
Sementara disisi lain, Vania gemetaran karena dibawa seseorang dengan cepat. Setelah merasakan dirinya terhimpit tembok, Vania mulai memandang orang yang membawanya tapi tidak terlihat karena ruangan itu begitu gelap.
Tanpa bicara dan aba - aba apapun, orang itu langsung mendekatkan kepalanya leher Vania dan menggigitnya.
" Akh " , suara Vania tertahan karena ditutupi dengan tangan orang itu.
" Darahmu sedikit manis " , katanya setelah selesai menggigitnya.
" Ka......u vam...pir " , katanya dengan terbata - bata.
" Kau benar, aku akan menggigitmu jika merasa lapar " , katanya lagi untuk melihat ekspresi apa yang ditunjukkan gadis itu.
" Ti.....dak jangan lakukan itu " , kata gadis itu yang mulai gemetaran.
Tiba - tiba dia teringat pembicaraan Talitha dengan orang yang ditabrak Talitha itu.
' Apakah benar vampir itu ada seperti kata Talitha dulu ', tanyanya dalam hati. Kemudian dia merasa pusing akan jatuh pingsan tapi sebelum jatuh ke lantai, sebuah tangan menangkapnya dan mendudukkannya di sebuah kursi.
" Jika gadis ini penyihir api biru, dia tidak akan pingsan " , kata orang yang tadi menggigitnya.
" Kau benar Ras, tapi gadis yang bersama Kaiden tidak pingsan hanya saja terduduk di lantai " , kata Bryan sambil menunjuk arah gadis itu.
" Apa yang terjadi ? Kenapa dia terduduk di lantai seperti itu ? ", tanya Raska yang baru melihatnya.
" Kaiden bukan hanya menggigitnya tapi juga menciumnya.
Setelah beberapa menit mereka merasakan aroma yang begitu manis dan memikat mereka tanpa mereka sadari mereka sudah berdiri mengelilingi gadis itu.
Kaiden juga merasakan aroma manis dan wangi itu lebih kuat lagi setelah leher yang digigitnya mengeluarkan sedikit darah. Dan dia terkejut melihat ketiga temannya sudah berdiri disana dengan aura siap memangsa.
' Mungkin gadis itu adalah gadis kecilku. Aroma yang keluar dari dirinya setelah terluka sama ' kata Kaiden yang ingin kembali menghampiri gadis itu tapi terlambat.
Ketiga temannya sudah didepan gadis itu, dan membuatnya berdiri kembali. Mereka memegang tangan dan pinggang gadis itu supaya tidak terduduk dilantai lagi.
Dua diantaranya sudah mendekatkan ke arah leher dan yang satu lagi sudah mendekatkan ke arah tulang selangka gadis itu.
Krauk........
" Akh " , teriaknya tertahan setelah mulutnya dibekap salah satu dari mereka.
Mereka menggigitnya secara bersamaan dan menghisapnya merasakan darah yang begitu manis dan wangi itu.
Setelah beberapa detik berlalu , gadis itu telah pingsan. Ketiganya mengakhiri hisapannya setelah puas dengan dahaganya.
__ADS_1
" Kalian ! " , kata Kaiden dengan marah dan mengambil gadis itu dari ketiganya.
Mereka akhirnya tersadar atas apa yang dilakukannya kepada gadis itu.
" Apa ini kita bergerak sendiri ? " , kata Raska setelah menyadari kejadian tadi.
" Gadis ini, mungkinkah gadis itu " , kata Azka yang bertanya pada Kaiden tapi Kaiden telah pergi membawa gadis itu.
" Apa maksud mu Az ? " , kata Bryan yang kini mulai tersadar.
" Gadis yang membuat kita kehilangan kendali pada diri kita setelah mencium aroma darahnya hanyalah gadis kecil milik Kaiden ", kata Azka menjelaskan semuanya itu kepada Bryan.
" Gawat, jika kita kehilangan kendali bagaimana dengan vampir lain dan terlebih vampir pemburu ? ", kata Bryan yang sedikit panik memikirkan gadis itu.
" Itu sebabnya Kaiden membawanya setelah menyadari tindakan kita , dan juga telah merasakan darah gadis ini ", jawab Azka.
" Lalu, bagaimana dengan gadis itu ? ", tunjuk Raska ke gadis yang tadi dihisapnya. itu.
" Hapus ingatannya, kurasa dia bukan gadis penyihir itu " , kata Azka menyadari kalau dia hanya manusia biasa.
" Berarti yang kemaren kulihat salah dong ? " tanya Bryan mengingat kejadian yang lalu.
" Sepertinya gadis penyihir api biru hanya ingin melindunginya saja ", kata Azka.
" Kau benar, sekarang kembalikan dia ke kamar asramanya ! ", perintah Azka kemudian menyusul arah perginya Kaiden.
Di tempat lain, mereka merasakan aroma wangi dan manis dari penciuman hidung mereka . Tanpa mereka sadari, mereka bergerak menuju ke arah aroma itu berasal.
Sebelum semakin mendekat , Azka menghadang mereka untuk menghalangi mengejar Kaiden.
" Mau apa kalian ? " , tanya Azka yang sudah berdiri dihadapan mereka.
" Jangan menghalangi kami ! Atau kau terluka ", kata salah satu dari mereka.
" Aku akan disini melawan kalian untuk berolahraga " , kata Azka dengan semangat.
" Pangeran , kau pergilah biar aku yang tangani dia " , kata Leo yang mulai geram.
" Baiklah kuserahkan padamu " , katanya kemudian pergi mengejar aroma gadis itu.
Pertarungan pun tak dihindarkan. Mereka bertarung dengan sengit sampai akhirnya Azka memenangkan pertarungan dengan melukai beberapa titik ditubuhnya.
Sementara orang yang mengejar Kaiden dan Talitha sudah kehilangan jejak.
__ADS_1
" Sinyal aromanya menghilang ", katanya dengan ekspresi marah diwajahnya.
Setelah mencari - cari tidak ketemu, kemudian dia kembali ke tempat pertarungan itu dan melihat Leo sudah terduduk.
" Sudah cukup Az ! " kata Orang itu dengan meninggikan suaranya.
" Bukankah tadi aku sudah bilang akan menghalangi kalian terutama kau Afkar ? " , tanya Azka.
" Kau ini tak pernah berubah selalu mengganggu kami Az ", kata Afkar yang mengernyitkan kepala.
" Tentu saja, dan jangan harap bisa mendekati aroma itu ", kata Azka lagi.
" Karena dia dalam perlindungan Kaiden maksudmu ? " , tanya Afkar yang sedikit mengerti arah bicara Azka.
" Iya jika dia ada di tanganmu, mungkin dia akan mati ", kata Azka lagi.
" Untuk saat ini aku akan biarkan . Tapi ingat aku akan mendapatkan gadis itu Az, apapun caranya ", kata Afkar yang membangunkan Leo dan membawanya pergi.
" Ada apa Az ? ", tanya Raska yang ditemani Bryan berjalan ke arahnya.
" Tidak papa hanya sedikit pengganggu saja " , kata Azka dengan suara tenang.
" Kalian sudah menghapus dan mengembalikan gadis itu bukan ? " , tanya Azka kembali.
" Iya kami sudah melakukannya. Lalu dimana Kaiden sekarang ? " , tanya Bryan dengan melihat kesana - kemari.
" Mungkin dia membawa gadis itu ke istananya " , kata Raska yang mulai mengobrol dengan mereka.
" Benar disana dia akan aman sejenak sampai darah yang kita hisap itu kering dan memulihkan keadaannya ", kali ini Azka yang menjawab.
" Iya, kurasa Kaiden akan merawatnya dengan baik " , kata Raska.
" Sekarang tugas kita adalah mencari keberadaan penyihir api biru itu ! " kata Azka .
" Untuk apa ? " ,. tanya Bryan yang masih sedikit lola alias loading lama.
" Untuk mencegah kejadian seperti tahun lalu Bry. Lagian gadis penyihir api biru itu mungkin sudah disini ", Azka menjawab dengan sedikit geram pada Bryan.
" Iya juga kau benar " , kata Bryan yang mulai mengerti.
" Sudahlah kita harus kembali sekarang ", kata Azka meninggalkan kedua temannya yang masih ingin mengobrol.
" Tunggu, kau ini sebelas dua belas dengan Kaiden " , kata Bryan mulai melangkah dengan Raska mengikuti Azka.
__ADS_1
Setelah menuju kamar masing - masing dan beristirahat karena kelelahan dengan kejadian tadi. Mereka kembali menuju alam mimpi mereka.