Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 8


__ADS_3

Di suatu kamar yang mewah dan nyaman , seorang gadis dibaringkan dengan hati - hati. Dia menatap wajah pucat gadis itu dan menyentuh beberapa bekas gigitan yang sudah mengering darahnya.


" Maafkan aku membuatmu diketahui orang lain, jika saja aku tak mencoba menyelidiki mu . Mungkin hidupmu masih aman dan nyaman " , kata laki - laki itu yang kini mengelus wajahnya dengan pelan.


" Eugh " , gadis itu mulai tersadar dari pingsannya dan menerjap - nerjapkan matamya.


" Kau siapa ? " , kata gadis itu yang terkejut langsung mendudukkan badannya yang terbaring.


" Aku Kaiden " , kata orang itu mencoba membantunya untuk mencari posisi duduk yang nyaman tapi ditepis oleh gadis itu.


" Dimana ini ? Dan kau ? " , kata gadis itu terhenti ketika ingatannya kembali ke bayangan dimana dia dihisap darahnya dan mengingat Vania yang masih terpisah dengannya.


" Dimana Vania , apakah kalian ", kata gadis itu terhenti karena terpotong ucapan Kaiden.


" Dia baik - baik saja , dan sekarang ada di kamarnya ", jawabnya dengan tenang.


" Lalu kenapa aku disini ? " , tanya Talitha dengan bingung.


" Untuk sementara kau akan disini sampai kau benar - benar pulih ", kata Kaiden.


" Aku tidak mau , aku akan kembali ke kamar ku ", katanya lagi dengan mencoba bangkit berdiri tapi ditahan oleh Kaiden.


" Jangan keras kepala ! Apa kau ingin digigit lagi haah ? " , kata Kaiden yang sedikit geram.


" Untuk apa aku disini, aku mau pulang sekarang ! " , kata Talitha dengan keras kepalanya.


Kaiden mendorong badan Talitha kembali ke ranjang dan langsung menindihnya dengan cepat dan menghimpit nya membuat pergerakan Talitha terhenti.


" Aku sudah bilang kau harus disini untuk memulihkan keadaanmu ", katanya dengan nada sedikit tinggi.


" Aku pokoknya mau pulang , lepaskan aku ", kata Talitha dengan meronta - ronta.


" Aku sudah memperingatkan mu " , kata Kaiden kemudia dia mendekatkan kepalanya kearah tulang selangka gadis itu.


" Hentikan kumohon ", katanya dengan sedikit terisak.


Krauk .........


" Akh " , katanya tercekat merasakan gigitan kesekian kalinya hari ini.


Setelah menggigit dan puas menghisap darahnya. Dia menatap wajah gadis dibawah kukungan tubuhnya itu.


" Jika kau membantahku lagi ini akibatnya ", katanya lagi dengan ekspresi wajah dingin.


Dheg.............


' Kenapa aku jadi terjebak dengannya ' , katanya dalam hati.

__ADS_1


setelah selesai Kaiden melepaskan kukungan tubuhnya pada gadis itu dan kembali duduk ditempatnya. Kaiden mulai mengambil makanan dan memberikannya pada gadis itu.


" Makan ini ", kata Kaiden yang menyuapkan sendok ke arah mulut Talitha.


Talitha dengan patuh menghabiskan makanan karena tidak mau digigit lagi oleh Kaiden. Setelah selesai makan, Kaiden membaringkan tubuh Talitha lagi untuk beristirahat. Dengan patuhnya Talitha mengikuti semua perintah Kaiden.


" Maaf gadis kecil, ini demi kebaikanmu " , bisik Kaiden ditelinga Talitha setelah memastikan Talitha telah tertidur pulas dan mengecup kening Talitha.


Tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya, Kaiden menghubungi Azka, Bryan dan Raska melalui telepon hpnya tapi tidak tersambung. Setelah lelah menghubungi teman - temannya, dia akhirnya membaringkan tubuhnya di samping gadis itu dan menariknya ke dalam pelukannya. Akhirnya Kaiden terlelap dengan damai.


Sementara di tempat lain , masih ada yang memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.


" Mungkinkah gadis itu adalah gadis penyihir api biru pangeran ? ", kata Leo yang sudah diobati akibat luka dari pertarungan tadi.


" Entahlah . Aku juga masih bingung tentang itu , tapi dari yang ku tahu gadis penyihir api biru mempunyai darah yang spesial yang menjadi incaran para vampir. Dan siapa pun yang memilikinya akan menjadi yang terkuat diantara semua vampir ", kata Afkar yang kembali mengingat ucapan leluhurnya.


" Dan kita harus menemukan sebelum Kaiden dan teman - temannya ", kata Afkar lagi.


" Baik pangeran , dan tentang ucapan gadis yang melayang itu bagaimana pangeran ? " , kata Leo dengan ekspresi bingung.


" Kita harus menghindari menghisap darah dengan paksa, karena kurasa ucapan itu tidak main - main ", kata Afkar lagi.


" Baik pangeran ", kata Leo dengan menganggukkan kepalanya.


" Sekarang kita istirahat , besok mulai pencarian informasi kembali ", kata Afkar.


" Jika Kaiden sudah mendapatkan gadis penyihir itu, aku harus merebutnya darinya ", kata Afkar yang memandang langit dari jendela kamarnya.


Malam pun berlalu dengan cepat dan tenang.


Keesokkan harinya , Talitha terbangun terlebih dahulu.


' Kenapa dia tidur disini ? ', katanya dalam hati dan memandang wajah yang tertidur lelap disampingnya.


Sesudah bergumam sendiri , Talitha tersadar dan kemudian mulai beranjak dengan perlahan agar tidak membangunkan orang itu. Saat tangan Talitha akan mencapai pintu, ada yang menggenggam tangannya dengar erat. Talitha terdiam membisu ditempatnya. Tangan itu mendorong dan membalikan tubuh Talitha dengan cepat dan menabrakkan ke pintu kamar itu.


Brak..............


" Aughk " , kata Talitha merasakan punggungnya sakit terbentur pintu.


" Kau mau kabur dari sini " , katanya dengan sorot mata dingin dan tajam.


" Mm... tidak aku hanya..... ", kata Talitha mencoba memikirkan kata - kata yang tepat.


" Hanya apa haah ? " , tanyanya lagi dengan sorot mata yang lebih tajam.


" Hanya mau ke sekolah, iya kan hari ini masih sekolah ", kata Talitha yang menemukan jawaban yang tepat.

__ADS_1


" Kau akan disini untuk beberapa hari ", katanya lagi dengan ekspresi dinginnya.


" Tapi.....", kata Talitha terhenti.


" Tidak ada bantahan atau kau mau aku ", ucapannya terhenti dan memandang manik mata cokelat kehitaman milik Talitha.


" Iya iya, tapi lepaskan dulu ini sakit ", kata Talitha meringis karena merasakan tangannya yang nyeri.


" Baiklah " , katanya lagi dan langsung menggendong Talitha didepan tubuhnya dan membawa nya ke ranjang lagi.


" Jangan coba - coba kabur atau kau akan. ", kata Kaiden terhenti.


" Iya iya aku tahu ", kata Talitha dengan ekspresi cemberutnya yang membuat Kaiden ingin mencubit pipinya yang menggembung itu.


Kaiden beranjak ke kamar mandi setelah memastikan perkataannya dipatuhi Talitha. Setelah membersihkan dirinya , Kaiden memberikan baju ke Talitha dan menyuruhnya membersihkan diri.


Setelah beberapa menit kemudian, Talitha selesai membersihkan diri dan menunggu di kamar tidur Kaiden.


" Kau , sudah selesai ", kata Kaiden dengan mendorong troli makanan mereka.


" Hm ", kata Talitha dengan malas.


" Sekarang makan ini " , katanya lagi yang memberikan sepiring makanan ke Talitha.


Dengan malas Talitha menerima itu dan mulai memakannya.


" Makan dengan benar jika kau ingin cepat ke sekolah ", kata Kaiden yang meminum gelas minuman berwarna merah itu dan memperhatikan Talitha yang enggan memakan makanannya.


" Benarkah ? " , tanya Talitha dengan antusiasnya.


" Iya tapi tunggu bekas gigitan itu menghilang " , kata Kaiden lagi.


" Lalu kapan ini menghilang, Vania pasti akan mencariku ", gerutu Talitha yang masih didengar Kaiden.


" Itu akan menghilang besok . Dan mulai sekarang aku akan selalu ada di dekatmu , suka ataupun tidak suka kau harus menerimanya ", kata Kaiden dengan serius.


" Mengapa kau harus berada di dekatku , setelah bekas itu hilang para vampir takkan menyerangku ", kata Talitha dengan ketus.


" Keberadaan mungkin sekarang sedang diselidiki oleh beberapa vampir ", kata Kaiden yang sudah tidak heran mengapa Talitha bisa tahu tentang vampir.


" Itu semua gara - gara kau , andai saja kau tak menggigitku kemarin, aku masih bisa tenang dan nyaman ", kata Talitha dengan kesal.


" Aku minta maaf , aku akan menjagamu mulai sekarang ", kata Kaiden dengan serius.


" Percuma saja , jika kau ada di sekeliling ku itu akan menimbulkan kecurigaan ", kata Talitha yang memikirkan dirinya nantinya.


" Sudahlah kau istirihat saja ", kata Kaiden yang sudah mengambil piring yang tadi diberikannya kepada Talitha.

__ADS_1


Dengan berat hati Talitha membaringkan tubuhnya lagi di kasur itu. Mau membantah takkan ada gunanya, malah dia akan bertambah lama disini pikirnya.


__ADS_2