
Sementara di tempat lain
" Kau kenapa ? ", tanya Leo yang melihat tuannya itu menunjukkan ekspresi kesalnya.
" Apa kau belum menemukan mata mata itu ? ", bukannya menjawab pertanyaan Leo Afkar berbalik bertanya.
" Belum ada petunjuk. Pihak senator akan selalu berhati hati dan juga waspada kan ? ", tanya Leo pada Afkar.
" Kau benar menemukan mata mata mereka akan sulit. Kalau begitu kita harus buat kericuhan sesuai rencana kita sebelumnya ", kata Afkar dengan memikirkan konsekuensi yang akan dihadapi jika rencana mereka dilakukan sebelum menemukan mata mata para senator itu.
" Kau yakin ? ", tanya Leo dengan dahi sedikit berkerut. Pasalnya baru kemarin Afkar meminta menunda rencana setelah mengetahui mata mata dari para senator itu.
"Jika kita terus menunggu takkan ada hasilnya dan juga para senator itu akan mengusik kita ", kata Afkar menjelaskan pada Leo.
" Benar juga ", kata Leo membenarkan perkataan Afkar.
Tak berapa lama kemudian Daniel datang membawa berita yang membuat mereka sedikit terkejut
" Tuan ", kata Daniel sambil membungkukkan badannya.
" Ada apa ? ", tanya Afkar dengan memandang Daniel yang telah membungkuk itu.
" Aku mendengar bahwa Bryan berhasil menemukan binatang spirit dan sudah kembali ke sekolah ini ", kata Daniel melaporkan hasil yang didapat anak buahnya.
" Benarkah ? ", tanya Afkar seakan tak percaya dengan ucapan Daniel.
" Sepertinya aku sempat melihat nya tadi ", kata Leo yang seperti ingin membenarkan ucapan Daniel.
" Bukankah aku menyuruh Leo untuk menyelidiki tentang kepergian Bryan kenapa Daniel yang memberikan hasilnya ? ", tanya Afkar dengan sedikit marah karena Leo akhir akhir ini seakan tak konsen dengan tugas nya.
" Maaf ", kata Leo dengan menundukkan kepalanya.
" Kau terlalu fokus pada perasaanmu Leo. Ingat jangan jatuh terlalu dalam dengan manusia biasa ", kata Afkar memperingati Leo yang sudah mulai terjerat dengan Vania. Walaupun Leo tak pernah menceritakan pada Afkar tapi gerak geriknya selalu diperhatikan oleh Afkar.
" Ya ", kata Leo pasrah walaupun hatinya tak bisa dikendalikan olehnya untuk berhenti mencampur adukkan urusan tugas dan perasaan pribadi.
" Bagus ", kata Afkar singkat.
" Lalu bagaimana hasil penyelidikan mu tentang Yusriel ? ", tanya Afkar pada Daniel.
" Belum ada petunjuk pangeran ", kata Daniel dengan sedikit takut pasalnya dia belum menemukan apapun.
" Hm itu berarti aku harus melakukannya sendiri ", gumam Afkar dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar Leo.
__ADS_1
" Kau yakin ? ", tanya Leo pada Afkar.
" Ya ", jawabnya dengan yakin.
" Bagaimana jika Yusriel menjadi mengetahui identitas mu ? " tanya Leo pada Afkar lagi.
" Itu lebih baik karena ku rasa dia bukan manusia biasa ", jawab Afkar lagi.
" Baiklah terserah kau saja ", jawab Leo.
" kumpulkan semua anggota kita akan melakukan rencana kita yang tertunda " kata Afkar dengan tegas.
Mendengar hal itu Daniel sedikit terkejut pasalnya kemarin mengatakan akan menunda selama belum menemukan mata mata para senator itu.
Walaupun terkejut dengan cepat Daniel mengumpulkan semua anggota berkumpul diruang pertemuan.
Afkar menjelaskan rencana nya akan dimulai beberapa hari depan dan menyuruh semua anggota mempersiapkan segala sesuatu dengan lancar dan juga menjaga rahasia supaya tidak bocor ke pihak Kaiden maupun pihak para senator.
Setelah selesai menjelaskan mereka semua bubar kembali ke posisi masing masing.
Beberapa jam pun berlalu pelajaran kembali seperti biasa dan kini tiba saatnya pulang.
Di tempat berkumpulnya para vampir yaitu Kaiden, Azka, Bryan dan Raska.
Tak butuh waktu berapa lama hewan spirit elang sudah muncul dihadapan ketiganya membungkam mulut mereka.
Tapi entah mengapa Azka merasakan hewan spirit itu seperti sedang memindai dirinya dan juga teman temannya satu persatu.
Melihat itu membuatnya semakin yakin jika hewan spirit itu memang telah dikendalikan oleh seseorang. Namun jika belum ada bukti nyata maka sahabatnya itu takkan percaya padanya karena obsesinya terhadap hewan spirit.
Azka yang terdiam begitu lama membuat Kaiden dan Raska sedikit bingung pasalnya Azka tak bersikap seperti ini biasanya.
" Kalian sudah percaya sekarang ", kata Bryan dengan bangga yang bermain main dengan burung elang itu.
" Iya ", jawab mereka bersamaan kecuali Azka.
Azka merasa sedikit familiar dengan aroma yang dikeluarkan oleh si burung elang itu.
" Kau kenapa Az ? ", tanya Raska menyadarkan Azka dari lamunan yang membuatnya berpikir keras itu.
" Tidak papa ", kata Azka setelah sadar dari lamunan nya itu.
" Kau yakin dia bukan dikendalikan ? ", tanya Raska pada Bryan.
__ADS_1
" Aku yakin ", jawabnya percaya diri membuat semua menjadi diam.
Burung elang itu tiba tiba saja terbang menuju ke Azka dan berada di pundak sebelah kanan Azka membuat semua orang terkejut. Lalu dia mencoba bertelepati dengan Azka.
Makhluk spirit tingkat tinggi memang bisa bertelepati dengan siapa saja yang diinginkannya jika mempunyai darah seorang penyihir.
Hal itu membuatnya bingung karena dia tidak tahu kalau Azka mempunyai darah sihir jadi hanya mencoba mengikuti alur burung elang itu.
' Aura mu mengingatkanku pada seseorang ', katanya dengan isyarat mata juga.
' Apa maksudmu ? ', tanya Azka bingung.
' Kau benar benar bodoh ', jawabnya dengan ekspresi sedikit kecewa.
' Apa ? ' tanyanya sekali lagi karena masih diliputi kebingungan.
' Kau tidak tahu ada darah penyihir di tubuhmu ', katanya dengan nada mengejek.
' Apa ? ' jawabnya dengan sedikit melotot.
' Kau terlahir memiliki darah vampir dan penyihir. Tapi sayang darah vampir mu lah yang selama diasah jadi menutupi darah penyihir mu ', katanya dengan panjang lebar bertelepati.
' Apa itu mungkin ? ', tanyanya karena sedikit ragu dengan kata kata si elang nya itu.
' Ya tentu. Aku takkan salah melihat ataupun merasakan aura darahmu seperti punya seseorang ' , katanya lagi tanpa berpikir panjang.
' Gawat ', ucapnya dalam hati setelah memutus bertelepati itu dan kembali pada Bryan.
Mereka semua menjadi semakin tercengang begitu pula dengan Azka yang tak menyangka sama sekali.
Yang Azka tahu dia hanya berdua dengan ibunya hidup di istana bersama dengan Kaiden dan Afkar. Dan dia tidak tahu siapa ayahnya. Ibunya hanya sedikit gugup dan juga sedih jika ia bertanya tentang ayahnya.
Azka juga tidak pernah curiga terhadap ibunya walau dia tidak pernah melihat ibunya itu meminum darah sama sekali hanya makan makanan manusia membuatnya kenyang berbeda dengannya.
Mungkinkah ibunya seorang penyihir dan ayahnya seorang vampir. Tapi jika benar seharusnya ayahnya yang bersama dengannya bukan ibunya.
Azka semakin pusing memikirkan ini membuatnya pergi meninggalkan ketiga temannya tanpa mempedulikan panggilan dari mereka.
Dia melangkahkan kakinya mengarah ke tempat pertemuannya dengan Talitha yaitu di taman belakang gedung sekolahnya itu.
Azka mencoba menenangkan hatinya yang sedikit merasa kacau akibat pertelepatian nya dengan si elang tadi.
Kemudian dia memejamkan matanya dengan menghela nafas secara berlahan berharap menemukan titik terangnya dengan si elang tadi.
__ADS_1
" Aku harus menyelidiki identitas ku sebenarnya ", gumamnya dengan pelan dan beranjak pergi dari tempatnya