Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 11


__ADS_3

Seminggu telah berlalu tapi dengan sangat lambat bagi Talitha. Bagaimana tidak lambat hari - harinya dipenuhi dengan Kaiden dan Afkar yang selalu mengikutinya tanpa henti bahkan mengusiknya hingga membuat dia lelah.


Malam ini adalah malam bulan purnama dan semua murid harus berada di asrama tanpa harus keluar sedikitpun. Begitu pula dengan Talitha dan Vania yang berada di kamar mereka saat ini.


" Tha , kenapa ada peraturan jika bulan purnama kita harus selalu di kamar dan mengunci semua pintu dan jendela iya ", Vania bingung memikirkan peraturan di sekolah ini yang berbeda dengan yang lain.


' Tentu saja itu karena vampir ', jawab Talitha dalam hati.


" Entahlah aku juga tidak tahu, ikuti saja peraturannya ", jawabnya menutupi kenyataan yang ada.


" Iya baiklah ", jawab Vania dengan enggannya beranjak ke tempat tidurnya dan merebahkan badannya.


' Semoga kejadian tahun lalu tidak terulang kembali ' kata Talitha dalam hati ikut merebahkan dirinya di samping tempat tidur Vania.


Cahaya bulan purnama semakin terang menandakan saatnya vampir untuk berburu. Beberapa vampir hanya menggunakan darah kemasan untuk menghilangkan dahaga naluri kevampiran mereka. Sedangkan untuk vampir pemburu sudah mulai bergerak mencari mangsa mereka.


Tring ..........Tring..........Tring............


Bunyi alarm kebakaran di asrama dengan begitu kencangnya. Bunyi itu membangunkan seluruh siswa yang telah tertidur dan menjadi panik. Mereka semua berhamburan keluar dari kamar mereka dan tidak menghiraukan peraturan lagi.


" Tha , kebakaran cepat keluar ", kata Vania membangunkan Talitha yang masih tertidur.


Dengan masih setengah sadar Talitha mengikuti Vania yang menarik tangannya.


Vania menarik Talitha menuju lapangan terbuka dimana murid - murid sudah berkumpul disana.


Saat mendengar kericuhan semakin besar, kesadaran Talitha terkumpul dan menyadari sesuatu.


" Gawat ", gumam Talitha dan menjadi sedikit panik. Lalu dia melepaskan tangannya yang sedari tadi ditarik Vania.


" Ada apa Tha? " , tanya Vania yang menjadi lebih panik saat mendengar gumaman Talitha.


" Tidak papa ", Talita mencoba menetralisir kan kepanikannya supaya Vania tidak curiga.


Belum sempat Vania akan bertanya lagi tiba tiba ada segerombolan orang memakai jubah hitam ada di depan semua murid.


Tiba tiba sebuah cahaya berbentuk lingkaran mengurung semua siswa tersebut dan orang - orang yang berjubah hitam itu.


' Ini adalah ' gumaman Talitha berhenti ketika terdengar suara dari luar formasi lingkaran tersebut.


" Apa yang kalian lakukan ", kata Azka yang sudah berada di dekat formasi bersama ketiga temannya.


" Kami hanya datang untuk mangsa kami " , jawab salah satu dari mereka.


" Kalian tidak bisa melakukannya lagi " , kini Raska yang menjawab dengan sedikit mengeluarkan aura vampir nya.


" Tenang Ras " , kata Azka yang menyadari hal itu.

__ADS_1


Sementara mereka berdebat, murid - murid merasa ketakutan setelah mendengar mangsa dan juga aura yang diberikan oleh Raska.


Tanpa mereka sadari seseorang keluar dari formasi lingkaran menggunakan kekuatannya dan secepat kilat menghilang dari sana.


Perdebatan terus berlanjut sampai Kaiden bertindak dengan menghancurkan formasi tersebut membuat segerombolan orang berjubah hitam marah.


" Apa yang kau lakukan ? ", tanya salah satu dari mereka.


" Sudah cukup tahun lalu, kini tidak ada lagi yang akan terjadi ", bukannya Kaiden yang menjawab tapi Azka menjawab nya.


" Terlebih lagi pemimpin kalian beserta pengawal setia nya tidak ada disini ".


" Tanpa nya kami bisa bertindak sendiri " , jawab salah satu dari mereka.


" Silakan kalian lakukan dan lihat apa yang akan terjadi pada kalian ", kata Azka yang sudah mulai lelah dengan perdebatan mereka.


Walaupun formasi cahaya lingkaran yang mengurung mereka telah lenyap, mereka tidak bisa melarikan diri ataupun berkata - kata. Itu karena kaki mereka seakan lemas dengan mulut yang tertutup tidak bisa berbicara.


Dengan emosi mereka mendekati beberapa siswa didepan mereka dan mendekapnya siap menghisap darahnya karena merasa diremehkan oleh Azka.


Dan saat mereka sudah akan menghisap darahnya tiba - tiba mereka terlempar jauh ke belakang dan memuntahkan sedikit darah dari mulut mereka.


Ukh.....huk.......


" Apa ini ? ", kata salah satu dari mereka melihat darah keluar dari mulutnya dan merasa sakit yang luar biasa.


" Lihatlah , ini yang kukatakan tadi ", kata Azka yang menyadari bahwa itu dilakukan oleh gadis penyihir api biru.


Dia mulai memusatkan pikirannya untuk mencarinya tapi tidak bisa ditemukan.


" Kalian beraninya menyerang kami padahal kita masih sebangsa ", kata salah satu dari mereka.


" Kau terlalu bodoh, pemimpin mu saja tidak muncul tahun ini ", kata Kaiden yang mulai geram dan berusaha mencari sumber kekuatan yang menyerang mereka.


Saat mereka berdiri dan siap menyerang ke empat vampir yang dikira mereka menghalangi nya tiba - tiba mereka merasakan diserang kembali bertubi - tubi sehingga mereka terduduk lemas.


" Tidak cukup kah kalian membuat keonaran tahun lalu ".


Setelah suara itu berbunyi mereka semua mencari sumber suara tapi tidak menemukannya.


" Siapa kau ? Tunjukkan dirimu dasar pengecut ", kata salah satu dari mereka.


" Baiklah jika itu permintaanmu ", jawabnya kemudian muncul dengan jubah warna putih dengan cahaya terang mengelilingi tubuhnya berjalan mendekati mereka.


" Aku sudah terlalu bersabar selama ini tapi kalian terlalu bodoh " , katanya lagi dengan mengarahkan tangannya ke arah mereka.


" Ukh...huk..... Ini sangat menyakitkan ", katanya memegang dadanya sama seperti segerombolan orang berjubah hitam lainnya.

__ADS_1


" Pemimpin mu saja masih menghiraukan kata - kata ku tapi kau menguji kesabaran ku ", kata orang berjubah putih itu kemudian menggenggam tangannya dan membuat beberapa diantara mereka menghilang perlahan berubah menjadi debu.


" Ingatlah ini para vampir ! Tidak akan ada yang tersisa jika kalian menguji kesabaran ku membuat tragedi berdarah kembali ", katanya lagi dan membuat orang berjubah hitam yang tersisa menjadi pingsan.


" Siapa kau ? ", kata Kaiden yang menyaksikan kejadian itu dari awal sampai akhir.


" Kau tidak perlu tahu ", katanya lagi kemudian menghilang seperti angin tanpa jejak.


Tapi sebelum dia menghilang dia sempat mengacaukan pikiran semua siswa tersebut dan menghapus ingatan mereka tentang kejadian malam ini dan tanpa sadar mereka kembali ke kamar mereka masing - masing.


Setelah kepergiannya Azka, Raska, Bryan dan Kaiden terheran - heran melihat para siswa berjalan kembali ke asrama tanpa bertanya ataupun ekspresi ketakutan. Hanya wajah linglung yang mereka tampilkan.


" Mungkin kah dia itu penyihir itu ? " , tanya Bryan menyadarkan keterkejutan mereka.


" Itu benar ", jawab Azka singkat.


" Kau yakin " . Kini giliran Raska yang bertanya ingin memastikan kebenarannya.


" Aku sangat yakin. Bukankah aku sudah bilang kejadian tahun lalu tidak akan terulang " , jawabnya.


" Tapi siapa dia ? " tanya Bryan.


" Entahlah aku masih belum bisa melihat wajahnya ", jawab Azka lagi.


" Tidakkah kalian melihat Talitha tadi ? " , tanya Kaiden tiba - tiba yang menyadari bahwa tidak melihat Talitha dari awal.


" Maksudmu ? " . Bukannya Azka menjawab malah balik bertanya kepada Kaiden.


" Aku tidak melihatnya dari tadi , hanya Vania saja yang terlihat ", jawabnya lagi.


' Mungkinkah gadis penyihir itu adalah Talitha bukannya Vania seperti yang diceritakan Bryan ' gumam Azka dalam hati.


" Tapi tadi aku melihatnya saat Azka sedang berdebat dengan mereka ", kata Raska memastikan ingatannya tadi.


" Benarkah ? " , tanya Kaiden lagi.


" Iya, tapi setelah itu aku tidak memperhatikannya lagi " , jawabnya dengan santai.


" Sudah lah kita harus membawa vampir yang tersisa itu ", kata Azka yang menyadari masih ada seorang vampir yang disisakan oleh penyihir itu.


Wush........wush.........wush........


Dua orang telah membawa vampir yang pingsan itu dan menghilang dari pandangan mereka.


" Biarkan saja mereka. Sekarang kita harus menyelidiki penyihir itu ! " , kata Kaiden lalu beranjak pergi menuju ke asramanya.


Mereka mengikuti Kaiden beranjak dari lapangan dan mengistirahatkan badan mereka sebelum bertindak sebagai detektif yang menyelidiki penyihir itu.

__ADS_1


__ADS_2