
Setelah seharian selalu diikuti oleh Afkar dan juga Leo akhirnya Talitha dan Vania kembali ke masa tenang mereka. Karena mereka berada di kamar asrama mereka.
Talitha merebahkan badannya di ranjang nya dan menatap langit langit kamar nya. Mengingat kejadian dimana Azka memberi nya permen cokelat kesukaannya.
Entah mengapa dia merasa begitu familiar saat bersama Azka tapi dia lupa kapan mereka pernah bertemu. Dia juga berpikir bahwa Azka juga tidak menunjukkan tanda tanda bahwa dia mengenalnya sama sekali.
Dia juga teringat kejadian dimana Kaiden memperlakukannya dengan sangat tidak sopan menurutnya.
Walau itu bukan pertama kalinya Kaiden mencium nya tapi entah mengapa dia selalu merasa kesal saat Kaiden maupun Afkar mencoba menciumnya dengan paksa.
Talitha jadi semakin merindukan ayahnya dan ingin kembali ke mension ayah nya.
Tiba tiba Vania berkata dengan panik
" Tha aku telah menghubungi ayahmu ", kata Vania yang terduduk di ranjang karena tadi sedang rebahan sama seperti Talitha.
" Apa ? ", kata Talitha kaget juga langsung mendudukkan dirinya di ranjangnya.
" Lalu " , kata Talitha lagi semakin panik.
" Iya dia marah karena kau telah membohonginya dan mungkin akan menjemputmu Tha ", jawab Vania dengan raut muka sedih di wajahnya.
" Kau ceroboh sekali ", kata Talitha dengan lesu. Dia sudah tahu jika ayahnya akan langsung bertindak saat mengetahuinya bersekolah disini.
" Maaf Tha. Saat itu aku panik. Kau tahu kan kau menghilang dua hari ?", katanya dengan raut wajah penuh penyesalan.
" Bahkan aku meminta bantuan Kaiden dan juga Raska kemarin tapi tidak ada kabar dari mereka jadi aku menghubungi ayahmu ", kata Vania lagi.
" Iya sudah lah ", kata Talitha lagi.
" Lalu bagaimana Tha ? " tanya Vania penasaran akan apa yang akan dilakukan Talitha selanjutnya.
" Entahlah " , jawab Talitha menaik - turunkan bahunya.
" Maksudmu ? ", tanya Vania tak mengerti.
" Jika ayah datang menjemput ku itu akan sangat bagus untukku ", jawab Talitha kembali merebahkan badannya di atas ranjangnya
" Berarti kau akan meninggalkan aku dong ", jawab Vania dengan raut muka sedih.
" Iya Van. Aku sudah lelah menghadapi Afkar yang tiba tiba berubah menjadi seperti penguntit " , jawab Talitha dengan wajah yang lelah seharian ini selalu diikuti Afkar maupun Leo.
" Iya kau benar. Aku juga bingung kenapa Afkar dan Leo tiba tiba selalu mengikuti kita iya ?", tanya Vania yang penasaran akan tingkah Afkar dan juga Leo.
__ADS_1
' Aku tahu kenapa mereka mengikuti kita ' , kata Vania dalam hati.
" Tha ", panggil Vania yang melihat sahabatnya ini malah melamun tak mempedulikan kaya kata nya.
" Hm ", jawab Talitha yang sudah sadar dari lamunan nya.
" Aku tak mau kau pergi dari sekolah ini ", kata Vania dengan penuh kesedihan seakan akan dunia akan runtuh.
" Sudahlah sekarang istirahat saja. Aku lelah ", kata Talitha kemudian memejamkan matanya.
" Kau ini ", kata Vania yang terhenti saat melihat Talitha memejamkan matanya.
Sementara di tempat lain
" Apakah aku harus menjemputnya paman ", kata orang yang sedang duduk di depan meja kerja seseorang.
" Untuk sekarang jangan ", kata nya dengan memainkan bolpoin yang ada di tangannya.
" Lalu bagaimana ? Bangsa vampir pasti sudah mengetahui siapa jati dirinya ", kata orang itu lagi.
" Belum sepenuhnya ", jawab orang yang memainkan bolpoin tadi.
" Maksud paman ? ", kata orang itu tidak paham.
" Hanya mengetahui tentang darah nya saja ", jawab orang itu enteng.
" Tidak terlalu besar untuk sekarang Riel ", jawab orang yang dipanggil paman tadi.
" Mereka yang mengetahui nya masih menjaga rapat rapat rahasia itu supaya para senator tidak mengetahuinya "
" Walau kadang mereka saling berebut untuk menghisapnya tapi masih dalam tahap wajar ", kata orang yang di panggil paman itu.
" Lalu sekarang apa yang harus ku lakukan paman ", kata orang yang diketahui dipanggjl Riel.
" Kau akan menjaganya selama disana tapi ingat sembunyikan kekuatanmu "
" Jangan terlalu gegabah karena itu akan sangat berbahaya bagi nya dan juga dirimu ", kata orang itu lagi.
" Baik paman saya mengerti ", kata Riel dan beranjak pergi setelah berpamitan dengan orang yang tadi di panggil paman oleh nya.
Setelah kepergian Riel tadi orang itu mengambil pigura yang ada di meja kerja nya dan mengusapnya dengan pelan.
" Sekeras apapun aku menjauhkan mu dari dunia itu kau tetap berjalan ke arah mereka " , kata nya dengan mengguratkan kesedihan yang mendalam di hatinya.
__ADS_1
" Akankah kau bisa bertemu dengan dia di sana . Tapi ayah juga tidak tahu keberadaannya setelah ibu mu juga menghilang bersamanya ", katanya lagi yang mengingat dimana anak dan isterinya menghilang dengan tiba tiba.
" Ayah hanya bisa menjaga mu saja karena takdir mu tidak bisa di pisahkan dari mereka ", katanya lagi kemudian meletakan piguranya kembali ke tempatnya.
Setelah perkataan terakhir itu dia beranjak dari ruang kerja nya menuju ke kamar putri nya yang sangat dirindukannya
Menghirup aroma yang ada di dalam kamar itu untuk sejenak melepas rindunya.
Dia telah berusaha sekuat tenaga nya menyembunyikan putri nya dari dunia yang dulunya adalah dunia tapi takdir membuatnya menelan pil pahit saat isteri dan anak yang lain nya juga menghilang.
Selain itu juga dia juga tak pernah membiarkan putri nya mengetahui kekuatannya karena itu sangat beresiko baginya.
Tapi karena kejadian setahun lalu putrinya jadi mengetahui jati dirinya dan juga mulai mempelajari kekuatannya secara diam diam.
Dan putri nya memilih pergi di mana dunia yang disembunyikan ayahnya itu untuk membalaskan dendam atas kejadian itu.
Rasa penyesalan yang mendalam yang dialami membuat nya menjadi bertindak kejam dengan putrinya saat dia terluka langsung mengurungnya di ruang bawah tanah mension nya agar tidak ada yang mengetahui darah manis putrinya itu.
Sekarang dia merebahkan badannya di kasur putrinya itu dan tertidur lelap disana. Selama putri nya pergi dia akan ke kamar putrinya jika merindukannya.
Sementara di ruangan yang lain di mension itu juga.
" Bagaimana Yusriel " , terdengar suara yang mengejutkannya.
" Kau mengagetkanku " , katanya dengan sedikit kesal.
" Kau saja yang tidak peka ", jawabnya dengan sinis.
" Itu karena kau muncul tiba tiba ", katanya dengan ketus.
" Lalu apa yang akan kau lakukan ", tanya nya lagi.
" Aku akan menyusul nya sesuai perintah paman ", jawabnya lagi dengan tenang.
" Kau akan menjaga nya disana ", tanya nya penuh selidik.
" Iya aku takkan membiarkan hal itu terulang lagi ", katanya dengan tangan yang terkepal erat.
" Aku tahu ", jawabnya lagi.
" Pergilah aku lelah " , katanya dengan ketus.
" Kau benar benar tuan menyebalkan ", jawabnya kemudian masuk ke dalam tubuh Yusriel.
__ADS_1
" Dasar serigala menyebalkan ", katanya dengan memejamkan matanya di tempat tidur nya.
" Ku harap kau terhindar dari hal buruk Tha ", katanya lagi kemudian tertidur dengan pulas