Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
17


__ADS_3

"Aura?" Tanya Virgo menaikan sebelah alis matanya.


Ku anggukan kepalaku dan menatap wajah Virgo dengan lekat.


Virgo melepaskan senyumnya dan meraih pucuk kepalaku, mengelus dengan lembut.


"Aku hanya menganggap Aura itu sebagai adik saja. Tidak lebih, Tamy."


"Bagaimana jika Aura tidak menganggap kamu seperti itu? bagaimana jika Aura menginginkan kamu lebih dari seorang Kakak?" Tanyaku tanpa jeda.


"Apa ini? maksudnya kamu cemburu?" Tanya Virgo dengan tersenyum lembut.


"Kalau aku bilang aku cemburu, memang kenapa?" Tanyaku sedikit kesal.


Sejenak Virgo terdiam, ia menatapku dengan sangat lekat. Bibirnya perlahan melengkung dan tersenyum dengan lebar.


Virgo meraih kedua belah pipiku dan menekan pipiku sampai bibirku mengerucut kedepan.


"Ada apa denganmu? tadi kamu bilang sayang di telepon, lalu mengakui kalau kamu cemburu. Tidak seperti kamu selama ini," ucap Virgo lembut.


Ku tundukan pandanganku, sedikit tersipu malu karena ucapan Virgo tadi.


"Kenapa? apa aku tidak boleh mengatakannya?" Tanyaku malu.


"Aku senang sekali saat mendengar kamu mengakuinya, Tamy. Itu artinya, sedikit banyaknya kamu cinta sama aku."


Ku gulum senyum dan memukul lengan tangan Virgo kuat.


"Dasar bodoh, Virgo bodoh," ucapku kesal bercampur dengan malu.


Tentu saja aku cinta sama dia, apa dia pikir aku ini boneka. Sama sekali tidak punya perasaan setelah bertahun-tahun bersama dengannya.


Virgo menarik kepalaku dan mencium pucuk kepalaku dengan lembut.


"Tamy, tidak peduli Aura ataupun siapapun. Dimataku, wanita itu hanya kamu," ucap Virgo lembut.


"Gombal, gombal terus dan gombal saja terus," ku cubit perut Virgo dengan lembut.


"Saat ini aku memang tidak bisa membuktikan perkataanku. Tunggu nanti, aku akan lulus dengan nilai tinggi dan segera menjadi mahasiswa."


"Eh, ngomong-ngomong, kamu mau masuk universitas apa?" Tanyaku meleraikan pelukan Virgo.


"Hem, aku ingin menjadi seperti Pak Andi," jawab Virgo lembut.


"Guru olahrahga?"


"Hem,"


"Kenapa? menjadi guru itu kan melelahkan."


"Tidak ada profesi yang tidak melelahkan, Tamy," ucap Virgo sambil mentoel ujung hidungku.


"Kalau nilai kamu bagus, kenapa gak coba untuk masuk fakultas kedokteran atau farmasi saja? kamu bisa membantu Ayah mengurus rumah sakit, nantinya."


"Aku gak pernah kepikiran buat kuliah di kedokteran ataupun ilmu kesehatan, Tamy. Gak minat, dan juga aku tidak mampu."


Ku tatap wajah Virgo dengan sendu, ku hela nafas dan menatap kosong kedepan.


"Kamu kan sudah punya Ayah sebagai Dokter, kenapa masih ingin punya suami Dokter juga?" Tanya Virgo lembut.


"Karena, akan lebih bagus jika kamu bekerja menyelamati nyawa orang lain, Virgo. Akan lebih baik, jika tanganmu membantu orang lain untuk menyambung hidupnya," ucapku dengan memandang kosong kedepan.


"Kalau begitu, kenapa tidak kamu saja yang menjadi Dokter, Tamy? aku rasa kamu mampu untuk masuk ke universitas kedokteran."


Ku hela nafas dan mengalihkan pendanganku kewajah Virgo.


"Aku tidak bisa, Virgo," ucapku lembut.


"Kenapa?" Tanya Virgo sendu.


"Karena aku ... Aku ingin masuk fakultas MIPA. He he he."


Virgo melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya. Menyentuh pucuk kepalaku dengan lembut.

__ADS_1


"Dasar kamu ini, aku pikir kenapa," ucap Virgo sedikit geram.


"Kita pulang yuk, ini sudah malam. Nanti Ayah kamu marah lagi."


Ku anggukan kepalaku dan meraih tasku. Ku genggam tangan Virgo saat kami berjalan bersisian.


Virgo mengalihkan pandangan matanya saat merasakan genggaman tanganku.


"Kamu kenapa sih? sepertinya hari ini kamu berbeda?" Tanya Virgo lembut.


"Aku hanya ingin memperlakukanmu selayaknya seorang pacar, Virgo."


Virgo kembali tersenyum dan mengelus pipiku dengan lembut.


"Apapun dirimu, itulah yang membuat aku menyukaimu, Tamy. Tak perlu menjadi seperti ini, dan menciptakan suasana asing di antara kita."


"Jika aku terus seperti biasa, apa kamu akan meninggalkanku suatu saat nanti?" Tanyaku lembut.


"Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu seperti apapun sifatmu, Tamy. Bahkan dalam mimpi saja, aku tidak pernah ingin meninggalkanmu," ucap Virgo lembut.


"Walaupun suatu saat nanti akan ada wanita yang menggantikan posisi aku, apa kamu tetap akan mencintaiku?"


"Tamy aku mohon, jangan pernah bertanya apapun seakan-akan kamu akan pergi meninggalkanku suatu saat nanti." Virgo menarik tubuhku dan memeluknya dengan erat.


"Bahkan dalam mimpi sekalipun, aku sangat takut jika harus kehilangan kamu." Virgo semakin mengeratkan pelukannya.


Ku pejamkan mataku perlahab, bersamaan dengan air yang ku teteskan saat kelopak mataku tertutup.


Kenapa? kenapa kamu harus mengucapkan hal ini, Virgo?


Aku akan sangat bahagia, seandainya hari ini aku bukanlah Rintamy Khalia.


Aku akan sangat senang mendengar ucapanmu, jika aku hanyalah gadis biasa yang tidak perlu megkhawatirkan apapun.


Tidak seperti sekarang ini, kebahagiaanku berada dengan kekhawatiran.


Aku menyanyangi dirimu, tapi aku juga tidak ingin bertahan lebih lama disisimu.


"Virgo."


"Hem."


"Aku, aku, ingin pulang," ku tundukan pandanganku dan berjalan dengan cepat meninggalkan Virgo.


Maaf Virgo, aku tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya. Karena aku terlalu takut, sikapmu akan berubahbpadaku saat kamu mengetahui kebenarannya nanti.


***


Bel istirahat pertama berbunyi, secepat kilat, kelas yang tadinya ramai menjadi sepi seketika.


Ku bereskan beberapa buku dan menyimpannya kembali.


"Tamy, ke kantin yuk!" Ajak Shela padaku.


Ku anggukan kepala dan menyusul Shela yang lebih dulu keluar dari dalam kelas.


Berjalan dengan santai sembari bercerita ringan menuju kantin di lantai atas. Ku lihat Virgo dan beberapa temannya sudah berkumpul di meja yang terletak paling ujung.


Biasa kantin di lantai atas hanya diisi oleh siswa ipa dari kelas 12. Hanya aku dan Shela yang selalu makan disini, karena kantin dasar tidak ada makanan yang bisa aku telan.


"Tamy, disini." Virgo melambaikan tangannya saat melihat aku berada di ambang pintu.


Ku alihkan pandangan dan mencari meja kosong yang sedikit agak jauh dari perkumpulan Virgo.


"Tamy mau makan apa?" Tanya Shela lembut.


"Hem, biasa saja lah."


Shela hanya menganggukan kepalanya dan berjalan kedepan display makanan.


Ku alihkan pandanganku dan duduk membelakangi Virgo. Ku lihat wajah Virgo yang berubah sedikit kesal saat aku mengacuhkannya.


Sekali-sekali, seru juga menggoda lelaki tengil itu.

__ADS_1


Tak lama makanan yang aku pesan di bawa oleh Shela. Memberikan dengan lembut di hadapanku, namun Shela malah duduk di belakangku.


"Shela, kok duduk di belakang sih?" Tanyaku memalingkan kepala kebelakang.


"Aku mau lihat ke bawah, kalau duduk di depan kamu gak kelihatan."


"Oh," ku putar kepalaku dan mulai melahap nasi yang ada didalam piringku.


"Shela, nanti aku pinjam buku catatanmu ya. Banyak pelajaran yang tertinggal," ucapku lembut.


Dengan santai ku kunyah makanan didalam mulutku. Namun setelah beberapa detik, Shela sama sekali tidak menjawab.


"Shel, tugas yang kamu email minggu lalu, sudah selesai belum? kita buat sama-sama yuk! sekalian jelasin ke aku beberapa materi yang ketinggalan," kembali aku berucap, berusaha mengajak ngobrol Shela yang berada di belakangku.


Namun Shela masih diam, ia tak mendengar atau memang tak ingin menjawabku.


"Shela," panggilku lembut.


"Shela!" panggilku sedikit berteriak.


Karena tak mendapatkan jawaban, ku balikan badanku.


"Shela kamu ...." Ku gantungkan kalimatku saat melihat kearah belakang bukan lagi Shela yang ada di kursi belakang.


Melainkan Virgo, dengan santai ia menggepalkan tangannya dan meletakan kepalanya diatas kepalan tangannya, menatap kearahku dengan lekat.


"Virgo, kok kamu?" Tanyaku bingung.


"Kenapa kalau aku? gak suka? habisnya kamu cuekin aku sih," ucap Virgo lembut.


"Oh," ku putar kembali kepalaku dan kembali melahap makananku.


Terdengar beberapa kekehan dari teman-teman Virgo.


"Aih, Virgo di kacangin, Bro." Ucap kak Donny meledek.


"Diam kalian!" Virgo beranjak dari kursinya dan menarik kursi untuk duduk disebelahku.


"Tamy, jelaskan padaku, kenapa kamu cuekin aku?" Tanya Virgo ketus.


"Bosan saja, kamu, kamu, dan kamu terus yang aku lihat," jawabku datar.


Seketika teman-teman Virgo tertawa terbahak mendengar ucapanku.


"Sumpah, puas banget gue lihat Virgo di kacangin sama Tamy," ucap Kak Jerry memanasi.


"Tamy, kenapa kamu jahat sekali," Virgo menjatuhkan kepalanya di bahuku dan merangkul bahuku dengan manja.


"Virgo apaan sih, malu," ku hempaskan kepala Virgo dengan lembut.


Namun Virgo kembali menjatuhkan kepalanya di bahuku, menggandeng lengan tanganku mesra


"Tamy, jangan begitu." Rengek Virgo manja.


"Virgo, hentikan!" tekanku sedikit keras.


"Gak mau, gak mau."


"Virgo, aku bilang hentikan!" tekanku sekali lagi.


"Cium, aku. Aku akan lepaskan kamu," ucap Virgo dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Ku tahan wajah Virgo dengan telapak tanganku dan menjauhkannya.


"Virgo, jangan seperti ini di sekolah. Hentikan! aku tidak suka kamu bercanda begini!"


Sementara, teman-teman Virgo sudah tidak tahan menahan tawa mereka yang terus meledak melihat ulah kami berdua.


Kak Mike berjalan mendekati mejaku dan menatapku dengan tajam.


"Tamy, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Kak Mike lembut.


"Eh, ada apa ya Kak?"

__ADS_1


__ADS_2