virgo.


"Mumpung kita di sini, dan sekolah juga pulang lebih awal. Aku ajak mereka untuk bersepeda bersama."


Aku bangkit dan menghapus sudut dagu. Berjalan mendekati sepeda Virgo.


"Ayo naik," perintah Virgo lembut.


Aku mengangguk dan menaiki jok belakang sepeda itu.


"Tamy, sepertinya akan lebih mudah mengendarai sepeda saat kamu duduk di boncengan depan."


"Kenapa begitu?"


"Karena ada semangat yang aku peluk saat aku lelah mengkayuh," jawab Virgo lembut.


Kugulum senyum dan berpindah menududuki batang sepeda. Melirik kearah Virgo yang mengemudikan sepeda di belakangku.


"Siap?" tanya Virgo.


"Siap!" jawab mereka serentak.


"Lets go!"


Virgo mulai mengkayuh sepedanya saat mendengarkan aba-aba. Bersepeda beriringan dengan beberapa sahabat yang lainnya.


Sesekali bercanda dengan mendekatkan ban sepeda ke arah kami. Atau ledekan-ledekan yang keluar dari mulut mereka karena hanya kami yang berpasangan di sini.


Bernyanyi dengan suara cempreng yang membuat bising jalanan kota. Atau kekehan dari tawa yang lepas karena saling beradu godaan.


Hangat, suasana ini terasa sangat hangat. Aku sangat merindukan suasana ini, di mana kita semua bisa saling bercanda dan bertegur sapa.


Menikmati hari yang indah tanpa ada rasa khawatir akan duka.


Entah kapan aku bisa menikmati semua ini lagi. Entah aku masih memiliki waktu atau tidak?


Aku tidak tahu dan aku tidak ingin mencari tahu. Saat ini, begini saja sudah sangat cukup.


Sudah ada kalian, sudah ada ayah dan Virgo. Jika aku meminta kehidupan yang panjang. Mungkin Tuhan akan berkata aku serakah. Karena aku, ingin memiliki segalanya dalam dekapan.


Jika memang berakhir, aku akan bahagia. Karena saat akhir waktu yang tersisa, aku bahagia memiliki kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2