Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 9


__ADS_3

Sementara di tempat lain, ada seorang gadis yang terbangun dari tidurnya dengan ekspresi kebingungan.


" Dimana Talitha ? Apa dia sudah berangkat duluan? Tapi tidak mungkin ", katanya dengan matanya yang terus mencari dan mengamati seluruh kamar.


Setelah memastikan Talitha tidak berada dikamar mereka, gadis itu kemudian bersiap diri dan pergi ke sekolah.


Di dalam kelas pun tidak ditemukan Talitha, akhirnya dia duduk dengan menghela nafas sedari tadi mencari keberadaan Talitha.


" Dimana Talitha ", tanya Afkar pada gadis yang sedang duduk dengan lesu didepannya.


" Entahlah , aku juga tidak tahu. Dia tidak ada di manapun dan tidak bilang apa - apa padaku ", katanya dengan sangat lesu.


" Mungkinkah dia pulang mendadak ke rumahnya ? " , tanya Afkar lagi.


" Tidak mungkin dia pulang tanpa memberitahuku ", jawabnya dengan meletakkan kepalanya diatas meja.


" Memangnya terakhir kalian bertemu kapan " , tanya Leo yang diam sedari tadi.


" Entahlah aku juga tidak ingat. Aku hanya mengingat kami pulang ke asrama saja dan terus tidak ingat ", katanya lagi dengan menutup matanya mengingat - ingat kejadian kemarin setelah mereka pulang bersama.


' Mungkinkah ', gumam Afkar yang saling pandang dengan Leo memikirkan kejadian kemarin.


Kebingungan mereka berhenti ketika kelas sudah dimulai. Mereka masih memikirkan Talitha yang tiba - tiba menghilang tanpa kabar.


Setelah bel istirahat berbunyi dengan lemas Vania berjalan menuju kantin walau enggan sendiri kesana tapi rasa lapar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


" Kau masih memikirkan Talitha ", tanya Leo yang sudah mendudukkan dirinya didepan Vania bersama dengan Afkar.


" Hm " jawabnya sambil memakan makanannya .


Afkar memindai seluruh ruang kantin dan menemukan Azka, Raska dan Bryan kecuali Kaiden yang ada di sana.


' Apakah Kaiden masih menyembunyikan gadis itu ? Dan kenapa bertepatan dengan menghilangnya Talitha . Mungkinkah gadis itu Talitha ? ' gumamnya dalam hati.


Leo kemudian menyadarkan Afkar dengan menepuk pelan tangannya dan memberi isyarat untuk melihat Vania dengan benar. Kaiden yang tersadar dari lamunannya menyadari arah tatapan Leo dan ia terkejut.


' Itu ' , katanya dalam hati dengan memandang Vania.


" Van semalam kau benar - benar tidak ingat apapun ", tanya Leo yang mengerti bahwa Afkar akan menanyakan hal yang sama.


" Entahlah, aku tidak ingat apupun hanya terbangun di kamar tanpa adanya Talitha ", jawab Vania dengan sedikit rasa sedihnya karena Talitha pergi tanpa kabar.


" Hm baiklah kau sudah menghubungi keluarganya ? ", tanya Leo lagi.

__ADS_1


Vania berpikir sejenak, apa harus menghubungi ayah Talitha. Tapi akan membuatnya merasa cemas dan mungkin akan langsung memindahkan anaknya ke sekolah lain.


Vania mengetahui dengan pasti bahwa keluarganya terutama ayahnya melarang Talitha di sekolah ini setelah kejadian satu tahun lalu.


" Tidak bisa ", katanya dengan nada semakin sedih.


" Kenapa " , tanya Leo lagi.


" Ada hal yang tak bisa diceritakan, jika aku menanyakan Talitha ke keluarganya dan mengatakan dia pergi tanpa kabar maka dia tidak akan kembali ke sini lagi setelah dia kembali ", kata Vania yang mengingat cerita Talitha beberapa bulan lalu.


" Bagaimana bisa begitu ? " , kata Afkar yang mulai penasaran dengan kehidupan Talitha yang sepertinya agak rumit.


" Sudahlah, nanti dia juga akan kembali ", kata Talitha membereskan piringnya dan kembali ke kelasnya.


Semantara di sisi lain kantin, ketiga orang itu yang tak lain adalah Azka, Raska dan Bryan memperhatikan dengan cermat gerak - gerik mereka.


" Apa mereka selalu mendekati gadis itu ? ", kata Bryan yang belum mengerti kenapa mereka melakukan itu.


" Entahlah " , setelah mengatakan itu Azka teringat tentang Raska yang menggigit leher Vania semalam.


" Tunggu, mungkinkah mereka menyadari bekas gigitan mu Ras ? " , tanya Azka yang tadi sempat melihat Afkar dan Leo menatap Talitha dengan seksama.


" Bisa jadi, karena gigitan itu akan menghilang besok ", kata Raska dengan santainya.


Keduanya saling pandang mendengar ucapan Bryan dan setelah itu mereka menghela nafas bertanda mereka baru menyadarinya.


" Bisa jadi mereka akan mengawasi Vania dan Talitha. Dan petunjuk tentang gadis itu mengarah ke mereka bukan ? " , kata Raska yang kini sepenuhnya sudah mulai gusar.


" Kau benar Ras, kuharap Kaiden tidak akan membuat kecerobohan dengan ada disisi Talitha besok ", kata Azka yang mengerti bagaimana Kaiden akan menjaga Talitha dengan ketat mulai besok.


" Kita harus mengabarinya jika Afkar sudah mulai mencurigai kedua gadis itu dan juga kita harus lebih cepat menemukan gadis penyihir api biru itu ", kata Raska yang memikirkan kemungkinan terburuknya jika mereka terlambat menemukannya.


" Kau benar Ras, tapi ku rasa gadis penyihir api biru itu akan datang saat para vampir mulai merasakan kehausan menghisap darah manusia pada saat bulan purnama ", setelah Azka mengingat sedikit ramalan tentang hari bulan purnama itu.


" Kita harus bertindak cepat dan selalu waspada terutama kau Bry ", kata Azka lagi.


" Iya iya aku mengerti ", jawab Bryan dengan sedikit kesal karena dirinya dianggap ceroboh


Setelah itu bel tanda pelajaran akan dimulai kembali berbunyi . Mereka satu persatu meninggalkan kantin menuju ke kelas mereka.


Di dalam ruang kelas pelajaran sudah dimulai, akan tetapi ada gadis yang masih saja melamun memikirkan sesuatu. Gadis itu adalah Vania yang masih terus memikirkan dimana keberadaan Talitha.


Beberapa jam pun telah terlewati, kini tiba saatnya untuk semua murid pulang ke asrama.

__ADS_1


Vania berjalan dengan cepat , siapa tahu dia akan menemukan Talitha yang sudah kembali ke kamar nya.


" Dimana dia ? " , kata Vania setelah masuk ke kamar dan meletakan tasnya.


" Harus nya kau bilang jika mau pergi begini ", katanya lagi dengan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya tanpa membuka seragamnya.


Beberapa saat dia memejamkan matanya dan tertidur karena terlalu resah memikirkan Talitha.


Di kamar yang lain, ada yang sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.


" Kalian sudah menemukan gadis penyihir api biru ? ", tanya Afkar dengan ekspresi seriusnya.


" Belum pangeran ", kata para bawahannya itu.


" Masih belum ada petunjuk pangeran, tapi jika peramal itu benar maka tahun ini gadis itu akan menampakan diri pangeran ", kata bawahan itu yang masih berdiri di depan pangeran mereka.


" Benar, bulan purnama kali ini akan ada sesuatu yang berbeda ", kata Afkar lagi yang mengingat kata - kata gadis yang melayang itu mungkin.


" Di malam itu, kalian jangan dengan paksa menghisap darah manusia. Karena kemungkinan akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa " , kata Afkar sedikit menjelaskan.


" Maksud pangeran ?" , kata bawahan itu tidak mengerti.


" Gadis yang dicurigai sebagai gadis penyihir itu mengatakan kutukan itu. Jika kita menghisap darah manusia dengan paksa kita akan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Itu tidak bisa diremehkan. Bukankah diantara kalian pernah menyaksikan kejadian itu sendiri ", kata Leo panjang lebar.


" Iya ", jawab para bawahan yang menyaksikan kejadian itu dengan serentak.


" Lakukan terus pencarian dan segera kabari aku ", kata Afkar yang sudah mulai lelah.


" Baik pangeran, kami permisi ", kata salah satu bawahannya.


Wush ...... wush.......wush........


Mereka menghilang secepat mungkin dan melaksanakan tugas yang telah diperintahkan.


" Pangeran, apakah kita perlu menyelidiki Vania sekali lagi ", kata Leo .


" Tentu Leo, kita belum mendapat informasi apapun tentang dia " , kata Afkar.


" Sekarang kau keluar lah aku akan istirahat dan kita selidiki ini besok pagi " , kata Afkar yang sudah berjalan menuju kasurnya untuk memikirkan rasa kecurigaannya.


' Jika besok Talitha kembali bersama Kaiden maka bisa dipastikan gadis manis itu adalah Talitha bukannya Vania ', kata Afkar dalam hati dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.


" Saya permisi pangeran ", kata Leo kemudian beranjak pergi dari kamar Afkar.

__ADS_1


Leo sangat mengetahui bahwa rasa curiga pangerannya sudah melebihi batas tetapi belum menemukan titik terang diantara kedua gadis itu.


__ADS_2