
Sehari telah berlalu dengan sangat lambat bagi Talitha. Semua harus sesuai dengan keinginan Kaiden, Talitha tidak diperbolehkan melakukan apapun dan hanya diperbolehkan istirahat saja.
Kejenuhan terjadi padanya, mau turun dari ranjang saja langsung ditatap tajam oleh Kaiden.
Setelah seharian penuh hanya berdiam diri di istana nya Kaiden, akhirnya tiba juga untuknya melepaskan diri dari pandangannya.
" Kau tidak boleh berada di sisiku , itu akan menimbulkan kecurigaan ", kata Talitha dengan ketus.
" Aku akan menemukan alasan agar bisa berada di dekatmu ", kata Kaiden dengan santainya.
" Cukup, aku tidak mau terlibat dengan kalian para vampir " , Talitha mengatakan itu dengan ekspresi marahnya.
' Walaupun kau berusaha menjauh dari para vampir, kau akan selalu terlibat dengan kami gadis kecil ' Kaiden memandang punggung Talitha yang sudah menghilang di balik dinding.
" Kau sudah kembali Kaj ? " , tanya Raska yang melihat Kaiden memasuki ruang kelas.
" Sudah, karena tandanya sudah menghilang ", jawabnya dengan sedikit kesal.
" Lalu kenapa kau kesal ", tanya Raska kembali setelah melihat raut wajahnya.
" Karena jika aku berada disisinya sekarang akan menimbulkan kecurigaan ", kata Kaiden dengan sedikit kesal .
" Kau terlalu naif Kai, Kau tentu bisa disisi nya jika dia pacarmu ", kata Raska memberikan titik terang masalahnya.
" Kau benar , aku akan mengatakannya sekarang " Kaiden berdiri dan hendak melangkah pergi tetapi dicegah oleh Azka yang sedari tadi hanya menyimak.
" Itu akan membuat mereka semakin curiga Kai ", kata Azka yang mulai berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Kaiden.
" Tiba - tiba seorang Kaiden mendekati manusia biasa untuk jadi pacarnya ", kata Azka kembali.
" Lalu bagaimana ? ", kata Kaiden yang sudah berbalik dan duduk kembali.
" Kau harus pelan - pelan mendekatinya dan membuat kalian selalu bertemu tanpa sengaja " , kata Raska yang memahami tentang pendekatan yang alami.
" Baiklah ", kata Kaiden yang memandang ke arah luar jendela kelasnya.
Di kelas lain kegaduhan terjadi karena Talitha memasuki ruang kelas itu. Siapa lagi kalau bukan Vania pembuat onar nya. Dia berjalan dengan cepat dan menarik Talitha duduk di kursi yang mereka tempati dan menceramahi Talitha dengan panjang kali lebar.
" Kau ini dari mana saja ? Tiba - tiba menghilang tanpa kabar. Untung aku belum menanyakan ke keluargamu jika kau tidak disini maka akan terjadi keributan dan kau mungkin akan dipindahkan dari sini ", Talitha tercengang melihat sahabatnya mengomel tanpa henti padanya.
__ADS_1
" Kau tahu aku sangat cemas, aku bangun di kamar asrama mencari mu kesana kemari kau um ", ucap Vania terhenti karena Talitha menutup mulut sahabatnya itu.
" Kau bisa diam dulu. Aku pusing mendengar omelan mu itu ", setelah itu Talitha melepaskan tangannya.
" Kau ini benar - benar, aku kan hanya khawatir ", kata Vania dengan ekspresi cemberutnya.
" Aku baik - baik saja , kemaren ada sedikit masalah jadi tidak bisa menghubungi mu ", kata Vania dengan meletakan kepala di atas meja.
" Masalah apa ? Kenapa sekarang kau lemas sekali seperti telah terjebak dengan vampir seperti katamu itu ", kata Vania melihat sahabatnya yang lesu dan lemas itu.
" Apa kau ingat sesuatu ", kata Talitha dengan mendongakkan kepala menghadap ke Vania.
' Tidak mungkin mereka tidak menghapus ingatannya kan ? ' gumamnya dalam hati.
" Ingat apa ? Aku hanya ingat kita pulang bersama ke asrama dan pagi hari nya kau menghilang ", kata Vania yang merasa bingung.
" Syukurlah tidak papa ", jawab Talitha yang ingin meletakan kepalanya kembali tapi terhenti karena kedatangan Afkar dan Leo.
" Kau sudah kembali ", kata Afkar yang berhenti di depan kursi Talitha.
" Hm ", jawabnya singkat.
" Tidak ada, hanya sedikit masalah. Tapi kini sudah tersleesaikan ", jawabnya lagi.
" Syukurlah , kau membuat ku cemas karena tidak ada kabar ", katanya lagi dan beranjak ke tempat duduk nya di belakang Talitha.
" Hm ", hanya itu tanggapan dari Talitha.
Bel tanda pelajaran sudah berbunyi. Semua murid dengan tenang memperhatikan guru yang mengajar mereka. Sementara Talitha memikirkan cara supaya dia bisa terlepas dari Kaiden.
Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi semua murid berhambur keluar untuk menuju kantin karena sudah merasa lapar. Saat Talitha dan Vania akan pergi menuju kantin dia melihat the most wonted sekolah ini sedang berdiri di pintu kelasnya.
Dengan keengganan Talitha melangkah keluar bersama Vania. Saat akan melewati mereka tangan Talitha di cekal oleh Kaiden.
" Ada apa ? " kata Talitha dengan ketus nya.
" Aku hanya ingin bersama mu ke kantin ", katanya yang masih memegang tangan Talitha.
" Aku bersama Vania , kau kan juga bersama teman - temanmu itu ", kata Talitha menunjuk teman - teman Kaiden di belakangnya.
__ADS_1
" Aku hanya mah dekat dengan mu " , katanya lagi dengan ekspresi datarnya.
" Sudahlah Tha, aku sudah laper banget nih ", kata Vania tanpa bisa menunggu lebih nama.
" Baiklah tapi lepaskan dulu tangan mu ", kata Talitha yang pasrah.
Kaiden melepaskan tangannya tanpa berbicara lagi. Ketika dia akan berbalik menyusul Talitha yang sudah berjalan duluan ke kantin matanya bertemu pandang dengan Afkar dan menatapnya tajam.
' Apa yang sedang dia rencanakan nya , kenapa tiba - tiba seorang Kaiden mendekati manusia biasa. Mungkin Talitha bukan manusia biasa, setelah mereka menghilang bersama aku yakin ada yang terjadi ' gerutunya dalam hati.
" Pangeran " , kata Leo yang berbisik menyadarkan tuannya agar tidak menatap Kaiden terus.
" Hm ayo kita ikuti mereka ", kata Afkar yang berdiri dari kursinya mengikuti Kaiden dan teman - temannya yang sudah berjalan lebih dulu.
" Baik ", kata Leo mengikuti perintah tuannya.
Setelah mereka semua sampai di kantin Talitha dan Vania langsung memesan makanan dan mencari tempat duduk. Mereka merasakan jadi pusat perhatian karena diikuti oleh empat cowok ganteng di sekolah ini. Ada yang memandang dengan rasa iri dan juga ada yang mencela nya.
" Kenapa kalian tidak duduk di tempat lain " , kata Talitha dengan ketusnya.
" Bukankah tadi kau sudah mengijinkan kami ikut ", bukan Kaiden yang menjawab malah Azka bertanya lagi ke Talitha.
" Terserah kalian saja , aku malas berurusan dengan kalian ", kata Talitha.
" Sudah Tha , sekali kali kita ditemani oleh pria pria tampan ini " , kata Vania yang memandang mereka berempat.
" Hm " jawabnya singkat dan malas jika sudah menyangkut pria tampan sahabatnya ini akan keras kepala.
" Bolehkah kami ikut bergabung " tanya Afkar yang sudah menyusul mereka bersama Leo.
" Boleh boleh silakan duduk ", jawab Vania yang antusias kapan lagi coba bisa duduk dengan pria pria tampan ini.
' Ini semakin menyebalkan ', gerutu Talitha dalam hati.
Afkar merasa merinding melihat tatapan Kaiden padanya karena duduk di sebelah Talitha tapi dia berusaha cuek dan tidak peduli padanya.
Makanan mereka akhirnya telah diantarkan kemudian mereka memakan tanpa suara.
Talitha hanya bisa diam dan memikirkan hari harinya akan semakin sulit dengan kelakuan Vania dan juga ke enam vampir ini.
__ADS_1