Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
08


__ADS_3

"Dia."


"Dia? dia, siapa?" tanya Shela mengalihkan perhatianku.


Ku gulum senyum dan menggeleng dengan cepat.


"Bukan, bukan siapa-siapa, kok."


Aku duduk di barisan para suporter tim basket sekolah. Ku pandangi badan tinggi lelaki yang sedang mendrible bola itu.


Lelaki asing yang ku temui di rumah sakit, dia adalah kapten basket dari SMA swasta Jaya. Huft, yang benar saja, kebetulan macam apa pula ini?


"Nih, buat kamu." sebotol air mineral yang sudah di buka segelnya tersodor di hadapanku.


"Virgo, aku mau tanya sama kamu."


"Tanya saja." balas Virgo dengan meneguk botol air mineralnya.


"Kamu kenal sama kapten tim basket lawan?"


"Uhukk." Virgo hampir menyemburkan air minumnya saat mendengar ucapanku.


"Kenapa kamu tanyain dia?" tanya Virgo sengit. "Kamu suka ya sama dia?" Virgo menarik kedua pipiku dengan kuat.


"Aduh, aduh, Virgo." rintihku kesakitan.


"Ayo jawab, suka ya, suka ya?" Virgo mencubit kedua pipiku dengan sedikit kuat.


"Hey, kalian berdua ini. Bisa gak jangan pamer kemesraan disana sini?" tanya Shela jutek.


Mendengar ucapan Shela, Virgo langsung melepaskan tarikannya di pipiku dan kembali meneguk airnya.


Ku pegangi kedua pipiku yang kram karena tarikan Virgo. Aku hanya bertanya, kenapa reaksinya harus seperti itu?


"Jangan harap kamu bisa pandang lelaki lain, selain aku ya, Tamy. " ancam Virgo jutek.


"Aku hanya mau bayar hutang sama dia."


"Hutang? hutang apa?" tanya Virgo kembali.


"Hutang apa, kamu gak perlu tahu!" balasku sengit.


"Kamu..." ucap Virgo dengan sedikit menekan.


Bugh


Suara hantaman bola dan juga benturan keras membuat seisi lapangan terdiam.


"Aura!" Virgo langsung berlari saat melihat Aura jatuh pingsan terkena bola basket yang salah sasaran.


Aku berlari mendekati perkumpulan itu, kembali mataku menangkap hal yang seharusnya tak aku lihat.


Virgo, meletakan kepala Aura diatas pangkuannya.


Sungguh, aku muak sekali menghadapi situasi ini.


Ku balikan badanku dengan cepat dan keluar dari kerumunan itu. Tak sengaja aku menabrak dada bidang seorang lelaki di depanku.


"Kamu lagi." ucap lelaki itu dingin dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Eh, kak. Apa kabar?" tanyaku dengan tersenyum lebar.


"Baik." jawabnya datar.


"Eh, tunggu." ku rogo saku kemejaku dan ku keluarkan uang seratus ribu dari dalam saku.


"Aku mau kembalikan hutangku sama kakak hari itu." ku sodorkan uang itu ke hadapan lelaki tinggi ini.

__ADS_1


Ia hanya memandang uang itu dengan tatapan dingin. Tidak bergerak juga tidak bersuara.


Tak lama dia membalikan badannya dan meninggalkanku begitu saja.


"Eh, tunggu dulu." ku tarik lengan tangannya dan ku ambil telapak tanganya.


"Ini, aku tidak mau berhutang apapun sama orang lain." ku serahkan uang seratus ribu itu keatas telapak tangannya.


Lelaki itu hanya diam sambil memandangi tangannya. Sama sekali tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir tipisnya itu. Dasar aneh, semoga setelah ini kita gak bertemu lagi.


"Terima kasih sebelumnya, kalau gitu aku pamit dulu." aku tersenyum dan langsung membalikan badan.


Lelaki itu menutup telapak tangannya dan menggenggam tanganku dengan erat.


"Eh." ku lihat kembali tangannya yang menggenggam tanganku dengan erat.


"Traktir aku makan setelah selesai bertanding." ucapnya datar.


"Apa?" tanyaku bingung.


"Aku anggap hutangmu lunas."


"Hah?"


"Bagaimana?" tanyanya dingin.


"Itu, aku, harus pulang lebih awal, jadi gak bisa nemeni kamu makan." ku lepaskan senyum kaku dan juga ku garuk pipiku yang tak gatal.


"Oh." jawabnya datar. Lelaki itu dengan cepat membalikan badannya dan menarik tanganku yang dia genggam dengan erat.


"Eh, tunggu dulu, kenapa narik tangan aku?" tanyaku bingung sambil mengikuti langkah besarnya dengan sedikit berlari.


"Sepertinya tangannmu akan lengket terus jika kamu tidak segera melunasi hutangmu."


"Baiklah, baiklah." ku tahan dengan cepat langkah kaki lelaki itu dan ku lepaskan secara paksa genggaman tangannya.


"Aku akan menunggumu di luar lapangan setalah pertandingan selesai." ucapku malas.


Ku gelengkan kepalaku saat melihat sikap tenangnya itu, sungguh jarang sekali dia berbicara. Hanya bicara saat dia butuh saja.


Semoga setelah hutang ini lunas kita tidak bertemu lagi. Ku kibaskan rambut pirangku kebelakang dan berjalan kembali ke bibir lapangan. Keribuatan tadi sudah mereda dan tidak ku lihat lagi Virgo ada di lapangan ini.


"Dasar, tidak ada rasa, tidak ada rasa. Tapi saat lihat Aura kena bola, panik juga." rutukku geram.


"Apa-apaan dia? main pangku cewek lain seenaknya? awas saja!" ku genggam jemari tanganku kuat-kuat karena kesal oleh sikap Virgo.


"Akan ku kutuk kamu menjadi budak cintaku selamanya!"


"Siapa yang kamu kutuk itu, Tamy?" tanya seorang dari belakangku.


"Hey, aku masih marah sama kamu, dan kamu masih berani buat aku bertambah marah?"


"Apa yang aku buat lagi?"


"Menurutmu apa?" tanyaku sengit.


"Karena aku bantuin Aura? ayolah Tamy, kita ini teman."


"Teman?" tanyaku sambil berjalan mendekat. "Teman apa yang begitu mesra?"


"Mesra bagaimana?" tanya Virgo kembali.


"Sudah ku putuskan, aku gak peduli kamu mau ngadu apa ke Ayah. Aku mau kita putus!"


"Tamy, kenapa kalau marah selalu ucapain kata putus? kita masih bisa bicarain ini baik-baik."


"Gak ada yang bisa di bicarain, kita selesai!" ucapku membara.

__ADS_1


Ku tinggalkan Virgo sendiri disana dan berjalan dengan cepat menuju kelasku. Sepanjang jalan tak berhenti mulutku bergerutu dengan kesal.


"Awas saja kamu Virgo. Akan ku buat kamu menyesal!" rutukku geram.


Aku tidak tahu apa yang membuat Virgo bisa sepeduli itu pada Aura. Jika alasannya hanya karena Aura memiliki satu ginjal, apa hubungannya dengan dia?


Dasar lelaki hidung pelangi, akan ku buat kamu membayar semua ini.


Ku lirik jam di tangan kiriku, sudah lima belas menit berlalu setelah pertandingan selesai, kemana lelaki tinggi itu? apa dia hanya mengerjaiku saja?


Lihat saja, siapapun yang berani melawan Rintamy Khalia, akan ku buat masa mudanya tidak baik-baik saja.


Ku tumbukan kepalan tanganku ke dalam telapak tangan. Moodku memburuk hari ini, kuharap lelaki itu tidak membuat mood aku semakin meledak-ledak.


"Hanya menunggu sebentar, kenapa moodmu sudah terbakar?" ku palingkan badanku saat mendengar ucapan lelaki itu.


Lelaki yang tinggi menjulang itu terlihat sedikit lebih ganteng saat memakai seragam putih abu-abu.


"Ayo." ajaknya sambil berjalan melewatiku.


Ku ikuti langkah kaki besarnya yang berjalan menuju kantin dasar sekolahku.


Ku tarik sisi kemeja putinya saat ia ingin masuk ke kantin dasar.


Lelaki itu hanya mengalihkan pandangannya, melihat kearahku.


"Jangan makan disini, menu disini gak ada yang bisa aku makan. Ikut aku ke kantin lantai 2 ya."


Lelaki itu hanya memandang kearahku, tanpa menjawab sepatah katapun. Kenapa aneh sekali sikapnya.


"Ayo." ku tarik pergelangan tangannya dan menaiki tangga menuju lantai 2.


Ku pilih tempat duduk dengan pemandangan ke bawah. Lelaki itu hanya memandang kesekeliking tanpa banyak bicara, memang irit sekali dia berbicara, seperti berbicara membutuhkan biaya saja.


'Hais, dasar. Kenapa aku bisa terjebak oleh lelaki ini, Tuhan?' lirihku dalam hati.


Ku bawakan dua piring nasi dan juga dua gelas jus, melatakan dengan cepat ke hadapannya.


"Tak ada menu yang lain?" tanyanya membuka suara.


"Dari tadi kenapa diam saja? aku kan gak tahu kamu mau makan apa?" ucapku sedikit geram.


"Kamu gak nanya." balasnya datar.


Ku hela nafas dengan berat dan ku gulum senyum terpaksa. Luar biasa, lelaki ini betul-betul menguji kesabaranku.


"Jadi kamu mau makan apa?" tanyaku dengan tersenyum kaku.


Lelaki itu melihat ke display para pedagang, matanya menelisik satu persatu penjual disana.


"Aku gak suka."


"Hah, maksudnya?" tanyaku bingung.


"Aku gak suka makanan disini."


"Jadi kenapa gak bilang dari tadi?" tanyaku sambil memotong ayam dalam piringku dengan kasar.


"Gak nanya."


"Baiklah." ku letakan sendokku dengan sedikit membanting.


"Kamu mau makan di kantin dasar? aku akan temani." dengan cepat aku bangkit dari kursi.


Namun sebuah tangan menekan bahuku untuk kembali duduk. Menahan aku untuk pergi dari kursi itu.


"Jika kamu mau makan aku akan temani, jangan menyulitkan Tamy lagi, Riyu."

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum dan memandang Virgo yang berdiri di belakangku dengan tajam. Ku perhatikan wajah Virgo yang terlihat lebih dingin dari biasanya.


"Lama tidak bertemu, Virgo." balas lelaki itu dingin.


__ADS_2