
"Em, itu, aku, bagaimana bilangnya ya Kak?" jawabku sedikit bingung.
"Bilang saja, apa sulitnya?"
"Itu punya teman aku, Kak. Dia minta aku bawain obat itu."
"Em, memang ini obat apa?" tanya kak Jerry yang semakin penasaran karena melihat gelagatku yang kebingungan untuk menjelaskan.
"Itu, Kak Jerry gak tahu juga gak apa-apa kok."
"Oh, benarkah? kalau gak mau kasih tahu ya sudah."
Kak Jerry mengambil tanganku dan memberikan lempengan obat itu ke tanganku.
"Ini aku kembalikan." ucap Kak Jerry jutek.
"Em, makasih Kak. Sebenarnya ini obat untuk melancarkan datang bulan."
"Eh." Kak Jerry menyeringai dan menggaruk tengkuk lehernya.
Wajahnya sedikit tersipu saat mendengarkan ucapanku.
"Kalau begitu, aku duluan ke kelas ya." Kak Jerry meninggalkan aku dengan cepat.
Ku hela nafas sedikit lebih lega, untunglah kak Jerry tidak curiga padaku.
Ku bereskan sisa barang-barangku dan berjalan kembali ke kelas. Ku lihat Virgo di depan pintu kelas.
Menyilangkan kedua tangannya dan menempelkan bahunya di tembok.
"Tamy, aku ..."
"Sudahlah Virgo, gak perlu kamu menjelaskan apapun. Aku baik-baik saja." putusku sambil berjalan melewati Virgo.
Virgo menarik tanganku sebelum sempat aku masuk kedalam kelas.
"Tamy, apa kamu benar-benar ingin kita putus?" tanya Virgo lembut.
Sejenak aku hanya terdiam, mana mungkin aku ingin putus darimu.
"Tamy, cobalah jujur padaku. Jika kamu tidak lagi nyaman. Aku tidak akan memaksamu."
Ku pejamkan mataku dan ku hela nafas panjang. Ku balikan badanku dan menatap ke wajah sendu Virgo.
"Virgo, bagaimana jika hari ini kita bolos?"
"Hem? apa?" tanya Virgo tak percaya.
"Ayo ikut aku." ku tarik pergelangan tangan Virgo dan berjalan keluar gerbang.
Sebelum bel masuk, aku dan Virgo kembali keluar dari sekolah. Sementara Virgo hanya mengikuti langkah kakiku yang berjalan menggeret tangannya.
__ADS_1
Virgo membuka penutup botol air mineral dan memberikannya kepadaku. Ku tatap jalanan pagi hari dari pinggir kursi taman kota.
Sumpek dan juga pengap, bahkan saat aku berada di luar ruangan juga. Aku masih merasa bahwa oksigen yang aku hirup terasa sangat berat.
"Tumben kamu mau bolos, Tamy?" tanya Virgo lembut.
"Virgo, apa kamu dan Aura sudah kenal sejak lama?"
"Ehm, kenal sudah lama sih. Tapi aku tidak terlalu dekat sama dia."
"Apakah kamu jujur sama aku?"
"Kamu gak percaya ucapan aku?" tanya Virgo kembali.
Aku menggulum senyum dan meneguk sedikit air untuk membasahi bibir. Ku palingkan wajahku, melihat kearah Virgo.
"Apa yang kamu rasakan saat melihat keadaan Aura seperti itu, Virgo?"
"Sedih, kasian juga. Pasti berat melewati hidup dengan satu ginjal saja."
"Jika aku yang berada di posisi Aura, apa kamu juga akan kasian sama aku?"
Virgo tersenyum dan menatap kearahku. Mencubit kedua belah pipiku dengan kuat.
"Ngomong apa? jangan suka berandai-andai yang gak penting. Jangan suka samakan dirimu dengan orang lain Tamy. Di mataku, kamu adalah sesuatu yang paling indah."
Ku lepaskan pegangan tangan Virgo, sedikit kesal, ku pukul bahu Virgo dengan kuat.
Virgo hanya menyeringai dan menarik kepalaku untuk di jatuhkan di atas bahunya.
"Tamy, aku tidak tahu. Orang bilang bahwa cinta masa remaja itu hanya sementara. Tapi aku ingin, kamulah yang menjadi cintaku selamanya."
Deg, ada sebuah panah yang terasa sangat hangat menyentuh relung hatiku.
Ku pejamkan mataku dan ku hela nafas yang sedikit lebih berat dari sebelumnya.
"Kenapa?" tanyaku getir.
"Entahlah, tapi saat orang lain bilang, perasaanku padamu tidak mungkin bertahan lama. Aku bisa meyakinkan kamu, bahwa yang namanya cinta, tak peduli mau hadir saat aku remaja ataupun sudah dewasa. Asalkan wanitanya itu kamu. Selamanya, aku akan tetap memilihmu."
Kembali ku pejamkan mata, dan meneteskan buliran bening air dari kelopak mataku.
Mendengar setiap ucapanmu ini, Virgo. Seperti ada sesuatu yang menusuk dalam hatiku, aku seperti tak bisa menerima semua perasaan cintamu ini.
"Tamy, tidak peduli mau selama apapun itu, yang aku tunggu hanyalah kamu. Hanya kamu, Tamy."
Ku tarik ingus yang hampir keluar, ku seka kedua mataku.
Menyadari tarikan nafasku yang sedikit berbeda, Virgo menarik bahuku dan mencoba menatap wajahku.
"Kamu nangis?" tanya Virgo sambil meraih salah satu pipiku.
__ADS_1
Ku gelengakan kepala dan tersenyum getir. Entah kenapa, kata-kata Virgo membuat hatiku terasa begitu nyeri.
"Tamy, kamu kenapa nangis? kamu masih gak percaya sama aku? gara-gara kemarin ya?" tanya Virgo cemas.
"Aku bukan gak percaya sama kamu, Virgo. Hanya saja, kamu jangan terlalu berharap sama aku." jawabku, menahan tangisan yang semakin pecah.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Tamy?"
"Karena suatu saat nanti, aku takut, kalau aku akan menyakitimu sangat dalam." ku tangkupkan telapak tanganku di depan mulut.
Aku tak tahan lagi menahan tangisan yang semakin dalam. Virgo meraih daguku dan menghapus buliran-buliran air yang semakin deras melintasi pipi putihku.
"Tamy, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Virgo cemas.
Dengn lembut Virgo memainkan ibu jarinya di pipiku, kembali ku lihat wajah manis Virgo yang begitu sendu.
Ku lepaskan pegangan tangan Virgo dan bangkit dengan cepat.
"Maaf, Virgo. Maafin aku." ucapku sambil berlari menjauh dari Virgo.
"Tamy!" panggil Virgo lantang.
Tak ku hiraukan panggilan itu dan terus berlari kencang. Menuju tempat kerja Ayah.
Aku langsung berlari memasuki koridor rumah sakit. Beberapa kali aku menghapus genangan air yang terus mengalir dengan deras.
Sebuah bahu menyenggol keras badanku, kembali isi dalam tasku jatuh berserakan.
Ku punguti satu persatu isi tasku. Seseorang ikut berjongkok dan membantuku memunguti isi dari dalam tasku.
"Terima kasih, Kak. Aku duluan ya." ucapku sambil meninggalkan kak Riyu di depan koridor.
Ku ketuk daun pintu ruangan Ayah dan langsung masuk ke dalam.
Ku peluk badan Ayah dan membenamkan wajahku di dalam dada bidang Ayah.
Ku pecahkan seluruh beban hatiku di dalam dada bidang Ayah.
"Tamy, ada apa?" tanya Ayah sambil mengelus pucuk kepalaku lembut.
"Ayah, ayo akhiri saja." ucapku sambil menangis dalam.
"Maksud kamu, Nak?" tanya Ayah kembali, bingung.
"Ayah aku tidak sanggup lagi, ayo kita akhiri saja."
Kurasakan tangan Ayah yang mulai gemetaran menyentuh pucuk kepalaku. Ayah mengeratkan pelukannya dan meletakan ujung dagunya di atas kepalaku.
"Tamy, Ayah mohon bersabarlah sedikit lagi ya. Ayah mohon, Tamy. Lakukan ini demi Ayah dan Virgo, Sayang." bujuk Ayah lembut.
"Tapi aku gak tahan, Ayah. Aku sudah gak sanggup, aku akan menyakiti Virgo jika bertahan lebih lama lagi." balasku dengan sedikit kesal.
__ADS_1
"Tamy, percaya sama Ayah. Kamu tidak akan menyakiti siapapun, percaya ya."