Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
32


__ADS_3

POV Virgo.


"Kamu adalah alasan, kenapa sampai saat ini aku masih bertahan."


Deg ... Serasa jantungku berhenti saat mendengar pengakuan Tamy. Aku sendiri bingung, haruskah aku senang atau malah sedih dengan pengakuan ini.


Terus terang, aku sama sekali tidak bermaksud membuat hari ini menjadi seperti ini. Tapi kalau Tamy terus menolak, aku juga bisa lelah bertahan.


Bukan ingin menyerah, hanya ingin berhenti sebentar saja. Aku lelah, jika terus mengemis dan ditolak oleh gadis yang kucintai ini.


"Virgo, percaya atau tidak. Kamu adalah harapan yang datang saat semua cahaya dalam duniaku menghilang. Karena kamu, aku ingin bertahan. Karena kamu, aku ingin melawan sakit ini, karena semenjak bertemu denganmu. Aku ingin hidupku lebih lama dari ini," ucap Tamy sambil menangis terseduh.


"Aku kehilangan harapan hidupku semenjak Ayah bilang aku mengidap kanker hati. Semua, angan dan mimpiku sirna begitu saja."


Tamy melepaskan pelukannya dan berjalan kedepanku. Memandang wajahku, dengan binar matanya yang berlapiskan kaca.


"Tapi saat menjalani hari-hariku bersama denganmu. Perlahan mimpiku kembali terbangun, dan ingin ku wujudkan menjadi nyata. Angan tentangmu terus tumbuh dan membuat aku berusaha untuk melawan ini semua."


Tamy menutup kelopak matanya, meneteskan buliran air dari mata. Tamy terdiam sejenak, ia menghela nafasnya panjang.


"Tapi aku gak sanggup Virgo, aku gak mampu lagi. Bukan karena aku ingin menyerah, sumpah Virgo. Ini sangat menyiksaku Virgo. Semua ini sangat menyiksa ku."


Tamy menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangisi segala beban hatinya.


Ku peluk badan Tamy yang terus bergatar karena menangis dalam. Entah berapa banyak air mata yang kamu tumpahkan selama ini, Tamy?


Tapi kamu berusaha menahannya sendiri. Apakah aku terlalu buruk untuk bisa kamu andalkan.


"Aku mohon Tamy, mulai saat ini berhentilah mengucapkan hal yang akan menyakiti kita berdua," ucapku lembut.


Ku leraikan pelukan Tamy dan meraih kedua belah pipinya. Menghapus air mata yang terus mengalir dan membuat matanya menjadi sembab.


"Mulai saat ini. Aku mohon percayalah padaku, aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendiri. Percayalah."


Tamy menganggukan kepalanya. Ia tersenyum pahit, sambil terus menangis.


Kenapa Tamy? kenapa kamu harus menyimpannya semua sendiri. Andai kamu memberitahuku lebih awal. Aku pasti akan ikut menanggung semua beban ini bersama denganmu.


***


Ku parkirkan motor maticku didepan pagar rumah Tamy. Ku keluarkan ponsel dan menelpon Tamy yang masih berada didalam rumah.


Suara gesekan gerbang membuat pandanganku teralih. Tamy berdiri diambang pintu dengan tersenyum lembut.


Tangannya masih merapikan helaian rambut pirangnya yang saat ini sama pendeknya denganku.


"Ayah kamu mana?" Tanyaku lembut.


"Belum pulang," jawab Tamy mentel.


"Tapi kamu sudah izin kan?"


"Sudah," jawab Tamy manja.


Ku buka jaketku dan memaikannya ke Tamy. Badan mungilnya semakin terlihat kurus saja.


"Tunggu dulu, aku ada hadiah buat kamu."


"Apa?"


Ku rogo saku belakang celana jeans, dan mengeluarkan sebuah topi rajut berwarna cokelat muda.


Tamy tersenyum dan merapikan helaian rambutnya. Ku pakaikan topi itu diatas kepalanya dan mengelusnya dengan lembut.


"Bagus gak?" Tanya Tamy, tangannya merapikan ujung-ujung topi itu.


"Mirip manequeen," jawabku lembut.


"Hem, masa sih?" Tamy memutar spion motorku dan melihat pantulan wajahnya.


Ku tundukan kepalaku dan mensejajarkannya dengan wajah Tamy.


"Tamy," panggilku lembut.


Tamy langsung melihat kearahku, mendaratkan bibirnya diatas bibirku.

__ADS_1


"Ah ... Virgo nakal," ucapnya langsung.


"Kenapa? lagian kamu sibuk sendiri sih," ucapku merajuk.


"Baiklah, ayo kita berangkat."


"Gak mau."


"Eh, kenapa?"


"Cium lagi dong," pintaku manja.


"Ah ... Enggak," tolaknya langsung.


"Kenapa?"


"Itu gak baik, Virgo."


"Kata siapa?"


"Kata Ayah."


"Seperti Ayah kamu gak pernah muda saja."


"Ih ... Virgo ayo berangkat," ucap Tamy mulai kesal.


Ku lepaskan senyumku dan melingkari bahu Tamy dengan kedua tanganku. Ku tumpuhkan daguku diatas bahu Tamy.


"Tamy," panggilku lembut.


"Kenapa?"


"Nikah yuk."


"Hem." Tamy melirik kearahku dan meleraikan pelukanku, "Kamu sehat Virgo? kita masih SMA," ucapnya ketus.


"Tapi aku takut kehilanganmu," jawabku terus terang.


Tamy tersenyum dan menarik ujung hidungku.


Ku hela nafas dan meraih pucuk kepalanya. Berapa kalipun kamu bilang, kamu baik-baik saja. Tapi aku tahu, pada kenyataannya kamu tidak baik-baik saja.


Kamu menyembunyikan banyak hal dariku, Tamy. Termasuk juga rasa sakitmu.


"Virgo," panggil Tamy lembut.


"Iya."


"Ayo jalan," ucapnya lembut.


"Kita gak usah keluar ya, duduk dirumah kamu saja."


"Loh ... Kenapa?"


"Aku malas," ucapku malas.


"Yah ... Kok gitu sih?" Tanyanya sedikit kecewa.


"Memang kamu ingin kemana?"


"Gak tahu juga sih, yasudah. Ayo masuk." Tamy membuka pagar rumahnya.


Ku dorong motor maticku memasuki garasi rumah Tamy. Perlahan ku langkahkan kaki menuju perkarangan belakang rumah Tamy.


Duduk di kursi santai taman belakang rumah Tamy dan memandang ke bentangan langit malam. Menikmati semilir angin yang terasa sangat sejuk menembus dada.


"Iya, aku gak jadi keluar. Virgo disini, Ayah jangan khawatir, aku baik-baik saja." Ku dengar Tamy berbicara lewat telepon genggamnya dengan segelas jus di tangannya.


Berjalan mendekat kearahku. Tamy menyerahkan gelas itu kepadaku dan mematikan teleponnya.


"Siapa? Ayah?" Tanyaku lembut.


"Iya, Ayah bilang gak bisa pulang dulu. Harus operasi dan ada jadwal terapi."


"Tumben Ayah kamu lembur?"

__ADS_1


"Mungkin banyak pasiennya yang sudah mulai memasuki masa kritis. Sama seperti aku," ucap Tamy sendu.


"Eh ... Bibi kemana?" Tanyaku mengalihkan perhatian Tamy.


"Bibi gak ada, semenjak aku di rumah sakit. Bibi cuma datang 3 hari sekali buat beresin rumah."


"Pantas saja rumahmu selalu kosong," jawabku lembut.


"Ayah bilang kamu jangan pulang dulu sebelum Ayah pulang ya. Jagain aku sebentar disini."


"Jangankan sebentar. Seumur hidup juga akan tetap aku jaga," ucapku menggoda.


Tamy tersenyum lembut dan menundukan wajahnya. Ia tersipu malu dan mulai merona merah.


Raut wajah yang sudah lama sekali tidak pernah ia tampilkan. Tamy, aku selalu merindukanmu, bahkan saat kamu berada didepanku seperti ini. Aku masih sangat merindukanmu.


"Memang kamu gak takut apa kalau aku repotkan? aku ini kan penyakitan," ucap Tamy sendu.


"Mau kamu buat repot, atau harus mengurus kamu yang hanya bisa menggerakan kelopak matapun. Aku bersedia," jawabku cepat.


"Ah, sekarang bilang mau. Lihat nanti kalau sudah menikah. Kamu pasti akan berubah."


"Eh, mana mungkin. Aku ini tipe yang setia dan komitmen sama kata-kata. Jadi aku pastikan aku gak akan berubah."


"Ah ... Aku gak percaya. Lelaki memang begitu, sebelum mendapatkan, bahkan bulan pun tak secantik dirimu. Kalau sudah dapat, kenapa gak kebulan saja sana," ucap Tamy dengan gaya meledek.


"Ha ha ha, aku pasti akan menyuruhmu kebulan," ucapku sedikit tertawa.


"Tuh kan, jujur kamu kan," ucap Tamy sambil mencubiti lengan tanganku.


Ku raih tangan Tamy dan mengenggamnya erat.


"Tapi bukan kebulan untuk menyingkirkanmu," ucapku lembut.


"Jadi untuk apa?" Tanyamya ketus.


"Aku akan mengirimmu kebulan, untuk menikmati indahnya cinta kita berdua."


"Hem, maksudnya?" Tanyanya bingung.


"Ke bulan, mencari madu untuk menghasilkan buah cinta kita."


"Ah ... Apaan sih Virgo," ucapnya malu-malu.


Seketika wajah Tamy berubah kemerahan, pipi putihnya terlihat sangat mempesona saat ia tersipu malu begini.


Ku raih sebelah pipi Tamy dan menatapnya dengan lekat. Sumpah demi apapun Tamy, aku benar-benar sangat benci jika harus memikirkan akan kehilangan dirimu.


Ingin rasanya aku menukar tempatmu berada, denganku. Biar aku saja yang menanggung semua.


"Tamy."


"Hem."


"Tak peduli seberapa lama kamu bisa bertahan. Mau selama apa kamu ada disampingku. Bahkan walau hanya bisa bernafas selama sedetik sekalipun. Aku tidak akan rela menukarmu dengan orang lain," ucapku lembut.


Tamy tersenyum tipis, ia meraih sebelah pipiku dengan jemari halusnya. Mengelus dengan lembut.


"Jika aku mati nanti, kamu jangan nutup diri dan juga hati ya. Kamu harus bahagia, Virgo. Aku yakin, kamu bisa lebih bahagia dari pada saat ini," ucapnya lembut.


Jujur saja Tamy, walaupun aku sangat bahagia bisa terus menatapmu. Tapi kebahagiaan ini terus berselimut luka. Aku bahkan bisa tersenyum dan menangis secara bersamaan.


Bahkan aku bisa menangis terseduh dalam tawa ceriaku bersamamu. Apapun ini, apapun yang kamu suguhkan saat ini. Semua akan menjadi kenangan indah kisah cinta kita berdua.


Tamy terbatuk, ia memejamkan matanya. Mencoba meredam rasa sakitnya.


"Tamy," panggilku lembut.


"Aku gak apa-apa." Tamy tersenyum dengan lebar, menampilkan jejeran giginya kecilnya yang berlapiskan warna merah pudar.


Ku raih bibir bawahnya dan menghapus sisa darah dari batuknya. Ku tarik kepala Tamy dan menciumnya perlahan.


Izinkan aku untuk merasakannya sedikit saja, Tamy. Jika aku tidak bisa merasakan perihmu, setidaknya biarkan aku yang akan menghapus perihmu.


Biarkan aku merasakan juga, anyir bau darah yang sering kamu muntahkan dari dalam bibirmu.

__ADS_1


Karena aku ingin tahu, aku ingin ikut menanggungnya bersama denganmu.


__ADS_2