
Aku bangkit dan berjalan ke arah pintu ruang rawat inap Tamy. Melihat tubuh gadis itu dari balik kaca pintu, tertidur dengan beberapa alat medis memenuhi badannya.
Menggeratakan rahang sendiri, ada rasa kesal bercampur sedih. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Aku kalut, aku takut.
Kutumbukan kepalan tangan di tembok kamar. Geram sendiri dengan tingkah laku Tamy.
Bahkan sampai akhir, Tamy masih menyimpan semuanya sendiri.
Apakah aku terlalu buruk untuk ia andalkan?
Kenapa?
Kenapa kamu membuat aku begitu menyedihkan, Tamy?
Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku? Bahkan sampai akhir, kamu terus bersembunyi dariku.
Kusenderan kepala di sisi tembok, beberapa kali kepalan tangan menghantam tembok berwarna krem itu.
Aku kecewa, aku marah. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Aku tidak bisa melampiaskan, karena saat ini rasa takut lebih besar dari segalanya.
"Kenapa secepat ini kamu menyerah, Tamy? Masih banyak hal yang belum kita lakukan. Masih banyak yang ingin aku perlihatkan. Bertahanlah, Tamy. Aku mohon, bertahanlah, Sayang."
***
Tiga hari sudah Tamy tertidur tanpa membuka matanya, rasanya aku ingin masuk ke dalam sana dan menggoyangkan badannya.
Agar gadis itu bangun dan membuka mata. Andai saja, aku tidak terlalu memanjakannya, mungkin saat ini dia masih bisa tertawa ceria bersamaku.
"Virgo." Tepuk om Leo di salah satu pundakku.
Kuhapus sudut mata yang sempat berair saat memandangi tubuh gadisku di sana.
"Om, kenapa di luar?"
"Kamu belum ada makan dan tidur selama tiga hari, Virgo. Datanglah ke ruangan saya, istirahatlah di sana."
Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.
"Saya tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Virgo. Sama seperti kamu, saya juga tidak bisa berhenti memikirkan dia. Tapi tidak seperti ini, Virgo. Tamy, pasti akan menyalahkan saya jika kamu terluka."
"Om, aku baik-baik saja. Apakah Tamy akan sadar?"
Terdengar helaan napas dari bibir om Leo, ia memandang Tamy dari balik kaca pintu kamar inap gadis itu.
"Keadaan Tamy terus menurun, saya tidak tahu sampai kapan. Tapi saya juga tidak bisa menahannya. Virgo, saya ikhlas jika Tamy ingin bebas."
"Apa yang Om katakan? Aku yakin Tamy masih bisa bertahan. Tamy gadis yang kuat, Om," ucapku tidak terima.
__ADS_1
"Virgo, apa kamu pikir saya mau seperti ini?" tanya om Leo kecut.
Om Leo menggelengkan kepalanya dan kembali menatap gadis kecilnya itu. Sesaat ia terdiam, namun perlahan air di kornea matanya mulai menggenang.
"Hampir lima tahun, saya menyaksikan sendiri bagaimana perjuangannya. Sakit yang selalu ia tahan, senyum yang selalu ia tampilkan. Saya tahu Tamy terluka, saya lebih paham bagaimana keadaannya. Tetapi Tamy terus memudarkannya, ia berusaha untuk bersikap baik-baik saja. Kamu pikir karena apa?"
Om Leo kembali menatapku dan tersenyum getir. Perlahan air matanya mulai melintasi pipi. Cepat punggung tangannya meraih dan menghapus jejaknya.
"Saya tahu, dia menyembunyikan semuanya karena saya adalah Dokter spesialis cancer. Tetapi anak saya sendiri menderita cancer yang begitu mengerihkan. Saya tidak berdaya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apa kamu pikir saya tidak merasa gagal dan bersalah?"
"Om, tapi ini semua sudah takdir. Om gak bisa menyalahkam diri sendiri," ucapku bersuha menenangkannya.
"Virgo, lima tahun. Kamu tahu lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Saya menyaksikan dengan seksama bagaimana anak saya menjalani ini semua. Sedikit demi sedikit dia akan berjalan menuju ambang kematian tetapi saya tidak bisa menghentikannya. Apa kamu pikir saya ini Ayah yang hebat? Apa saya ini masih bisa dikatakan seorang Dokter yang baik?"
Om Leo menggelengkan kepalanya, kembali menatap tubuh gadis kecilnya yang terbaring di sana.
"Dia anak saya, Virgo. Satu-satunya keluarga saya. Tetapi saya tidak punya kesempatan untuk membahagiakan dia. Saya ini orang tua yang buruk. Saya tahu apa yang dia alami tetapi saya tidak bisa menghentikan sakitnya. Saya gagal, Virgo."
Kupeluk bahu besar om Leo sembari memandangi tubuh lemah gadisku di dalam sana.
Aku tahu saat ini perasaan om Leo jelas lebih kalut dari apa yang aku rasakan. Aku percaya, om Leo juga ingin agar Tamy segera sadar.
Namun di balik itu semua, harapan yang tertinggal tidak lagi besar. Kami kehilangan jalan, kami kehilangan kesempatan.
Tamy telah terbaring di sana, dengan sisa kekuatan yang ia punya.
Tapi aku belum bisa menyerah begitu saja, aku yakin Tamy akan segera sadar dan baik-baik saja. Aku yakin, Tamy pasti, akan baik-baik saja.
***
Berhari-hari aku tidak bisa makan dan tidur. Mataku terasa sangat lelah, namun bayangan Tamy terus menghilang. Aku takut ia pergi, aku takut ia meninggalkanku sendiri.
Tamy, tidak bisakah kau merasakan? Aku merasakan takut yang teramat dalam.
"Virgo," sapa lembut seorang pria.
"Hem," jawabku tanpa membuka mata.
"Makanlah ini, aku bawakan bubur untukmu."
"Aku tidak lapar, kamu bawa pergi saja," tolakku langsung.
"Virgo, aku tahu kamu saat ini tidak selera memakan apapun. Tetapi kamu tidak bisa mati lebih dulu seperti ini," bujuknya lembut.
"Bagus jika aku mati lebih dulu, setidaknya aku tidak akan semenderita ini?"
"Kamu yakin?"
"Ya."
__ADS_1
"Apa jika kamu mati Tamy akan bahagia untukmu?"
"Ya ... setidaknya kami bisa mati bersama."
Sesaat suasana kembali hening, tidak ada perkataan yang keluar dari bibirnya lagi.
Menikmati semilir angin yang terasa sejuk menyapa kulit wajah. Kembali senyuman gadis itu terputar dalam memori ingatanku.
Lembut tawanya, manis senyumnya, kenapa selama ini aku tidak menyadarinya. Bahwa ia banyak menyimpan luka di balik itu semua.
Tamy, kamu membuatku hampir gila. Aku hampir mati saat memikirkanmu akan pergi. Aku bisa mati jika kamu memang tidak membuka matamu lagi.
"Apa ini punyamu?" Dia bertanya.
Kubuka kedua kelopak mata dan membetulkan posisi duduk. Melihat lelaki yang ada di sebelahku saat ini.
Kuraih amplop putih yang ada di tangannya dan membuka perlahan. Hasil laporan kecocokan organ tante Gina dan Tamy.
Aku lupa di mana aku menjatuhkannya kemarin.
"Ini punya ibumu, bukan milikku," jawabku sembari memberikan kembali ke tangan Riyu.
"Apa mamaku yang menginginkan ini?"
"Apa kamu pikir aku sudi memaksanya?" tanyaku sengit.
Riyu tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu kamu sangat takut kehilangan Tamy, tapi tidak bisakah kamu memakai logikamu? Bagaimana mungkin kamu membiarkan mamaku melakukan ini semua?" tanya Riyu kesal.
"Kenapa aku harus menolaknya?" tanyaku datar.
"Virgo--" Riyu mengusap wajahnya kasar.
"Aku tahu kamu punya dendam sama keluarga kami. Tapi haruskah caramu sekejam ini? Dia mamaku, dia juga mama tirimu!" bentaknya kesal.
"Lalu?" tanyaku datar.
"Virgo sadarlah! Walaupun kamu gak suka, dia tetap mamamu, tidak bisakah kamu waras sedikit saja? Aku melakukan segala cara untuk menyelamati mamaku, tapi dengan mudahnya kamu mau menukar nyawanya?"
"Jika aku bilang dia yang memaksa, apa kamu percaya?" tanyaku kembali.
Riyu terdiam, ia meremat amplop putih itu.
"Sudahlah, keadaan Tamy juga terus memburuk saat ini. Walaupun aku ingin, tetapi om Leo bilang Tamy tidak bisa melakukan operasi saat keadaannya tidak mencapai 60%. Jadi, temani saja.mamamu," ucapku sembari berjalan meninggalkan Riyu sendiri di taman rumah sakit.
Berjalan kembali ke depan kamar inap Tamy, memandangi tubuh gadis itu yang semakin mengurus dengan napas yang beberapa kali sempat terhenti.
Perlahan, buliran air mataku jatuh tanpa suara. Tidak sanggup lagi menahannya, aku tidak sanggup melihat gadisku begitu menderita di sana.
__ADS_1
"Tamy, bisakah kamu membuka mata? Aku mohon Tamy, aku sangat merindukanmu."