Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 5


__ADS_3

Keesokan harinya semua murid digegerkan dengan kedatangan murid baru yang menurut mereka adalah pria - pria tampan seperti para pengurus OSIS di sekolahnya.


" Tha, akan ada murid baru disini, dan katanya mereka ganteng - ganteng ", kata Vania dengan antusias.


" Bukankah kau kemarin habis pingsan ? Bagaimana bisa sekarang kau memikirkan pria tampan itu ? ", tanya Talitha yang mulai jengah dengan sahabatnya ini.


" Aku sudah baik - baik saja apalagi melihat para pria tampan itu masuk kelas kita ", kata Vania dengan semangat.


" Hm terserah kau saja " , jawab Talitha yang menundukkan kepalanya ke atas meja.


Dia merasa bingung bagaimana menghadapi mereka nantinya, apalagi ingatan Vania telah dihapuskan olehnya. Dan itu pasti akan menimbulkan kecurigaan bagi mereka.


Setelah guru masuk ke ruang kelas Talitha dan Vania. Semua murid merasakan antusias terutama murid perempuan karena melihat dua orang ganteng datang bersama guru mereka.


" Silakan perkenalkan diri kalian " , kata guru itu.


" Aku Afkar " , katanya singkat sambil memerhatikan semua murid dikelas itu.


Dan matanya melihat gadis yang kemaren dicarinya, Ia menarik salah satu sudut bibirnya.


Dan itu disadari oleh Talitha, sekarang dia bingung harus berbuat apa lagi untuk mencegah Vania ikut terseret dalam kasus para vampir ini.


" Aku Leo " , kata orang disebelahnya dengan singkat.


" Pangeran, gadis itu " , kata Leo berbisik saat menyadari gadis yang kemaren dicarinya.


" Bukankah ini menarik, kita menemukannya tanpa susah payah mencarinya ", kata Afkar berbisik pula.


Dia mulai membaca pikiran semua siswa di kelasnya itu dan tersenyum manis. Pasalnya banyak yang mengatakan bahwa mereka ganteng dan ingin jadi kekasih mereka. Ada yang menarik perhatiannya, gadis yang kemaren hampir dihisapnya pun bisa dibaca pikirannya, tapi berbeda dengan gadis disebelahnya itu karena dia tidak bisa membaca pikirannya sama sekali.


Setelah perkenalan singkat itu, guru akhirnya menyuruhnya duduk ditempat yang kosong. Alangkah seakan takdir mendukungnya, mereka duduk dibelakang meja Talitha dan Vania.


" Hai aku Vania, salam kenal " katanya sambil mengarahkan tangannya ke Afkar dan Leo secara bergantian.


" Afkar "


" Leo " , kata mereka bergantian.


" Siapa gadis di sebelahmu itu ? " tanya Afkar yang penasaran karena dia tidak tertarik akan keberadaannya dan Leo.

__ADS_1


" Dia Talitha, sahabatku ", kata Vania dengan tersenyum manis.


" Diam Van, aku mau belajar " , kata Talitha singkat tanpa memperdulikan kedua orang yang duduk dibelakangnya itu.


Suasana menjadi tenang sampai bel bunyi istirahat terdengar. Talitha dengan cepat mengandeng tangan Vania menuju kantin tanpa mempedulikan gadis itu yang menggerutu tak jelas.


" Tha, aku harusnya aku disana untuk melakukan pdkt dengan mereka. Siapa tahu mereka mau jadi pacarku ", kata Vania yang menggerutu sepanjang jalan.


' Seandainya kau tahu mereka vampir pemburu, kau pasti akan ketakutan Van ' , kata Talitha dalam hati.


Merekapun sampai di kantin dan memesan makanan. Setelah mendapatkan makanannya mereka duduk dengan diam.


" Dia gadis itu ", kata Bryan yang sedang makan bersama teman - temannya tanpa sengaja melihat gadis itu.


" Dimana " , tanya Raska yang mengikuti arah pandang Bryan.


" Gadis itu bukannya gadis yang kau bicarakan Az ? " , tanya Raska dengan menunjukkan tangannya ke arah gadis itu.


" Iya, mungkinkah dia ", kata Azka terhenti karena Bryan memotong bicaranya.


" Bukan dia tapi gadis didepannya itu ? " , kata Bryan menimpali.


" Tunggu berarti gadis yang kemungkinan adalah penyihir api biru itu yang didepannya ? " , tanya Bryan dengan sedikit bingung.


" Tapi gadis yang kulihat melayang itu adalah gadis didepannya itu ", Bryan melanjutkan ucapannya lagi.


" Ini aneh ", kata Kaiden yang sedari tadi diam saja mulai bersuara.


Sebelum mereka melanjutkan obrolan mereka, mereka tercengang melihat Afkar dan Leo telah mendatangi gadis tadi dibicarakannya.


" Boleh bergabung " , kata Leo untuk mewakili mereka mendekati kedua gadis itu.


" Boleh , silakan duduk saja ", kata Vania antusias karena kedua murid baru yang kegantengannya terkenal sekolah duduk bersama mereka.


" Cepat selesaikan makanmu, aku harus ke perpus " , kata Talitha yang sudah menyelesaikan makanannya.


" Kau ini, kan mereka baru duduk Tha ", kata Vania dengan sedikit kesal karena sikap Talitha.


" Terserah kau saja ", ucap Talitha kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


" Tunggu, aku ikut ke perpus " , kata Afkar yang beranjak dari duduknya mengikuti Talitha.


" Biarkan saja mereka " , kata Leo yang mengerti akan pangerannya itu.


" Baiklah ", kata Vania sedikit lesu tapi tetap melanjutkan makannya dengan riang karena berduaan dengan Leo yang merupakan pria ganteng.


Sementara disisi lain kantin, ada yang berpikir keras kenapa kedua vampir pemburu itu mendekati para gadis itu. Lebih aneh lagi Afkar malah mendekati gadis didepannya, bukan gadis yang dibicarakan Bryan kemaren.


" Ini aneh Kai ", kata Azka melihat kejadian itu.


Iya, kenapa dia lebih tertarik akan gadis itu dibandingkan gadis yang melayang kemaren yang hampir dihisapnya ", Kata Bryan yang mengerti kebingungan mereka.


Tanpa menjawab keduanya Kaiden sudah pergi mengikuti gadis itu dan Afkar. Entah mengapa rasanya tidak tenang membiarkan mereka berdua pergi.


" Kaiden kebiasaan deh " , kata Bryan lagi.


" Ras, kau harus mendekati gadis itu " , kata Azka dengan menunjukan tangannya mengarah ke Vania dan Leo.


" Aku tahu, Leo tidak akan mendekati manusia biasa tanpa tujuan bukan ? Aku harus mencari informasi darinya ", kata Raska melihat kedua berbincang - bincang.


Di tempat lain, tempatnya di perpustakaan Talitha mendudukan dirinya di pojok perpus tersebut. Dengan tenang dia mulai membaca buku yang tadi diambilnya.


" Kenapa kau membaca itu ", Kata Afkar yang tadi melihat sampul buku berjudul " Kingdom of Vampir ".


" Entahlah, mungkin aku menyukainya ", jawabnya tanpa peduli.


" Kau menyukai vampir ? " , tanya Afkar dengan sedikit keheranannya.


" Bukan menyukai vampir, tapi cara memusnahkannya " , kata Talitha yang masih membolak- balikkan kertas di buku itu.


" Kau percaya vampir itu ada dan ingin memusnahkannya ? " tanyanya lagi dengan sedikit bingung.


Menurutnya dia gadis yang aneh tidak mungkin ada yang bisa memusnahkan kaum vampir walaupun itu gadis penyihir api biru.


" Bukankah kau percaya itu ", tanpa mempedulikan keheranan Afkar, Talitha mulai menutup bukunya.


" Kau benar - benar berbeda, aku juga tak bisa membaca pikiranmu " , gumam Afkar yang masih didengar Talitha.


" Gunakan kemampuan itu, untuk orang lain saja dan jangan mengusik sesuatu yang seharusnya tak kau usik " , kata Talitha berdiri meninggalkan Afkar yang termenung sendiri.

__ADS_1


Disisi lain ada yang mendengar obrolan mereka. Ada kebingungan dihatinya, seberapa banyak yang gadis itu tahu tentang vampir dan kenapa dia berniat memusnahkan vampir. Dengan kebingungan itu dia berjalan mengikuti gadis itu.


__ADS_2