
Ku lepaskan tawaku saat melihat Virgo yang tercengang mendengar ucapanku.
"Apa yang kamu fikirkan Virgo? hey tenanglah, aku tak akan mati hanya karena itu."
"Aku hanya tak mengira saja, Tamy. Selama ini kamu tak pernah jujur padaku."
"Jangan khawatir aku masih baik-baik saja. Aku hanya perlu menjaga makanan saja."
Virgo menarik ujung hidungku dengan kuat.
"Nakal sih, kalau gak boleh di makan ya jangan di makan. Kenapa gak nuruti?" tanya Virgo ketus.
"Anak remaja, nakal sedikit juga gak apa-apa."
"Tapi kamu juga harus perhatikan makananmu. Jangan buat aku khawatir seperti tadi ya." Virgo memegang tanganku yang kuletakan diatas pangkuan.
"Sudahlah, jam olahraga sudah hampir habis. Aku masuk duluan ya."
Aku bangkit dan berjalan meninggalkan Virgo dengan cepat
"Tamy." panggil Virgo lembut.
Ku hentikan langkah kakiku dan menolehkan sedikit pandangan kearah Virgo.
"Hmm."
"Aku menyanyangimu."
Aku tersenyum dan menghela nafas. Ada perasaan lega saat mendengar kata itu terucap dari bibir Virgo.
"Jangan lupa, aku masih marah sama kamu." jawabku ketus.
"Aku harus bagaimana biar kamu gak marah lagi sama aku?" tanya Virgo melas.
"Jangn dekat-dekat sama aku." kembali ku lanjutkan langkah yang terhenti tadi.
Aku kembali tersenyum dan mengelus dadaku yang terasa berdebar dari biasanya.
"Aku juga menyanyangimu Virgo, sangat menyanyangimu."
***
Pagi ini, ku lihat langit lebih sendu dari biasanya. Tak ada sinar mentari yang mewarnai dan juga rintik hujan yang menghiasi.
Langit hitam ini memberikan sentuhan semilir angin yang lembut menyentuh hati.
Aku jadi mengingat kejadian satu tahun lalu, dimana untuk pertama kalinya aku berdiri di depan Virgo.
"Hey kamu, anak baru." tunjuk salah satu siswa lelaki yang saat ini aku kenali sebagai kak Jerry.
"Iya kamu, siapa nama kamu?" tanyanya jutek padaku saat itu.
"Rintamy Khalia." jawabku kikuk.
"Panggilan?"
"Tamy, Kak."
"Bangun!" perintahnya kasar.
Dengan sedikit lambat aku bangun. Berjalan mendekati perkumpulan lelaki yang sedang mengospek hari itu
__ADS_1
"Kamu bawa apa saja hari ini?" tanya Kak Jerry ketus.
"Bawa semua yang ada dalam list." jawabku menunduk jauh kebawah.
"Ada bawa bunga?" tanyanya kembali.
Aku hanya mengangguk pasrah.
"Surat cinta?"
Ku anggukan kembali kepalaku.
"Ambil dan bacakan didepan sini."
"Hah?"
"Bukan hah, cepat lakukan!" teriak kak Jerry lantang.
Dengan sedikit gugup aku mengambil bunga mawar putih dan juga surat yang ku karang semalam. Kembali dengan cepat ke hadapan kak Jerry.
"Kasih bunga itu ke salah satu yang ada disana." tunjuk kak Jerry ke perkumpulan lelaki yang berada di kursi kantin, sedang bercanda bersama.
"Dan bacakan surat cintamu sama dia." tunjuk kak Jerry ke lelaki tinggi yang duduk di paling pojok kursi.
"Tapi kak ..."
"Atau ku buat masa SMA mu lebih horor dari sebuah pemakaman tua!" ancam Kak Jerry sinis.
Ku lihat lagi perkumpulan lelaki itu dari jarak lima meter, lalu ku alihkan pandangan ke kak Jerry.
"3 menit, jika kamu tak bisa selesaikan. Tamat sudah." kembali kak Jerry mengancam.
Mau tak mau, saat itu ku langkahkan kaki menemui perkumpulan empat lelaki itu.
Lelaki itu memandangku dengan tajam, bibirnya menyungging sebelah.
"Nama?" tanyanya dingin.
"Tamy, kak."
"Lalu?" tanyanya sinis.
"Aku di suruh bacain surat, boleh kak."
"Baca saja." lelaki itu berdiri di hadapanku.
Dengan postur tingginya dan juga paras manisnya membuat aku sedikit ketakutan. Di tambah tatapan mata tajam dari bola mata cokelat itu, membuat tubuhku bergidik merinding.
"Ayo, tunggu apa lagi?" tanyanya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Senja itu, langit berwarna jingga." ucapku sedikit gemetar.
Tanganku sudah bergetar hebat, peluh keringat sudah membanjiri tubuhku. Bibirku kelu, namun lelaki ini seperti tak mengerti, atau memang sama sekali tak mau mengerti perasaanku saat ini.
"Terus?" tanyanya lembut.
Ku hela nafas sedikit berat dan memandang kertas berwarna cokelat muda di tanganku.
"Aku tersadar, bahwa langit akan berubah hitam. Dan malam akan datang menyambut hadirnya bintang-bintang kehidupan."
"Bagus, lanjutkan." ucap lelaki itu dengan bibir tersenyum lembut.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, pandangan mata dari lelaki ini berbeda dari lelaki yang dulu pernah aku temui. Ada kehangatan yang aku rasakan di balik senyum manisnya itu.
"Aku tahu, langit akan berubah sesuai waktunya. Aku juga tahu, bahwa mentari akan tetap bersinar walaupun tertutup oleh awan. Tapi, tapi ..."
"Tapi apa?" godanya padaku.
"Tapi, tapi aku tak tahu. Mengapa hati ini terus memujamu setiap waktu tanpa berubah arah. Merindukanmu walaupun langit terus berubah warna. Masih selalu untukmu dan terus untukmu walaupun hujan tak lagi menyapa."
Ku pejamkan mataku dan menghela nafas berat saat menyelesaikan bait terakhir isi surat itu.
"Oke, mulai hari ini aku nyatakan Tamy adalah pacar aku. Ayo ikut aku." lelaki itu berjalan ke tengah lapangan dan mengkodekan satu jarinya agar aku mengikutinya.
"Hah?" tanyaku heran, ku buang pandanganku kesamping, tak lama ku lihat lagi kearahnya. "Hah?" kembali aku bertanya, bingung oleh pernyataannya.
"Tamy, gak ikut?" pertanyaan Shela membuyarkan lamunan masa laluku.
Ku alihkan pandangaku kearah Shela yang berdiri di sebelahku.
"Kemana?" tanyaku bingung.
"Lapangan basket, ada pertandingan persahabatan hari ini."
"Kamu duluan deh, aku gak minat." jawabku malas.
"Ayolah, kapan lagi bisa lihat lelaki dari sekolah lain."
"Cuma lihat saja kan, gak bisa di makan juga."
"Ish Tamy, ayolah." tarik Shela di tanganku.
"Malas sekali." jawabku gak mau bangkit dari kursi.
"Ih ayo, ayo." tarik Shela kembali.
"Oke, oke." jawabku mengalah.
Aku mengikuti langkah Shela yang berjalan menuju lapangan basket. Ku perhatikan ke sekeliling, ada Virgo yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya yang ingin bertanding basket.
"Mana? aku gak lihat ada lelaki asing di sekolah kita." ucapku malas.
"Sabar dong, memangnya selain kak Virgo ada yang bisa menarik perhatianmu?"
"Hah, Virgo lagi, dan Virgo lagi." jawabku malas.
"Eh, by the way kenapa kak Virgo masih pakai seragam putih abu-abu? kok gak pakai seragam basket?"
"Sejak kapan Virgo main basket? Virgo kan hobinya futsal."
"Hem, seandainya kak Virgo ikut team basket, pasti lebih seru."
"Seru apanya? aku rasa biasa saja."
"Ish Tamy, memang kalau bicara olahraga sama kamu itu buat kesal saja." ucap Shela geram.
"Siapa yang suruh ngajakin aku? sudah aku bilang kan, aku malas."
"Huhhhhh." suara riuh sorakan dan tepuk tangan terdengar memenuhi lapangan.
Ku lihat teman-teman Virgo telah berkumpul di lapangan, lengkap dengan team dari cheersleadernya, memberikan semangat ke team basket sekolah yang di ketuai oleh kak Mike.
Setelah team sekolahku berkumpul, masuk team dari sekolah lawan dengan seragam biru silver memasuki lapangan.
__ADS_1
Mataku membulat dengan sempurna saat melihat leader dari team basket lawan.
"Dia." ucapku kaget.