
Matahari telah menampakkan sinar nya yang hangat dan terang yang membuat suasana semakin nyaman untuk beraktifitas.
Pagi ini terjadi kehebohan di sekolah karena ada siswa baru yang mulai masuk hari ini.
Semua mata terpesona akan ketampanannya yang luar biasa terutama para siswi perempuan yang berbondong bondong ingin melihatnya secara langsung.
Begitu pula dengan Vania yang sudah heboh pagi pagi begini karena mendengar kabar baik menurutnya itu.
Kabar yang selalu dinantikan apalagi kalau bukan muncul nya para pria tampan.
" Tha ", kata Vania yang melihat sahabatnya hanya diam saja saat orang orang di kelas nya sibuk membicarakan siswa baru tersebut.
" Hm " , jawabnya santai karena enggan menanggapi sahabat nya itu.
" Kau itu harus nya penasaran dengan siswa baru itu ", katanya dengan mata yang antusias karena mendengar rumor nya yang luar biasa.
" Bukan urusanku ", jawab nya lagi.
' Aku malas membuat masalah lagi terlebih sudah ada dua pria menyebalkan yang selalu membuatku pusing ', gerutunya dalam hati.
" Baiklah baiklah aku akan bergabung dengan mereka ", kata Vania pergi beranjak dari duduknya dan pergi ke teman temanya yang sedang bergosip.
Talitha hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat kelakuan sahabat nya itu.
Tak lama setelah itu Afkar dan juga Leo sudah berada di dalam kelas.
Mereka langsung menuju ke tempat duduk tanpa mempedulikan siswa siswa yang sedang bergerombol bergosip itu.
Leo sempat melirik Vania saat melihat dia begitu antusias bergerombol dengan mereka. Leo samar samar mendengar Vania begitu penasaran akan ketampanan seseorang membuat nya sedikit kesal.
' Kenapa aku kesal saat mendengar dia mendambakan ketampanan seseorang '
' Bukankah itu hal biasanya baginya ' gumamnya dalam hati.
Sedangkan Afkar sudah berada di samping gadis nya . Ralat bukan gadis nya tapi diklaim sebagai miliknya itu.
" Kau kenapa ? " , tanya nya dingin saat melihat dia melamun.
" Haah ", kata Talitha tersadar dari lamunannya.
" Tidak papa ", jawabnya cuek dan memandang ke arah dimana Vania masih bergosip ria itu.
" Jangan ikut ikutan atau hukuman mu menanti mu ", kata Afkar dengan ketus.
" Kenapa kalian selalu mengatur ku dan menghukum ku padahal itu hak ku sendiri ", gerutu nya lirih tapi masih di dengar oleh Afkar.
" Siapa yang berani menghukum mu selain aku ", katanya dengan dingin.
" Kaiden ", kata Talitha reflek menjawab pertanyaan Afkar itu.
" Berarti kau terus berhubungan dengan nya ? ", kata nya dengan dingin dan sedikit mengeluarkan auranya.
" Bu...kan bukan begitu ", kata Talitha terbata bata dengan kata katanya.
__ADS_1
" Sudah lah ", jawab Afkar yang kembali menetralisir kan auranya kembali karena tidak ingin membuat kegaduhan di kelas nya.
Talitha menghela nafas lega karena Afkar kali ini tidak memperpanjang masalah kali ini.
Setelah bel berbunyi semua siswa kembali ke tempat duduk nya masing masing.
Pelajaran di mulai seperti biasa dan tengah pelajaran suara pintu di ketuk.
Tok .......... Tok......... Tok.......
" Masuklah ", kata guru yang sedang mengajar di kelas.
Masuk lah seorang pria tampan yang tadi digosipkan siswa siswa di kelas.
Semua nya menjadi tercengang dengan kehadirannya itu. Tak terkecuali Vania dan juga Talitha.
Vania tercengang karena ketampanan pria itu. Sedangkan Talitha tercengang karena dia mengenal orang itu.
" Dia " gumam Talitha lirih tapi masih bisa didengar Afkar dan Leo.
Afkar menatap tajam ke arah orang yang membuat Talitha tercengang. Ia memancarkan hawa perang saat mendengar gumaman Talitha tadi.
" Perkenalkan dirimu ", kata guru tersebut datar walau sedikit tercengang akan ketampanan siswa nya itu.
" Nama ku Yusriel ", katanya dingin.
Semua siswa yang mendengar suara nya semakin mendamba karena suaranya dingin seperti es tapi mempesona di telinga mereka.
" Hm ", jawabnya dengan singkat dan matanya terus menatap Talitha dengan ekspresi datar nya.
" Baiklah kau boleh duduk ", kata guru itu akhirnya membiarkan murid nya untuk duduk.
" Boleh kah aku duduk di samping nya ? ", tunjuk Yusriel dengan jari telunjuknya mengarah ke Talitha.
Talitha yang mendengar dan melihat itu semakin syok dengan tingkah lakunya itu.
' Kau membuatku menjadi bertambah masalah '
, gerutu Talitha dalam hati.
" Tapi Talitha sudah ada teman sebangkunya " , kata guru itu menjelaskannya.
Yusriel tidak mempedulikan perkataan guru di depannya dan berjalan ke meja Talitha dan Vania.
" Bisakah kau pindah ? ", katanya dengan dingin.
Melihat sorot mata dan suaranya membuat Vania gelagapan dan akhirnya menyetujuinya untuk pindah bangku di depan Talitha yang memang kosong sejak awal.
" Baiklah ", katanya dan kemudian beranjak pindah ke depan bangku Talitha.
Setelah duduk di samping Talitha, Yusriel berkata dengan sedikit senyum tersungging di wajah nya.
" Aku merindukanmu baby ", katanya dengan mengedipkan sebelah mata dan tersenyum cerah.
__ADS_1
" Kau ", kata Talitha terhenti saat tak sengaja melihat sorot mata Afkar yang tajam padanya saat mendengar Yusriel mengatakan kata kata itu.
" Apa ? ", katanya tak peduli walau sebenarnya dia tahu orang duduk di belakang Talitha menatap nya dengan tajam.
Talitha menarik nafas nya dan menghembuskan secara perlahan kemudian beralih ke depan melihat guru yang menerangkan pelajarannya .
Tanpa mempedulikan orang yang di samping dan juga di belakang nya seolah olah siap berperang itu.
Waktu berlalu dengan lambat bagi Talitha karena merasakan aura yang terpancar dari kedua nya.
Bel istirahat pun berbunyi siswa siswa pun bergegas menuju kantin kecuali Talitha, Vania , Yusriel, Leo dan Afkar.
" Kau mengenal nya Tha ", tanya Vania semangat
" Tentu saja ", Bukan Talitha yang menjawab tapi Yusriel yang menjawabnya.
" Dia siapa mu Tha ", tanya lagi penasaran.
" Tentu orang yang spesial bagi Talitha ", jawab Yusriel dengan datar.
' Dia benar benar membuatku semakin sulit. Tapi mungkin dengan begini Afkar dan Kaiden berhenti mendekati ku ' , gumam Talitha dalam hati.
" Hm " , jawab Talitha membuat tangan Afkar mengepal dan juga sedikit mengeluarkan aura kevampiran nya.
Melihat itu pun Leo segera menyadarkan nya dengan menyenggol tangannya sedikit keras.
' Jadi dia adalah vampir ', kata Yusriel dalam hati karena merasakan aura vampir yang keluar dari tubuh pria di belakang Talitha.
" Benarkah ? Sejak kapan kah tak cerita soal ini Tha " , kata Vania yang menunjukkan ekspresi sedihnya.
Leo yang melihat itu sedikit menarik sudut bibir nya. Pertanda Vania tidak akan mendekati murid baru bernama Yusriel itu.
Tapi sedetik kemudian dia sadar bahwa tuannya akan sangat marah mengetahui hal tersebut.
" Bukan urusanmu ", kata Yusriel kemudian berdiri mengajak Talitha dengan menarik tangannya mengikutinya pergi.
Mereka bertiga yang melihat itu hanya tercengang dan juga ada yang marah dengan itu semua.
" Tenang pang.....maksudku Afkar ", kata Leo saat merasakan aura vampir Afkar semakin bertambah besar.
Sementara Vania masih belum menyadari karena tercengang dan membatin dalam hati.
' Akan terjadi perang dunia diantara mereka yang mengejar Talitha ', gumam nya dan beranjak pergi karena perut nya sudah mulai berdemo untuk makan.
Setelah kepergian Vania, Leo berkata dengan tegas.
" Kau harus tenang. Jangan sampai membuat sekolah ini hancur dan membuat dia semakin menjauh dari mu ", kata Leo.
Perlahan lahan Afkar mulai menetralkan aura nya kembali.
" Kau benar. Aku takkan membiarkan dia lari dariku ", kata nya dengan dingin dan beranjak pergi dari duduknya itu.
Leo juga mengikutinya kemanapun tuannya akan pergi takut akan kelepasan dengan aura nya tersebut.
__ADS_1