
Keesokan harinya ada seorang gadis yang terganggu dari tidurnya karena terkena cahaya matahari yang menyilaukan matanya.
Eugh.......
Setelah menerjap nerjapkan matanya beberapa kali akhirnya gadis itu terbangun dari tidur nyenyak nya.
" Ini dimana ? ", tanya nya pada diri sendiri karena melihat ruangan asing baginya.
Kemudian mengingat ingat kejadian kemarin yang dialami nya.
" Bukankah kemarin ...", katanya terhenti setelah mendengar suara pintu dibuka.
Ceklek..........
" Kau sudah bangun ?", tanya nya berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang yang ada gadis itu.
" Kau ? Kenapa aku disini ? ", tanya nya dengan ekspresi penuh tanya karena terbangun di tempat yang asing baginya.
" Kemarin kau pingsan jadi ku bawa kau kesini ", katanya dengan tenang.
" Seharusnya kau membawaku ke kamarku saja. Jangan suka membawa orang tanpa ijin ", katanya dengan ketus.
" Kau ingin kejadian waktu itu terulang lagi ", katanya dengan sedikit geram.
" Itu ", katanya terhenti setelah orang yang diajaknya berbicara mendekat dan mengusap bagian lehernya.
" Jika kau tak keberatan mereka menghisap mu dengan senang hati aku membiarkan mu sendiri saja ", katanya dengan terus mengelus leher gadis itu dengan tangan sebelah kanannya.
" Tidak ", kata gadis itu buru buru dan sedikit memundurkan kepalanya supaya tak terjangkau oleh tangan orang itu.
Namun belum sempat menjauh kepala gadis itu ditahan dengan tangan kekar orang itu dan sedikit mencengkram bahunya.
" Jika kau tak menggigitku maka hal itu juga takkan terulang lagi ", katanya lagi dengan ketus.
" Jangan membuatku marah gadis kecil ", katanya dengan mata yang tajam menatap bola mata yang sedikit ketakutan itu.
Tanpa bisa berkutik gadis itu hanya bisa diam saja karena tidak mungkin untuk melawan untuk saat ini.
" Bagus jadilah gadis kecil yang penurut ", katanya lagi kemudian mengusap kepala gadis itu.
" Mandilah dan turun untuk sarapan. Aku tunggu dibawah ", katanya dengan tegas dan beranjak pergi dari kamar itu.
Gadis itu hanya terdiam sesaat dan kemudian beranjak dari kasurnya menuju ke kamar mandi. Untuk sekarang hanya bisa menuruti semua kata kata orang itu yang tak lain adalah Kaiden.
" Kenapa kau terus bersembunyi dibalik gadis penakut seperti ini ", kata salah satu spirit.
" Aku belum saatnya menunjukkan identitas ku ", kata Talitha dengan tenang.
__ADS_1
Gadis itu adalah Talitha yang kemarin malam bertemu Kaiden dan dibawa Kaiden ke mension nya setelah Talitha pingsan karena darahnya dihisap oleh Kaiden.
Kaiden takut kejadian dimana sahabat dan vampir lain yang tidak bisa menahan hasrat nya karena darahnya mengundang mereka untuk menghisap nya.
" Lalu kapan kau tidak lagi bersembunyi dibalik topeng mu itu ? ", tanya Liam.
" Sebentar lagi jika kekuatanku sudah sempurna ", jawabnya dengan tenang.
" Kau harus kembali ke rumah mu jika mau menyempurnakannya ", jawab Pipop dengan tenang membeberkan hal itu.
" Maksud mu ? Aku harus menemui ayahku ? ", tanya Talitha dengan bingung.
" Iya dia yang bisa mengajari mu untuk menyempurnakan kekuatan sihir mu ", jawab Pipop dengan santai.
" Baiklah aku akan segera kembali ke mension ayah ", kata Talitha akhirnya memutuskan untuk pergi mandi.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya dan turun kebawah mengikuti perintah dari Kaiden.
" Kau begitu lama ", katanya dengan duduk santai menunggu Talitha di meja makan sejak tadi.
" Aku harus mandi dengan bersih supaya tidak ada kuman ", katanya dengan ketus.
" Jadi kau menganggap ku kuman ? ", tanya dengan nada sedikit tinggi.
" Aku tidak mengatakannya kau sendiri yang mengatakannya ", kata Talitha masih dengan nada ketus dan menarik kursi untuk duduk.
" Aaaa.....", Talitha sedikit terkejut karena tertarik dengan sesuatu.
" Kau ? ", kata Talitha terhenti setelah sesuatu menempel di bibirnya yang terasa kenyal dan dingin itu.
Eumph............Eumph.........Eumph........
Setelah Kaiden puas menghisap dan ******* bibir manis Talitha kemudian melepaskannya karena mengetahui nafas Talitha sudah semakin sesak.
Haaaa ........... Haaa ...... Haaaaa ......
Kaiden mengusap bekas air liur mereka berdua yang tersisa di bibir Talitha.
" Jangan memancing emosiku gadis kecil ", katanya dengan terus mengusap pelan bibir Talitha.
" Makanlah ", katanya lagi kemudian menurunkan Talitha dari pangkuannya dan mendudukkan Talitha disebelah nya setelah menarik kursi dengan kekuatan sihir nya.
Talitha akhirnya makan dengan diam tanpa berkata kata ataupun memandang wajah Kaiden lagi.
Setelah selesai Talitha beranjak pergi dari ruang makan akan tetapi berhenti karena terdengar sebuah suara.
" Untuk sementara kau akan disini. Jika kau pergi dari sini maka para vampir akan langsung menghisap habis darahmu ", katanya dengan santai.
__ADS_1
' Jika hanya vampir seperti mereka aku bisa menghabisinya tanpa membuka identitas ku ', katanya dalam hati.
" Iya aku mengerti ", katanya dengan ketus dan kembali ke dalam kamarnya lagi.
Setelah kepergian Talitha ke kamar nya kemudian Kaiden kedatangan sahabat sahabatnya kecuali Azka.
" Kai ada kabar yang mengejutkan " , kata Bryan setelah memasuki mension dan duduk di ruang tamu yang sudah ada Kaiden duduk disana.
" Ada apa ? ", tanya Kaiden dengan dingin.
" Kau tahu Afkar sedang terluka karena memancing gadis penyihir biru itu keluar ", katanya dengan menggebu gebu.
" Apa maksudmu ? ", tanya Kaiden yang tak mengerti.
" Afkar dan para pengikutnya memancing gadis penyihir itu dengan membuat keributan menghisap darah para manusia yang berada di sekolah ", kata Raska dengan menjelaskan kejadian itu.
" Gadis itu benar benar muncul ? ", tanya Kaiden yang sudah sedikit tertarik.
" Iya dan hebatnya mampu membuat Afkar terluka tapi menghilang tanpa jejak lagi ", kata Bryan yang melanjutkan penjelasan Raska.
" Berarti kita tak bisa menggunakan cara yang sama dengan mereka ", kata Kaiden lagi.
" Iya kau benar sekali ", Raska menyetujui kata kata Kaiden.
" Lalu bagaimana perkembangannya sekarang ? ", tanya Kaiden kepada keduanya.
" Seperti ada penyihir lain selain gadis itu ", kata Bryan dengan suara yang kecil namun bisa didengar keduanya.
" Maksud mu ? ", tanya Kaiden kepada Bryan.
" Setelah kekacauan itu gadis itu menghilang dan para korban mangsa vampir itu sudah dikembalikan ke tempat mereka tanpa mengingat kejadian apapun ", kata Bryan menjelaskan.
" Dan ku rasa ada kekuatan sihir yang berbeda yang membereskan sisanya ", katanya dengan tenang.
" Aku juga berfikir demikian ", kata Raska yang berpikir yang sama dengan Bryan.
" Kemungkinan para penyihir sudah mulai bergerak dengan adanya gadis penyihir api biru itu ", kata Bryan lagi.
" Kau benar sebelum belum pernah terjadi hal ini hanya saja kekacauan setahun lalu karena hanya seorang keturunan penyihir saja ", kata Raska menambahkan perkataan yang mendukung perkataan Bryan.
" Lalu bagaimana dengan Azka ? ", tanya Kaiden yang tak melihat Azka beberapa hari terakhir ini.
" Entahlah dia menghilang dan belum kembali sampai sekarang ", jawab Raska yang memikirkan sebenarnya apa yang terjadi dengan Azka.
" Biarkan saja Azka menyelesaikan urusan nya dulu " , kata Kaiden dan mengusir keduanya untuk segera pergi dari mension ya.
Melihat Kaiden yang berusaha mengusir mereka untuk pergi dari mension ya membuat kedua curiga tapi tidak bisa berbuat apa apa selain pergi dari mension Kaiden. Atau akan mendapat balasan atau hal mengerikan jika tak menurut perintah Kaiden.
__ADS_1