
Di tempat yang sepi dengan penerangan yang sedikit redup seseorang duduk di kursi kebesarannya.
" Kau terlalu bodoh ", katanya dengan memandang orang berjubah hitam yang sudah tersadar dari pingsannya.
" A...ku minta maaf pangeran ", kata orang itu dengan sedikit gugup.
" Kali ini akan ku maafkan , tapi ingat jangan bertindak sebelum ada perintah lagi ! ", katanya dengan nada sedikit tinggi.
" Baik pangeran ", orang itu sedikit lega karena bisa dimaafkan dengan begitu akan terhindar dari hukuman yang akan diterimanya.
" Bagaimana sekarang pangeran ? ", kata orang yang terus berdiri di samping orang yang dipanggil pangeran.
" Kita fokuskan pencarian kita di sekolah ini. Dan kau ! Akan ikut bergabung dalam tugas ini dan ingat kau hanya bertindak sesuai perintah !" , jawabnya dengan tenang untuk memikirkan langkah selanjutnya.
" Baik pangeran ", jawab orang berjubah hitam itu dengan membungkukkan badannya dan beranjak pergi dari ruangan itu.
" Leo , apakah gadis beraroma manis itu sudah dipastikan ? " , tanyanya mengingat gadis yang beberapa Minggu yang lalu dibawa Kaiden.
" Entahlah Pangeran, Kaiden hanya mengikuti Talitha dan Vania saja, tapi dia lebih protektif terhadap Talitha. Belum bisa dipastikan antara mereka pangeran " , jawab Leo.
" Cara satu - satunya adalah dengan menghisap darahnya Leo, tapi akan sulit kita lakukan terlebih Talitha kelihatannya sudah mengetahui tentang vampir ", katanya lagi mengingat perkataan Talitha yang seperti memojokkannya.
" Benarkah pangeran ", tanya Leo dengan sedikit terkejut pasalnya orang biasa takkan menyadari keberadaan mereka.
" Jika dia gadis biasa maka tidak akan menyadari keberadaan kita, tapi Vania juga bisa saja berpura - pura tidak tahu untuk mengelabuhi kita ", kata Afkar sedikit menjelaskan.
" Benar Pangeran, jika Vania adalah gadis yang kita temui waktu itu seharusnya dia mengenali kita, tapi kenyataan nya dia seperti pertama bertemu " , Leo mengingat momen pertemuannya dengan Vania dulu.
" Mungkin kekuatan nya akan muncul jika dia dalam bahaya ", kata Afkar yang mulai menebak nebak kemungkinan yang terjadi.
" Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan pangeran ? ", tanya Leo sedikit penasaran dengan langkah selanjutnya.
" Kau tetap awasi Vania dan korek informasi darinya. Aku akan mendekati Talitha sambil melihat reaksi Kaiden itu pasti akan menyenangkan " , kata Afkar yang mengingat perdebatan nya dengan Kaiden.
" Baik pangeran " , kata Leo mengerti maksud pangerannya itu.
" Pergilah aku ingin istirahat " , kata Afkar yang sudah berdiri dan beranjak menuju kasurnya.
" Baik pangeran ", Leo beranjak pergi dari ruangan itu setelah menundukkan kepalanya.
Di tempat lain ada seseorang yang sedang kelelahan dan hampir pingsan karena tenaganya banyak terkuras.
Hha Hha Hha.........
__ADS_1
Nafasnya sedikit terengah - engah dan pandangan nya mulai kabur dan akhirnya dia terjatuh sebelum ke kamarnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Vania yang akan sampai ke kamarnya melihat Talitha yang tergeletak di depan kamar mereka menjadi terkejut kemudian berlari menghampirinya.
" Tha , bangun ", Vania menepuk - nepjk pelan pipi Talitha tapi tidak mendapatkan respon juga.
Akhirnya Vania dengan susah payah membawanya ke kamar dan meletakan nya di kasurnya Talitha.
" Sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa aku bisa ada diluar dan juga kau pingsan ", kata Vania setelah duduk di pinggiran ranjang kasur Talitha.
" Apakah ini perbuatan vampir seperti di film - film itu ? Tapi mustahil , ini kan dunia nyata " gumamnya yang masih kebingungan.
" Sudahlah lebih baik aku tidur ", katanya lagi dan kemudian beranjak menuju kasurnya di samping kasur Talitha.
Keesokkan harinya semua berjalan seperti biasanya. Namun ada ke khawatiran kala Vania mencoba membangunkan Talitha yang tak sadarkan diri dari semalam.
" Tha, bangun udah pagi ", kata Vania dengan menepuk - nepuk pipinya.
" Kenapa dia tidak bangun - bangun. Aku perlu memanggil dokter jaga di UKS ", Vania beranjak dari kasur Talitha dan pergi menuju UKS.
Di dalam perjalanan menuju UKS Vania bertemu dengan Raska.
" Kenapa kau ke arah sini ? Bukankah kelasmu ke arah sana ? ", tanya Raska yang bingung Vania pergi ke arah yang berbeda dari arah kelasnya.
" Aku harus ke UKS memanggil dokter untuk memeriksa Talitha ", kata Vania yang berhenti sejenak.
" Talitha tidak sadarkan diri dari kemarin malam ", jawab Vania melanjutkan perjalanannya diikuti Raska.
" Dari Semalam ? " tanya Raska yang bingung seharusnya tidak akan terjadi apapun karena gadis penyihir itu mencegahnya.
" Iya aku menemukannya saat kembali ke kamar. Talitha sudah tergeletak di sana ", jawab Vania yang mengingat kembali kejadian semalam.
" Lalu pagi ini, Talitha belum sadarkan diri sama sekali ", katanya lagi dengan sedikit kekhawatiran di hatinya.
" Tenanglah , pasti semua akan baik - baik saja ", kata Raska yang mencoba menenangkan hati Vania yang terus khawatir.
" Iya terimakasih sudah mau menemani aku ke UKS ", ucap Vania dengan sedikit lega.
" Sama - sama ", jawabnya sambil tersenyum.
Setelah mereka memanggil dokter jaga dari UKS lalu kembali ke kamar Talitha dan Vania.
" Bagaimana keadaannya dok ? ", tanya Vania yang melihat dokter sudah selesai memeriksa Talitha.
__ADS_1
" Dia baik - baik saja, hanya saja belum sadarkan diri entah karena apa ? ", kata dokter jaga itu setelah mengemas peralatannya.
" Lalu harus bagaimana dok ? " , tanya Vania yang mulai cemas.
" Biarkan dia istirahat beberapa hari dulu, dan ini resep obat dan vitaminnya ' , dokter itu memberikannya kepada Vania.
" Terimakasih banyak dok ", kata Vania kemudian mengantar dokter itu keluar dari kamarnya.
" Bagaimana keadaannya ? ", tanya Raska yang ternyata masih menunggu didepan kamar Vania dan Talitha.
" Kata dokter dia baik - baik saja, hanya saja belum sadarkan diri saja ", kata Vania dengan sedikit lesu.
" Tenanglah, biar aku saja yang menebus resep obatnya kau jaga saja Talitha ", kata Raska mengambil kertas resep obat dari Vania.
" Sekali lagi terima kasih, bukan hanya tampan kau juga baik hati ", Vania tersenyum dengan sangat manis.
" Kau terlalu memuji. Kalau begitu aku pergi dulu ", kata Raska kemudian pergi menebus resep obat itu.
" Iya ", jawab Vania yang kembali ke kamarnya lagi untuk melihat Talitha.
" Kau sebenarnya kenapa Tha ? ", katanya dengan memerhatikan wajah Talitha yang pucat.
" Sebenarnya apa yang terjadi semalam, kenapa kau bisa tergeletak di depan pintu kamar kita. Aku juga tidak mengingat apapun semalam ", katanya lagi kemudian menyentuh dahi Talitha namun tidak terasa panas sama sekali.
Jika dilihat Talitha hanya seperti orang yang sedang tidur panjang yang enggan membuka matanya. Wajahnya yang putih bersih itu terlihat pucat.
Setelah beberapa menit Raska kembali ke kamar Vania dan Talitha menyerahkan obat dan vitaminnya yang baru ditebus.
Tok..........tok.......tok.......
" Ini obat dan vitaminnya ", Raska menyerahkan obat dan vitamin kepada Vania.
" iya terimakasih ", kata Vania yang menerima obat tersebut.
" Bolehkah aku melihatnya ", kata Raska sedikit penasaran keadaan Talitha.
" Tentu saja ", Vania mempersilakan Raska masuk untuk melihat keadaan Talitha.
" Dia hanya seperti orang yang sedang tidur tapi wajahnya pucat sekali ", kata Raska yang memandang wajah Vania.
" Iya, aku juga sedikit bingung. Tapi kata dokter dia akan baik - baik saja. Hanya kelelahan dan kehilangan banyak tenaga katanya ", kata Vania menimpali perkataan Raska.
' Kenapa hanya Talitha yang pingsan dan seperti kehilangan banyak tenaga sedangkan yang lainnya baik - baik saja ' , gumam Raska dalam hati.
__ADS_1
" Sekali lagi terima kasih telah membantu menebus obatnya dan bisakah sampaikan pada guru kami bahwa kami tidak bisa masuk ", kata Vania yang mengingat hari ini seharusnya dia dan Talitha masuk ke kelas mereka.
" Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ", kata Raska beranjak meninggalkan kamar Vania dan Talitha.